Skip to main content

Kapal Pesiar

Sahabat, apakah kalian pernah naik kapal pesiar? Saya belum pernah. Juga belum berminat menaikinya, atau menumpanginya. Apakah kalian berminat? Berminat toh boleh, tidak ada yang melarang. Tapi saya tidak berminat. 

Eh ngomong-ngomong, apakah kalian pernah melihat kapal pesiar? Dari dekat! Bukan melihat melalui brosur atau lewat tayangan televisi? Kalau saya sudah. Kerap kali! Melihat secara langsung, melalui kedua bola mata saya yang disambung kacamata, tanpa perlu perantara lembaran brosur atau iklan di kaca televisi, dll. 
Dari jendela inilah saya bisa melihat kapal-kapal pesiar itu
keluar masuk perairan Hong Kong. (foto koleksi pribadi) 
Saya melihatnya langsung dari jarak yang sangat dekat sekali ketika kapal pesiar itu sedang bersandar rapi di tempat parkir. (Eh, benar nggak sih kapal itu diparkir? Atau ditambatkan? Dianggap saja benar.) Atau melihatnya dari jauh tatkala kapal-kapal itu meninggalkan perairan Hong Kong di malam hari juga ketika mereka baru datang di pagi hari. Kebetulan posisi kamar saya menghadap laut yang menjadi jalur pelayaran kapal pesir tersebut.
Setiap pagi, antara jam 7 pagi singga jam 8 pagi, kapal-kapal tersebut berdatangan memasuki perairan Hong Kong dari arah timur. Kemudian pada malam hari sekitar jam 8 kapal-kapal itu mulai meninggalkan peraiaran Hong Kong. Entah menuju ke mana. Saya tidak pernah bertanya.
Ada seorang sahabat yang pernah ikut pakaet kapal pesiar. Katanya, di dalam sana itu tak ubahnya sebuah hotel yang bisa berjalan ke mana-mana. Sepertinya kurang tepat dikatakan berjalan, karena dia tidak pernah berjalan. Tapi sudahlah, maksudnya begitu. Masih katanya, kita bisa menikmati aneka macam hiburan di dalam sana, seolah tidak pernah tertidur. Sahabat saya bercerita bahwa tiap kapal pesiar memiliki paket-paket tertentu. Akan bersandar di berapa kota, berlayar berapa lama, dll.

Sahabat, setiap hari saya bisa melihat kapal-kapal itu keluar masuk perairan Hong Kong. Jika malam hari, penampakan kapal pesiar itu begitu indah dengan lampu-lampu yang menghiasi. Saya suka sekali memandangnya. Hanya sekejap, toh besok ada lagi. Jika beruntung, saat langit cerah, bentuk kapal itu bisa terungkap dengan cukup jelas. Jika kabut begitu pekat, maka pendaran lampu-lampu yang membungkus kapal saja yang akan nampak.
Kapal-kapal itu setiap hari selalu datang dan pergi dalam jadwal yang kurang lebih sama. Mungkin penumnpangnya selalu berganti. Karena mereka yang selalu di sana berarti pekerja. Penumpang hanya di sana berdasarkan paket yang mereka beli. Selebihnya mereka kembali ke rumah masing-masing melanjutkan kehidupan seperti biasanya. 
Menumpang kapal pesiar, seperti halnya namanya, hanyalah berpesiar belaka. Hanya satu bagian kecil dari seluruh perjalanan hidup yang sebagian besar begitu normal dan monoton. Setelah segala keriuhan atraksi di dalam kapal, atau segala pesona kota yang disinggahi berlalu, mereka kembali kepada kehidupan yang sebenarnya. Bangun pagi, bekerja, tidur, bangun pagi lagi, bekerja dan tidur lagi. Kalau dalam setahun sudah ada tabungan, maka direncanakan untuk menumpang kapal pesiar yang lain, menyinggahi kota yang lain, menjajal keriuahan yang lain. Begitu seterusnya.
Oh iya, kenapa saya menulis ini? Sebenarnya saya hendak bertanya, sekarang ini sedang berada di mana? Di kapal pesiarkah? atau sudah kembali ke rumah, menjalani apa yang rutin, yang seharusnya dijalani. Kalau ingin selalu berada di dalam kapal pesiar, maka harus memutuskan untuk melamar menjadi karyawan kapal pesiar. Dengan demikian akan selalu berada di sana.

nggak nyambung.
begitulah.
salam


Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …