Drama Kisah Sengsara Tuhan (2)

Kisah sebelumnya...

Yesus memasuki Yerusalem sebagai Raja yang aneh. Menunggung dua keledai yang belum pernah ditunggang orang. Rakyat menyambut dengan gegap gempita. Mereka mengalaskan pakaian dan daun-daun untuk menyambut Raja yang datang.
Kemudian mulai muncul si pengkhianat, yang menjual sahabat demi kepuasan syahwat. Memang hanya sahabat dekat yang bisa menikam kita dari dekat, meskipun harga bayarannya tidak berlipat. Namun ambisi memang kerap susah dimengerti dan mudah dimanipulasi. 
Kini babak kisah sengsara memasuki saat yang sakral, saat Yesus duduk bersama murid-murid-Nya dalam malam perjamuan terakhir. Mari kita simak.   


#babak IV : Mengadakan EKARISTI (Mat 26:26-29)

Cinta itu tumbuh dan berkembang meski tahu ada yang akan mengkhianati dan menolaknya. Cinta Yesus dibuktikan dengan memberikan diri-Nya sehabis-habisnya. Tidak ada bukti cinta yang lebih besar dari pada memberikan diri seutuhnya.
Kemudian Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya kemudian memberikan kepada para muridnya seraya berkata, ‘Ambillah dan makanlah. Inilah Tubuh-Ku”
Sesudah itu Yesus mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka seraya berkata, “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini! Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”
Yesus juga berkata bahwa Dia tidak akan meminumnya sampai nanti mengadakan perjamuan lagi, di surga. Dalam kerajaan Allah Bapa-Nya.

Tuhan, terimakasih atas Ekaristi yang Engkau berikan pada kami. Engkau memebrikan Tunuh dan Darah-Mu sendiri untuk hidup kami. Kami juga meohon maaf, dan terlebih mohon ampun, akrena kami kerap bersikap yang kurang selayaknya pada-Mu. Kami kurang menghargai ekaristi, kerap masih seenaknya saja mengikutinya, masih seenaknya saja di hadapan-Mu, menganggap semuanya biasa dan tidak berguna. Padahal, itu adalah dirimu sendiri. Ampuni kami ya Tuhan.

#babak V : Pengumuman penderitaan (Mat 26:30-35)

Iman membutuhkan kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, iman akan jatuh ke dalam kesombongan. Bahkan karena kesombongan itu kita bisa terpisah dari Tuhan, karena kita merasa berjalan di jalan yang benar, nyatanya sesat.
Yesus memebritahu para murid bahwa penderitaannya akan segera datang, dan mereka akan lari. Dengan sombong petrus menjawab bahwa ia tidak akan lari, bahkan ia bersdia mati demi Yesus. Jawaban Petrus ini diamini oleh para murid yang lain. Mereka berkata bahwa mereka tidak akan lari.
Pada akhirnya kita tahu bahwa semua murid lari. Bahkan nanti kita tahu Petrus menyangkal Yesus. Petrus bukan hanya lari tapi juga menyangkal. Padahal sebelumnya dia dengan lantang berkata siap mati. Kesombongan membutakan nurani. Kesombongan melemahkan iman itu sendiri. Kerendahan hatilah yang perlu dimiliki, juga dalam beriman.

Tuhan, ampunilah aku yang kurang rendah hati. Yang kerap sombong di hadapan-Mu, merasa mampu melakukan segalanya. Nyatanya aku kerap lari meninggalkan Engkau. Tuhan ampunilah aku, anugerahkanlah erendahan hati itu untuk terus mengikuti Engkau.


#babak VI : Di taman Gethsemani (Mat 26:36-46)

Saat yang melelahkan bagi seseorang adalah tatkala mengalami pergulatan batin. Yesus juga mengalami hal ini. Setelah perjamuan kudus usai, Ia membawa murid-murid-Nya ke taman Gethsemani.
Sesampai di taman, Yesus menyuruh para murid untuk menunggu. Tetapi Dia mengajak Petrus. Yohanes dan Yakobus untuk menyertai-Nya, masuk lebih dalam ke dalam taman.
Sesampai di bagian taman yang lebih dalam, Yesus berpesan agar ketiga murid-Nya itu berjaga dan berdoa. Lalu Yesus masuk lebih dalam ke dalam taman, Dia seorang diri. Dalam kesendirian, mulailah Yesus bergulat dalam batin-Nya. Tentang tugas, tentang bahaya. Tentang kawan yang lari tunggang langgang, tentang kawan yang berkhianat, tentang anak domba yang tak berdosa. Yesus takut.
Di puncak ketakutan-Nya Yesus memohon, sekiranya mungkin biarlah piala itu berlalu dari-Nya. Tetapi bukan kehendak-Nya, biarlah kehendak Tuhan yang terjadi. Ada pilihan, ada kemungkinan untuk lari, tetapi Yesus memilih untuk melaksanakan kehendak Bapa, meskipun sulit dan berat.
Kemudian Yesus menjumpai ketiga murid-Nya, semuanya jatuh tertidur. Yesus membangunkan supaya berjaga-jaga. Lalu Yesus kembali berdoa, kembali bergulat dalam batin-Nya. Namun pergulatan kali ini lebih tenang. Yesus sudah lebih menemukan pilihan-Nya, garis perutusan-Nya. “Ya Bapa, jikalau cawan ini tidak dapat berlalu kecuali kalau Kuminum, jadilah kehendak-Mu.” Yesus leih tenang.
Dia kembali menjumpai murid-muird-Nya tertidur. Dia membiarkan mereka dan kembali berdoa. Tidak ada lagi pergulatan, karena semua sudah diserahkan. Kehendak Bapalah yang harus diutamakan, bukan ketakutan insani. Yesus sudah melihat semuanya dengan gamblang, maka ketakutanpun hilang. Penyerahan diri yang utuh kepada kehendak Bapa-Nya juga membuat semuanya lebih ringan. Setelah semuanya usai, Yesus membangunkan para murid dan memnita mereka semua bersiap.
Apakah yang dilihat Yesus, apakah yang dirasakan-Nya? Sejarah panjang karya penyelamatan, dari Adam hingga nanti pada akhir jaman. Dari awal mula Allah menyiapkan rencana keselamatan hingga nanti semua mesti digenapi. Itulah yang dilihat Yesus, dan cawan yang diberikan Bapa-Nya juga diminumnya. Apa yang harus dibuat Yesus sekarang bukan hanya untuk diriNya semata. Tetapi bagiandari rencana keselamatan Allah sepaanjang masa. Dari dulu hingga nanti.

Ya Tuhan, betapa sulitnya berserah kepada kehendak Allah. Betapa sulitnya aku  menghilangkan ketakutan dan segala ego ini. Padahal sudha banyak yang mengingatkan, berserahlah, lepaskanlah, tetapi semua masih berat. Masih ada ketakutan menggelayut, masih ada rasa yang kurang puas. Masih ada kehendak yang ingin aku ajukan. Harus belajar dari Yesus, “Jadilah kehendak-Mu.” Sehingga semuanya bisa lebih baik. 

#babak VII : Yesus ditangkap (Mat 26:47-56)
Yesus masih berbicara dengan para murid ketika si pengkhianat datang. Dia datang dengan rombongan besar orang. Mereka yang membayar si pengkhianat untuk menjual sahabatnya. Dan inilah saat yang mengiris kalbu. Si pengkhianat menjual sahabatnya dengan ciuman.
“Salam ya Rabi!” katanya sambil mencium sahabatnya. Yesus tahu bahwa sahabat telah berada di pihak yang berbeda. “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Yesus tahu dikhianati, tetapi tetap menyebut sebagai teman.
Lalu rombongan yang menyertai si pengkhianat maju dan menangkap Yesus. Melihat itu salah satu muridnya mencabut pedang dan menebaskan ke salah satu penangkap Yesus, hingga putus telinganya. Yesus memarahi murid-Nya. Karena barang siapa menggunakan pedang akan mati oleh pedang juga. Dan lagi semuanya harus terjadi seperti yang sudah dinbuatkan dalam Kitab Suci.

Ya Tuhan, kerap kami berlaku juga seperti si pengkhianat. Menyerahkan Engkau dengan ciuman. Atau sok-sokan berusaha memebla Engkau dengan pedang, meski kami akhirnya lari juga tunggang langgang. Tuhan ajarilah kami menghitung hari-hari hidup kami, agar selalu berada di jalan-Mu, agar selalu menjalankan kehendak-Mu.

bersambung


Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Mantra Pengusir Setan