Pembodohan

Seminggu ini saya berlibur di rumah orangtua di kampung. Setiap malam saya melihat aktivitas orangtua saya, juga banyak keluarga, adalah menonton televisi terutama program sinetron. Saya sendiri tidak ikut menonton sebab aku memang sudah berjanji untuk tidak menonton sinetron. Meski saya tidak ikut menonton, toh saya ikut mendengar jalan cerita sinetron itu. Setiap mendengar jalan cerita sinetron itu hati saya menjadi panas, karena melihat suatu proses pembodohan.
Cerita yang sangat tidak logis, tokoh antagonis yang dibuat sangat antagonis (mungkin agar menarik perhatian pemirsa), kekerasan, dan masih banyak lagi terus ada dalam setiap babak. Susahnya bagi mereka adalah karena mereka tidak memiliki pilihan. Setelah seharian mereka bekerja di ladang, nonton televisi adalah satu-satunya hiburan.
Situasi ini lebih runyam lagi, terutama bagi masyarakat di Malang (mungkin dan sekitarnya), mereka semakin tidak memiliki pilihan setelah beberapa stasiun televisi tidak bisa mengudara di kota Malang. Stasiun-stasiun tv yang biasanya banyak menampilkan program berita sudah lama tidak bisa mengudara, mungkin ini adalah persoalan lain dalam dunia pertelevisian.
Kembali ke masalah sinetron. Bagi saya ini sungguh suatu pembodohon. Sebuah program tv yang hanya dibuat untuk ‘mengaduk-aduk’ emosi pemirsa tanpa memedulikan nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Apalagi ketika program itu dinilai bagus tidaknya berdasarkan rating. Semakin tinggi rating sebuah program maka program itu akan dibuat berkepanjangan.
Setelah melihat itu semua, saya merasa bahwa saya pun telah dibodohkan meski tidak ikut menonton. Sebab saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya tidak mungkin meminta mereka tidak melihat sonetron, sekali lagi itu hiburan mereka satu-satunya, apalagi tidak ada pilihan siaran yang lain.
Saya rasa, ungkapan hati saya ini bukanlah yang pertama. Sekian tahun yang lalu telah banyak orang berkomentar mengenai rendahnya nilai pendidikan dalam siaran pertelevisian kita. Dari sana pula muncul niat dalam hati saya untuk berjanji tidak akan nonton siaran sinetron.
Ada banyak orang yang rela memilih dibodohkan asal senang, dari pada dicerdaskan tapi tidak menyenangkan. Mestinya ada banyak jalan untuk mengemas atau bahkan membuat acara televise yang mendidik sekaligus menyenangkan. Di sinilah letak kreativitas ‘tim kreatif’ televisi diuji. Sejujurnya program siaran televisi kita sungguh seragam, meski ada banyak stasiun televisi. Ketika sebuah stasiun tv sukses menampilkan program adu bakat, segera akan diikuti dtasiun tv yang lain. Hal senada terjadi pada program berita. Hampir semua stasiun memiliki siaran berita mengenai kriminal, program gossip, dan talk show.
Sekali lagi, banyak orang rela dibodohkan asal senang, dari pada dicerdaskan tetapi menderita.

Tumpakrejo, 29 Desember 2008

Comments

The Black Pearl said…
Romo..
aQ setuju ma Romo..
kalo Romo ada FS , dan merasa anti pembodohan(baca: anti sinetron Indonesia), mending Romo gabung sama kita-kita, di Grup Anti Sinetron Indonesia, hehehe..
MoRis HK said…
walah, ada wadahnya tho anti sinetron itu? aku ada FS, di waris_dempo@yahoo.com
emang sinetron itu khan hanya ngejar rating tanpa memedulikan pendidikan sama sekali

Popular Posts