Skip to main content

Belajar yang BENAR atau yang SALAH

Sudah berbulan-bulan ini hari-hari saya hanya bergulat dengan belajar bahasa Kantonis. Ada banyak hal yang membuat proses belajar ini menjadi begitu lambat. Orang-orang mengatakan bahwa bahasa Kanton itu susah, pakai banget. Kalau ada yang mengatakan belajar bahasa Kanton itu gampang, pasti fitnah. Demikian kata seorang teman.
Apa saja kesusahan dalam belajar bahasa Kanton tersebut?

Pertama soal nada atau tone. Secara umum bahasa Kanton memiliki 9 nada atau tone, meskipun tidak semua dipakai, atau bisa juga dirangkum menjadi 6 tone. Tetapi tetap saja sulit banget. Bahasa Mandarin saja hanya memiliki 4 tone. Berikut sedikit keterangan untuk memahami tone tersebut. Rentang tone atau nada yang dipakai adalah antara not sol rendah hingga not fa sedang.
Tone 1, sama dengan nada mi sedang, diucapkan secara datar (high level). Contoh yat1 artinya satu.
Tone 2, sama dengan nada re diucapkan dengan cengkok naik (high rising) sampai nada fa. Contoh zyu2, artinya master atau yang memiliki, atau lord.
Tone 3, sama dengan nada do sedang diucapkan secara datar (middle level). Contoh fai3, artinya biaya atau fee.
Tone 4, sama dengan nada do yang diucapkan dengan cengkok turun ( falling) ke nada sol rendah. Contoh jan4, artinya manusia.
Tone 5, sama dengan nada la rendah yang diucapkan dengan cengkok naik (low rising) ke nada do sedang. Contoh, ngo5, artinya saya.
Tone 6, sama dengan nada la rendah diucapkan secara datar (low level). Contoh, dei6 artinya jamak (ngo5 dei6 = saya yang jamak, atau kita).

Kedua soal bahasa tulis dan bahasa percakapan yang berbeda. Inilah salah satu keunikan bahasa Kanton, bahwa mereka memiliki istilah khusus untuk bahasa sehari-hari dalam percakapan dan bahasa formal dalam bentuk tertulis. Contoh, "saya suka makan apel." Dalam percakapan akan terdengar, "ngo5 jung1 yi3 sik6 ping4 gwo2". Tetapi dalam bahasa tulis tidak pernah dijumpai kata jung1yi3 dan sik6. Dalam bahasa tulis akan dibaca, "ngo5 hei1 fun1 hek3 ping4 gwo2".
Bagi pemula seperti saya, istilah written dan spoken ini kerap mengacaukan pikiran. Tulisan kharakternya berbeda. Dan, kerap saya tidak tahu mana spoken mana written. Kerap tercampur menjadi satu. Hasilnya, orang kerap bingung dengan apa yang saya ucapkan.

Ketiga, dan ini cukup menarik bagi saya, adanya kesalahkaprahan dalam bahasa. 
Contoh, saya selalu belajar kata nei5, untuk kata KAMU. Tetapi dalam keseharian yang saya dengarkan adalah kata lei5. Mereka mengganti HURUP N dengan HURUP L. Mereka berkilah, keduanya sama. Menurut para pengajar, orang HONG KONG itu malas, maka mereka berlaku semaunya. N diganti L.
Contoh kesalahkaprahan yang lain adalah kata CINTA. Orang kebanyakan akan menyebut kta NGOI3 padahal yang benar adalah OI3.

Ini contoh kecil dan sederhana, tetapi konsekuansinya besar. Apakah saya mau belajar yang benar dan menggunakan yang benar dalam kehidupan sehari-hari, atau belajar saja yang dipakai dalam masyarakat, meskipun itu salah. 
Pemikiran ini sederhana, kelihatannya, tetapi tidak sesederhana itu dalam kenyataannya. Ada banyak hal yang baik dan benar yang kita pelajari selama kita sekolah, tetapi semuanya menjadi sia-sia karena tidak dipakai dalam masyarakat. Seperti halnya nasib bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan, ejaan yang baik dan benar. Semuanya hanya tinggal kenangan dalam buku pelajaran, karena sehari-hari masyarakat memakai ejaan yang diamburadulkan. Memakai bahasa campuran dengan bahsa asing, bahasa alay, bahasa slang, dll.

Bagaimana dengan pembelajaran moral, nilai-nilai luhur kehidupan? Apakah itu juga akan tertinggal begitu saja dalam diktat-diktat pelajaran, tanpa pernah bisa diterapkan dalam masyarakat? Apakah nilai-nilai luhur yang dipelajari hanya akan tinggal cerita kuno yang tersimpan dalam buku berdebu?

Mestinya tidak. Mestinya apa yang benar, harus mampu memengaruhi yang buruk, yang rusak, yang salah kaprah. Tentu saja tidak mudah, karena pada awalnya akan terasa aneh, terasa janggal, tetapi kalau konsisten menjalankan, semuanya akan bermuara kepada perubahan.

#revolusimental

Comments

Alexander Ikbal said…
Hallo. Boleh tau belajar bahasa mandarin nya dmn? Sy lg cari guru private. Bisa info ke saya. 081218773848
Alexander Ikbal said…
Hallo. Boleh tau belajar bahasa mandarin nya dmn? Sy lg cari guru private. Bisa info ke saya. 081218773848

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …