Skip to main content

Hari ini Saya Berulang tahun

Konfrater terkasih dan para sahabat yang dikasihi Tuhan. Hari ini saya berulang tahun. Sebenarnya biasa saja, tetapi menjadi berbeda karena budaya dan lingkungan yang menghidupinya membuat ulang tahun memiliki sebuah makna yang lebih. Hari ini, juga hari ini di tahun yang silam, saya senantiasa menemukan kasih Tuhan yang luar biasa.
Dulu, sewaktu saya masih kecil dan remaja, simbok menyiapkan segala macam untuk ulang tahun saya. Meskipun saya sebut segala macam, menu utama ulang tahun di masa kecil saya adalah soto. Soto ayam. Dan selalu soto ayam. Tidak pernah berubah, bahkan sampai saya besar dan lama meninggalkannya. Kalau pulang selalu disambut soto ayam. Maka sekarang saya juga merayakan ulang tahun dengan soto ayam. Sebagai kenangan akan simbok tentu saja.
O iya, perayaan ulang tahun di masa kecil saya itu sebenarnya monoton banget. Acaranya selalu sama. Sedari  saya kecil, yang bisa saya ingat sampai saya meninggalkan kampung, perayaan ulang tahun saya selalu sama. Bapak saya akan mengundang warga lingkungan untuk datang ke rumah. Biasanya jam 7 malam. Diawali dengan doa bersama, semacam ibadat sabda dan ditutup makan bersama. Seperti yang saya katakana, menunya selalu sama. Soto ayam. Selesai makan biasanya mereka pulang dengan memberi selamat kepada saya. Begitu terus setiap tahun.
Kemudian saya masuk seminari. Di sini perayaan ulang tahun selalu ingin saya hindari. Sungguh menderita merayakan ulang tahun di seminari. Teman-teman selalu menyiram dengan berbagai macam cairan. Benar-benar remaja. Meski demikian hari itu juga selalu meninggalkan kenangan, karena romo rektor akan memberi hadiah.
Kejutan dan terkadang ‘dikerjain’ sungguh saya rasakan di hari ulang tahun saya di tahun pertama novisiat. Romo Magister dengan teman-teman novis, membuat kejutan dengan menulis surat. Kebetulan ada konfrater yang tulisannya agak susah dibaca. Tulisannya sungguh mirip dengan cewek di SMA yang pernah saya dekati. Hahaha, dimulailah kejutan itu. Romo Anton sebagai Magister marah-marah karena surat tersebut. Tentu saja itu hanya acting belaka, namun saya gemetaran bukan buatan. Baru sebulan di novisiat sudah mendapat surat dari cewek. Demikian kata beliau. Setelah membuka surat dan membca isinya baru lega. Ternyata itu ucapan selamat dari teman-teman novis. Huhhh, itu benar-benar hadiah ulang tahun yang masih saya ingat hingga kini.
Selebihnya, perayaan ulang tahun berjalan biasa saja. Ketika masih frater perayaan itu ditandai dengan nonton tv sampai malam, dan ada penganan tambahan. Sesuatu yang dinantikan oleh semua frater. Ketika sudah menjadi imam dan bertugas di sekolah, ulang tahun itu selalu ditandai dengan makan bersama. Bukan di biara, tetapi di warung. Mungkin kurang tepat kalau disebut warung, tetapi sudahlah. Satu hal yang pasti, hari ulang tahun itu bukan hanya kegembiraan bagi yang bersangkutan, tetapi juga bagi mereka yang ada di sekitarnya. Minimal ada makan gratis. Itu duluuuu.
Kemudian saya meninggalkan Indonesia. Melayani umat yang merantau di Melbourne. Entah untuk sementara atau selamanya. Saya melayani mereka. Budaya berbeda karena lingkungan berbeda. Maka jauh-jauh hari saya sudah merancang perayaan untuk diri saya sendiri. Saya mengundang seluruh umat untuk bersama-sama bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah diberikan-Nya. Saya mengundang mereka untuk bersama merayakan Ekaristi dan dilanjutkan makan bersama. Saya menyiapkan makan malam bagi mereka.
Kebetulan ada Romo Hari yang mengikuti pertemuan di Melbourne, sehingga saya memiliki kawan mempersiapkan hidangan. Menunya soto ayam. Harus soto ayam. Demikian saya katakana kepada beliau. Karena menu ini adalah menu kenangan. Aduh, saya kok jadi mellow kalau mengingatnya. Tetapi itulah yang terjadi. Saya ingin menikmati soto ayam di hari ulang tahun saya. Sebenarnya ingin menikmati soto yang dulu dimasak oleh simbok, tetapi saya tidak tahu rahasianya. Maka saya buatlah soto ayam ala Melbourne. Hingga tengah malam kami menyiapkannya.
Hari ini saya berulang tahun. Lagi. Apakah masih ada kesempatan di hari nanti? Saya tidak tahu. Yang saya tahu hari ini. Maka saya ingin mensyukurinya. Undangan sudah saya bagikan. Lebih tepatnya saya kirimkan. Melalui media milist. Setiap orang boleh datang. Menu utamanya tetap sama soto ayam. Hanya saja sekarang sedikit ada perkembangan. Soto ambengan. Tetap ayam, namun lebih ada khas Jawa Timur. Menu pendampingnya ayam goreng cabe hijau, sambel goreng tempe, dan oseng pare. Semua saya masak sendiri. Bukannya sombong, tetapi demi mengisi hari, kerap saya belajar memasak. Mensyukuri karuni Tuhan yang memberiku bakat mengolah bumbu.
Hari ini saya berulang tahun. Sudah satu tahun umur ini melebihi Yesus. Tahun lalu saya mengira akan merayakan ulang tahun yang terakhir kali. Ternyata Tuhan masih memberi kesempatan sekali lagi. Tentu saja saya tidak hanya berkutat dengan ayam dan bumbu. Karena hari ini Petrus memberi satu arti dalam mengikuti Yesus sang pujaan hati.
“Kami ini sudah semalaman melaut”. Demikian kata Petrus membagikan pengalamannya mencari ikan semalam suntuk dan menghasilkan tak seekorpun ikan. “Tetapi karena Engkau memerintahkan, maka kami akan menebarkan jala juga.” Hasilnya kita tahu. Mereka mendapat ikan yang banyak sekali. Setelah itu Yesus mengajak mereka untuk menjadi penjala manusia. Bukan ajakan Tuhan yang menarik bagi saya. Tetapi jawaban Petrus. “Karena Engkau….” Wow, luar biasa sekali.
Kata-kata Petrus ini sungguh menjadi kado ulang tahun yang maha indah. Karena itu menunjukkan kepada saya apa yang paling penting yang harus saya lakukan. Yaitu melakukan apa yang Tuhan minta. Melakukan apa yang Tuhan rancangkan. Selama ini saya berjalan menurut kehendak dan rencana saya sendiri. Karena saya merasa hebat. Karena saya merasa mampu. Hasilnya, semalaman melaut tak ada hasil. Hasilnya adalah tidak ada hasil.
Itulah yang kerap saya alami. Mengandalkan kemampuan diri. Yang sebenarnya tak berarti. Untuk menggapai apa yang tinggi bahkan ilahi. Maka hasilnya adalah sakit hati. Harapan tak tergapai. Cita-cita tinggallah mimpi. Karena saya melupakan yang inti. Yaitu penyerahan diri. “Karena Engkau memerintahkan”. Melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Maka saya bersyukur memili banyak sahabat yang senantiasa mengingatkan di waktu saya sesat. Ucapat selamat yang saya terima adalah berkat. Terimakasih atas semua doa dan nasihat. Dua kalimat dari seorang sahabat, teman saya bergulat sejak novisiat, akan saya bagikan sebagai pengingat.
“Hari bahagia di mana Tuhan memandang kelemahan kita sebagai karya keselamatan-Nya ya. Selamat mengalami kesempatan berahmat kembali dalam usia yang terus bertambah ya.”
Saya senang mendapat ucapan itu. Karena mengingatkan saya akan kualitas diri yang tak bermutu. Tetapi dipakai Tuhan selalu. Membagikan Rahmat-Nya di setiap waktu. Sekali lagi, meskipun saya tidak bermutu. Maka saya suka sekali dengan kiriman sahabat itu. Akan saya ingat sebagai penguat di kala lesu.
Akhir kata, sungguh terimakasih atas segala kebaika yang telah konfrater dan sahabat semua bagikan. Saya tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Hanya masakan yang bisa saya hidangkan. Jika berkenan silahkan dating dan bergembira bersama dalam kasih persaudaraan. Saatnya sekarang melakukan apa yang Tuhan katakana. Tebarkanlah jalamu ke kanan.
Port Melbourne,
1 september 2011
(sambil menggoreng ayam)

Comments

LuvVirTa said…
SElamat ulang tahun''moga panjang umur''

m'f telat ngucapinnya MO...

TERNYata makanan favorit romo soto ayam ya,,,,hmmmmm lezat

Wah enak tuch yg bs makan masakan romo...tp ga apalah yg penting bisa melihat romo bahagia bersama rekan2 disana,,,,apalagi bisa sedikit tau kisah hdp romo dimasa lalu,,,,,

kisah bersama keluarga tercinta
jg teman2 waktu SMA kayaknya asyik bngt tuhhhh...

GBU...MO... SUCCES SLALU

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …