Skip to main content

KECIL kok besar!


Sebenarnya sedikit kontradiksi, lha bagaimana tidak kalau sesuatu yang kecil itu ternyata besar sekali. Sesuatu yang sederhana itu ternyata kaya sekali. Sesuatu yang sepele itu ternyata luar biasa banget. Hmmm apa nggak bingun memahaminya. Mestinya ya yang kecil itu ya sederhana, ya nggak kaya, ya biasa saja. Lha ini, kecil kok besar. Apa ya nggak kebalik-balik? 
Sebenarnya ini tentang apa sih? Sesuatu yang kecil, yang sederhana, yang sepele itu sebenarnya berkaitan dengan apa? Ini tentang hidup saya. Ya jelas banget, ini tentang saya dan bukan Anda? Mengapa? Ya karena saya nggak ngerti hidup Anda, yang saya paham (sebagian) adalah hidup saya sendiri.  
Mengapa harus ada tanda kurung () sebagian? Ya karena ada banyak bagian dalam hidup saya yang tidak saya pahami. Entahlah apa namanya, tetapi ada banyak sudut dalam jiwa yang sulit dikenali. Mungkin kalian juga memiliki pengalaman serupa, tetapi jangan disamakan begitu saja. Niscaya berbeda. 
Kembali ke soal KECIL tapi besar.  
Saya merasa ada banyak hal sederhana dalam hidup saya itu menjadi seolah-olah luar biasa dan ribet. Padahal sederhana, padahal simpel dan sepele. Kecil saja sebenarnya. Tapi saya membuatnya seolah istimewa, seolah hebat, seolah tak terperi perkaranya dan dunia akan berhenti kalau saya berhenti memikirkannya. Padahal, itu kecil saja. Nggak ngefek kepada siapa-siapa. 
Ini soal apa sih? Perkaranya apa? Halah kok masih nanyak. Sudah saya bilang, ini ya soal hidup saya yang mbulet. Ingat ya, soal hidup saya yang mbulet, bukan hidup kalian. Baiklah, akan saya berikan sedikit contoh. Ya contohnya sedikit saja, karena kalau kebanyakan namanya curhat. Eh, bukannya nggak apa-apa ya meskipun curhat? Siapa juga yang melarang? Iya, khan? Atau, nggak boleh? Halah kok malah mbulet di sini. Kapan mulai memberi contoh yang kecil tapi besar, yang sederhana tapi mbulet tadi? 
Hahahahaha, ya itu tadi contohnya. Hal sederhana tetapi saya (m)buletkan. Biar seolah-olah istimewa. Biar panjang ceritanya. Tapi ini khan nggak konkrit ya, bukan contoh yang berpijak pada pengalaman sehari-hari. Istilahnya, ngawang! Nggak membumi. Baiklah, saya berikan contoh yang lebih konkrit. 
Pada akhir tahun yang lalu, tepatnya akhir November, Gereja Paroki saya mengadakan acara penutupan tahun istimewa Kerahiman Allah. Yang memimpin adalah uskup koajutor. Rupanya banyak umat yang ingin hadir dalam perayaan tersebut. Alhasil hosti yang disiapakan tidak mencukupi untuk dibagikan. Ada banyak umat yang tidak kebagian Komuni Suci, lebih dari 100-an orang. Padahal sewaktu mempersiapkan persembahan, jumlah hosti sudah ditambah, bahkan di tengah Ekaristi, sebelum mengangkat persembahan ke altar, sakristan sudah menambah 200 keping, ternyata tetap tidak mencukupi. Lantas apa yang terjadi kemudian? 
Bapa Uskup melihat ini sebagai peristiwa yang "memalukan". Beliau sedih sampai beberapa hari. Merasa bersalah kepada umat yang tidak bisa menerima Komuni Kudus. Bahkan ketika berjumpa dengan beliau seminggu setelah peristiwa tersebut, beliau masih menyinggung soal ini.  
Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh pastor paroki saya. Setelah peristiwa tersebut, beliau tetap tenang. Beliau hanya berkata, "tidak usah sedih dan merasa bersalah, khan kita sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kalau masih kurang, artinya umat yang datang banyak sekali. Kita patut bersyukur karena umat yang datang banyak sekali." 
Sederhana, simpel, dan tidak (m)bulet. Saya sendiri kerap kali bersikap seperti bapak uskup, memikirkan masalah itu hingga lama sekali. Merasa bersalah lama sekali. Terus-terusan bertanya, "mengapa hal tersebut bisa terjadi?" Dan lebih jahat lagi, kerap mencari-cari sumber kesalahan dan melepar kesalahan kepada orang lain.   
Oh iya, di sini bukan berarti tidak mau melakukan evaluasi. Tetapi lebih kepada melihat sesuatu dari sisi yang lebih positif, yang lebih membangun. Sama-sama melakukan evaluasi, tetapi dengan titik pijak yang berbeda. Saya sungguh belajar dari peristiwa tersebut, bagaimana seseorang menghandel sebuah perkara dan tetap tenang menghadapinya. 
Yang kecil tetapi besar, yang sederhana tetapi luar biasa; itu lebih berkaitan dengan perilaku sehari dalam melakukan kebaikan-kebaikan. Melakukan kebaikan yang tidak dilihat oleh orang lain, dan tetap melakukan kebaikan-kebaikan kecil meskipun tidak diketahui oleh seorangpun. Tetap melakukan kebaikan, meskipun tidak ada seorangpun yang mengucapkan terima kasih. Atau bahkan kemudian membalas dengan tindakan yang kurang baik. Itulah hal kecil yang sebenarnya besar, hal sederhana yang sebenarnya luar biasa. 
Dalam hal ini saya belajar banyak dari Santa Therese dari Kanak-kanak Yesus. Bagaimana dia berusaha untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan kecil yang tidak diketahui oleh orang lain, dan dia berusaha agar tetap tidak diketahui oleh orang lain. Dia membiarkan hanya Tuhan saja yang melihat setiap benih kebaikan yang dia tanam di kebun Karmel di Lisieux.  
Untunglah pada zaman itu belum ada gadget, belum ada pesbuk dan teman-temannya yang biasa menjadi tempat memamerkan segala kebaikan dan doa-doa. Seperti yang biasa saya lakukan.PLAKKK! Uh, menuliskan ini rasanya seperti ditampar, karena ini sungguh bukan rekaan. Huh! Hilang sudah idenya. 
Oke, saya ulangi. Beruntunglah kakak saya itu, Santa Therese dari Lisieux yang tetap bisa menyembunyikan segala kebaikannya dari mata saudari-saudarinya. Berbahagialah dia karena hanya membiarkan Tuhan yang melihat, juga segala keluh, ceria, dan ceritanya. Berbahagialah kakak saya itu.  
Kebaikan itu bukan untuk dipamerkan, itu yang dia teladankan. Yang amat berbeda dengan yang saya lakukan, yang kerap saya pertontonkan. Bersyukur kepada Tuhan, harus ditulis di status, marah ditulis di status, berdoa ditulis di status, apalagi ya... pokoknya banyak sekali.  
Ah, sudahlah. Intinya, ada banyak hal kecil dalam hidup saya itu seharusnya saya biarkan kecil, tidak saya besar-besarkan, apalagi dipamer-pamerkan. Ada banyak hal sederhana yang seharusnya tetap saya biarkan sederhana, tidak saya perumitKarena itu seperti sebuah benih yang membutuhkan tanah yang tidak keras, yang tidak liat, tetapi gembur, gentleyang memungkinkan tunas lembut itu menembusnya dan bertumbuh. 
Demikian curhat hari ini. 
salam 




Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …