Mengapa aku mencintaimu, oh Maria!


Saudari-saudara terkasih, mengapa saya begitu mencintai Bunda Maria? Sedikit pemaparan berikut adalah gambaran sederhana mengapa orang-orang Katolik begitu mencintai Bunda Maria. Saya berangkat dari pengalaman pribadi, hidup sebagai orang Katolik, yang saya andaikan dialami oleh sebagian besar orang Katolik yang mencintai Maria juga.
Saya tidak menguraikan perdebatan-perdebatan teologis-biblis mengenai Maria. Di sini saya hanya hendak berbagi, bagaimana lebih mencintai Allah seperti Maria. Bahkan bukan hanya seperti Maria, tetapi bagaimana mencintai Allah bersamanya.
Cinta pertama
Kesan pertama senantiasa menggoda. Selanjutnya terserah Anda yang akan menguraikannya. Demikianlah kesan pertama saya tatkala belajar mencintai Allah. Dulu sekali, ketika saya masih kecil, ibu saya mengajari berdoa. Bukan doa yang rumit-rumit, tetapi doa sederhana yang ia bisa. Tentu ibu saya juga perempuan sederhana, dia tidak pandai merangkai kata, maka doanya juga sederhana. Yang dia tahu hanya Bapa Kami dan Salam Maria. Maka doa itulah yang diajarkan kepada saya.
Setiap malam menjelang tidur, ibu mengajak saya berdoa, meski doa yang dilantunkan selalu sama, toh saya tidak bosan. Terkadang ibu menceritakan sedikit kisah mengenai Maria, dan beberapa kisah yang ia dengar di Gereja. Atau terkadang juga mengajak bernyanyi dari buku Madah Bhakti. Yang pasti ibu tidak banyak mendongeng atau berkisah, tetapi hanya mengajak berdoa. Dari situlah benih cinta saya kepada Allah melalui Bunda Maria mulai tumbuh.
Menginjak remaja dan akhirnya hingga sekarang, saya tetap tidak pandai berdoa. Doa saya masih hampir sama seperti yang diajarkan oleh ibu saya di waktu saya masih kecil. Hanya sekarang, saya lebih memahami apa yang saya lakukan. Jika dahulu saya hanya melakukan apa yang diajarkan ibu, sekarang saya memahami dengan lebih baik mengapa ibu mengajarkan itu.
Sederhana dan Setia
Dalam perjalanan waktu, cinta saya kepada Maria juga bertumbuh. Dulu saya mencintai ya mencintai saja. Kurang memahami, dan terkesan cinta buta. Itu terbukti ketika teman-teman dari Gereja lain mengolok-olok dengan mengatakan saya menyembah Maria, saya marah besar. Saya tidak terima.
Tetapi kemudian saya menyadari, bahwa kemarahan saya itu tidak terlalu berdasar. Dan bukan tanda cinta yang benar juga. Setelah memahami dengan benar, saya tidak pernah marah lagi ketika diolok-olok. Saya hanya tersenyum dan bahkan cinta saya semakin bertumbuh besar.
Mengapa saya begitu mencintai Maria? Jawaban pertama yang saya temukan adalah, karena Allah saja mencintai Maria. Bagaimana saya tidak mencintainya? Allah saja menghormatinya, bagaimana saya tidak menghormatinya? Tentu Allah tidak bermain dadu ketika memilih Maria untuk menjadi ibu penebus. Sebagai pribadi, Maria memeiliki sifat dasar yang membuat seseorang, bahkan Allah sekalipun, akan terus terpikat kepadanya. Yaitu, sederhana dan setia.
Maria adalah sosok pribadi yang sederhana. Ia tidak menonjolkan diri dan berbangga hati, bahkan ketika dipilih untuk melahirkan penebus. Inilah beberapa kesederhanaan hati Maria. Ia senantiasa menyadari keterbatasan dirinya dan berani menyerahkan segala peristiwa kepada Tuhan.
Ketika menerima kabar gembira (Luk 1:26-38), ketika menerima salam dari Elisabet (Luk 1:39-46), ketika menerima kunjungan para gembala dan para majus dari timur (Luk 2:6-19), ketika perkataan Yesus tidak bisa ia mengerti (Luk 2:21-52), ia tidak memegahkan diri. Dalam setiap peristiwa itu, Maria menunjukkan kualitas dirinya. Yang tidak menjadi sombong, yang tidak menjadi sok tahu dan sok pandai, juga tidak menjadi sok berkuasa. Ia tetap menajdi Maria, gadis sederhana dari kampung Nazareth.
Kesederhanaan Maria dilengkapi dengan kesetiannya keapda Allah. Hal itu sungguh terbukti nyata. Mari kita lihat sekilas. Meski ia dipilih Allah untuk melahirkan penebus, bukan serta merta hidupnya enak dan tanpa kesulitan. Sebaliknya, setiap jengkal langkah yang ia tempuh, mengguratkan jejak derita yang tiada terkira. Mesti melahirkan di kandang hina, mengungsi ke negara tetangga, menyaksikan anknya dijatuhi hukuman mati, memangku anaknya yang telah menjadi jenazah; dalam semua peristiwa itu Maria tetap menyerahkan semuanya kepada Allah.
Janji yang dahulu ia utarakan ‘sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.’ Maria memegang janjinya itu, ia tetap menyerahkan apa yang etrjadi pada dirinya kepada kuasa Allah. Meski terasa menyakitkan. Semuanya itu adalah gambaran sederhana betapa setianya Maria kepada Allah. Ia tidak berontak dan tidak menuntut. Ia tetap memercayakan setiap peristiwa hidupnya ke dalam naungan kasih Tuhan.
Teladan dan teman dalam berdoa
Setelah Yesus kembali ke surga, Maria jarang disebut dalam Kitab Suci. Perannya kemudian adalah menjadi ibu atas para murid, dan atas seluruh umat. Tetap dalam kesederhanaan seperti dahulu kala. Sekarang Maria menjalankan tugas yang diberikan Yesus kepadanya. Menjadi ibu atas para murid (Yoh 19:26).
Maria menjalankan perintah itu dalam keheningan doa. Seperti digambarkan Paulus, Maria ‘tersebunyi bersama Kristus di dalam Allah’ (Kol 3:3). Maria mendampingi Gereja, anak-anak yang diserahkan Yesus kepadanya, dalam doa-doa. Maka tidak pernah keliru ketika kita berseru kepada Maria, ‘doakanlah kami orang berdosa ini, sekarang hingga kami mati.’ Karena Yesus telah menyerahkan kita kepada Maria (Yoh 19:27).
Dalam keheningan dan ketenangan, Maria mendampingi kita dalam perjalanan mencintai Allah. Ia setia menemani, ia juga memberi teladan. Ia penuh iman ketika berkata kepada Yesus, ‘mereka kehabisan anggur’ (Yoh 2:3). Ia memiliki iman yang sangat besar. Berdoa adalah gamabran sederhana hidup beriman. Maria telah membuktikan, bukan hanya dulu, tetapi juga kini dan nanti.
Mengapa cinta
Jika saya kembali ditanya, mengapa saya mencintai Maria, maka jawaban saya tetaplah sama. Karena Allah saja begitu mencintai Maria, masakan saya tidak mencintainya. Allah mencintai bukan dengan cinta buta, tetapi karena Maria memang pantas dicintai. Selain itu, bersama Maria saya belajar mencintai Allah dengan apa adanya, dan belajar setia kepada-Nya. Jika saya tidak mencintai Maria, tentu kurang ajar. Karena sekali lagi, Allah saja mencintainya. Maka saya terus mencintainya dengan sepantasnya, sebab Maria membantu saya makin dekat dengan Allah. ‘Santa Maria bunda Allah, doakanlah aku yang berdosa ini, sekarang, hingga kami mati.’

Comments