Skip to main content

Salah Kirim

Sahabat, beberapa hari yang lalu saya salah kirim email. Maksud hati mau membalas kiriman email teman saya di Jakarta, ehhh kok malah nyasar masuk ke milist drama musical. Teman saya ini manas-manasin dengan ngirim foto-foto makanan dengan BB-nya. Nah, saya mau balas kirim foto dengan henpon yang aku punya. Walah kok malah salah masuk.

Hal yang lebih lucu lagi, saya nggak sepenuhnya ngeh kalau kiriman email itu masuk ke milist. Saya kira hanya salah kirim ke Margrit, ehhh setelah saya cek kok ke milist. Cilaka dua belas.

Sebenarnya, meski salah kirim, saya udah ga begitu memikirkan lagi, toh bukan gambar yang aneh-aneh. Maka saya melanjutkan aktivitas. Malam ini, sesudah makan, saya ada janji dengan beberapa teman untuk mengadakan lektio divina. Yaitu berdoa bersama dari Kitab Suci, membaca dan merenungkan bersama-sama teks Kitab Suci.

Teks yang kami baca adalah kisah mengenai Yesus membangkitkan Lazarus dalam Injil Yohanes 11:1-44. Teksnya panjang tapi menarik banget. Lazarus adalah adik bungsu Maria dan Marta. Mereka ini dikenal dekat dengan Yesus.

Yesus diberitahu kalau Lazarus sedang sakit. Tetapi anehnya, Yesus nggak langsung mengunjungi. Yesus malah terkesan santai-santai, dan baru dua hari kemudian mereka pergi ke Betania, tempat kediaman Lazarus. Saat itu adik dari Maria dan Marta ini sudah meninggal, bahkan ketika Yesus sampai di sana ia sudah 4 hari dimakamkan.

Apakah kedatangan Yesus ke Betania sudah terlambat? Ataukah Yesus melakukan kesalahan? Ternyata tidak. Yesus memiliki rencana sendiri. Ia menunjukkan kepada banyak orang yang hadir di sana bahwa kuasa Allah itu luar biasa.

Marta dan Maria, juga orang banyak beranggapan bahwa Yesus sudah terlambat. Mereka berkata, “seandainya Engkau datang kemarin, tentu dia tidak akan mati.” Mereka melihat Yesus sebagai Yang Berkuasa, tetapi mereka melihat bahwa kedatangannya sekarang sudah terlambat. Lazarus sudah 4 hari dimakamkan, sudah tidak mungkin dibangkitkan. Karena dalam pandangan masyarakat waktu itu, orang mati masih mungkin dibangkitkan jika kematiannya tidak lebih dari 3 hari. Ternyata Yesus mampu membangkitkan Lazarus yang sudah dimakamkan selama 4 hari.

Salah kirim?

Teman-teman terkasih, perjalanan kita bersama dalam mempersiapkan Drama Musikal sudah cukup panjang. Ada banyak hal kita alami bersama. Keraguan, ketakutan, kecemasan, harapan, kegembiraan, was-was, perselisihan, dan masih banyak lagi. Bahkan, dalam tim inti juga ada bongkar pasang anggota.

Apakah kita termasuk orang-orang yang salah kirim? Ataukah ada rencana lain yang hendak dipakai oleh Allah dalam pengalaman yang kita peroleh ini?

Satu hal yang pasti, saya semakin diyakinkan bahwa tidak ada salah kirim. Allha menghadirkan banyak pengalaman untuk mendidik kita. Dalam pengalaman itu juga dihadirkan pribadi-pribadi yang kerap tidak sepaham dan seide dengan kita. Di sana kita dituntut untuk berani membuka diri dan hati, untuk bisa sungguh merendahkan ego. Allah memakai teman-teman dan berbagai kejadian untuk mendidik kita, untuk menunjukkan kuasa-Nya.

38 hari lagi Drama Musical akan digelar. Masih ada 38 hari lagi kesempatan bagi kita untuk membuat sesuatu yang lebih baik. Masih ada 38 hari kesempatan memberi ruang yang luas bagi kebesaran Tuhan. Tidak ada salah desain dan salah kirim dalam kuasa Tuhan. Yang ada adalah kejutan yang kerap tidak kita bayangkan.

Mari kita pakai kesempatan yang ada ini. Sedapat mungkin kita hindarkan penggunaan energy sia-sia untuk urusan yang kurang bermanfaat. Teman-teman yang mulai dirundung jenuh dan bosan, yang masih ‘cenut-cenut’, yang semakin penuh semangat, yang lama bergabung, yang baru bergabung, semuanya saja, yakinlah akan kebesaran dan kuasa Tuhan. Ia mendampingi kerja dan niat baik kita. Akhirnya, kiranya segala niat baik kita akan bersambut dengan kehendak mulia Allah.

Tuhan memberkati.

Comments

Romo Waris said…
catatan ini saya buat untuk mendukung teman-teman muda di melbourne yang sedang menyiapkan sebuah pementasan drama musikal bertajuk SATU

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …