Skip to main content

Gus Mus

Gus Mus dalam acara Mata Najwa
sumber gambar www.hashgurus.com
Semalam di Metro TV ada acara Mata Najwa dengan menghadirkan Gus Mus (Mustofa Bisri) sebagai bintang tamu. Judul acaranya "Panggung Gus Mus'. Saya nontonnya melalui saluran yutup.
Acara Mata Najwa semalam sungguh berbeda, jika dibandingkan dengan seri-seri yang sebelumnya. Biasanya kental dengan bahasan politik. Namun acara semalam sungguh sangat humanis. 
Gus Mus sendiri, seperti banyak diceritakan oleh orang-orang dekatnya, memang sosok yang humanis, sangat menghargai manusia dan berusaha memanusiakan manusia. Sebagai seorang kyai, beliau juga sangat menarik. Beliau sendiri mengaku sebagai kyai pertama yang memakai sarana media sosial untuk berdakwah. Najwa Sihab sendiri menjuluki Gus Mus sebagai kyai yang romantis.
Hampir semua segmen menarik hati, namun ada satu bagian yang sangat mengena di hati saya sehingga berani membuat catatan setelah sekian lama tidak melakukannya.
Ketika Mbak Nana bertanya alasan Gus Mus tidak mau dipilih sebagai orang tertinggi di NU. Dengan amat sederhana beliau memberi alasan berkaitan dengan dosa pemimpin. Ada dua, yang pertama adalah pemimpin yang melihat bahwa tidak ada orang yang lebih baik dari dia, tetapi tidak mau dipilih. Yang kedua adalah orang yang mau dipilih padahal dia tahu ada banyak orang yang lebih cakap dari dia. Dua macam orang ini sama-sama berdosa dan akan mendapat hukuman. Beliau menggambarkan dirinya sebagai orang yang tidak mau jatuh dalam dosa tersebut, karena beliau melihat ada banyak orang lain yang jauh lebih cakap, lebih berkompeten, lebih pantas untuk memimpin. Merekalah yang pantas dipilih.
Ungakapan kedua yang menarik hati saya adalah jawaban Gus Mus ketika ditanya, apakah yang tidak banyak diketahui orang dari diri beliau. Dengan spontan beliau menjawab bahwa dirinya sebenarnya bodoh. Saya tertegun. Karena jawaban itu bukan sebuah candaan. Jawaban itu meski spontan sungguh jujur dan memiliki arti yang mendalam. Kemudian beliau menjelaskan bahwa manusia itu hendaknya selalu belajar, dan tidak ada kata sudah selesai.

Kemudian saya melihat diri saya sendiri. Bertanya kepada diri sendiri, berkaca dari apa yang disampaikan oleh Gus Mus. Benar juga, kata saya. Saya ini orang yang bodoh, namun kerap kali atau bahkan hampir selalu merasa diri pintar sehingga malas belajar. Juga berkaitan dnegan tulis menulis, sebenarnya saya tidak bisa menulis. Hanya karena saya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan apa yang saya pikrikan, maka saya menulis. Seandainya saya bisa bernyanyi, mungkin saya akan menuangkan dalam bentuk lagu. Seandainya saya bisa melukis, niscaya saya akan menggoreskan apa yang mengendap dalam pikiran dalam baluran warna warni yang (mungkin) indah. Sayang saya tidak bisa.
Mengapa saya menulis?
Lebih tepatnya, mengapa saya menulis lagi, padahal sudah lama tidak menulis. Ya untuk memberi tahu banyak orang, yang membaca tulisan ini bahwa saya bodoh. Dari mana tahu kalau saya bodoh? ya dari isi tulisan saya, dari alur tulisan yang kerap kali nggak runut, nggak sinkron, nggak masuk di nalar, dll.
Padahal, selama ini saya berhenti menulis karena menyadari kalau saya ini bodoh. Tulisan-tulisan yang saya buat yahhhh, banyak yang asala nulis. Idenya tiak kuat, penjelasannya kurang bagus, alurnya tidak menarik, dll. Oh iya, ini bukan merendahkan diri untuk menaikkan rating. Ini jujur dari kesadaran yang mendalam.
Kedua, saya tidak menulis karena menyadari, bukan hanya karena saya bodoh, tetapi merasa dan menyadari diri tidak layak menulis. Kebanyakan tulisan-tulisan saya memberi pesan moral dan spiritual, tetapi di sisi lain kehidupan moral dan spiritual saya tidak bagus. Maka, saya putuskan berhenti menulis. Tiba-tiba setiap kali menulis selalu ada suara yang berseru "hai tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri terlebih dulu!" Makjleb!

Lalu hari ini, setelah melihat tayangan Mata Najwa mengenai Gus Mus, saya mulai menulis lagi. Kesadaran bahwa manusia itu mesti terus belajar. Mesti mengenali diri sendiri lebih dalam lagi, maka saya beranikan diri menulis (lagi). Saya sadar (sesadar-sadarnya) kalau saya ini sebenar-benarnya bodoh. Dan saya tidak ingin berhenti sampai di sini saja. Berhenti pada kesadaran belaka. Harus menindaklanjutinya dengan belajar. Agar tidak semakin bodoh. Saya berharap, semoga dengan mulai menulis lagi, sedikit demi sedikit kebodohan saya bisa saya pamerkan semua. Maksud saya, saya ingin mentransformasi kebodohan. Nah kalau semua kebodohan sudah tertransformasi, (byuhhh bahasanya ketinggian), semoga ada ruang untuk mengisi dengan sesuatu yang baik. Maksudnya bagaimana? Ndak tahu. Saya juga bingung. Ini tanda bahwa saya memang tidak pintar menulis.

Begitu saja.
salam
 

Comments

Kama Marianus said…
Apik Acarae... Tulisan iki yow apik romo... Daripada blogku sing gak pernah ta ramut.
Mntap Romo,lnjtkn tuk mnlis
Mntap Romo,lnjtkn tuk mnlis
Romo Waris said…
Kae @Kama Marianus, thanks, Bro. salam buat Mbak Nani dan Savio.
@Sisilia Gollu Wola, thanks.

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …