19 May 2016

Tak Kenal, maka Tak Sayang...

Ini pepatah kuno yang kerap diucapkan dalam sebuah pertemuan. Apalagi kalau pertemuan itu melibatkan orang dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda. Pemandu acara akan mengajak para peserta untuk bekenalan, setelah berkenalan diharapkan ada jalinan pertemanan yang baik. Siapa tahu ada yang saling sayang dan melangkah ke jenjang yang lebih dalam lagi, siapa tahu!

Dan urusan kenal serta sayang ini menyasar berbagai lini kehidupan, bahkan bukan soal dua atau tiga insan manusia. Misalnya soal bercocok tanam. Seseorang tidak akan menyukai bercocok tanam kalau dia tidak pernah berkenalan dengan tanaman, dengan bebungaan, dengan tanah dan dengan keindahan. Kecintaan akan cocok tanam juga bisa timbul karena alasan yang sangat manusiawi. Misalnya kawan saya, dia suka bercocok tanam karena gadis incarannya suka berkebun. Alasannya simpel saja. Dia mulai bercocok tanam, mulai mengenal jenis tanaman, bebungaan, dll. Tujuannya sederhana, agar nanti kalau pas ngobrol berdua bisa nyambung. Kalau sudah nyambung akan mudah mengarahkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Saya katakan bahwa urusan mengenal dan menyayang itu juga menyasar setiap lini kehidupan manusia. Bahkan juga soal urusan dengan yang tidak kelihatan, dengan Sang Khalik. Seseorang tidak akan bernyala api cintanya kalau dia tidak pernah berusaha berkenalan dengan Sang Khalik. Memang lebih mudah berkenalan dengan anaknya Pak Kholik yang biasa berpeci terbalik itu dibanding berkenalan dengan Sang Khalik. Anaknya Pak Kholik jelas kelihatan wujudnya, rambutnya yang tergerai panjang, sorot matanya yang kerap berkedip nakal, atau langkah kakinya yang cepat seperti kelinci meloncat. Mudah dilihat dan diidentifikasi.
Lha berkenalan dengan Sang Khalik? garuk-garuk kepala yang tidak gatal bener dah. wujudnya tidak bisa dilihat, tubuhnya tidak bisa disentuh, semerbak aromanya tidak bisa dikenali, dst. Intinya, bagaimana mungkin kita berkenalan dengan sesuatu yang tidak pernah kelihatan?

Syukurlah bahwa manusia itu bukan makluk yang hanya mengandalkan daya empiris belaka. misalnya, baru percaya kalau sudah pernah melihat, pernah mencecap, pernah mendengar, pernah merasa, dll. Manusia itu bisa berabstraksi, bisa merasa. Saya percaya bahwa saya mempunyai otak meskipun saya belum pernah melihat otak saya, belum pernah mendengar degup otak saya, belum pernah meraba otak saya, tapi saya percaya bahwa saya memiliki otak. Apakah otak saya besar atau kecil, kemampuan berpikirnya bagus atau tidak, masih bekerja maksimal atau tidak; saya tidak tahu. Yang saya yakini, saya memiliki otak.

Lalu kembali kepada persoalan dengan Sang Khalik tadi, yang lebih mudah berkenalan dengan anaknya Pak Khalik tadi. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, mereka sampai kepada pengenalan bahwa ada "sesuatu" yang mengatasi keberadaan manusia. Ada DIA yang melebihi daya kemampuan manusia untuk mencerna dan mengerti. Ada DIA yang kepadaNYA kita berseru tatkala kita mengharapkan bantuan yang melebihi batas kemampuan manusia. Maka muncullah berbagai acara ritual yang kata orang modern dianggap aneh. Mereka yang bersujud dan menaruh ebungaan di sebuah batu besar, di bawah pohon besar, di perempatan jalan, di dekat sumber mata air, dll. Mereka mengekspresikan sebuah nalar yang tak terkata dengan nalar, yang tak terdefinisikan dengan kata akan kehadiran "Sang Khalik".

Lalu peradaban manusia membawa kepada pengalaman yang lebih modern. Muncullah AGAMA. Hadirlah TUHAN dalam kehidupan manusia. Dia mewujud, mengirim para nabi-Nya, DIA mengatur. Ada tatanan yang DIA berikan yang harus diikuti. Ada Kitab yang bisa dibaca sebagai sebuah manual dalam hidup beragama.
Baiklah kalau kita sebut munculnya AGAMA-AGAMA itu sebagai reaksi atas pengalaman manusia akan Yang Ilahi tersebut. Karena pengalaman manusia itu berbeda-beda maka muncullah banyak Agama. Ada pula agama yang mirip-mirip. Misalnya ada tiga agama besar yang memiliki sejarah yang sama, yang memiliki pengalaman akan kehadiran Allah yang mirip. Yaitu, Yahudi, Katolik/Kristen, dan Islam. 
Pengalaman akan Allah itu bisa bersifat sangat personal dan kemudian berkembang menjadi pengalaman bersama. Misalnya pengalaman iman ABRAHAM. Dia dan keluarganya memiliki hubungan personal dengan ALLAH. Hubungan itu kemudian berkembang dalam keluarganya, dan keluarganya berkembang menjadi sebuah bangsa. Dan ketika pengalaman akan Allah itu dibagikan, dan orang lain yang mendengar pewartaan itu mengamininya, pengalaman itu kemudian menjadi pengalaman bersama. Pengalaman akan Allah yang diwariskan oleh Abraham adalah pengalaman Allah yang TUNGGAL. Dalam bahasa modern, MONOTEISME. Bahkan dalam perjalanan sejarah keimanan kelompok ini muncul NABI ELIA yang berjuang untuk mempertahankan Allah yang tunggal ini dan melawan adanya penyembahan allah yang lain.

TRI TUNGGAL
Agama Katolik meneruskan sejarah pengalaman akan Allah yang dialami oleh Abraham. Dahulu kala, Allah mengikat perjanjian dengan Abraham. Inti dari semua perjanjiannya adalah janji keselamatan. Allah hendak menyelamatkan manusia. Rencana atau janji keselamatan itu terus diperbaharui. Allah, diwakili juru bicara-NYA, yaitu para nabi, terus mengingatkan manusia akan janji keselamatan itu. Di sisi lain, juga mengingatkan agar manusia setia dengan janji yang telah diucapkan. Yaitu janji setia kepada Allah yang Tunggal tersebut.
Kemudian datanglah Yesus. Membaharui perjanjian yang selama ini juga selalu diperbaharui melalui para nabi. Dalam seluruh pengalaman perjanjian itu, pihak manusialah yang selalu ingkar janji, sedangkan pihak TUHAN selalu mengampuni. YESUS datang membaharui seluruh perjanjian itu melalui dua belah pihak. Pihak TUHAN dan pihak MANUSIA. Karena sekarang dua pihak diwakili oleh satu orang, maka tidak ada yang bisa mengingkari.
Melalui Yesus pula kemudian kita mengenal ALLAH TRI TUNGGAL. Allah itu tetap satu, hanya mewujud dalam tiga pribadi, BAPA, PUTERA, dan ROH KUDUS. Ada beberapa peristiwa yang dicatat dalam Kitab Suci yang menggambarkan ketigaNYA. Misalnya dalam peristiwa setelah Yesus dibaptis. Di sana Roh Kudus muncul dan ada suara Bapa menyatakan kasihNya kepada Yesus.
Konsep Allah yang TUNGGAL tetapi terdiri dalam tiga pribadi ini amat sulit dipahami. Bahkan banyak pihak, terutama non Katolik yang mengkritik konsep ini. Mereka menganggap bahwa konsep ini kontradiksi. Bagaimana mungkin Allah yang Tunggal tetapi juga Tiga. Bagaimana mungkin TIGA tetapi juga SATU. Amat sulit dipahami. Tetapi inilah iman yang dihidupi oleh orang Katolik.
Bagi saya pribadi, misteri Allah Tri Tunggal ini menandakan bahwa Allah itu sungguh Allah. Karena kalau Allah atau Tuhan itu bisa dipahami 100% maka dia pasti bukan Tuhan. sesimpel itu. Untuk lebih lengkapnya, nanti kita bisa mengeceknya tatkala kita sudah berhadapan muka dengan muka dengan Allah dalam keabadian. Tetapi, sebelum semuanya itu terjadi, sebenarnya kita bisa memahami Allah Tritunggal dalam hidup sehari-hari. Dalam pengalaman pendalaman iman.

KENAL DAN SAYANG
Maka, ungkapan tak kenal maka tak sayang juga pas dikenakan kepada pengenalan kita akan Tuhan. Kalau kita tidak pernah berusaha mengenalnya, kita tidak akan pernah menyayanginya. Pengenalan adalah sebuah proses. Memang kita tidak bisa langsung bertemu dengan BELIAU face to face. Tapi kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, dari hasil pembelajaran orang lain. 
Proses pengenalan ini bukan hanya sekadar pemuasan akal budi dengan membaca banyak buku. Tetapi juga harus menyentuh perasaan dan jiwa. Di sanalah fungsi mempraktikkan apa yang kita pelajari dan kita imani.
Akal budi kita harus dilengkapi dengan banyak informasi yang benar dan terarah. Misalnya dengan membaca ajaran resmi Gereja, seperti yang dituangkan dalam buku katekismus (bisa dibaca mulai artikel 253 sampai dengan artikel 256). Mungkin kita tidak paham dengan ujaran yang dipaparkan di sana, tetapi kalau tidak pernah membacanya sama sekali dan menarik kesimpul secara sepihak tentu amat sangat berbahaya. Disinilah olah akal budi diperlukan. Juga masih ada banyak buku-buku hasil karya para teolog yang mencoba merenungkan misteri Allah Tritunggal ini.
Sedangkan batin yang diwakili perasaan dan jiwa juga harus dipuaskan. Aktivitas kesalehan seperti, menghadiri Ekaristi, melakukan pengakuan dosa, bergabung dalam kelompok doa atau kelompok syering Kitab Suci, atau juga kelompok sosial di Gereja, itu penting dan baik untuk dilakukan. Segala aktivitas ini bisa membantu untuk bisa mengenal Allah lebih imbang dan lebih dekat lagi, memupuk rasa sayang, dan pada akhirnya akan memiliki pemahaman yang penuh akan DIA.

Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus 2016
salam.
St. Teresa's Parish, 
Kowloon - Hong Kong.


12 May 2016

Friday the 13th

Hari ini Jumat, katanya sih Jumat keramat, karena tanggalnya adalah tanggal 13. Ingat dulu sewaktu kecil ada film horror di TV, selalu berkisah mengenai hari Jumat di tanggal 13. Apa iya begitu keramat dan horror? keramatnya mengenai apa? horrornya mengenai apa juga? sampai kini kerapkali saya nggak mengerti. atau karena hidup saya sudah penuh dengan horror, maka tidak membutuhkan horror yang lain yang datang dari luar.

Kemarin tanggalnya 12. (ya jelas dongggg.... hari ini 13 kemarin 12 dan besok adalah 14. anak kecilpun tahu!!! Dasar kurang kerjaan).
Oke, bukan soal itu yang hendak saya sampaikan.
Kemarin tanggal 12 di bulan Mei, tepatnya 11 tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di bagian timur pulau Jawa di Nusantara Indonesia (jiah panjang amat pengantarnya) 
tersebutlah empat pemuda gagah perkasa (hmmm... mulai puji diri sendiri gagah perkasa!) 
melangkah tenanag dengan hati berdegapdegup, sepatu fantofel hitam (yang baru kena semir beberapa jam yang lalu), 
rambut sedikit gondrong (karena lupa potong rambut), 
pandangan mata sedikit gugup (melihat tamu yang datang berduyun-duyun)... 
sore hari sekitar jam 5 sore, di tengah suasana kota Malang yang hangat (tapi hati panas dingin)....... waktu itu.
 
ya, hari ini tanggal 13 harinya Jumat, kemarin tanggal 12 harinya Kamis, sama halnya seperti 11 tahun yang lalu, hari Kamis sore di kota Malang, di Katedral Maria Bunda Karmel Malang, melangkah dengan sedikit gugup, empat pemuda dengan diapit kedua orangtua mereka, melangkah ke arah altar untuk memberikan dirinya seutuhnya sebagai pelayan dalam kawanan gembala, membantu Gembala Agung. 

hari itu, hari Kamis seperti halnya kemarin harinya Kamis. Mereka sebenarnya manis, namun sedikit terkikis oleh aroma amis keringat tamu yang datang berbis-bis. Namun semua tidak menjadi alasan tragis untuk tidak tertawa njegigis. Terkadang rahmat Allah itu begitu mistis, dan jangan berusaha untuk menepis, karena akan ada banya iblis berusaha merebut berkat yang tersimpan berlapis-lapis.

Kemairn tanggalnya 12 bulannya Mei 11 tahun yang lalu. Kok yaa sudah 11 tahun saja semuanya berlalu. Kalau boleh menoleh ke belakang, banyak juga yang sudah terpaku. ada debu di saku-saku baju, terkadang debu itu telah membatu, memberatkan langkah yang seharusnya mulus selalu. 11 tahun itu sesuatu.

Oh iya, catatan yang sulit dicerna ini hanya ingin mengucapkan Teriamaksih.
Pertama kepada Tuhan yang Maha Pengasih.
Hanya karena RahmatNya saya bisa tetap berdiri dengan rapih,
Kedua kepada orangtua yang selalu mendukung dengan doa dan cinta putih,
Ketiga semua teman yang tak hentinya memberi perhatian dan terkadang cacian kasih,
keempat... ndak tahu siapa, pokoknya terimakasih.

Semoga di tahun depan, kami bisa menjejakkan angka 12 di atas roti tart pada tanggal 12, di bulan mei.

hari ini, tanggal 13, harinya Jumat, katanya keramat, tetapi yakinlah itu hanya soal berkat. Kalau kalian tidak sepakat itu bukan menjadi penghambat, yang penting jangan lupa berbagi berkat.

demikian
selamat

11 May 2016

Numpang LEWAT

Catatan ini bercerita mengenai kebiasaan saya numpang lewat, potong kompas mencari jalan pintas yang mudah dan menyenangkan. Anda bisa berpikir positif juga negatif mengenai kebiasaan ini. Tapi daripada bingung, mendingan saya beri contoh kasus saja.

Dulu, dulu sekali saya pernah tinggal selama 3 tahun kurang 10 hari di kota Melbourne, Australia. Status saya waktu itu buruh migran yang melayani para migran dari Indonesia. Mereka, hampir semuanya migran profesional. Pindah ke sana untuk belajar atau memang mencari kehidupan yang lebih baik. Entah ekonomi yang lebih baik atau suasana batin yang lebih baik. Saya melayani komunitas tersebut sebagai chaplain.

Selama keluyuran di kota tersebut hampir tiga tahun lamanya, ada kebiasaan yang kalau mengingatnya saya merasa sedikit geli. Yaitu kebiasaan mencari jalan pintas tadi. Aduh, kok malah mbulet nggak jelas jalan pintas apa yang dimaksud? Misalnya sewaktu saya jalan-jalan di CBD, saya suka keluar masuk toko yang sambung menyambung menjadi satu seperti kepulauan Indonesia itu hanya untuk sampai di ujung satunya. Saya paling suka berkelok-kelok di tempat orang-orang berjualan parfum atau alat kosmetik. Pertama, yang berjualan biasanya cantik-cantik. Kedua, aromanya harum. Lumayan menghirup yang harum-harum.

Atau keluar masuk toko-toko baju sekadar melihat-lihat memuaskan mata karena nggak mungkin membelinya. Secara harganya berada di luar hitungan kantong.

Atau melewati gang-gang sempit yang banyak banyak gerai makanannya. sembari melihat menu-menu dan menghirup aroma sedap makanan, melintas mencari jalan. 

Kerap kali, acara mencari jalan pintas ini menajdi lebih lama dari yang seharusnya karena kebanyakan mampir dan berkelok. Namun tetap ada keuntungan yang diraih, saya jadi mengerti banyak hal. Kalau ada orang bercerita mengenai tempat tersebut, saya bisa nyambung. Minimal ngerti daerahnay ada di mana.

Acara mencari jalan pintas yang kerap tidak pintas itu menjadi satu cara 'numpang lewat' dalam rutinitas hidup. Dan ternyata, acara numpang lewat itu terus terjadi dan terjadi lagi. Boleh dikatakan, pelayanan saya selama tiga tahun kurang beberapa hari itu juga acara numpang lewat dalam sebuah perjalanan panjang hidup saya yang sayangnya belum saya ketahui akan berakhir di mana. Tentu saja saya memiliki keinginan untuk bisa berakhir di mana, namun kerap kali jalur kereta yang harus saya tumpangi bukanlah kuasa saya untuk menentukan arah dan tujuannya.

Sekarang saya numpang lewat di Hong Kong. Perjalanan berkelok-kelok, singgah sana singgah sini sudah berjalan sekitar dua tahun setengah. Sampai sekarang sudah ada empat kamar yang saya singgahi. Mulai dari kamar di Maryknoll House, St. Anne Parish, Shek O Retreat Centre, dan kini kamar di lantai 6 paroki St. Teresa Kowloon. Pindah ke sana ke mari itu capek. Dan semuanya hanyalah acara numpang lewat. 

Tentu lebih menyenangkan kalau bisa menentukan akan numpang lewat di mana. Namun amat sayang, karena kuasa untuk memilih itu bukan ada padaku. Saya hanya bagian menjalani saja. Dan berharap bahwa ini juga menjadi bagian dari menjalani skenario drama hebat yang dibuat oleh Sang Khalik. 

Hari ini, baru seminggu di tempat baru. Inipun hanya akan sekadar numpang lewat, entah berapa lama pun tetap numpang lewat untuk nanti pindah ke tempat lain lagi. Posisi duduk saya belum sepenuhnya mantap, masih sedikit di pinggir. Tandanya belum sepenuhnya masuk, masih ukur-ukur. 

Oh iya, dari sekian banyak tempat di mana saya pernah numpang lewat, semuanya memiliki cerita dan kisah sendiri yang tidak bisa disamakan begitu saja. Ya jelas donggg, kan lain ladang lain belalang, lain kota lain yang jual rujaknya. Bahkan banyak yang nggak jual rujak. halah malah ngomong jualan rujak. 

tetapi ngomong soal rujak ini juga menarik. sama menariknya dengan ngomong soal tutti frutti. rujak itu paduan macam-macam buah dan sayur dan bumbu-bumbu. Ada manisnya, ada kecutnya, ada sedapnya, semua berbaur menjadi satu menciptakan kenikmatan yang semakin nikmat kalau dinikmati sembari melahap kerupuk, kriukkkk.

Itulah perjalanan numpang lewat. Terkadang semua berlalu begitu saja. Dan akan memiliki makna ketika duduk sebentar dan melihat-lihat kembali. terkadang semua berlalu tanpa makna karena sedang dikejar waktu, maka meski ada yang berteriak-teriak menawarkan barang meski gratis, saya juga tidak tertarik karena sedang dikejar waktu pada sebauh janji yang kerap kali meleset untuk ditepati.

sebelum catatan ini berlalu tanpa jelas arah dan tujuannya, lebih baiklah kalau saya akhiri sampai di sini. kalau Anda sedang dalam perjalanan, dan mungkin kebetulan numpang lewat di mana gitu, usahakan untuk tidak terburu-buru, tetapi kalau jalan anda menghalangi orang lain, sebaiknya minggir sebentar memberi eksempatan mereka lewat lebh dulu, karena mungkin mereka tergesa untuk segera mencari WC, atau sedang diklakson mikrolet, sabarlah Anda sedang tidak mengejar setoran, sedang mereka sedang mengejar setoran. Nikmatilah jalan Anda, karena belum tentu Anda akan lewat di jalan yang sama. Dan kalau nanti menjumpai tempat baru lagi, jangan lupa berbagi cerita dengan saya, agar siapa tahu, suatu waktu nanti saya bisa mampir di sana.

sudahlah...





20 April 2016

Kapal Pesiar

Sahabat, apakah kalian pernah naik kapal pesiar? Saya belum pernah. Juga belum berminat menaikinya, atau menumpanginya. Apakah kalian berminat? Berminat toh boleh, tidak ada yang melarang. Tapi saya tidak berminat. 

Eh ngomong-ngomong, apakah kalian pernah melihat kapal pesiar? Dari dekat! Bukan melihat melalui brosur atau lewat tayangan televisi? Kalau saya sudah. Kerap kali! Melihat secara langsung, melalui kedua bola mata saya yang disambung kacamata, tanpa perlu perantara lembaran brosur atau iklan di kaca televisi, dll. 
Dari jendela inilah saya bisa melihat kapal-kapal pesiar itu
keluar masuk perairan Hong Kong. (foto koleksi pribadi) 
Saya melihatnya langsung dari jarak yang sangat dekat sekali ketika kapal pesiar itu sedang bersandar rapi di tempat parkir. (Eh, benar nggak sih kapal itu diparkir? Atau ditambatkan? Dianggap saja benar.) Atau melihatnya dari jauh tatkala kapal-kapal itu meninggalkan perairan Hong Kong di malam hari juga ketika mereka baru datang di pagi hari. Kebetulan posisi kamar saya menghadap laut yang menjadi jalur pelayaran kapal pesir tersebut.
Setiap pagi, antara jam 7 pagi singga jam 8 pagi, kapal-kapal tersebut berdatangan memasuki perairan Hong Kong dari arah timur. Kemudian pada malam hari sekitar jam 8 kapal-kapal itu mulai meninggalkan peraiaran Hong Kong. Entah menuju ke mana. Saya tidak pernah bertanya.
Ada seorang sahabat yang pernah ikut pakaet kapal pesiar. Katanya, di dalam sana itu tak ubahnya sebuah hotel yang bisa berjalan ke mana-mana. Sepertinya kurang tepat dikatakan berjalan, karena dia tidak pernah berjalan. Tapi sudahlah, maksudnya begitu. Masih katanya, kita bisa menikmati aneka macam hiburan di dalam sana, seolah tidak pernah tertidur. Sahabat saya bercerita bahwa tiap kapal pesiar memiliki paket-paket tertentu. Akan bersandar di berapa kota, berlayar berapa lama, dll.

Sahabat, setiap hari saya bisa melihat kapal-kapal itu keluar masuk perairan Hong Kong. Jika malam hari, penampakan kapal pesiar itu begitu indah dengan lampu-lampu yang menghiasi. Saya suka sekali memandangnya. Hanya sekejap, toh besok ada lagi. Jika beruntung, saat langit cerah, bentuk kapal itu bisa terungkap dengan cukup jelas. Jika kabut begitu pekat, maka pendaran lampu-lampu yang membungkus kapal saja yang akan nampak.
Kapal-kapal itu setiap hari selalu datang dan pergi dalam jadwal yang kurang lebih sama. Mungkin penumnpangnya selalu berganti. Karena mereka yang selalu di sana berarti pekerja. Penumpang hanya di sana berdasarkan paket yang mereka beli. Selebihnya mereka kembali ke rumah masing-masing melanjutkan kehidupan seperti biasanya. 
Menumpang kapal pesiar, seperti halnya namanya, hanyalah berpesiar belaka. Hanya satu bagian kecil dari seluruh perjalanan hidup yang sebagian besar begitu normal dan monoton. Setelah segala keriuhan atraksi di dalam kapal, atau segala pesona kota yang disinggahi berlalu, mereka kembali kepada kehidupan yang sebenarnya. Bangun pagi, bekerja, tidur, bangun pagi lagi, bekerja dan tidur lagi. Kalau dalam setahun sudah ada tabungan, maka direncanakan untuk menumpang kapal pesiar yang lain, menyinggahi kota yang lain, menjajal keriuahan yang lain. Begitu seterusnya.
Oh iya, kenapa saya menulis ini? Sebenarnya saya hendak bertanya, sekarang ini sedang berada di mana? Di kapal pesiarkah? atau sudah kembali ke rumah, menjalani apa yang rutin, yang seharusnya dijalani. Kalau ingin selalu berada di dalam kapal pesiar, maka harus memutuskan untuk melamar menjadi karyawan kapal pesiar. Dengan demikian akan selalu berada di sana.

nggak nyambung.
begitulah.
salam


15 April 2016

Kung Fu Panda

sumber foto: www.denofgeek.com
Sahabat, saya ingin bercerita tentang film Kung Fu Panda 3, bukan memberi resensi atas film tersebut. Tetapi berbagi cerita mengenai apa yang saya dapatkan setelah menonton film tersebut. 
Saya nonton film Kung Fu Panda 3 sebanyak dua kali, dan kesemuanya bukan di bioskop. Mohon maaf kepada produser film, saya nonton dari link yang dishare seorang teman. Pertama kali nonton, filmnya tidak bisa diputar sampai habis. Baru kedua kalinya film tersebut bisa  saya nikmati sampai habis. Sebenarnya saya ingin menontonnya di bioskop, sebab sensasinya lebih 'dapet'. Tapi selalu tidak memiliki kesempatan. Namun saya tidak berkecil ahti karena sejak menonton yang pertama kali, saya sudah disergap oleh rasa senang melalui pesan yang diberikan, bukan pada segala balutan animasi atau sound yang dramatik.

Cerita dibuka dengan pertarungan antara Master Ogway dengan Kay. Mereka pada awalnya bersahabat, namun karena keserakahan Kay, akhirnya mereka berpisah jalan. Pada bagian ini belum ada yang menarik hati.
Pada scene kedua mulai menarik meski belum menyentak hati. Po, panda si pendekar naga ditampilkan. Dengan segala aksi lucunya dan terlebih kenaasannya sewaktu melatih kawan-kawannya berlatih kung fu.
Pada scene berkutnyalah saya mendapatkan pesan yang akan menjadi alur cerita film secara keseluruhan. Setelah gagal mengajar, Po berencana pulang dan pensiun mengajar. Pensiun pada hari pertama mengajar. Saat itu dia bertemu dengan gurunya, Master Shi Fu. Oh iya, cara Po memanggil gurunya sedikit lucu, yaitu "Master Shifu!" Lucu, karena "master" maupun "shi fu" bermakna guru. Sudahlah, itu tidak penting. Percakapan mereka berdua jauh lebih menarik.
Po bertanya kepada gurunya mengapa memilih dia untuk mengajar kalau sudah tahu bahwa dia tidak bisa mengajar? Master Shifu menjawab bahwa cara itu ditempuh agar Po bisa melangkah lebih jauh. Jawaban ini ditolak oleh Po.
"Aku tidak ingin melangkah lebih jauh, saya lebih suka dengan diriku sendiri apa adanya yang sekarang." kata si panda.
Master Shifu menerangkan bahwa sekarangpun Po belum mengenal siapa dirinya yang sebenarnya. Jawaban ini dibantah oleh Po. Karena Po merasa tahu siapa dirinya, yaitu Panda si Pendekar Naga! Master Shifu kemudian bertanya, "Apakah artinya menjadi Pendekar Naga?"

Who Am I?

Proses pencarian jati diri,  kalau bisa disebut demikian, menjadi alur keseluruhan film. Pencarian jati diri ini tidak mudah dibutukan dua hal yang memungkinkan hal tersebut terwujud. Saya sadari, pertanyaan ini sederhana namun mencari jawabnya begitu sulit. kebanyakan enggan mencari sesuatu yang lebih dalam. Saya pernah ditanya, "ceritakan dirimu dalam 1 menit". Tidak mudah. 
Berdasarkan pengalaman, proses pencarian jati diri yang hakiki bisa bisa disebabkan oleh  dua hal (faktor). Pertama, ada kemauan besar untuk mengenal "siapakah saya sebenarnya"? Banyak orang yang tidak puas dengan apa yang kelihatan, mereka hendak menggali lebih dalam. Banyak ahli mengatakan bahwa kehdiupan manusia itu seprti gunung es. Yang nampak di permukaan hanyalah sebagian kecil. Ada bagian lain yang perlu dilihat, perlu menyelam untuk melihat di bagian dasar, bagian yang tertutup. Untuk ke sana tidak mudah, maka banyak juga yang enggan melakukan.
Faktor kedua, adalah adanya ancaman dari pihak luar. Ancaman itu bisa bermakna negatif maupun positif. Desakan pihak lain atau tuntutan tertentu yang memaksa seseorang menyelam lebih dalam mengenali dirinya sendiri. 

Kembali kepada cerita film.
Singkat cerita, muncullah tokoh lain, yaitu ayah dari Po. Selama ini, dalam kisahnya, yang menjadi ayahnya Po adalah seekor angsa. Dan kini muncul sesosok panda, datang ke kampung mencari anaknya yang hilang. Sekilas pandang kita akan langsung sepakay kalau tokoh yang baru datang tersebut memiliki hubungan dengan Po. Pertama dan yang utama adalah dari bentuknya yang tidak berbeda dengan Po. 
Tokoh yang baru datang ini bersedia mengajari Po mengenal siapa dirinya yang sebenarnya, mengajari Po menjawab pertanyaan "who am I?". Tentu saja pelajaran itu lebih efektif jika dilakukan di perkampungan panda. Di sanalah Po bisa belajar hidup sebagai panda, tidur seperti panda, makan seperti panda, berjalan seperti panda, dll.

Bagaimana dengan saya?
Seperti saya katakan di atas, film ini menarik perhatian saya bukan karena efek animasi atau sound atau yang lain, tetapi melalui pesan yang disuguhkan. Sayapun bertanya, "apakah aku sudah mengenal diriku dengan baik? siapakan aku ini sebenarnya?". Menggunakan cara Po mengenal dirinya sendiri, saya pun bertanya, "apakah cara makanku sudah seperti seharusnya manusia makan?" Jangan-jangan aku lebih suka memakan sesamaku? Jangan-jangan aku tidak memedulikan sesamaku? Apakah aku sudah tidur seperti halnya manusia mesti tidur? Apakah aku sudah berusaha menjadi manusia sebagaimana manusia seharusnya? Dan harus saya katakan, saya belum mengenal secara utuh. Saya belum menjadi manusia yang seutuhnya yang seharusnya manusia menjadi.

Kemudian saya mengambil beberapa gambar untuk menganalisa apakah saya sudah menjadi manusia atau belum. Gambar pertama adalah peristiwa sekarang, sedang gambar kedua adalah gambar yang muncul dari masa lalu, gambar yang lain adalah gambara ideal yang seharusnya menusia menjadi. Saya bandingkan gambar-gambar tersebut. Lalu saya mulai mencocokkan dan mulai memoleskan dengan warna yang lebih tegas.
Kemudian saya temukan dua hal yang harus saya mengerti. Pertama adalah, saya harus menerima siapa saya ini sebenarnya. Yang kedua, apakah saya yang sebenarnya sekarang ini sudah menjadi, atau paling kurang mendekati manusia yang ideal yang seharusnya manusia menjadi. (apakah Anda bingung dengan kalimat saya? kalau iya, jangan pedulikan. karena memang semua kalimat saya membingungkan. ini juga harus saya terima sebagai proses menegnal diri saya sendiri) 

Sebelum lebih jauh tersesat ke dalam uraian yang tidak jelas, saya kembali bertanya, apakah sekarang ini saya sudah mengenal siapa diri saya secara lebih utuh? BELUM!!!
Ya, belum. Masih ada banyak yang belum saya kenali. Ada banyak aspek yang mesti saya selami lebih dalam, ada banyak lekuk yang harus saya amati lebih teliti lagi. Pertanyaan "who am I" masih harus terus saya gemakan  agar saya tidak lupa untuk terus mengenal diri, lebih dalam dan lebih dalam lagi.

kira-kira begitu.
salam.