Semua Jiwa BERHARGA

Sahabat yang terkasih, selamat pagi dan selamat memulai aktivitas pada hari ini. Saya berharap Anda semua dianugerahi kesehatan yang baik untuk menyelesaikan segala tugas-tugas harian Anda.
Hari ini Gereja memperingati salah satu orang kudus-Nya, yaitu St. Maxmilianus Kolbe. Sebelum berbicara mengenai beliau, saya ingin bercerita terlebih dahulu mengenai lukisan Bunda Maria karya Raphael yang sangat terkenal yaitu "Sistine Virgin".

Seorang kawan mengirimkan gambar tersebut dan saya langsung takjub dengan berbagai detail yang ada. Berbeda dengan banyak lukisan Bunda Maria yang pernah saya lihat.
Pertama, penampilan dua kerubim yang kelihatan sedang bosan. Saya tidak tahu mengapa kerubim itu digambarkan sedang bosan, sementara Santo Paus Sixtus dan Santa Barbara menaruh perhatian yang penuh pada Bunda Maria dan Bayi Yesus.
Kebosanan dua kerubim itu seperti menggambarkan hati anak-anak yang ingin lekas-lekas bermain. Mereka seperti sedang berada di tengah-tengah pertemuan para orangtua yang membosankan. Mereka tidak tahan lagi untuk segera berlairan dan bermain.
Raphael, sang pelukis, seperti sedang bercanda dengan menggambarkan makhluk surgawi itu beda dari biasanya. Pada lukisan kerubim yang lain, mereka digamabrkan sedang khusyuk menyembah Allah Bapa.
Mungkin ada yang kita lupakan, bahwa makhluk-mkhluk surgawi ini memiliki peran menjaga setiap jiwa. Sekali lagi, SETIAP JIWA. Satu persatu, setiap jiwa itu berharga, maka perlu dijaga.
Ada cerita lain yang bisa menggambarkan betapa berharganya jiwa. Yaitu cerita mengenai domba yang tersesat. Ada gembala sedang menggembalakan 100 ekor domba. kemudian ada satu domba tersesat. Digambarkan bagaimana sang gembala meninggalkan yang 99 untuk mencari SATU domba yang tersesat. Karena stiap jiwa itu berharga. Meskipun hanya satu, dia harus dicari sampai ketemu.
Kisah menghargai setiap jiwa, menghargai kehidupan, terpancar dari kepahlawanan Santo Maximilianus Kolbe. Mungkin kisah keberaniannya menjadi pengganti bagi seornag bapak yang hendak dihukum mati adalah kisah yang kita kenal dari Fransiskan asal Polandia ini. Sejatinya ada banyak kisah menarik tentangnya.
Lahir di Polandia pada 8 Januari 1894. Bergabung dalam Ordo Fransiskan dan ditahbiskan imam pada 1918. Dia sangat mencintai Maria, dan di manapun dia berada, dia selalu menyebarkan ksiah mengenai Maria.
Dia mendirikan sebuah perkumpulan dan menerbitkan surat kabar yang dia beri nama "Prajurit Maria yang tak bernoda". Perkumpulan dan surat kabar ini kemudian menyebar ke seluruh Polandia dan bahkan ke luar Polandia.
Pada tahun 1927 dia mendirikan sebuah komunitas yang dia sebuat sebagai "Kota Maria" yang terletak di Teresin, dekat dengan biara Fransiskan. Komunitas ini menarik banyak orang untuk bergabung. Mereka menerbitkan surat kabar dan juga mendirikan stasion Radio.
Pada tahun 1930, Maxmilianus pergi ke Jepang untuk belajar mengenai Budha dan Shinto. Dia belajar mengenai Budha dan Shinto bukan berarti ingin menjadi seorang Budha atau Shinto. Di Jepang, melalui surat kabar berbahasa Jepang, Maxmilianus juga terus menyebarkan kecintaannya kepada Maria iman kristianinya. Dia menyebarkan pesan-pesan Injil yang memiliki hubungan baik dengan budaya lokal Jepang. Dia juga merancang sebuah "Taman yang tak bernoda" di kota Nagasaki. Taman ini tidak hancur meskipun kota Nagasaki dibom.
Dari Jepang Maxmilianus meneruskan perjalanan ke Malabar dan Moscow, Rusia. Tetapi pada tahun 1936 dia kembali ke Polandia karena alasan kesehatan.
Pada tahun 1939, Polandia diduduki oleh tentara Jerman. Komunitas yang ia dirikan di Teresin menampung ribuan pengungsi untuk "bersembunyi". Sebagian besar dari mereka adalah orang Yahudi.
Pada tahun 1941 dia ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi di Auschwitz. Lalu kisah kepahlawanannya selama di penjara merebak ke mana-mana. Bapak yang dia gantikan, hadir ketika Maxmilianus dikanonisasi sebagai Santo.
Sebuah kisah kepahlawanan yang menggambarkan bahwa setiap jiwa itu amatlah berharga. Setiap jiwa mesti dibela, bahkan kalau pembelaan kepada jiwa-jiwa itu mesti mengorbankan jiwa kita sendiri. Karena setiap cinta mestilah dibayar dengan harga yang amat mahal. Sebagian membayar dengan nyawanya, sebagaian dengan pengorbanan seluruh hidupnya.
Sebuah ajakan bagi kita untuk menghargai setiap jiwa. karena Allah juga menghargai setiap jiwa dan menjaganya.
Tuhan memberkati.

Hong Kong 14 Agustus 2018

Comments

Popular Posts