Skip to main content

Perjalanan Ke Beijing (1)

Perjalanan ke Beijing adalah perjalanan pertama kaliku ke luar negri. Perjalanan ini memiliki arti yang sangat besar bagiku. Pengalaman pertama ke luar negri. Mungkin bagi banyak orang hal ini sangat biasa. Tapi bagiku tidak. Apalagi ini ke Beijing. Lebih dari segalanya, ke Beijing tentu berbeda jika dibandingkan dengan perjalanan ke New York, London, Manila, Roma, atau Paris. Aku belum punya pengalaman ke semua kota yang kusebut tadi, namun menurut banyak orang berbeda. Tentu saja aku tidak percaya sebelum merasakannya sendiri. Seperti Tomas saja yang tidak percaya bahwa Yesus bangkit sebelum mencucukkan jarinya ke luka Yesus. Ketidak percayaanku hanyalah sebuah harapan, siapa tahu aku bisa ke kota-kota yang kusebutkan tadi.

Kembali ke perjalanan ke Beijing. Bagiku sangat spesial, karena semi rahasia, semi kejutan, semi resmi, semi rekreasi, dan semi-semi yang lain. Aku ke Beijing dalam rangka memberi rekoleksi sekaligus ber-Pekan Suci di sana. Tentu saja ini sesuatu yang luar biasa bagiku. Tahun lalu aku ber-Pekan Suci bersama anak-anak Bakti Luhur dan tahun ini aku ber-Pekan Suci bersama anak-anak Mahasiswa Katolik di Beijing. Pengalaman yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan ber-Pekan Suci di suatu paroki. Tentu aku tidak bisa merasakan perbedaannya dengan pasti karena aku belum bernah ber-Pekan Suci di paroki.
Di Beijing aku tidak hanya ber-Pekan Suci, tapi juga memberi rekoleksi, atau sebaliknya, aku memberi rekoleksi sekaligus ber-Pekan Suci di sana. Hal ini membutuhkan persiapan yang lumayan banyak, apalagi tugas-tugasku sendiri sangat banyak dan terikat dengan jadwal (mengajar di sekolah dan mengadakan ujian praktik bagi para siswa kelas 3). Maka aku mulai mengatur materi dan jadwal mengajarku agar bisa aku tinggal lebih cepat. Demikian juga dengan jadwal memberi ujian praktik aku atur lebih cepat agar aku bisa berangkat dengan tenang.
Persiapan pertamaku adalah mohon ijin dari Provinsial. Memang kepergianku ini tidak ada bedanya dengan asistensi misa Pekan Suci, seperti biasanya. Namun tidak bisa disamakan begitu saja. Aku mesti mengubah identitas, hal berkaitan dengan pengurusan pasport, aku tidak memakai nama seorang romo dan tidak bertempat tinggal di biara. Hal ini bagiku sesuatu yang besar maka aku ‘minta ijin’ kepada provinsial. Minta ijin aku beri tanda kutip karena sebenarnya aku lebih kepada memberitahukan dari pada minta ijin, sebab aku telah menyanggupi tawaran untuk memberi rekoleksi dan misa Pekan Suci di Beijing tanpa berkonsultasi dengan pimpinan. Berikutnya aku beritahukan rencana ini kepada Pimpinan sekolah di mana aku bekerja.
Setelah pimpinan mengetahui dan menyetujui kegiatanku, aku mulai mengurus surat-surat. Mulai dari membuat KTP baru hingga membuatpaspot dan mengurus visa perjalanan. Semua berjalan lancar, tidak serumit yang aku bayangkan. Satu hal yang membuat aku khawatir adalah pengurusan surat-surat teman perjalananku tidaklah selancar seperti yang aku alami. Oh iya, hampir lupa aku sampaikan bahwa kepergianku ke Beijing tidak sendirian. Aku ke sana bersama Rm. Kwek. Pada mulanya aku tidak tahu bahwa Rm. Kwek juga diundang ke Beijing, maka ketika aku mengahdap provinsial aku hanya sendirian. Juga ketika aku mengurus surat-surat, aku mengurus sendiri. Seandainya aku tahu dari awal bahwa aku tiak sneidri, mungkin sedari awal pula aku mengajak Rm. Kwek mengurus suratnya lebih cepat, agar tidak terlambat.
Persiapan kedua yang aku lakukan adalah menyelesaikan berbagai pekerjaan yang akan aku tinggalkan selama dua minggu lebih. Pertama adalah tugasku di sekolah, yang kedua adalah tugasku di karmelindo (menyelesaikan Spirit nomor 2 yang sudah sangat terlambat, menyelesaikan Berita Karmel bulan Maret dan menyelesaikan tugas di cafe rohani).
Tugasku di sekolah bisa aku atur agar selesai sebelum aku berangkat ke Beijing. Dan Jadwal mengajar ini bisa aku atur dengan baik, bahkan 2 minggu sebelum keberangkatanku aku telah menyelesaikan seluruh materi yang aku siapkan untuk semester 2. Bahkan aku telah menyelesaikan ujian. Karena aku mengajar kelas 3 maka aku juga bertanggungjawab atas kegiatan ujian prakti. Bersama dengan Pak Petrus, aku telah menyususn jadwal ujian praktik agar selesai sebelum aku pergi. Karena satu hal, satu kelas tidak bisa aku uji sendiri, karena ada pengunduran jadwal. Namun aku telah mencarikan satu guru untuk menguji mereka. Maka aku bisa meninggalkan sekolahan dengan tenang.
Tugasku yang lain, berkaitan dengan karmelindo juga aku usahakan untuk selesai. Sebelum aku berangkat aku telah menyerahkan naskah Majalah Spirit ke percetakan, menyelesaika penyusunan Berita Karmel dan menyelesaikan anskah Cafe Rohani. Di samping itu semua aku mesti mempersiapkan materi rekoleksi untuk para mahasiswa di Beijing. Berdasarkan jadwal penerbangan dan jadwal acara di sana, aku tidak memiliki waktu banyak untuk istirahat di Beijing. Begitu aku tiba pagi hari, sekitar jam 07.45 waktu Beijing, sore harinya aku mesti memberi rekoleksi pada panitia rekoleksi besar. Sedangkan untuk mempersiapkan rekoleksi besar, aku masih memiliki waktu 1minggu di Beijing. Maka bahan yang persiapkan dengan matang hanya bahan rekoleksi bagi panitia saja. Sedangkan yang lain masih berupa draffnya saja.
Persiapan yang lain, yang menimbulkan banyak kekhawatiran dan dag-dig-dug dalam hati adalah bekal atau barang-barang yang akan aku bawa ke Beijing. Teman-teman di sana meminta aku membawa perlengkapan misa. Waduh sesuatu yang mengkhawatirkan. Aku mendengar bahwa pemerintah China bersikap sangat hati-hati terhadap barang yang masuk negaranya, termasuk prlengkapan beribadah. Itu yang selama ini aku dengar, maka aku cukup khawatir.
Meski khawatir, aku tetap mempersiapkan. Aku mempersiapkan peralatan misa lengkap; kasula, stola, piala, anggur, dan buku misa. Berkaitan dengan barang-barang ini Romo Provinsial sempat khawatir, terutama dengan anggur, demikian juga dengan teman seperjalananku, Rm. Kwek. Mereka takut kalau itu nanti menjadi penyebab kesulitan. Aku pun sempat khawatir, dan berencana tidak jadi membawa anggur, namun setelah memikirkan masak-masak, trmasuk risikonya, aku putuskan untuk tetap membawa anggur. Sedikit atau banyak risikonya sama saja, maka aku memabwa dua botol yang aku pindahkan ke botol Coca-cola. Maka Jumat 23 Maret 2007, setelah segala sesuatunya siap, aku berangkat ke Beijing.

Comments

Budi said…
Salam kenal mo...
Aku wes baca2 blog'e romo Waris, ciamik pol mo.
Eh mo kenal mbe romo Kwek to?
Dimana skrg beliau mo?
Minta alamat emailnya romo Kwek boleh mo?

Kamsia mo,

Budi

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …