Skip to main content

Ibu si Bunga Kecil (1)

Sahabat, jika kita berjumpa dengan seseorang yang baik budi pekertinya, menarik pembawaannya, kita akan bertanya, "siapa orangtuanya, siapa ibu bapaknya." Seperti kawan saya suka menunjukkan foto anak-anak. Semua mengira itu foto anaknya sendiri, tetapi tenyata foto anak orang lain, kebetulan dia yang mengasuh dengan penuh cinta. Tentu saja ada yang mengejek, "anaknya cakep dan lucu begini kok beda jauh dengan ibunya." 
Atau ada kisah lain yang pernah saya jumpai sewaktu saya mengajar di SMA. Ada seorang murid perempuan, kebetulan dia cukup dikenal di sekolah kami. Ada beberapa sebab dia dikenal, pertama dia termasuk siswi yang cemerlang otaknya; kedua, pembawaannya juga menarik, penampilannya juga cantik. Akan tetapi ada komentar yang kerap menusuk hatinya. Yaitu komentar soal ibunya. Orang yang berjumpa dengan ibunya akan berkomentar, "Ibumu cantik sekali, jauh lebih cantik dari kamu." Tentu komentar seperti ini sangat menyakitkan, apalagi bagi perempuan. Bagi ibunya itu sebuah pujian, bagi anaknya sebuah olokan. 
Masih ada contoh lain yang bisa saya sebutkan, tetapi bukan itu maksud saya menulis catatan ini. Saya ingin membuat catatan bersambung mengenai ibu si Bunga Kecil. Siapa ibu ini sehingga berhasil mendidik anak-anaknya sampai 'berhasil'. Siapa si Bunga Kecil ini? Apa rahasianya? Dan masih banyak lagi. Catatan ini hanyalah pembuka dari catatan yang lebih panjang. Catatan yang akan saya buat, saya adaptasi dari catatan yang dibuat oleh Celine Martin, atau Suster Genoveva dari Wajah Kudus.

Keluarga dari Lisieux
Yang sedang saya perbincangkan adalah seorang ibu dari Lisieux. Dia memiliki 9 anak, beberapa anaknya meninggal waktu masih bayi dan yang masih hidup smeuanya masuk biara. Bukan hanya itu, satu dari anaknya kemudian menjadi Santa yang sangat besar. Bukan karena dia melakukan pekerjaan besar, membuat proyek cemerlang, tetapi karena dia memiliki cinta yang sangat besar. Inilah ibu dari Santa Theresia Lisieux, ZĂ©lie Guerin.
Seperti saya katakan di atasm kisah ini diceritakan oleh Celine Martin. Saat Celine menulis kisah mengenai mamanya ini, dialah satu-satunya anggota keluarga dari Santa Theresia yang masih tersisa. Catatan ini diperlukan untuk melengkapi catatan yang sudah ada mengenai ayah mereka.  
Sekadar catatan, orangtua Santa Theresia Lisieux sudah dinyatakan kudus sebagai Beato dan Beata pada tahun 2008.

bersambung

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …