13 December 2014

Para Pencuri Tuhan

Sahabat, menjelang pesta Natal ini banyak pencuri bergentayangan.
Mereka mencuri apa saja, bahkan mereka juga mencuri Tuhan.
Ada berbagai cara yang merapa gunakan untuk mencuri Tuhan, mulai dari aksesori, hiasan, bahkan sampai pada titik pusatnya, makna perayaan pun telah dicuri.
Mereka mencuri melalui cerita, melalui buku, melalui hiasan, melalui hadiah, melalui toko-toko, iklan-iklan, dll.
Saya bagikan sedikit dari yang saya lihat. Yang lain tentu masih banyak. 
Silahkan disimak di sini.

salam

07 December 2014

Menyiapkan JALAN

Sahabat, pasti masih ingat kisah 'blusukan' Pak Jokowi ke Sumatra Utara, tepatnya mengunjungi para pengungsi korban Gunung Sinabung. Kisah yang menarik tentu saja kisah Pak Jokowi 'ngerjain' pejabat setempat. Pak Jokowi tidak melewati JALAN yang sudah disiapkan oleh pemerintah daerah. pak Jokowi cenderung memilih jalannya sendiri, menemui orang-orang yang ingin ditemui; bukan orang-orang yang sudah disiapkan untuk ditemui.

Kemudian ada kisah lain ketika Pak Jokowi melakukan 'blusukan' ke Provinsi Bengkulu. Seperti kunjungan beliau ke tempat lain, kunjungan ke Bengkulu juga akan menyasar daerah-daerah pinggiran seperti kampung nelayan. Nah, ada cerita ketika Mentri Kelautan dan Perikanan, ibu Susi mengunjungi kampung nelayan. Spontan beliau berkomentar, "kemana perginya kapal-kapal yang menggunakan pukat harimau itu? Padahal beberapa hari yang lalu masih ada di sini."

Dua kisah di atas adalah gambaran singkat bahwa ketika ada pejabat tunggi mengunjungi suatu daerah, pemerintah daerah akan mempersiapkan jalan. Mereka akan memperbaiki setiap infrastruktur yang ada. Tujuannya, ketika pejabat tinggi tersebut melewati daerah tersebut, dia hanya akan menemui sesuatu yang baik. Sehingga kunjungan itu menjadi kunjungan yang menyenangkan. 

Jika pejabat tinggi datang saja dipersiapkan jalan yang baik; bagaimana kalau yang akan datang adalah Yang Memberi hidup? Bukankah diperlukan persiapan yang lebih lagi? Dalam Injil Markus, St Yohanes Pembaptis, mengutip apa yang diserukan oleh Nabi Yesaya, mengajak umat untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan.

Bagaimanakah mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan tersebut? Setidaknya ada tiga jalan yang bisa ditempuh. Jalan-jalan yang saya yakin sudah kita kenali. Yaitu jalan doa, jalan sakramen, dan jalan pelayanan.

Jalan doa.
Adven menjadi kesempatan yang baik untuk memperbaiki lagi hidup doa kita. Doa harus dipahami sebagai sebuah pola hidup, bukan soal metode doa, cara doa, kata-kata doa, dll. Apa maksudnya doa sebagai sebuah pola hidup?
Doa adalah sebuah kerinduan manusia untuk lebih dekat dengan Tuhan. Bahkan bukan hanya dekat dengan Tuhan, tetapi menjalin relasi secara personal dengan Tuhan. Doa adalah sebuah kerinduan hati untuk bisa bersatu dengan Tuhan. Seperti seseorang yang merindukan kekasihnya, merindukan untuk bersatu. 
Maka, memulai lagi hidup doa, berarti memulai lagi relasi pribadi dengan Tuhan. Kita bertanya kepada hati kita sendiri, sejauh mana kita sungguh memiliki kerinduan untuk bersatu dengan Tuhan? Sebesar apa kerinduan kita akan Tuhan? Ataukah masih sebatas formalitas? Doa-doa dasar, doa novena? dll.
Apakah doa-doa ini jelek?
Bukan sama sekali.
Doa-doa ini baik sekali. Tetapi menjadi sangat kurang kalau sudah merasa cukup dengan hanya melafalkan doa-doa tersebut. Di pihak lain, ketekunan dan kesabaran dalam hidup doa juga sangat penting. Ketekunan ini sangat diperlukan, karena manusia mudah bosan. Apalagi kalau merasa bahwa doa-doa kita tidak terjawab.

Jalan Sakramen
Menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan doa mungkin agak susah. Tetapi tidak demikian dalam kehidupan menggereja, dalam merayakan Sakramen-sakramen. Menyadari kehadiran Tuhan dalam Ekaristis, dalam Pembaptisan, dan Penguatan, dalam pengampunan dosa, rasanya lebih mudah.
Maka, salah satu cara menyiapkan jalan untuk menyambut kehadiran Tuhan adalah dengan merayakan Sakramen, sesering mungkin. Jika dulu, hanya mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu; sekarang bisa menambahnya dengan ikut dalam perayaan harian. Tentu saja kalau hal itu memungkinkan.
Menghadiri sakramen pengampunan juga menjadi sebuah persiapan yang indah dalam memnyambut Tuhan. Kita bisa bertanya, sudah berapa lama tidak mengaku dosa, sudah berapa lama tidak merayakan sakramen pengampunan? Mengapa tidak kita pakai momen perayaan Adven ini untuk merayakan sakramen pengampunan?

Jalan Pelayanan
Kehidupan doa dan perayaan sakramen menjadi "kurang berguna" apabila tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan bersama orang lain. Terlebih mereka yang kesusahan. 
Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang kesusahan.    
Pasti ada orang-orang di sekitar kita yangs akit, yang kesepian, orang tua. 
Pasti ada juga anak-anak yang tersingkir, yang kurang beruntung, yang ahrus berjuang demi sesuap nasi, meski sebenarnya bukanlah tanggungajwab mereka.
Lalu, apa yang bisa kita perbuat dengan orang-orang tersebut? Kerap kali kita juga berada dalam posisi yang sama, sama-sama menderita, sama-sama kesepian, sama-sama tersisih.
Memberi perhatian. Itu salah satu hal yang bisa dibuat.
Mungkin kita tidak memiliki dana berlebih untuk membantu pengobatan saudara kita yangs akit, tetapi kita memiliki waktu untuk menjenguk. Mungkin kita tidak memiliki baju-baju hangat untuk kita bagi dengan mereka yang kedinginan, tetapi kita memiliki telinga untuk mendengarkan cerita mereka yang kesepian, dst.

Jalan-jalan di atas bisa kita lalui sebagai jalan untuk menyiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. tentu jalan itu akan melalui hati dan hidup kita. Harus ada yang diubah, harus ada yang diratakan dan diluruskan. namun dengan satu harapan, pada akhir nanti, Tuhan akan merasa puas karena telah singgah dalam hati kita.

Hong Kong, 7 Desember 2014

29 November 2014

ADVEN dan Saksi Yehova

Sahabat, hari ini kita mulai memasuki masa Adven, masa mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan. Pada kesempatan ini saya ingin menyinggung Saksi Yehova (Jehovah's Witnesses) untuk lebih memahami ajaran Yesus.

Hal ini berkaitan dengan Sabda Yesus, "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamana waktunya tiba." Waktu yang dimaksud oleh Yesus adalah waktu kedatangan-Nya kembali. Waktu akhir zaman. Baiklah mari kita kenal sejenak Saksi Yehova.

Kelompok ini, sebut saja begitu, didirikan oleh Charles Taze Russell pada tahun 1884. Sejak didirikan, kelompok ini memiliki anggota sekitar 6 juta orang di seluruh dunia, tersebar di kurang lebih 235 negara.
Setiap anggota memiliki kewajiban untuk melakukan kesaksian "dari pintu ke pintu" selama 5 minggu. Mereka mudah dikenali, selalu berdua-dua, berbaju putih dan bercelana hitam, tampil rapi dan selalu membawa Kitab Suci, yang mereka terjemahkan sendiri sesuai dengan kebutuhan mereka. Mereka juga menjual majalah Watchtower. Seluruh ajaran Saksi Yehova dimuat dalam majalah ini.
Salah satu ciri khas kelompok ini adalah soal meramalkan akhir zaman. Setiap pemimpin meramalkan datangnya akhir zaman.
Charles T. Russell meramalkan bahwa akhir zaman akan datang pada tahun 1914. Tetapi ketika tahun itu datang, akhir zaman tidak datang. Charles kecewa dan akhirnya meninggal pada tahun 1916.
Para pemimpin pengganti charles juga membuat ramalan. Misalnya, ada yang meramalkan bahw aakhir zaman akan datang pada tahun 1925, kemudian diperbaharui pada akhir perang dunia II, kemudian direvisi kembali bahwa akhir zaman akan datang pada tahun 1975, kemudian tahun 1989.
Semua ramalam ini dimuat dalammajalah Watchtower. Meskipun semua ramalan ini meleset, tetapi para pengikut Saksi Yehova tetap percaya kepada ajaran mereka.
Oh iya, meskipun Saksi Yehova menggunakan Kitab Suci (yang mereka terjemahkan sesuai dengan kepentingan mereka); mereka menolak banyak sekali ajaran Kekristenan. Misalnya doktrin mengenai Allah Tritunggal.

Sahabat, saya mengangkat kisah mengenai Saksi Yehova ini karena, seperti saya singgung di atas, Yesus menegaskan bahwa tidak seorangpun tahu kapan hari itu datang. Yesus hanya menyuruh agar kita berjaga-jaga dan berhati-hati.
Hari itu bisa datang kapan saja. Bisa menjelang malam, bisa tengah malam. Bisa pagi-pagi buta, bisa menjelang fajar. Tidak ada yang tahu, maka berjaga-jaga sajalah. Berjaga-jaga dan berhati-hati juga terhadap orang-orang atau kelompok yang mengaku-aku mengerti dan tahu mengenai kapan akhir zaman itu. Salah satunya Saksi Yehova.

Karena tidak ada yang tahu kapan hari itu akan tiba, maka Yesus mengingatkan untuk berjaga-jaga. Berjaga-jaga memiliki dua makna bagi hidup kita.

Pertama, berjaga-jaga membuat hidup kita makin "mendalam".
Mendalam dalam arti, kita akan membuka seluruh indera, membuka mata, telinga dan hati secara lebar untuk berjaga. Hal itu membuat kita akan menaruh perhatian kepada banyak hal, termasuk hal-hal kecil. Orang yang hidupnya tidak mendalam, biasanya mengabaikan hal-hal kecil. menganggapnya sebagai hal biasa. 
Kedua, berjaga-jaga memberi kita satu "harapan".
Harapan adalah kekuatan. Kekuatan untuk terus berjalan di dalam iman. Harapan, bahwa Dia akan datang, tidak tahu kapan, tetapi pasti datang.

Bagaimana sikap berjaga yang baik?
Pertobatan. 
Tidak ada sikap berjaga-jaga yang lebih baik dari pertobatan. Secara sederhana, pertobatan berarti kembali mencintai Tuhan Allah dengan sepenuh hati, sepenuh pikiran dan sepenuh kekuatan. mungkin selama ini kita juga mengaku mencintai Tuhan Allah, tetapi tidak dengan sepenih hati, tidak dengan sepenuh kekuatan. Mencintai Tuhan Allah masih berada dalam urutan kesekian dalam priorotas harian kita.
Doa harian. 
Pertobatan diiringi dengan aktivitas doa harian. Doa, pertama-tamabukan soal cara atau metode dalam berdoa, tetapi mengenai sikap batin. Sikap batin untuk lebih mencintai Tuhan, untuk menjalin relasi secara pribadi lebih mendalam. Berdoa seperti halnya menjalin kasih di antara dua pribadi yang saling mencinta.
Bersedekah.
Bersedekah tidak selamanya dengan uang. Bisa juga berbagi waktu, pikiran, dll untuk sesama.
Bersedekah adalah bagian dari perwujudan pertobatan dan hidup doa. Sedikit apa yang bisa kita buat untuk mengungkapkan pertobatan dan hubungan personal dengan Tuhan.

Hari ini, ketika satu lilin berwarna ungu dinyalakan di dalam Gereja, kita juga menyalakan satu lilin di dalam hati kita sebagai tanda untuk membaharui hidup. Sebagai tanda untuk berjaga-jaga.

Selamat  memasuki masa Adven.

Hong Kong 30 November 2014

  

28 November 2014

Shoping dan shaping...

Bulan November dalam hitungan hari akan segera lewat. Digantikan oleh bulan Desember. Tidak terasa, sudah setahun lewat sebulan saya tinggal di Hong Kong.  Masih kuat dalam ingatan, kisah setahun yang lalu. Ketika saya sunggung terkesan dengan dunia perbelanjaan di sini.
Waktu itu juga di akhir bulan November, dalam minggu pertama masa Advent. Pengaruh derasnya bujukan untuk berbelanja, membuat saya merenung prihal shoping. Hampir setiap toko menawarkan harga yang baik untuk barang-barang mereka. Hampir semua toko melekatkan label SALE di kaca depan toko mereka. Bahkan ada yang bertuliskan BIG SALE. Pemberian potongan besar-besaran hingga 70%.
Tentu tawaran itu sangat menarik. Bahkan mereka yang tidak hobby shopingpun bisa tergoda karenanya. Bahkan banyak orang sudah menyimpan uang mereka cukup lama, menabung, untuk berbelanja pada musim bulan Desember. Musim di mana ada potongan harga besar-besaran.
Shopping itu baik kalau memang dibutuhkan. Tetapi saya mengingatkan untuk tidak melupakan shaping. Jadi selain shoping, lakukanlah shaping. Apa maksudnya?
Shaping itu secara sederhana berarti membentuk "sesuatu" agar menjadi lebih indah. Shaping berarti juga membentuk pribadi menjadi lebih indah. Pribadi yang indah, yang menarik, pertama-tama bukanlah bentuk fisiknya. Meskipun harus diakui, bentuk fisik akan menjadi daya tarik pertama; tetapi bukan yang utama. Bukan hanya fisik yang harus dishape, hati juga dishape, rasa juga dishape, pikiran juga dishape, nafsu-nafsu juga dishape. Agar meruar pribadi yang menarik, yang memikat, yang luar biasa. Nggak ngerti saya harus menggunakan kata apa. Intinya, pribadi yang hatinya bersih, pikirannya jernih, nafsu-nafsunya terkendali, perasaannya terjaga, dan kalau bisa fisiknya menarik. Hebat khan?

Bagaimana bisa melakukan shaping seperti itu?
Shaping fisik, lakukanlah olah raga yang cukup, yang teratur. Makanlah makanan yang bergizi, yang baik, yang seimbang. Ada teman-teman yang mulai dengan mengurangi porsi daging, ada yang menambah sayuran. Lakukanlah yang terbaik untuk fisik Anda.

Shaping pikiran.
Bisa dimulai dengan membaca. Pikiran manusia dibentuk oleh informasi yang masuk ke dalamnya. Kalau informasi yang dimasukkan adalah sesuatu yang negatif, yang jorok, yang gelap, yang penuh intrik, iri, dendam, sakit hati, fitnah, dll. Maka sesuatu yang akan keluar dari pikirannya juga sesuatu yang buruk.
Maka mulailah memasukkan sesuatu yang jernih. Ada baiknya, sebelum memasukkan sesuatu ke dalam pikiran, bersihkan dulu pikirannya. Lakukan relaksasi pikiran. Bisa dengan meditasi, mendengarkan musik relaksasi, pergi ke alam bebas yang hening tenang. Sesudah itu, mulai masukkan hal-hal yang positif. Masukkan hal-hal yang bersifat optimis. Membaca buku-buku yang lebih positif. Dll.

Shaping hati dan rasa. 
Segala kekotoran yang merusak pikiran, juga bisa merusak hati. Jika infprmasi yang dimasukkan ke dalam pikiran adalah hal-hal yang kotor, yang kelam, yang negatif; hatipun akan mengalami hal yang sama. Hati manusia bisa mengeras. Seperti orang yang terkena hepatitis. Hati dan rasa manusia bisa membeku, keras membatu. 
Bagaimana membentuk ulang agar tidak keras, agar mencair.
Dimulai dengan melihat hal positif dalam diri orang lain. Dimulai dengan tidak mementingkand iri sendiri. Dimulai dengan melihat sesuatu hingga jauh ke depan, bukan hanya apa yang ada di hadapan kita sekarang. Melihat secara utuh.
Kemudian, mencoba menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan. Menunda barang sejenak kalau gejolak itu sudah sampai di leher. Ditunda sejenak, hingga gejolak itu turun, minimal sampai ke pusar. Pada saat itu, situasinya akan berbeda.
Mendengarkan dengan bijak juga melatih rasa. Mendengarkan secara adil, bukan sepihak. mendnegarkan dengan jujur. Mendnegarkan, bukan dengan mendendam.
Memerhatikan orang lain. Berbagi segelas kopi. Mengangkatkan sejenak barang bawaan. Menyapa tukang sapu di taman, mengajaknya ngobrol sejenak. Menyapa orang yang semeja dengan kita di warung makan. Bisa menjadi awal yang baik membuka rasa.

Membuka hati akan yang ilahi.
Shaping yang terbaik adalah, membuka hati akan rencana ilahi.
Ada orang-orang yang begitu marah kepada Yang Ilahi, atas apa yang menimpa hidup mereka. Seolah tidak ada yang baik dan yang benar. Dan semuanya hanya karena Yang Ilahi diam saja. Sudah sering say adengarkan curhat, orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil oleh Yang Ilahi. Pada saat mereka mengalami kemalangan, mereka berteriak kepada Tuhan, dan Tuhan diam saja. Tuhan tidak datang membantu. Mereka kecewa, bahkan kemudian menolak Tuhan.
Jika ini yang terjadi, maka bukan hanya "pribadi yang tidak menarik" yang akan muncul. Tetapi hidup yang akan berlabuh dari satu derita ke derita yang lain. Jatuhnya debu di hidung rasanya sudah seperti dilempar bongkah batu. Semua akan serba kelam, serba jahat, serba menakutkan.

Bagaimana membuka hati yang baik?
Pertama, heningkan hati, heningkan pikiran, heningkan nafsu-nafsu. (meditasi, relaksasi)
Kedua, melepaskan beban di hati, membuang sampah yang menumpuk di hati. (memaafkan, luar biasa dayanya, tetapi kerap dicemoohkan saja). Menyimpan kebencian itu = menyimpan sampah. Makin lama disimpan, dia akan melahirkan banyak penyakit. Mereka yang sulit memaafkan, akan dijangkiti banyak penyakit yang mengerikan.
Ketiga, mendekatkan diri pada Yang Ilahi. Mulai teratur dalam hidup doa. Mulai teratur berkomunikasi dengan Yang Ilahi. Berkomunikasi, menjalin relasi secara pribadi, seperti sepasang kekasih. 

ahh, cukuplah hari ini.
Selamat berhari Sabtu.
Besok sudah masuk masa Adven.

Tuhan memberkati.
Hong Kong, 29 November 2014

15 November 2014

Berbagi cahaya

Hari ini Bapak Jokowi sedang berada di Brisbane, Australia. Beliau sedang mengikuti pertemuan para pemimpin negara yang tergabung dalam kelompok G-20. Tetapi saya tidak berbicara mengenai Pak Jokowi, juga tidak mengenai pertemuan yang diikuti. Saya ingin berbicara mengenai Mother Teresa dari Calcuta.
Lho apa hubungannya?
Beberapa tahun yang lalu, sudah lama pastinya, saya tidak ingat. Mother Teresa mengunjungi suster-susternya yang melayani orang-orang asli Australia. Suatu hari dalam kunjungannya, dia bertemu seorang pria tua yang sangat miskin. Bukan hanya miskin, lelaki itu juga terkucil dari lingkungannya.
Melihat kondisi lelaki tua tersebut, Mother Teresa tergerak untuk membantu.
"Maukah, Bapak, kalau rumahmu kami bersihkan, pakainmu kami cuci, dan kami buatkan tempat tidur yang layak?" Tanya Mother Teresa.
"Tidak!" Jawab lelaki itu.
"Tidak perlu. Saya sudah nyaman dengan seperti ini." Kata lelaki itu menambahkan.
"Benar, Bapak sudah nyaman dengan hidup seperti ini, tetapi kalau Bapak mengijinkan kami membersihkan rumah ini, Bapak akan jauh lebih baik."
Akhirnya lelaki tua tersebut mengijinkan Mother Teresa dan suster-susternya membersihkan rumahnya. Saat membersihkan rumah tersebut, mereka menemukan sebuah lampu yang terbungkus debu. Setelah mereka membersihkan lampu tersebut, mereka baru menyadari bentuk aslinya. Lampu yang indah sekali.
"Mengapa lampu ini tidak dinyalakan? Dan sepertinya, lampu ini sudah tidak dipakai sekian tahun lamanya." Tanya Mother Teresa.
"Untuk apa saya harus menyalakan lampu. Tidak ada seorangpun yang mengunjungi aku." Jawab lelaki itu ketus.
"Baiklah. Tetapi maukan Anda berjanji untuk menyalakan lampu ini pada malam hari kalau suster-susterku mengunjungi engkau?" 
"Tentu saja aku akan menyalakannya."

Peristiwa sudah lama berselang. Mother Teresa sudah lupa akan periatiwa itu, akan lelKi itu. Sampai ia mendapat sebuah surat dengan pesan yg singkat.
"Sampaikan pada sahabatku. Lampu yang dia nyalakan dalam hidupku, sekarang ini terus bersinar."

Sahabat.
Sebenarnya saya hendak berbicara apa?
Saya ingin berbicara soal talenta. Kita semua diberi karunia yang berbeda, yg kita kenal sebagai talenta.
Mari kita gunakan. Bukan kita tanam. Menggunakan talenta yg paling baik adalah yang membuat hidup org lain kembali bersinar dan terus bersinar.

Salam