Surat kuasa dan Menjadi Saksi

Sahabat, kiranya kalian sudah paham apa itu surat kuasa. Biasanya berkaitan dengan pengambilan barang atau pembayaran, atau yang lainnya. Surat yang memberikan kuasa kepada seseorang untuk melakukan tugas secara penuh seperti layaknya orang yang seharusnya melakukan. Misalnya Pak Aman mendapatkan dana hibah. Berhubung dia tidak bisa menerimanya, dia memberi kuasa kepada anaknya. Agar anaknya sah menerima dana hibah secara hukum, bapaknya memberi dia surat kuasa.
Pernah juga kita dengar Paulus memegang surat kuasa dari petinggi agama di Yerusalem. Surat kuasa itu memberi wewenang kepada Paulus untuk menangkap para pengikut Kristus serta memenjarakan. Surat kuasa selalu berkaitan dengan wewenang untuk melakukan sesuatu.
Kemudian kita juga sering mendengar Yesus ditanya soal kuasa yang Dia miliki. Atas kuasa apa sehingga Dia melakukan inindan itu. Seringkali Yesus tidak menjawab, atau mengalihkan dengan memberi pertanyaan lain. Tetapi hari ini Yesus memberi jawaban cukup panjang. 
Kalau kita ingat kemarin Yesus kenyembuhkan orang yang sudah lama sakit lumpuh. Sebenarnya orang lumpuh itu tidak meminta Yesus menyembuhkan dirinya. Yesus saja yang langsung berinisiatif menyembuhkan. Kemudian Yesus memberi pesan agar dia tidak berbuat dosa lagi, atau dia akan mengalami hal yang lebih buruk lagi.
Nah rupanya orang yang baru disembuhkan tadi tidak mengindahkan pesan Yesus. Maka datanglah orang-orang Farisi menemui Yesus dan mennyakan kuasa. Yesus menjawab dengan mengatakan bahwa Dia memiliki kuasa dari Bapa-Nya. Kuasa untuk bekerja, juga kuasa untuk menghakimi. Yesus terus bekerja, karena Bapa-Nya juga terus bekerja. Jawaban ini membuat orang-orang Farisi makin marah. Yesus tidak memedulikan kemarahan orang-orang Farisi. Dia terus saja berbicara. Pada akhir Dia mengatakan bahwa Dia hanya mau menjalankan kehendak Bapa-Nya. Kehendak-Nya adalah menjalankan kehendak Bapa-Nya.

Menjadi Saksi
Saksi biasanya kita kenal dalam pengadilan. Untuk mengadili kasus tertentu dibutuhkan saksi agar kasus tersebut bisa diputuskan dengan baik. Dalam hal ini, harus ada permasalahan, ada perselisihan antara dua pihak. Masing-masing mengatakan dirinya benar, sehingga dibutuhkan saksi di depan hakim. Saksi tersebut datang dari dua belah pihak. Saksi haruslah bersikap netral. Menyampaikan hanya apa yang dia ketahui, dia lihat dan dia dengar.
Di dalam pengadilan, peran saksi sangat penting. Maka ada lembaga perlindungan saksi. Tujuannya melindungi saksi dari niat jahat si pembuat ulah. Di lain pihak, saksi juga bisa dituntut bersalah, kalau dia mengetahui suatu tindak kejahatan dan diam saja. Karena seseorang yang melihat kejahatan dan diam saja berarti setuju dengan kejahatan yang sedang berlangsung. 
Kasus hari ini, juga hari kemarin adalah perdebatan antara orang-orang Farisi dan Yesus. Persoalan yang diangkat adalah pelanggaran atas hari Sabat. Yesus dianggap melanggar aturan hari Sabat. Maka Dia ditanya kuasanya, dan sekarang mengajukan saksi. Yesus tidak mengajukan saksi untuk membelanya. Dia menyebut peran Yohanes yang pernah bersaksi tentang Yesus, dan orang-orang tidak percaya. Kemudian Yesus menyebut kesaksian Bapa-Nya. 
Pekerjaan Bapa adalah kesaksian terhadap Yesus. Orang yang percaya akan apa yang dibuat oleh Bapa akan percaya kepada Yesus. Apakah yang dibuat Bapa itu? Yaitu segala yang telah ada dafi awal mula. Bagaimana Bapa menuntun umat-Nya keluar dari perbudakan, menempatkan mereka pada lahan yang subur, dst. Semu itu karya Bapa. Lantas apa yang dibuat oleh Yesus juga karya Bapa. Sebab Bapa tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa.

Bagaimana dengan kita?
Kita semua juga menjadi saksi. Saksi bahwa Allah itu ada, bahka Allah sungguh mengasihi. Bukan dengan kata-kata kita bersaksi, tetapi dengan perbuatan nyata. Sikap kita. Peri hidup kita sehari-hari menjadi sebuah kesaksian yang nyata bagi Allah di dalam dunia.

Hong Kong, 3 April 2014, 8:17am


Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Mantra Pengusir Setan