Skip to main content

Lelaki yang mencari harta karun

Sahabat, ada dua orang sahabat sedang berbicara cukup serius. Setiap hari mereka berbicara. Terkadang hanya bercanda saja. Tetapi hari itu mereka berbicara serius. Bukan berkelahi. Yang satu mengingatkan yang lain. Yang satu mendampingi yang lain. Dan tidak ingin sahabatnya jatuh terlalu dalam.

Anggap saja dua orang itu adalah sahabat dan aku. Sahabat mengingatkan aku, agar aku tidak jatuh terlalu dalam. Sahabat menasehati aku agar aku segera sadar. Sahabat menasehati dengan menggunakan perumpamaan. Sekaligus menerangkan makna perumpamaan itu. Karena aku bebal.

Sahabat mengatakan aku ini seperti pencari harta karun. Dalam pencarianku, aku menginginkan berlian. Meski yang ada dan tersedia banyak adalah batu kali. Sahabat mengatakan bahwa aku tidak mampu membedakan mana berlian dan mana batu kali. Sahabat menggoyang-goyangkan pundakkku, membuat aku sadar dan terjaga.

Berlian itu hanya perhiasan. Dia tidak berguna banyak. Dia hanya hiasan. Pajangan. Minimal bisa menjadi bekal untuk dijual jika kamu jatuh miskin. Orang yang menyimpan berlian akan was-was hidupnya. Dia tidak tenang. Takut kecurian. Tidak ada orang yang rela berbagi berlian.

Berbeda dengan batu kali. Ada banyak dan mudah sekali ditemui. Tidak banyak orang mengoleksi batu kali. Orang mencarinya jika ingin membangun rumah. Bisa sebagai bahan pondasinya, bias juga sebagai bahan campuran beton. Beberapa orang menjadikan batu kalis ebagai sumber pengahsilan. Mereka memecah dan menumpukknya. Orang lain dating membelinya. Tetapi kamu bisa juga memintanya, kalau jumlahnya sedikit saja.

Sahabat, dua sahabat tadi, yaitu anggap saja sahabat dan aku, berbicara mengenaio berlian dan batu kali. Mengenai memiliki berlian dan memiliki batu kali. Sebuah pembicaraan yang didasari keinginan untuk saling mendukung, saling berbagi, dan saling melepaskan. Penegasan untuk menjadi batu kali adalah penegasan untuk menjadi berguna. Bukan menjadi hiasan dan pajangan.

Yesus sendiri juga mengatakan bahwa diri-Nya adalah batu. Batu yang bahkan oleh para tukang bangunan juga dibuang. Tetapi Dia akan menjadi batu penjuru yang mengokohkan bangunan itu. Yesus adalah batu kali yang hidup. Jika Ia adalah sebongkah besar, ia akan menjadi patung. Jika ia adalah sebongkah kecil, ia akan menajdi pondasi. Jika ia adalah kerikilan, Dia akan menjadi campuran beton. Dan jika ia hancur, dia menjadi pasir, yang bersama semen melekatkan dan melindungi seluruh bangunan.

Sahabat dan aku masih berbicara. Mengenai berlian dan mengenai batu kali. Menjadi alat yang mengokohkan dan bukan hanya sebagai pajangan. Untuk dibagikan dan bukan untuk dimiliki sendiri dan disimpan rapi. Untuk dipecah-pecah dan bukan untuk dijaga tetap utuh.

Sahabat, ada dua pesan yang mungkin bisa aku berikan pada kalian dari perbincangan antara sahabat dan aku. Pertama adalah relasi aku dan Tuhan. Kedua adalah relasi Tuhan dan aku. Sepertinya sama. Tetapi berbeda. Berbeda tetapi sama. Tidak usah bingung. Resapi saja.

Siapakah Tuhan bagiku dalam relasiku dengan Dia? Apakah Dia seumpama batu berlian yang harus aku jaga rapi, yang aku simpan dan aku jadikan pajangan belaka? Ataukan Dia adalah batu kali yang bias aku bagi kepada siapa yang membutuhkan. Batu kali yang mengokohkan tembong rumahku. Karena menjadi pondasi, tembok, sekaligus perekatnya. Siapakah Dia?

Kedua, dalam relasi Tuhan dengan aku. Siapakah aku. Apakah aku batu berlian, yang mengharapkan kasih saying berlimpah. Yang harus dilindungi sepanjang jaman. Yang hanya menjadi pajangan saja? Ataukah aku bersedia menjadi batu kali. Yang bahkan harus diremukkan untuk membangun kerajaan-Nya. Menjadi batu kali yang tidak jarang diinjak-injak orang, tetapi sangat diperlukan untuk menopang bangunan?

Tuhan memberkati.

Port Melbourne, 25 Agustus 2011

(terimakasih kepada lelaki yang membagikan ceritanya padaku)

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …