Skip to main content

Always READY



In St. Luke's gospel Jesus Christ urges us to always ready. Always ready for what? Always ready for the moment of death.

He’s encouraging us to live each day ready to love. In that way, we’re storing up treasure for the day when we will meet God face to face.
It’s good to reflect on the question: how would I like to meet God?

Each one of us is going to die – we all have a terminal illness. We don’t know when or how, but we will die. How ready am I to meet him?

Jesus wants us to be ready for that moment. We will die as we have lived, and if we’ve lived by sacrificing ourselves for others, we’ll be ready.

The Catechism of the Catholic Church tells us that when we die, we will each be judged on our lives.  St John of the Cross put it well: “At the evening of life, we shall be judged on our love.”

Christ’s message today is to live each day as a preparation to meet him with joy.

There is a story about  St Therese of Lisieux who lived ready for the Lord. She had taken to heart John of the Cross’s maxim “At the evening of life we shall be judged on love,” and she strove to exemplify it in her own life.

Here’s just one example. She described how the other sisters used to leave their mantles strewn around the chapel after they prayed the Divine Office.

The winters in France are bitter, and the convent in Lisieux only had heat in one room, so these mantles were a vital part of the nuns’ wardrobe.

St Therese wanted to ensure that they were ready to use when the sisters returned, so, after everyone was gone, she used to fold up each mantle and leave it in its owner’s seat.

No one ever knew who did this loving action, but there were doubtless some grateful nuns in that cold chapel! As St Therese put it, “I loved to fold up the mantles forgotten by the Sisters, and to do all sorts of little services for them.”

St Therese of Lisieux lived always ready because she did ordinary things with extraordinary love.

How about us? How we prepare ourselves for that moment?
How can we live always ready? If we wait for the great occasions to love, we’ll be waiting forever. However, we all have countless opportunities to prepare our hearts for our definitive meeting with the merciful heart of Christ.

The key is to learn to do ordinary things with extraordinary love. With that in mind, what sacrifices can I make so that others don’t have to sacrifice?

We can start from our home. As a husband, as a father, as a wife, as a mother, as a son or daughter, as a brother or sister; what can we do? Doing something simple but we doing it with great love.

Pick something simple, and stick to it. We die as we live. If we live choosing to love others, death will describe who are we. Just like St. Therese of Lisieux, after her death, people know that she was a great person. Let us doing the same. Doing a simple thing with great love.   

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …