Memaafkan Osama bin Laden?

Sahabat, kiranya belum terlalu basi jika saya mengangkat Osama Bin Laden sebagai topik catatan kecil ini. Saya tidak ingin berdebat atau berdiskusi mengenai siapa dia, bagaimana dia berkarya dan berorganisasi. Saya juga tidak ingin berdiskusi mengenai bagaimana ia meninggal, dan bagaimana seharusnya ia dimakamkan. Topik ini saya angkat sebagai sarana untuk merenungkan arti sebuah kedamaian dalam hidup.

Perintah Baru

Sebagai seorang Katolik, saya belajar dan terus berusaha melakukan sesuatu seperti yang dikehendaki oleh Yesus junjungan saya. Dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat, di dalam relasi dengan umat berbeda agama dan keyakinan, saya berusaha menjalankan apa yang dikehendaki oleh Yesus. Hal ini tidak selalu mudah, tetapi saya berusaha menjalankannya. Satu ayat yang menjadi dasar sikap saya ini saya ambil dari Injil Yohanes pasal 13 ayat 34-35. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Yesus mengharapkan satu hal, bahwa semua murid-Nya, setiap orang yang percaya kepada-Nya hidup dalam kasih. Bahkan hidup dalam kasih menjadi cirri khas murid-murid Yesus. Hal ini menjadi berat ketika permintaan mengasihi ini jatuh kepada orang yang tidak mengasihi kita. Yesus menegaskan bahwa kasih yang kita bagikan haruslah mengarah juga kepada orang-orang yang bahkan memusuhi kita. Kalau kita hanya mampu mengasihi orang-orang yang mengasihi kita saja, nilai kasih kita itu tidak ada artinya.

Nilai kasih yang kita bagikan itu memiliki arti besar karena kita bagikan kepada setiap orang, bahkan mereka yang tidak mengasihi kita atau bahkan mereka yang menyusahkan kita, misalnya para pesaing bisnis dalam dunia bisnis. Contoh yang lain, mengasihi orang yang menjelek-jelekkan nama kita, mereka yang memfitnah kita, mereka yang menipu kita dalam bisnis, dan masih banyak lagi. Kasih kita harus juga melimpah kepada mereka.

Di sinilah letak istimewanya perintah Yesus. Di sinilah letak kebaruan perintah Yesus. Ia mengatakan memberikan perintah baru, dan itu memang sungguh baru. Ketika perintah lama masih memperbolehkan membalas dendam, Yesus mengatakan harus mengasihi. Ketika mengasihi dalam perintah lama hanya sekadar kepada orang-orang yang mengasihi kita saja, dalam perintah baru Yesus meminta agar kita mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang membenci kita. Bagaimana caranya?

Memaafkan

Kata yang mudah sekali diucap, dan mudah sekali diingat. Maaf dan memaafkan. Hal yang sangat mudah namun sekaligus berat untuk dilakukan. Mengasihi musuh dan berdoa bagi orang-orang yang membenci kita hanya mungkin dilakukan kalau kita bisa memaafkan mereka. Memaafkan yang bukan hanya di bibir saja, namun memaafkan dari lubuk hati paling dalam. Jika Anda mengatakan ini berat, Anda benar. Namun di sinilah letak keistimewaan kita sebagai murid Yesus, yaitu diberi perintah untuk bisa mengasihi, dan memaafkan adalah tahap pertama dalam mengashi.

Kebanyakan orang akan berkata, “enak saja memaafkan, mereka telah menyakiti hati saya!” Dengan ungkapan itu seseorang enggan memaafkan. Mereka lebih memilih rasa sakit hati dan dendam daripada membuang rasa sakit itu dari hati. Menyimpan rasa sakit hati dan dendam itu seumpama menyimpan sampah di dalam tubuh. Ia bisa menjadi penyakit yang sangat mematikan. Sedangkan memaafkan adalah proses membuang sampah tersebut. Proses menghindarkan diri dari kungkungan penyakit. Namun banyak orang lebih memilih menyimpan sampah atau rasa sakit itu.

Mengapa memaafkan menjadi begtu berat? Mengapa banyak orang enggan melakukannya? Apakah yang sebenarnya menyulitkan? Yang berat dan menyulitkan adalah kemauan. Kemauan untuk memberi maaf dan membuang kebencian dan dendam. Kebanyak orang memiliki keinginan untuk membalas, meskipun pada akhirnya tindakan membalas ini akan membuahkan hasil yang lebih buruk lagi. Satu pembalasan akan memicu pembalasan yang lain. Tetapi satu pengampunan akan menghentikan seluruh rantai permusuhan dan sakit hati. Meski demikian, kebanyakan orang lebih suka memilih membalas dendam dari pada memaafkan.

Hidup Damai

Hidup damai bukan tercipta karena tiadanya musuh, tetapi karena kemampuan untuk memaafkan dan mengampuni musuh. Ajaran Yesus untuk mendoakan musuh dan berbuat baik kepada mereka yang menyakiti adalah sebuah bentuk ajakan untuk membangun dunia yang damai. Mendoakan musuh berarti tidak ada musuh lagi. Berbuat baik kepada orang yang jahat kepada kita berarti tidak ada lagi lawan, karena semua telah menajdi teman.

Ahhhh, pasti kalian yang membaca catatan ini menganggap saya sedang berkhayal. Membayangkan suatu dunia yang absurd dan jauh dari hidup keseharian kita. Tidak! Yang saya bicarakan adalah kehidupan kita sehari-hari. Menciptakan hidup damai harus dimulai, bukan ditunggu.

Hidup damai bukan sesuatu yang akan datang menghampiri kita. Ia akan tercipta ketika diupayakan. Dan mereka yang mengaku pengikut Yesus mestinya menjadi pelopor untuk menciptkan hidup yang penuh dengan damai. Mereka harus menjadi pribadi-pribadi yang penuh maaf dan pengampun. Mereka harus menjadi pribadi-pribadi seperti Yesus, pembawa damai dan pengampun.

Osama bin Laden dan Hidup Beriman

Mari kita membuka hati dan kepala kita dengan apa yang terjadi belakangan ini. Bagaimana sikap kita terhadap kematian Osama bin Laden? Gembirakah kita? Bersukariakah kita? Apakah kita ikut bersama orang-orang yang merayakan kegembiraan karena kematian seseorang? Siapakah kita?

Saya tidak ingin memasuki sebuah polemik. Apakah dia sungguh mati, sungguh dimatikan, atau meninggal. Mari kita andaikan bahwa dia sudah meninggal, entah bagaimana caranya. Mari kita memusatkan perhatian kita kepada reaksi atas hal tersebut. Bukan reaksi orang lain, melainkan reaksi kita sendiri. Bolehlah kalau saya bertanya reaksi Anda yang membaca catatan ini. Apa reaksi Anda menanggapi kematian Osama? Apakah Anda larut dalam sukacita atau menjadikan hal ini sebagai sarana untuk berefleksi.

Satu pertanyaan yang hendak saya sampaikan. Beranikah kita memaafkan Osama, jika dia memang bersalah. Jika dia memang bersalah, siapakah yang berhak menyatakan bersalah? Pengadilan ataukah kita. Jika pengadilah, sudahkah ia dinyatakan salah oleh pengadilan? Jika kita yang menyatakan dia bersalah, atas dasar apakah kita melakukannya? Mungkin kita akan menjawab, ‘dia menyebarkan terror di mana-mana.’ Seandainya tuduhan kita ini benar, apakah itu sudah cukup untuk mematikannya? Siapakah yang berhak mematikan kehidupan seseorang?

Penutup

Sahabat, kita semua mendambakan hidup yang damai. Kehidupan yang penuh damai itu tidak akan datang begitu saja. Dia harus diupayakan. Tuhan Yesus sebelum kembali ke surga senantiasa menyampaikan pesan ini kepada para murid-Nya, ‘damai sejahtera bagi kamu’. Pesan ini jika dikaitkan dengan perintah supaya saling mengasihi akan menjadi jelas bahwa para pengikut-Nya haruslah menjadi pribadi-pribadi penyebar damai. Pribadi-pribadi yang penuh maaf dan ampun. Hal ini harus sungguh mewujud. Maka kematian Osama bisa menjadi tonggak ukur bagi kita sendiri. Sejauh mana kita sungguh bisa menjadi pribadi yang penuh maaf dan ampun tersebut. Beranikah kita memaafkan Osama?

Tuhan memberkati

Romo Waris, O.Carm

Pastor Umat Katolik Indonesia di Melbourne

Comments