Skip to main content

Tupai yang pandai...

Sahabat, pasti Anda ingat pepatah, 'sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga." Atau peribahasa yang lain, "sepandai-pandainya membungkus bangkai, toh akan tercium juga."

Pepatah ini memberi pesan bahwa hal buruk, suatu waktu pasti akan terungkap juga. Waktu juga yang akan menjadi penentu. Istilahnya tunggu waktu saja.
Hari-hari ini di Indonesia ada berita mengenai seorang anak yang mengaku tidak diakui oleh bapaknya. Si anak mengungkapkan kisah ini di sebuah acara televisi. Cerita menjadi berbeda karena sang bapak yang diaku adalah seorang motivator yang  memiliki banyak pemuja.
Pastilah si 'bapak' tidak tinggal diam. Berdasar keahliannya mengolah kata memotivasi orang, dibuatlah cerita yang pada ujungnya berkesimpulan 'anak itu bukan anaknya si motivator'. Dan ceritapun berlanjut, si bapak mengajak test DNA, dst.
Baiklah, kita tidak perlu meneruskan cerita itu, siapa yang benar siapa yang salah. Bukan itu maksud tujuan tulisan ini. Karena bisa-bisa jatuh ngegossip. 

Saya memulai catatan ini dengan mengangkat sebuah peribahasa, sebuah ajaran dari masyarakat yang belajar dari peristiwa sekian abad dan dilahirkan dalam sebaris kalimat. Pesannya cuman satu, jangan berbuat yang tidak benar, karena sepandai-pandainya engkau membungkus ketidakbenaran itu, suatu saat akan terungkap juga.
Kisah yang kami bagikan di atas menjadi satu contoh. Kalau kisah itu benar, artinya selama ini cerita atau kisah itu dipendam begitu dalam, tetapi zaman telah berubah, banyak sarana dan cara bagi si kebenaran untuk mengungkan diri. Entah kapan, lapisan-lapisan pembungkus tadi akan terkeluas selembar demi selembar.

Tentu tidak ada satupun dari kita yang terbebas dari kekotoran, entah kecil atau besar, entah berbau entah tidak, semua punya. Lantas bagaimana menyikapinya? Pribahasa berkata, sepandai-pandainya kita membungkus bangkai, pasti akan tercium juga. Maka, janganlah membungkus bangkai, tetapi kuburkanlah. Kalau kotoran itu menempel, mandilah. Bersihkanlah!

Dalam pengalaman-pengalaman harian kita, kotoran yang menempel bukanlah sesuatu yang dengan mudah dibersihkan dengan tissue atau bahkan dengan segentong air. Kerapkali 'kotoran' itu terus melekat sehingga orang akan terus melihat kotoran-kotoran itu. Bagaimana membersihkannya?

Pertama, kotoran itu harus diterima sebagai bagian dari pengalaman perjalanan hidup. Bahwa akan ada orang yang mengejek karena adanya kotoran itu, ya diterima saja. Namun bersama menerima kotoran itu, lakukanlah sesuatu yang menunjukkan bahwa Anda telah berubah. Tapi juga tidak perlu selalu mengatakan kepada orang-orang bahwa Anda kotor, bahwa Anda memiliki sesuatu yang bau dst. 
Orang bijak berkata, "orang kudus memiliki masa lalu, orang jahat memiliki masa depan". Bahwa kita kotor, tetap memiliki masa depan yang bersih. Dan kita bisa bercermin dari banyak orang kudus yang masa lalunya juga suram, yang juga pernah memiliki kesalahan-kesalahan.

Kedua, kita belajar bersikap "here and now", sekarang dan di sini, saat ini. Masa lalu adalah bagain pembelajaran untuk masa sekarang belajar lebih baik. Kecuali kita menolak dan menutupi masa lalu kita, akan sangat sulit bersikap dengan utuh. Pasti selalu ada kepura-puraan dan topeng tebal yang dikenakan. 
Sekarang kita ada di mana, sedang mengerjakan apa, mari kita lakukan dengan lebih baik. Sekali lagi, pengalaman buruk di masa lalu mesti dipakai sebagai pelajaran agar tidak jatuh kembali pada kubangan yang sama, pada kekotoran yang sama.

Ketiga, mendekatkan diri pada Tuhan, memahami apa kehendak-Nya, serta mau diubah oleh-Nya. Mungkin kita perlu dibenturkan dan digablok dengan banyak perkara untuk bisa sadar dan mau kembali kepada-Nya. Dan semoga setelah perjalanan waktu, kotoran yang pernah menempel pada kehidupan kita akan menjadi lukisan indah di kemudian hari, menjadi cara dan sarana kita belajar untuk bisa menjadi lebih baik lagi.

Kata pepatah sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh juga. Semoga kita menjadi tupai yang makin pandai melompat sehingga tidak jatuh, jatuhpun tetap melompat. 

salam 



Comments

Tina Sayu said…
Bagus skali renunganmu itu bukan hanya dengan kata2 belaka atau orang lain tapi untuk dirimu.
Sepandai2 membungkus borok cepat atau lambat akan ketahuan siapa diri kita.
Romo Waris said…
benar sekali.
dan renungan ini memang untuk diri sendiri.

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …