Mengapa percaya?

Tahun 2015 belum genap 30 hari, tetapi sudah ada begitu banyak pengalaman pahit yang harud dikecap oleh banyak pihak. Ada kekerasan karena sentimen agama, ada pembunuhan juga karena sentimen agama, ada kecelakaan, ada bencana, ada drama politik. Singkatnya, ada begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang harus dialami. Padahal tahun yang baru, baru saja bergulir.

Rentetan peristiwa-peristiwa buruk ini membuat sebagian orang bertanya, masihkan kita percaya kepada Tuhan yang akan membuat segalanya baik? Masihkah kita percaya akan adanya Tuhan yang membuat segalanya indah? Bahkan berbagai macam kekerasan bahkan pembunuhan atas dasar sentimen agama telah membuat para pembenci Tuhan bersorak riang. 
'Lihatlah mereka yang setiap hari bersujud syukur kepada Tuhan, kini mereka saling bunuh! Tuhan macam apakah yang mereka abdi? Tuhan macam apakah yang mereka sembah setiap hari?" Demikianlah para pembenci Tuhan bersorak.
Dari penjuru yang lain datang sebuah paparan keluhan. Sebuah daftar rasa kecewa dan frustasi atas sikap orang-orang yang dianggap mewakili keberadaan Tuhan. Paparannya kurang lebih begini: Lihatkan saudara kami ini. Dia baik, sopan, rajin berdoa, rajin membaca Kitab Suci. Tetapi hidupnya selalu dirundung malang. Dari muda hingga kini seakan berkawan karib dengan nestapa dan derita. Ada saja hal-hal buruk yang selalu menimpa. Padahal dia sangat berbakti kepada Tuhan. Mengapa Tuhan tidak meluputkan dia dari segala malapetaka? Dimanakah Tuhan kini berada?
Rentetan peristiwa tadi semakin meneguhkan orang-orang untuk bertanya masihkah kita memercayai Tuhan? Masihkah kita letakkan segala kepercayaan kita kepada-Nya? Nyatanya Dia tidak berbuat apa-apa.

Ketika pertanyaan ini diajukan kepada saya, sayapun tidak bisa menjawabnya. Kepercayaan adalah persoalan pribadi. Bahkan dalam kelompokpun, kepercayaan adalah urusan pribadi. Mengapa saya tetap memercayai Tuhan? Itu adalah urusan pribadi saya. Terkadang saya mengerti mengapa saya tetap memercayai, tetapi kerap kali teramat susah untuk mengungkapkannya.
Kemudian saya hanya melihat contoh. Ada empat pemuda. Mereka adalah Petrus dan saudaranya Andreas. Lalu ada Yohanes dan Yakobus. Keempat pemuda ini sehari-hari bekerja sebagai nalayan. Petrus dan Andreas mugkin sebagai nelayan lepas. Sedangkan Yohanes dan Yakobus bekerja di perusahaan ayahnya. Perusahaan yang bergerak di bidang penangkapan, pengolahan dan pendistribusian hasil laut.
Suatu hari, lewatlah pemuda lain, yang pernah mereka kenal. Namanya Yesus. Pemuda ini mengajak mereka untuk meninggalkan pekerjaan mereka sebagai penangkap ikan. Bahkan pemuda ini mengajak mereka meninggalkan keluarganya dan seluruh bisnis yang telah mereka geluti. Anehnya, pemuda-pemuda itu menurut dengan ajakan Yesus.

Saya bertanya-tanya, mengapa mereka begitu mudah menaruh kepercayaan kepada pemuda Yesus itu? Rupanya ada beberapa alasan. 
Pertama, perjumpaan ini rupanya bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya mereka telah berjumpa dengan Yesus. Andreas misalnya telah berkunjung ke tempat kediaman Yesus. Kemudian dia memberitahu saudaranya, Petrus. Mungkin juga Yohanes dan Yakobus juga sama, mereka tekah berjumpa dengan Yesus sebelumnya. Misalnya dalam acara pernikahan yang di Kana, yang sempat kekurangan anggur. Mungkin peristiwa itu telah membuat Yesus berkenalan dnegan banyak pemuda.
Perjumapaan itu rupanya meninggalkan jejak kesan yang mendalam. Sehingga ketika Yesus memanggil mereka untuk mennggalkan seluruuh aktivitas lama mereka, mereka seketika itu juga berdiri dan mengikuti Yesus.
Kedua, kepercayaan yang tertanam itu bukan muncul begitu saja. Kepercayaan itu buah dari proses pengenalan dan kemauan untuk menjalin relasi secara pribadi yang mendalam. Mereka menaruh keprcayaan kepada Yesus bersamaan dengan kehendak untuk menjalin hubungan secara pribadi dengan Yesus. Semakin dalam mereka menjalin relasi dengan Yesus, semakin dalam pula mereka menumpukan keparcayaan itu kepada Yesus.
Ketiga, mereka tidak mempersoalkan mengapa mereka begitu memercayai, karena mereka sibuk untuk terus menjalin relasi. Seperti yangs aya katakan, semakin dalam mereka menjalin relasi, semakin dalam pula kepercayaan mereka tertancap.

Pelajaran yang bisa saya dapatkan adalah:
Ada begitu banyak misteri kehidupan yang pasti tidak akan mampu saya pecahkan. Bahkan ketika ada yang datang dan bertanya, "mengapa da orang baik yang menderita?" Misteri-misteri kehidupan ini hanya akan bisa dipahami dengan menjalaninya dari hari ke hari. Tentu seraya membuka hati akan kehendak Sang Pencipta. Siapa tahu akan diberi karunia untuk bisa mencerna, meski hanya secerca.
Berikutnya, dari pada sibuk bertanya lebih baik sibuk menjalin relasi yang mesra. Cara-cara yang biasa dipakai untuk menjalin relasi dengan sesama, bisa juga digunakan untuk menjalin kemesraan dengan Sang Pencipta. Menjalin dan menjaga komunikasi. Melakukan apa yang Dia sukai dan tidak melakukan apa yang Dia tidak kehendaki.
Konkretnya, misalnya : tiap pagi dibuka dengan doa ucapan syukur dan ditutup dengan refleksi singkat atas perjalanan sepanjang hari. Berusaha untuk bisa menjalankan apa yang sungguh-sungguh dia senangi. Maka "mantra" singkat, "TUHAN, AJARI AKU BERJALAN DI JALANMU" bisa diulang-ulang setiap hari. Niscaya, lambat laun kepercayaan itu akan tertancap dalam, seirama dengan relasi yang kian mesra.

salam

Comments