Mereka bilang saya suka makan.

Nasi Putih disantap dengan ikan goreng, tempe goreng,
empal goreng dan lalapan. (foto koleksi pribadi)
Hari itu kami sedang melihat televisi, program film kartun. Kami semua orang-orang dengan umur yang sudah cukup banyak, tetapi kami menonton film kartun. Tidak menjadi masalah. Film itu bercerita tentang beberapa binatang yang berkumpul menajdi satu, ada kura-kura, landak, bajing, anjing hutan, dll. Seperti pada umumnya film kartun, mereka bisa berbicara.
Dalam satu moment, para binatang ini sedang bergossip ria. Mereka berbicara perihal makanan, perihal kebiasaan mereka makan, dan kebiasaan manusia makan. Ini yang diungkapkan satu binatang itu:

"Kita makan untuk mempertahankan hidup, hal ini berbeda dengan manusia. Biasanya mereka mempertahankan hidup untuk bisa menikmati makanan. Singkatnya, kita makan untuk hidup tetapi manusia hidup untuk makan!"

Mendengar ungkapan itu, teman-teman saya serentak menoleh pada saya. "What!!" Protes saya. 

Mereka mengatakan bahwa saya banyak makan. Mereka mengatakan saya suka makan. Mereka mengatakan bahwa saya mengabdi perut. Mereka setuju dengan kesimpulan para binatang itu yang mengatakan bahwa saya hidup untuk makan.


Agak sulit bagi saya untuk menjawabnya. Kalau saya menjelaskan, mereka akan menuduh saya mencari alasan untuk membela diri. Kalau saya diam saja, mereka akan terus berkoar. Ini tentu saja tidak bagus. 

Harus saya katakan, bahwa saya tidak hidup untuk makan. Saya hanya berusaha bisa menikmati tiap makanan. Mungkin banyak orang salah paham ketika saya berkata bisa makan apa saja jenis makanan. Yang ada dalam benak mereka pasti, rakus!

Makan itu sebuah perayaan

Saya sudah sejak lama menyadari bahwa makanan itu bukan sekadar makanan, dan makan bukan sekadar makan. Makan itu bukan sekadar memindahkan makanan ke dalam mulut mengunyah dan kemudian memindahkannya ke perut. Makan itu sebuah perayaan. Apapun namanya, makan ada sebuah upacara, ada sesuatu yang hendak dirayakan.

Makan adalah sebuah prayaan kehidupan. Itulah yang harus disadari. Hidup itu harus dirayakan, dan perayaan tanpa makanan bukanlah sebuah perayaan. Sebuah kehidupan yang terus berjalan tiap detik, tiap menit, tiap jam, hari bulan dan tahun membawa aneka ragam peristiwa. Masing-masing menyelipkan cerita yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Masing-masing mesti dirayakan.

Orang Jawa menyebut perayaan kehidupan itu dengan ungkapan "selamatan". Sebuah perayaan akan anugerah hidup dan kehidupan. Selamat artinya hidup. Hidup menyertai seluruh perjalanannya hingga hidup itu berakhir, dan semuanya dirayakan ditandai dengan perayaan makan.

Ketika manusi amasih berupa janin di dalam rahim, kehidupannya sudah dirayakan. tiga bulanan- tujuh bulan dan nanti pada hari kelahirannya. Tiap perayaan ada makanan yang hanya bisa dimakan pada waktu itu. Misalnya iwel-iwel. Semacam jenang. Agak manis dari beras ketan yang ditumbuk halus menjadi tepung, terkadang agak kasar dicampur parutan kelapa. dibungkus daun pisang dan berisi gula merah. kue ini dikukus sekitar 20-30 menit. Iwel-iwel hanya bisa dijumpai dalam perayaan kelahiran, dan perayan lain yang berkaitan dengan kehidupan baru.

Makan itu sebuah ungkapan syukur. Syukur atas alam atas kehidupan. Hal ini sangat terasa dalam budaya Cina. Mereka (dulu) adalah masyarakat agrikultur alias masayarakat petani. Maka setiap perayaan apti berkaitan dengan pergantian musim dan pertanian. 

Tiap perayaan ditandai dengan jenis makanan yang berbeda. Perayaan bulan baru, musim baru, mid-autumn fest, ditandai dengan kue bulan. Kemudian ada bakcang, ada kue tahun baru, dll. Masinsg-masing jenis makanan itu hanya bisa diujumpai pada perayaan tersebut. Perayaan menjadi spesial karena ditandai makanan tertentu. Dan makanan mendapatkan nilai tambahnya karena menandai perayaan tertentu. Makan bukan lagi sekadar memindahkan makanan ke perut, tetapi sebuah perayaan kehidupan.

sayapun mencoba menandai tiap langkah hidup saya sendiri dengan makanan. Saya berusaha merayakan tiap tahap hidup saya dengan jenis makanan yang berbeda. Masing-masing saya maknai sendiri, saya rayakan sendiri. Misalnya, menandai hari kelahiran saya akan menikmatinya dengan semangkok soto ayam. Sedapat mungkin akan saya masak sendiri. Menandai hidup membiara atau imamat, saya akan menikmati dengan oseng pare. Agak aneh, tapi bagi saya ada banyak nilai yang terkandung di dalamnya. 

Bangga dengan budaya

Saya selalu bangga dengan aneka makanan Nusantara Indoneisa. Misalnya soto. Hampir tiap kota d Indonesia memiliki soto dengan kekhasannya masing-masing. Lalu ada sate, dll. Menikmati makanan khas Indonesia tentu lebih menyennagkan jika dinikmati di tempatnya berasal.

Suatu saat saya bertamu di sebuah keluarga di Banjarmasin. Pagi hari mereka mengajak saya menikmati sarapan di sebuah warung. Menu yang kami pilih adalah ikan gabus. Bagi saya yang menarik bukan ikan gabusnya, tetapi nasinya. Bagi saya yang orang Jawa ini, nasi di sana dimasak dengan sangat 'akas', agak keras dan kurang lunak. Maka berkali-kali saya harus meneguk air agar tidak 'kesereten'.

Melihat itu, bapak yang mengajak saya berkomentar,"itulah, waktu saya ke Jawa, saya juga kesulitan menikmati nasi kalian yang pulen, bagi saya sulit sekali dimakan." Masyarakat Indonesia pada umumnya adakah "pemakan" nasi. Tetapi tiap daerah memiliki cara sendiri dalam mengolah dan menyajikan nasi. Orang Jawa lebih menyukai nasi yang pulen. Sedangkan daerah lain lebih menyukai nasi yang sedikit akas. 

Menikmati makanan khas udaya tertentu itu sangat menyenangkan. Dari makanannya akan kita kenal orang-orangnya. Makanan itu diolah dari tanaman dan binatang yang hidup di daerah itu. Makanan itu akan membentuk kharakter orang-orang di daerah tersebut. Ketika kita mampu menikmati makanan yang disajikan oleh suatu masyarakat tertentu, kita dibantu untuk menerima masayrakatnya yang mungkin kharakternya sangat berbeda. 

.....

Itu yang saya pelajari. Itulah mengapa saya menyukai makanan. Itulah mengapa saya belajar makan apa saja. itulah mengapa saya suka makan dan menikmati aneka makanan yang baru. Tetapi hasilnya kalian menjuluki saya suka makan, bahkan lebih menyakitkan karena menuduh saya hidup untuk makan. Padahal, kalau kalian telat makan sedikit saja pasti akan teriak-teriak. Hmm sudah saatnya makan. Sampai jumpa.

Comments