Skip to main content

Arsip Kompasiana

Teman-teman terkasih,
tanpa terasa sudah setengah bulan kita berjalan di tahun yang baru. ada banyak kenangan dan kenyataan yang kita lalui bersama. ada yang menyenangkan, ada yang menggemaskan, tak jarang menggelisahkan.
selama ini, saya berbagi kisah dengan kalian di beberapa 'rumah'. dulu, sewaktu saya masih seorang facebooker, setiap hari saya berbagi di sana. kemudian saya menutup rumah saya di sana, meskipun banyak menuai protes juga.
lalu saya menghidupkan kembali blog ini, yang sudah lama mati suri, saya bangkitkan kembali. dengan sedikit mengubah tampilan dan titel di atas. dengen memberi titel ngopi bareng, saya hendak menawarkan rasa baru dari blog ini, tidak terlalu berat, namun cukupan. seperti saat kita ngopi bareng, di teman camilan rasanya mantap sekali, meskipun tidak menyenangkan, ada banyak yang didapatkan.
kemudian saya juga bergiat lagi dalam menulis, terutama di kompasiana. hampir setiap hari saya menulis di sana, terkadang blog ini jadi terlupakan lagi. maka saya berpikir untuk mentautkan apa yang saya tulis di sana dengan blog di sini. sepeti tulisan saya mengenai beberapa catatan natal, saya tautkan dengan tulisan saya di kompasiana. namun saya merasa kurang efektif, dan terasa hanya mengcopy saja.
maka, saya taruh tulisan saya di kompasiana itu sebagai arsip berbentuk feed, di atas arsip tulisan blog ini. dengan demikian, kalian tinggal mengklik tulisan saya di sana.
dan nantinya, apa yang saya tulis di sini, sungguh berbeda dengan yang saya tulis di sana.
harapannya, di sini dan di sana, semua mewartakan kasih Tuhan.
Tuhan memebrkati

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …