Skip to main content

‘KEMENDEL’

Kemendel adalah istilah Jawa untuk menggambarkan orang yang sok berani. Sok berani dalam artian tidak sombong, tetapi kurang mengetahui situasi yang sebenarnya. Demikianlah Yesus menilai dua murid-Nya, yang melalui ibu mereka, memohon sesuatu yang kurang mereka pahami. Bahkan mereka berani menjanjikan sesuatu yang juga kurang mereka pahami.

“Kamu tidak tahu apa yang kamu minta.” Itu yang dikatakan Yesus. Permintaan Yohanes dan Yakobus untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus, dinilai Yesus sebagai permintaan yang keluar dari hati yang ‘kurang memahami medan’. Bahkan ketika Yesus menegaskan salah satu risikonya pun mereka dengan lantang mengatakan ‘kami sanggup’.
Luar biasa keberanian mereka. Luar biasa kesanggupan mereka. Dan di kemudian hari memang kita ketahui, mereka menjalankan apa yang dijanjikan. Mereka minum dari cawan yang pernah diminum oleh Yesus. Cawan itu adalah kematian karena membela iman. Yakobus meninggal sebagai martir di kota Yerusalem. Sedangkan Yohanes, menurut tradisi meninggal karena usia tua.
Kembali kepada permintaan Yohanes dan Yakobus. Hal itu menimbulkan kegemparan pada para murid. Ada banyak alasan kenapa mereka menjadi gempar, kenapa mereka menjadi marah. Salah satu kemungkinannya adalah, mereka sebenarnya memiliki hasrat yang sama. Mereka ingin juga duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus, tetapi mereka tidak sanggup mengutarakannya.
Mungkin hal yang sama juga kerap kita alami. Kita marah kepada seseorang hanya karena kita tidak sanggup melakukan hal yang sama. Namun ada satu hal yang patut kita catat pagi ini. Para murid, dalam kemarahannya, dalam ‘kemendel’nya, mereka akhirnya bertumbuh dan sungguh membuktikan sebagai murid yang rela memberikan nyawa membela iman yang dipegang. Mereka sungguh rela meminum dari cawan yang diminum oleh Yesus.
Awalnya mungkin mereka kemendel, tetapi dari bergulirnya waktu mereka berkembang menjadi lebih bijak dan rendah hati. Mereka belajar dari kebodohan dan ketidak tahuan untuk terus maju dalam iman. Semoga dari hari ke hari kita juga selalu belajar untuk terus bertumbuh dalam iman.
Tuhan memberkati.


Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …