29 October 2015

Mereka bilang saya suka makan.

Nasi Putih disantap dengan ikan goreng, tempe goreng,
empal goreng dan lalapan. (foto koleksi pribadi)
Hari itu kami sedang melihat televisi, program film kartun. Kami semua orang-orang dengan umur yang sudah cukup banyak, tetapi kami menonton film kartun. Tidak menjadi masalah. Film itu bercerita tentang beberapa binatang yang berkumpul menajdi satu, ada kura-kura, landak, bajing, anjing hutan, dll. Seperti pada umumnya film kartun, mereka bisa berbicara.
Dalam satu moment, para binatang ini sedang bergossip ria. Mereka berbicara perihal makanan, perihal kebiasaan mereka makan, dan kebiasaan manusia makan. Ini yang diungkapkan satu binatang itu:

"Kita makan untuk mempertahankan hidup, hal ini berbeda dengan manusia. Biasanya mereka mempertahankan hidup untuk bisa menikmati makanan. Singkatnya, kita makan untuk hidup tetapi manusia hidup untuk makan!"

Mendengar ungkapan itu, teman-teman saya serentak menoleh pada saya. "What!!" Protes saya. 

Mereka mengatakan bahwa saya banyak makan. Mereka mengatakan saya suka makan. Mereka mengatakan bahwa saya mengabdi perut. Mereka setuju dengan kesimpulan para binatang itu yang mengatakan bahwa saya hidup untuk makan.


Agak sulit bagi saya untuk menjawabnya. Kalau saya menjelaskan, mereka akan menuduh saya mencari alasan untuk membela diri. Kalau saya diam saja, mereka akan terus berkoar. Ini tentu saja tidak bagus. 

Harus saya katakan, bahwa saya tidak hidup untuk makan. Saya hanya berusaha bisa menikmati tiap makanan. Mungkin banyak orang salah paham ketika saya berkata bisa makan apa saja jenis makanan. Yang ada dalam benak mereka pasti, rakus!

Makan itu sebuah perayaan

Saya sudah sejak lama menyadari bahwa makanan itu bukan sekadar makanan, dan makan bukan sekadar makan. Makan itu bukan sekadar memindahkan makanan ke dalam mulut mengunyah dan kemudian memindahkannya ke perut. Makan itu sebuah perayaan. Apapun namanya, makan ada sebuah upacara, ada sesuatu yang hendak dirayakan.

Makan adalah sebuah prayaan kehidupan. Itulah yang harus disadari. Hidup itu harus dirayakan, dan perayaan tanpa makanan bukanlah sebuah perayaan. Sebuah kehidupan yang terus berjalan tiap detik, tiap menit, tiap jam, hari bulan dan tahun membawa aneka ragam peristiwa. Masing-masing menyelipkan cerita yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Masing-masing mesti dirayakan.

Orang Jawa menyebut perayaan kehidupan itu dengan ungkapan "selamatan". Sebuah perayaan akan anugerah hidup dan kehidupan. Selamat artinya hidup. Hidup menyertai seluruh perjalanannya hingga hidup itu berakhir, dan semuanya dirayakan ditandai dengan perayaan makan.

Ketika manusi amasih berupa janin di dalam rahim, kehidupannya sudah dirayakan. tiga bulanan- tujuh bulan dan nanti pada hari kelahirannya. Tiap perayaan ada makanan yang hanya bisa dimakan pada waktu itu. Misalnya iwel-iwel. Semacam jenang. Agak manis dari beras ketan yang ditumbuk halus menjadi tepung, terkadang agak kasar dicampur parutan kelapa. dibungkus daun pisang dan berisi gula merah. kue ini dikukus sekitar 20-30 menit. Iwel-iwel hanya bisa dijumpai dalam perayaan kelahiran, dan perayan lain yang berkaitan dengan kehidupan baru.

Makan itu sebuah ungkapan syukur. Syukur atas alam atas kehidupan. Hal ini sangat terasa dalam budaya Cina. Mereka (dulu) adalah masyarakat agrikultur alias masayarakat petani. Maka setiap perayaan apti berkaitan dengan pergantian musim dan pertanian. 

Tiap perayaan ditandai dengan jenis makanan yang berbeda. Perayaan bulan baru, musim baru, mid-autumn fest, ditandai dengan kue bulan. Kemudian ada bakcang, ada kue tahun baru, dll. Masinsg-masing jenis makanan itu hanya bisa diujumpai pada perayaan tersebut. Perayaan menjadi spesial karena ditandai makanan tertentu. Dan makanan mendapatkan nilai tambahnya karena menandai perayaan tertentu. Makan bukan lagi sekadar memindahkan makanan ke perut, tetapi sebuah perayaan kehidupan.

sayapun mencoba menandai tiap langkah hidup saya sendiri dengan makanan. Saya berusaha merayakan tiap tahap hidup saya dengan jenis makanan yang berbeda. Masing-masing saya maknai sendiri, saya rayakan sendiri. Misalnya, menandai hari kelahiran saya akan menikmatinya dengan semangkok soto ayam. Sedapat mungkin akan saya masak sendiri. Menandai hidup membiara atau imamat, saya akan menikmati dengan oseng pare. Agak aneh, tapi bagi saya ada banyak nilai yang terkandung di dalamnya. 

Bangga dengan budaya

Saya selalu bangga dengan aneka makanan Nusantara Indoneisa. Misalnya soto. Hampir tiap kota d Indonesia memiliki soto dengan kekhasannya masing-masing. Lalu ada sate, dll. Menikmati makanan khas Indonesia tentu lebih menyennagkan jika dinikmati di tempatnya berasal.

Suatu saat saya bertamu di sebuah keluarga di Banjarmasin. Pagi hari mereka mengajak saya menikmati sarapan di sebuah warung. Menu yang kami pilih adalah ikan gabus. Bagi saya yang menarik bukan ikan gabusnya, tetapi nasinya. Bagi saya yang orang Jawa ini, nasi di sana dimasak dengan sangat 'akas', agak keras dan kurang lunak. Maka berkali-kali saya harus meneguk air agar tidak 'kesereten'.

Melihat itu, bapak yang mengajak saya berkomentar,"itulah, waktu saya ke Jawa, saya juga kesulitan menikmati nasi kalian yang pulen, bagi saya sulit sekali dimakan." Masyarakat Indonesia pada umumnya adakah "pemakan" nasi. Tetapi tiap daerah memiliki cara sendiri dalam mengolah dan menyajikan nasi. Orang Jawa lebih menyukai nasi yang pulen. Sedangkan daerah lain lebih menyukai nasi yang sedikit akas. 

Menikmati makanan khas udaya tertentu itu sangat menyenangkan. Dari makanannya akan kita kenal orang-orangnya. Makanan itu diolah dari tanaman dan binatang yang hidup di daerah itu. Makanan itu akan membentuk kharakter orang-orang di daerah tersebut. Ketika kita mampu menikmati makanan yang disajikan oleh suatu masyarakat tertentu, kita dibantu untuk menerima masayrakatnya yang mungkin kharakternya sangat berbeda. 

.....

Itu yang saya pelajari. Itulah mengapa saya menyukai makanan. Itulah mengapa saya belajar makan apa saja. itulah mengapa saya suka makan dan menikmati aneka makanan yang baru. Tetapi hasilnya kalian menjuluki saya suka makan, bahkan lebih menyakitkan karena menuduh saya hidup untuk makan. Padahal, kalau kalian telat makan sedikit saja pasti akan teriak-teriak. Hmm sudah saatnya makan. Sampai jumpa.

25 October 2015

Mengapa saya mengagumi Bartimeus?

Sahabat, terakhir kali saya menulis di sini adalah 12 Mei yang lalu, ketika saya merayakan ulang tahun tahbisan ke-10. Kala itu saya merenungkan "Oseng Pare". Jika ingin membaca kisah mengapa saya begitu mencintai oseng pare, bahkan bagi saya oseng pare menjadi "menu utama" dalam merayakan ulang tahun tahbisan, silahkan mencari sendiri artikelnya. 
Kali ini saya ingin membuat catatan mengapa saya begitu mengagumi Bartimeus, seorang pengemis buta di kota Yerikho. Tentu saja kali ini bukanlah yang pertama saya membuat catatan mengenai orang hebat ini, yang bagi saya seumpama guru doa. Saya ingat enam tahun yang lalu, di tempat yang sama (pasturan gereja Maria Kusuma Karmel, Jakarta) saya membuat catatan mengenai Bartimeus anak Timeus.  Waktu itu saya menulinya dalam bentuk note di FB. Kemudian beberapa kali juga membuat catatan singkat mengenai Bartimeus entah dalam renungan-renungan singkat.
Sejak awal saya kesengsem dengan Bartimeus sebagai seorang guru doa. Sebagai seorang pribadi yang mengerti bagaimana harus berdoa. Doa yang bukan menekankan kepada metode tertentu tetapi kepada kerinduan hati akan Sang Pencipta. Seperti halnya yang diajarkan oleh Santo Yohanes Salib bahwa inti sebuah doa adalah kerinduan yang mendalam dalam hati untuk bisa menjalin relasi secara pribadi dengan Tuhan. Dalam mengungkapkan kerinduan ini orang bisa menggunakan banyak metode. Setiap metode disesuaikan dengan karakter pribadi yang bersangkutan, sesuai dengan ketertarikan hatinya.

Mari kita lihat apa yang terjadi di pinggir jalan di Yerikho tersebut. Saat itu ada seorang yang buta duduk di pinggir jalan. Disebutkan bahwa nama orang buta itu adalah Bartimeus anaknya Pak Timeus. Dia setiap hari duduk di sana mengemis. Hari itu suasana agak berbeda, bahkan mungkin sangat berbeda, ada keramaian yang melebihi biasanya. Kemudian dia bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. "Yesus dari Nazareth sedang lewat." Itu jawaban yang dia peroleh.
Yesus sedang lewat, bukan sedang duduk mengajar. Artinya, Yesus berada di sana hanya sekadar lewat dan waktunya sangat singkat. Hanya beberapa langkah atau beberapa saat mungkin Dia akan menjauh.
Di sini lain, Bartimeus kemungkinan telah banyak mendegar cerita tentang siapa Yesus. Dan inilah saatnya, inilah saat kerinduan hatinya akan bisa terobati. Waktunya tidak banyak, kesempatan itu akan segera lewat kalau dia tidak memanfaatkannya. Maka dengan engkapan yang singkat namun jelas dia berteriak:

"YESUS ANAK DAUD, KASIHANILAH AKU!!!"

Teriaknya belum mampu menarik perhatian Yesus, sebaliknya mengganggu orang-orang yang ada di sekitar Yesus. Merekalah yang pertama-tama bereaksi. "Hai orang buta, jangan berisik!!!"

Tetapi Bartimeus pantang menyerah. Dia tahu kesempatan itu bisa saja lewat begitu saja dan dia tidak akan memiliki kesempatan kedua di lain waktu. Dia tida bisa meunggu. Dia tidak mau selamanya duduk di pinggir jalan itu dan mengemis. Maka dengan lebih keras dia berteriak:

"YESUS ANAK DAUD, KASIHANILAH AKU!!!!"

kali ini teriakannya sampai ke telinga Yesus. Kali ini usahanya membuahkan hasil. Yesus mendengar suara seseorang berteriak. Kemudian Yesus meminta agar orang tersebut dibawa mendekat. Maka orang-orang yang berada di dekat Bartimeus berkata : "Kuatkanlah hatimu, Yesus memanggil engkau!"

Bartimeus tahu diri. Dia mengerti bahwa kondisinya sangat kotor. Dia tidak mampu melihat kotor itu seperti apa dan bersih seperti apa. Namun dia mengerti, bahwa kondisinya tidak pantas di hadapan Yesus. Maka dia lepaskan pakaian luarnya, dia tanggalkan kehidupan lamanya dan siap menemui Yesus, siap menyongsong hidup baru bersama Yesus.

Saya bayangkan bahwa semua orang yang ada di sana terdiam dan memandang ke arah Bartimeus yang dituntun berjalan menuju tempat Yesus berada. Saya bayangkan bahwa hati Bartimeus bergemuruh hebat. Dia dipanggil Yesus. Kesempatan itu akhirnya datang juga. segala kerinduan hatinya akan terpenuhi. Dia akan bisa melihat.

Maka begitu Yesus bertanya apa yang dia inginkan, Bartimeus dengan sedikit tergetar menjawab:

"RABUNI...., SAYA INGIN MELIHAT...!

Yesus mengabulkan permohonan Bartimeus.

Sahabat, mengapa saya begitu mengagumi Bartimeus sebagai guru doa? Karena dia memiliki kerinduan yang besar akan Tuhan sebagai satu-satunya yang mampu mengubah hidupnya. Dengan jelas dan tegas dia bisa mengungkapkan apa kerinduannya. Bukan hanya itu, setelah disembuhkan dia juga mengikuti Yesus. Hal ini yang sungguh luar biasa. Setelah keinginannya terpenuhi, dia tidak lupa akan siapa yang menyembuhkan. Dengan sukacita Bartimeus mengikut Yesus. Dia ingin mengisi hidup barunya sebagai murid Yesus.

Rasanya merenungkan semangat Bartimeus yang dengan penuh kegembiraan mengikut Yesus, mampumenambahkan semangat dalam jiwa yang lelah dalam mengikut Yesus. Rasanya kesederhanaan Bartimeus membantu jiwa yang galau akan banyak hal yang tidak jelas apa yang diminta. Rasanya, tidak ada alasan lain untuk tidak percaya bahwa DIA memang satu-satunya yang mampu mengubah hidupku.

Jakarta, 25 Oktober 2015
Maria Kusuma Karmel



12 May 2015

Mengapa Saya Suka (oseng) pare?

(Penampakan oseng pare masakan saya hari ini!)

Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam merayakan peristiwa yang istimewa dalam hidup mereka. Kebanyakan perayaan, pastilah melibatkan makanan di dalamnya. Demikianpun halnya dengan saya, dalam setiap merayakan peristiwa istimewa dalam hidup saya, saya senantiasa menghadirkan makanan yang istimewa pula. Istimewa bukan karena rasanya atau penampilannya, apalagi karena harganya. Istimewa karena kisah di belakang masakan yang saya tata.

Ada banyak kesempatan di mana saya merayakan peristiwa istimewa dalam tahapan kehidupan saya. Yang umum adalah merayakan pesta ulang tahun kelahiran. Sejak saya berada jauh dari kampung halaman, saya senantiasa merayakan pesta ulang tahun kelahiran dengan menu soto. Soto ayam! Kalau tidak bisa memasak sendiri, saya membelinya di warung. Sederhana saja. Bukan karena saya sangat tergila-gila dengan soto ayam. Seperti saya katakan tadi, yang istimewa adalah kisah di belakang menu soto ayam. Menu ini adalah menu istimewa semenjak masa kanak-kanak saya dulu. Setiap kali orangtua saya merayakan pesta ulang tahun saya, ibu selalu memasak soto ayam. Maka, menu soto ayam menjadi istimewa karena membawa kembali seluruh kenangan masa kecil bersama keluarga. Dan ini mengalahkan rasa yang mungkin tidak seberapa. 
Nah, ada menu lain yang menemani saya dalam merayakan peristiwa istimewa lain dalam tahapan hidup saya yang lain. Misalnya merayakan ulang tahun tahbisan atau kaul kekal. Tentu tidak setiap tahun merayakan dalam suasana yang serupa. Seperti kebanyakan orang memiliki jenjang-jenjang tersendiri, entah dihitung berdasar perpuluhan, perduapuluhlima tahunan, atau yang lainnya. Saya juga merayakan, untuk saya sendiri, secara istimewa. Tentu istimewa menurut saya sendiri. Misalnya, sewaktu merayakan ulang tahun yang ke-5 imamat, saya mengumpulkan catatan yang berserakan di halaman fesbuk, dan menjadikannya sebuah buku. Buku itu saya beri judul, "yang kecil itu". Karena sebuah kenangan akan perjalanan imamat, maka buku itu tidak saya jual, melainkan saya bagi-bagikan kepada setiap orang yang membantu proses pendidikan saya juga saudara-saudara saya seserikat. Saya menyerahkan buku yang sudah dicetak kepada komisi misi serikat dan mereka yang tahu kepada siapa hendak membagikan buku tersebut.

Hari ini, saya merayakan ulang tahun yang ke-10 hidup imamat. Saya juga merayakannya dengan istimewa, berdua dengan saudara seserikat. Saya katakan kepadanya, "siang ini saya yang masak. Nanti sore baru kita makan di warung." Sore hari saya ajak ke warung untuk mengantisipasi kalau-kalau dia tidak bahagia dnegan siang amsakan saya, meski saya anggap istimewa. Lalu saya mulai memasak menu istimewa untuk menandai 10 tahun hidup imamat saya. OSENG PARE!!
Mungkin Anda tertawa, mengernyitkan alis mata pertanda tidak percaya. Tetapi ini adalah menu istimewa saya, hari ini, di hari yang istimewa. Sekali lagi bukan soal rasa pertama-tama saya menyukanya. Bukan juga karena harganya yang istimewa, tetapi karena kisah di belakangnya.
Sejujurnya, saya bukanlah penggemar oseng pare. Saya hanya menikmati oseng pare yang saya masak sendiri. Anda pasti tahu, pare itu rasanya pahit. Tetapi entah mengapa, oseng pare masakan saya tidak terasa pahitnya. Anda boleh tidak percaya, dan saya tidak memaksa Anda untuk percaya. Anda juga tidak perlu meminta bukti masakan saya dengan meyuruh saya membuatkan oseng pare bagi Anda. Cukup dengarkan penjelasan saya, dan Anda boleh memilih antara percaya, tidak percaya dan sangat tidak percaya. Terserah Anda.
Mengapa saya menyukai oseng pare sebagai menu istimewa dalam merayakan ulang tahun imamat ini? Ada banyak alasan. Ada alasan yang ilmiah, ada juga yang tidak. Ada yang bisa diterima dengan akal sehat, ada juga yang yahhh diterima sajalah. Diiyakan saja biar saya senang. Macam-macamlah.

Pertama, orang bijak mengatakan "apa yang terasa pahit di mulut menyehatkan badan". Sejauh saya tahu, kalau saya sakit senantiasa diberi obat yang rasanya selalu pahit. Namun itu menyehatkan badan saya. Bisa jadi ini benar. Kemudian ada banyak sayuran atau buah-buahn lain yang serupa, yang rasanya pahit, namun menurut banyak orang baik untuk kesehatan. Baiklah ini diterima saja sebagai alasan pertama.
Kedua, pare itu gambaran rasa yang kerap datang dalam kehidupan. Namun seperti halnya sayur pare yang kalau tepat mengolahnya, rasa pahit itu bisa hilang dan yang tertinggal hanyalah kesedapan yang, bisa jadi, luar biasa. Namun, kalau salah mengolah, sayur pare itu akan sungguh seperti obat yang maha pahit saja rasanya. Di sinilah letak seninya, dan saya menyukainya. Mengolah yang pahit sehingga tidak terasa lagi pahitnya, namun membekaskan rasa yang luar biasa (nikmat) di lidah.
Ketiga, masih berkaitan dengan yang kedua. Orang Cina berkata bahwa hanya orang yang mampu makan yang pahit sajalah yang bisa menjadi manusia luar biasa. Makan makanan pahit dalam hidup adalah menghadapi dan melewati setiap peristiwa pahit dalam hidup. Batu-batu terjal yang terjajar di sepanjang jalan. Mereka bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi, ditata rapi, dan pada akhirnya dilewati. Meski demikian tidak menjadi penghalang bagi yang lain, karena sudah kita tata dan atur dengan rapi. Jika kita hanya melewati dan menghindari saja, batu-batu itu akan menajdi penghalang bagi setiap orang yang lewat. Maka, menjadi manusia luar biasa memiliki makna menjadi manusia yang berguna bagi sesama.
Keempat, oseng pare itu terasa sedap sekali kalau di masak pedas dan dicampur dengan ikan teri yang asin. Perpaduan antara pahit, pedas, dan asin, ketika disatukan menghasilkan rasa yang aduhai. Seperti saya katakan di atas, rasa pahit adalah gambaran pengalaman yang tidak enak dalam kehidupan, sebuah kepahaitan, sebuah masalah, sebuah tragedi. Demikian halnya dengan gambaran asin dan pedas. Dalam kehidupan, asin dan pedas bukanlah gambaran yang baik. Kita biasa menggambarkan sesuatu yang mudah, yang enak, yang menyenangkan dengan sesuatu yang manis. hampir tidak pernah menggambarkan sesuatu yang enak dengan padanan pedas. Sedangkan asin, bisa dipadankan dengan pengalaman dalam hidup. Maka menyatukan sesuatu yang tidak enak, dibutuhkan keberanian dan tekat yang kuat. 

Inilah sedikit alasan, mengapa saya merayakan ulang tahun imamat saya dengan menu oseng pare. oseng pare yang harus saya masak sendiri. Karena saya mengolah pare yang pahit agar menajdi sayuran yang enak membutuhkan seni tersendiri. Demikianlah saya mesti belajar sendiri, mengenal diri sendiri, mengenal setiap kepahitan yang singgah dalam kehidupan saya untuk saya oleh agar membekaskan rasa yang istimewa, tetap renyah ketika digigit namun tidak ada lagi jejak kepahitan di sana.
Mengolah kepahitan menjadi sesuatu yang bermakna memang tidak mudah. Itu laksana menata batu-batu kasar di seoanjang jalan yang saya lewati. Batu-batu yang telah membuat kaki saya berdarah juga kesleo, tetapi saya mesti menatanya dnegan rapi agar batu-batu itu tidak mencelakakan orang lain. Di sinilah saya, sebagai seorang gembala (pastor dalam bahasa latin berarti gembala) mesti berjalan menyiapkan jalan yang baik bagi para domba. Menata batu-batu yang berserakan dalam sepanjang jalan hidup saya. batu-batu itu bisa berupa luka-luka yang tertinggal dari masa lalu, yang terjadi karena ketidaktahuan atau kesembronoan. Itu mesti saya tata agar tidak menjadi celaka bagi orang lain.
Terkadang kepahitan hidup tidak datang sendirian, dia juga hadir bersama pedasnya pengalaman. Namun asinnya pengalaman akan membantu menyatukan hingga keduanya tidak melukai. Hal yang sulit bisa datang bersamaan, terkadang bahkan berombongan. Meski demikian semua mesti ditata dengan baik, semua ditakar dengan sempurna agar paduan pedas dan pahit setara dengan denyut asin dan manis yang menyela. Sehingga terpadu dalam adonan yang rata dan istimewa. Bukan karena saya hebat dan luar biasa, tetapi karena DIA yang menguatkan saya untuk mampu menanggung banyak perkara.

Seperti kisah Paulus dan Silas dalam buku Kisah Para Rasul yang dibcakan dalam perayaan Ekaristi hari ini. Mereka mengalami kepahitan berkali-kali. Ditangkap di masukkan penjara, bahkan penjara yang paling tengah, yang sangat ketat penjagaannya. Namun mereka menerima semua kepahitan itu dengan tenang dan hati yang lapang. Mereka percaya dengan SIAPA mereka bekerja. Maka, meski kepahitan itu mendera, mereka tetap melantunkan pujian kepada DIA yang mengutus mereka. Dan siapa bisa menduga kalau pujian itu akan menggetarkan pintu-pintu penjara dan membuatnya terbuka. 

Maka, pada hari di mana saya genap 10 tahun menjadi imam, oseng pare sungguh gambaran yang pantas untuk saya nikmati. Inilah perutusan saya. Mencecap kepahitan demi kepahitan, namun saya harus mengolahnya agar menjadi membekaskan rasa yang sedap. Dan setelah menyadari ini semua, saya kemudian mengambil gitar, memetiknya perlahan dan bersenandung, seperti yang disenandungkan Daud dalam Mazmur 138:1-2:

aku hendak bersyukur pada Tuhan
karena kebaikan-Nya
dan memuji-muji nama Tuhan
yang maha tingi

ya Tuhan...Tuhan kami
betapa mulianya
namamu Tuhan kami
dimuliakan atas sluruh bumi.

.........
Aku hendak bersyukur pada Tuhan
Atas segala kasih dan setia-Nya
Atas segala rahmat karunia-Nya
Atas segala perlindungan dan cinta-Nya
Aku hendak berterimakasih
Kepada semua kawan dan sahat
Mereka yg baik dan murah hati
Mereka yg gampang marah dan sakit hati
Mereka yg menyadarkan kalau tersesat
Mereka yg menghihur dengan canda dan tawa
Mereka yg rela hati bersama-sama berjalan dalam iman.
Aku hendak bersyukur atas orangtua
Atas saudara dan saudari, atas kemenakan yang lucu-lucu
Atas kerabat semua, mereka yang mendukung dan setia mendoakan, 
selama 10 tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang.

Hong Kong, 12 Mei 2015


17 April 2015

Peace be with you!

Setelah bangkit dari kubur, Yesus memiliki satu kata favourite. Yaitu "damai" / "peace" / "平安". Biasanya kata damai itu dirangkai dalam sapaan, "damai bersamamu" / "peace be with you" / 願你們平安。
Kata sangat sering kita dengar, apalagi kalau kita rajin ikut perayaan Ekaristi. Imam selalu mengulang-ulang perkataan Yesus, "damai-Ku kuberikan kepadamu, damai-Ku kutinggalkan bagimu."
Damai itu bukan hanya diucapkan, tetapi juga diberikan dan ditinggalkan.

Ada satu pertanyaan, mengapa Yesus baru memberikan damai itu setelah Dia bangkit? Mengapa tidak sebelum Dia bangkit?

Jawabannya sederhana. Ketika Yesus masih ada, para murid tidak memerlukan damai yang lain, karena Yesus-lah damai itu. 

Damai yg diberikan oleh Yesus ini, bagi kita sekarang bisa menjadi satu obat atau antivirus bagi penyakit dunia modern.

Apa saja penyakit dunia modern itu? Ada banyak. Tetapi kita bisa menyebut beberapa, misalnya: stress, takut, depresi, benci, dll.

Damai yg diberikan oleh Yesus ini bisa menjadi antivirus bagi berbagai penyakit di atas.

Harus kita pahami bahwa DAMAI yg diberikan oleh Yesus itu berkaitan dengan: damai bagi akal budi kita/ pemikiran, damai bagi hati kita dan damai bagi jiwa kita.

Damai bagi akal budi kita itu seperti Ini:
Kalau kita memandang luka-luka pada tubuh Yesus, pada lambung, tangan, kaki, dan lainnya, kita akan memahami bahwa pengampunan dari Allah itu kekal adanya. Luka yang masih nampak meski Yesus sudah mulai adalah sebuah tanda bahwa kita semua sudah diampuni.

Damai bagi hati kita itu seperti ini :
Kalau kita memandang lubang paku pada tangan dan kaki Yesus, kita akan merasakan bahwa CINTA Yesus pada kita adalah sebuah cinta tak bersyarat.

Damai bagi jiwa kita itu seperti ini :
Yesus Kristus tetap hidup. Dan DIA meraja selamanya. Sedangkan kita diundang untuk ikut dalam kerajaan-Nya yang kekal itu. 

PERTANYAAN:
Kalau damai yang diberikan oleh Yesus adalah seumpama obat / antidote bagi penyakit modern seperti kekhawatiran, depresi, stress, iri, benci, dll; mengapa kita masih mengalaminya?

Karena ada penghalang di antara kita dan Yesus. Penghalang yang membuat damai itu tidak benar2 bisa masuk ke dalam diri kita.
Penghalang itu tercipta karena kebiasaan buruk kita. Mari kita lihat kebiasaan kita.
Kebanyakan dari kita memiliki account media sosial, FB, Twitter, Path, Blog, Instagram, dll.
Di sana kita biasa menulis atau memposting apa saja. Kalau kita telaah dengan seksama, 90%postingan adalah keluhan, curhat dari hati yang galau atau komplain akan sesuatu. Kerap juga berupa pengadilan, penghakiman, dan kritik tajam terhadap seseorang atau kelompok.
Kebiasaan ini lama2 membuat kita berat untuk bisa menerima orang lain apa adanya. Karena kita merasa selalu benar. Maka perintah Yesus, cintailah sesamamu, sungguh amat berat untuk dilaksanakan. Yang mudah adalah, hakimilah sesamamu, makilah sesamamu, hujatlah sesamamu, dll.

TETAPI, panggilan kita adalah mencintai sesama. Bagimana ini bisa dilakukan?
1). Berlatih memaafkan. 
Dalam berelasi, akan selalu ada salah paham, ketidakcocokan, dll. Meminta maaf itu gampang, yang berat adalah memaafkan. Karena berat, maka perlu latihan. Latihan tidak menyimpan dendam, latihan menerima apa adanya. Latihan menerima kekurangan,mdan bersama-sama melangkah ke depan.
2). Berlatih membantu sesama.
Ada banyak orang yang membutuhkan bantuan. Ada banyak ragam bantuan; ada yang butuh barang, ada yang butuh maaf, ada yang butuh peneguhan, ada yang butuh didengarkan, dll. Kita bisa berlatih dari hal yang paling kecil.

Latihan ini akan membawa kita mampu mencintai sesama. 
Latihan ini akan membuat penghalang antara Damai yang ditawarkan dengan Allah dan diri kita makin tipis.

Jika damai itu telah tinggal dalam diri kita, kita akan mampu juga menjadi damai bagi sesama.

Tuhan memberkati.

Hong Kong
19/04/2015

02 April 2015

Mencintai SALIB

Sahabat, sudah beberapa minggu ini pikiran saya selalu diisi dengan kata SALIB. Bemula dari ruang kelas di saat saya menghadapi ujian, kemudian mengikuti dan memberi refleksi ibadat jalan salib, mengajak saya untuk melihat lebih jelas SALIB yang sesungguhnya dalam hidup harian saya.
Sebelum melangkah lebih jauh baik kalau kita sadari bahwa setiap orang memiliki SALIBnya sendiri, memiliki persoalan hidup sendiri-sendiri. Ada yang berat ada yang sedikit ringan, ada yang besar ada yang relatif kecil. Tetapi kita tidak bisa membandingkan begitu saja SALIB setiap orang. 
Misalnya: ada orang yang memiliki persoalan dalam keluarganya. Relasi antara orangtua dan anak-anak tidak bagus. Ada yang memiliki persoalan di dalam tempat kerjanya. Entah persoalan antar teman, dengan atasan atau bawahan, atau persoalan mencari pekerjaan. Yang lain memiliki persoalan dalam menemukan makna yang mendalam dalam hidup mereka, karena mereka seolah hidup tanpa arah, tanpa makna, melangkah tanpa tujuan bak daun kering tertiup angin.
Ada banyak sekali persoalan, ada banyak sekali SALIB. Jika kita membuat daftar dalam buku harian kita, akan menghasilkan berhalaman-halaman daftar yang semakin hari semakin panjang.

Bagaimana dengan saya sendiri? Saya akan menceritakan sedikit saja salib yang saya panggul ini. Saat ini SALIB terbesar dan terberat adalah belajar bahasa Kanton. Hampir seluruh waktu saya tercurah ke sana, tetapi hasilnya belumlah seberapa. Hal ini yang membuat beban salib ini terasa lebih berat. Dulu saya masih sering membuat tulisan, membuat ini dan itu, tetapi sekarang hampir semuanya terhenti dan terpusat pada belajar bahasa kanton, tetapi hasilnya belum seberapa.
Sudah setahun lebih saya belajar, tetapi sekali lagi hasilnya belum seberapa. Bahkan dalam percakapan sehari-hari saja banyak  istilah yang tidak saya mengerti, belum mampu saya hafalkan meski sudah diajarkan. Sekali ini, ini membuat beban menjadi semakin berat.
Selama setahun yang lalu, ketika saya mulai belajar bahasa Kanton, saya tinggal di biara Maryknoll. Di sana tinggal romo-romo dari Amerika yang membuat kami berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Di sana saya seperti menemukan tempat persembunyian. Saya tidak harus bercakap-cakap dalam bahasa Kanton. INILAH PERSOALANNYA. Saya belajar bahasa tetapi menghindar untuk menggunakannya.

TAKUT. Mungkin ini istilah yang pas untuk menggambarkan kondisi yang saya alami. Takut mendapati kenyataan bahwa saya tidak mengerti, takut mendapati kenyataan bahwa orang lain akan tahu bahwa saya tidak tahu, takut bahwa saya akan dianggap "bodoh". Dan sebenarnya, ini ketakutan yang tidak berdasar. Ketakutan yang entah datang dari mana, tetapi begitu kuat menguasai.

SAYA HARUS KELUAR.
Ya, saya harus keluar dari ketakutan itu. Bagaimana caranya? Hadapi saja. TIDAK ADA PILIHAN. hadapi saja. BERBICARA ITU GAMPANG TETAPI MELAKUKAN ITU SUSAH!!! Itu yang saya alami. Kepala saya mengatakan, "Kamu harus segera keluar dari biara itu, pindah ke paroki yang membuat kamu bisa bertemu dengan banyak orang, yang membuat kamu memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan banyak orang, dengan itu bahasa kantnmu perlahan-lahan akan membaik."
Namun hati saya berbisik, "apa kamu sanggup? apa kamu yakin bisa bercakap-cakap dengan mereka? apa kamu nggak akan malu?..."
Hati dan kepala saya berkelahi saling mencari perhatian. Pada awalnya hati saya menang. Saya menunda tinggal di paroki. Pada akhirnya TIDAK ADA PILIHAN, saya tidak bisa menunda lagi dan saya pindah ke paroki. Setelah pindah ke paroki, saya mendapati bahwa semuanya baik-baik saja, saya mendapati banyak kesulitan tetapi juga banyak keuntungan di sisi lain.

Sahabat, pengalaman bergulat mengahdapi bahasa Kanton telah mengajari saya dalam menghadapi masalah, persoalan, beban, atau SALIB. Setidaknya ada tiga langkah yang bisa dibuat untuk menghadapi SALIB.

1. Menerima SALIB tersebut
2. Merangkul SALIB tersebut
3. Mencintai SALIB tersebut.

Ketika saya belum mampu menerima SALIB saya, keadaannya samngat kacau, semua terasa berat. tetapi ketika saya mulai menerimanya, perlahan-lahan beban itu terasa berkurang beratnya. beban itu masih ada, kesulitan itu masih besar, tetapi ketakutan itu mulai hilang.
Menerima SALIB berarti menerima kenyataan, menerima situasi, dan menerima siapa diri kita. Ada orang yang mampu membawa salib seberat 100kg, ada yang hanya mampu membawa 50kg, atau hanya 10kg saja. Saya menyadari bahwa kemampuan saya (mungkin) hanya membawa 10kg saja. Maka kalau di depan saya ada 1000kg SALIB, butuh 100 kali untuk membawanya. bagi yang lain, yang mampu membawa 100kg, bagi mereka cukup 10 kali saja memanggul salib. 
Kalau saya memaksa membawa 50kg atau 100kg, mungkin saya mampu pada langkah awal, tetapi saya akan jatuh dan (mungkin) lumpuh tertimpa beban itu. 
Menerima SALIB berarti menyadari kenyataan akan besarnya salib dan besarnya kemampuan dalam memanggul, Selanjutnya setia untuk terus memanggul. 

Ini yang saya maknai sebagai MERANGKUL SALIB. 
Saya belajar dari Yesus saat terjatuh di jalan saat memanggul salib. Yesus jatuh sampai tiga kali. tetapi yang dilakukan oleh Yesus adalah memeluk salib tersebut, memanggulnya kembali dan meneruskan perjalanan. Saya juga mengalami berkali-kali jatuh tertimpa salib, jatuh karena merasa mampu membawa beban yang berat nyatanya saya gagal, saya terjatuh. Belajar dari Yesus, saya mencoba merangkul salib tersebut dan kembali meneruskan perjalanan.
Sampai kapan saya harus merangkul SALIB? Saya tidak tahu. Tetapi ketika kita setia merangkul SALIB, akan ada "Veronika" atau "Simon dari Kirene" yang akan datang meringankan. Tetapi tetap, beban utama SALIB itu menjadi tanggungjawab kita. Orang lain hanya akan mengelap peluh dan membantu mengangkat, tetapi tanggungjawab itu ada pada diri kita.

tahap berikutnya adalah mencintai SALIB. Tahap ini akan datang dengan sendirinya ketika kita mampu setia merangkul dan memanggul SALIB kita. Percayalah, saat kita mampu mencintai SALIB itu, sebenarnya salib itu tidak akan menjadi beban lagi, karena salib itu telah menjadi bagian diri kita.

PENTINGNYA SALIB

Apakah memang SALIB itu begitu penting?
Saya belajar dari YESUS bahwa Salib itu memiliki makna penting. Salib dan penderitaan Yesus, yang kemudian membawanya kepada kematian menjadi berarti karena ada kebangkitan. Tanpa sengsara dan kematian, tidak ada kebangkitan. Sebaliknya, jika tidak ada kebangkitan, maka sia-sialah sengsara dan kematian itu.
Maka, SALIB dalam hidup kita itu menjadi berarti kalau kita nanti pada akhirnya juga mengalami kebangkitan. Kalau Salib itu membawa kita menjadi manusia baru yang diubah oleh salib itu. Ketika hidup kita tidak ada yang baru, kita tidak belajar apa-apa dannnnnn CINTA KITA KEPADA TUHAN tidak semakin besar, maka SIA-SIALAH salib yang kita rangkul itu.
Salib menjadi berarti ketika kita satukan dalam Salib Tuhan, dan terlebih lagi ketika kita membiarkan diri mati bersama Kristus dan akhirnya bangkit kembali, memperoleh kehidupan baru.

Sahabat, saat menulis catatan singkat ini saya mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Grezia. Dia adalah gadis kecil yang (mungkin) buta sejak lahir, namun dikaruniai suara yang sangat merdu. Dia menyanyikan lagu berjudul "Walau aku tidak dapat melihat".  Sejenak saya diajak untuk menyadari bahwa kerap kali saya tidak mampu melihat rencana Allah, aku juga tidak mampu berharap karena Yesus yang menjadi harapanku telah "mati" di salib, namun aku tetap diajak untuk memandang Allah, karena Dia selalu ada.

Kusadar tak semua dapat aku miliki
di dalam hidupku
hatiku percaya rancanganMu bagiku
adalah yang terbaik
Walau ku tak dapat melihat semua rancanganmu tuhan
Namun ahtiku tetap memancang padaMu 
Kau tuntun langkahku
....

Hong Kong, 03/04/2015
Jumat Agung