12 May 2015

Mengapa Saya Suka (oseng) pare?

(Penampakan oseng pare masakan saya hari ini!)

Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam merayakan peristiwa yang istimewa dalam hidup mereka. Kebanyakan perayaan, pastilah melibatkan makanan di dalamnya. Demikianpun halnya dengan saya, dalam setiap merayakan peristiwa istimewa dalam hidup saya, saya senantiasa menghadirkan makanan yang istimewa pula. Istimewa bukan karena rasanya atau penampilannya, apalagi karena harganya. Istimewa karena kisah di belakang masakan yang saya tata.

Ada banyak kesempatan di mana saya merayakan peristiwa istimewa dalam tahapan kehidupan saya. Yang umum adalah merayakan pesta ulang tahun kelahiran. Sejak saya berada jauh dari kampung halaman, saya senantiasa merayakan pesta ulang tahun kelahiran dengan menu soto. Soto ayam! Kalau tidak bisa memasak sendiri, saya membelinya di warung. Sederhana saja. Bukan karena saya sangat tergila-gila dengan soto ayam. Seperti saya katakan tadi, yang istimewa adalah kisah di belakang menu soto ayam. Menu ini adalah menu istimewa semenjak masa kanak-kanak saya dulu. Setiap kali orangtua saya merayakan pesta ulang tahun saya, ibu selalu memasak soto ayam. Maka, menu soto ayam menjadi istimewa karena membawa kembali seluruh kenangan masa kecil bersama keluarga. Dan ini mengalahkan rasa yang mungkin tidak seberapa. 
Nah, ada menu lain yang menemani saya dalam merayakan peristiwa istimewa lain dalam tahapan hidup saya yang lain. Misalnya merayakan ulang tahun tahbisan atau kaul kekal. Tentu tidak setiap tahun merayakan dalam suasana yang serupa. Seperti kebanyakan orang memiliki jenjang-jenjang tersendiri, entah dihitung berdasar perpuluhan, perduapuluhlima tahunan, atau yang lainnya. Saya juga merayakan, untuk saya sendiri, secara istimewa. Tentu istimewa menurut saya sendiri. Misalnya, sewaktu merayakan ulang tahun yang ke-5 imamat, saya mengumpulkan catatan yang berserakan di halaman fesbuk, dan menjadikannya sebuah buku. Buku itu saya beri judul, "yang kecil itu". Karena sebuah kenangan akan perjalanan imamat, maka buku itu tidak saya jual, melainkan saya bagi-bagikan kepada setiap orang yang membantu proses pendidikan saya juga saudara-saudara saya seserikat. Saya menyerahkan buku yang sudah dicetak kepada komisi misi serikat dan mereka yang tahu kepada siapa hendak membagikan buku tersebut.

Hari ini, saya merayakan ulang tahun yang ke-10 hidup imamat. Saya juga merayakannya dengan istimewa, berdua dengan saudara seserikat. Saya katakan kepadanya, "siang ini saya yang masak. Nanti sore baru kita makan di warung." Sore hari saya ajak ke warung untuk mengantisipasi kalau-kalau dia tidak bahagia dnegan siang amsakan saya, meski saya anggap istimewa. Lalu saya mulai memasak menu istimewa untuk menandai 10 tahun hidup imamat saya. OSENG PARE!!
Mungkin Anda tertawa, mengernyitkan alis mata pertanda tidak percaya. Tetapi ini adalah menu istimewa saya, hari ini, di hari yang istimewa. Sekali lagi bukan soal rasa pertama-tama saya menyukanya. Bukan juga karena harganya yang istimewa, tetapi karena kisah di belakangnya.
Sejujurnya, saya bukanlah penggemar oseng pare. Saya hanya menikmati oseng pare yang saya masak sendiri. Anda pasti tahu, pare itu rasanya pahit. Tetapi entah mengapa, oseng pare masakan saya tidak terasa pahitnya. Anda boleh tidak percaya, dan saya tidak memaksa Anda untuk percaya. Anda juga tidak perlu meminta bukti masakan saya dengan meyuruh saya membuatkan oseng pare bagi Anda. Cukup dengarkan penjelasan saya, dan Anda boleh memilih antara percaya, tidak percaya dan sangat tidak percaya. Terserah Anda.
Mengapa saya menyukai oseng pare sebagai menu istimewa dalam merayakan ulang tahun imamat ini? Ada banyak alasan. Ada alasan yang ilmiah, ada juga yang tidak. Ada yang bisa diterima dengan akal sehat, ada juga yang yahhh diterima sajalah. Diiyakan saja biar saya senang. Macam-macamlah.

Pertama, orang bijak mengatakan "apa yang terasa pahit di mulut menyehatkan badan". Sejauh saya tahu, kalau saya sakit senantiasa diberi obat yang rasanya selalu pahit. Namun itu menyehatkan badan saya. Bisa jadi ini benar. Kemudian ada banyak sayuran atau buah-buahn lain yang serupa, yang rasanya pahit, namun menurut banyak orang baik untuk kesehatan. Baiklah ini diterima saja sebagai alasan pertama.
Kedua, pare itu gambaran rasa yang kerap datang dalam kehidupan. Namun seperti halnya sayur pare yang kalau tepat mengolahnya, rasa pahit itu bisa hilang dan yang tertinggal hanyalah kesedapan yang, bisa jadi, luar biasa. Namun, kalau salah mengolah, sayur pare itu akan sungguh seperti obat yang maha pahit saja rasanya. Di sinilah letak seninya, dan saya menyukainya. Mengolah yang pahit sehingga tidak terasa lagi pahitnya, namun membekaskan rasa yang luar biasa (nikmat) di lidah.
Ketiga, masih berkaitan dengan yang kedua. Orang Cina berkata bahwa hanya orang yang mampu makan yang pahit sajalah yang bisa menjadi manusia luar biasa. Makan makanan pahit dalam hidup adalah menghadapi dan melewati setiap peristiwa pahit dalam hidup. Batu-batu terjal yang terjajar di sepanjang jalan. Mereka bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi, ditata rapi, dan pada akhirnya dilewati. Meski demikian tidak menjadi penghalang bagi yang lain, karena sudah kita tata dan atur dengan rapi. Jika kita hanya melewati dan menghindari saja, batu-batu itu akan menajdi penghalang bagi setiap orang yang lewat. Maka, menjadi manusia luar biasa memiliki makna menjadi manusia yang berguna bagi sesama.
Keempat, oseng pare itu terasa sedap sekali kalau di masak pedas dan dicampur dengan ikan teri yang asin. Perpaduan antara pahit, pedas, dan asin, ketika disatukan menghasilkan rasa yang aduhai. Seperti saya katakan di atas, rasa pahit adalah gambaran pengalaman yang tidak enak dalam kehidupan, sebuah kepahaitan, sebuah masalah, sebuah tragedi. Demikian halnya dengan gambaran asin dan pedas. Dalam kehidupan, asin dan pedas bukanlah gambaran yang baik. Kita biasa menggambarkan sesuatu yang mudah, yang enak, yang menyenangkan dengan sesuatu yang manis. hampir tidak pernah menggambarkan sesuatu yang enak dengan padanan pedas. Sedangkan asin, bisa dipadankan dengan pengalaman dalam hidup. Maka menyatukan sesuatu yang tidak enak, dibutuhkan keberanian dan tekat yang kuat. 

Inilah sedikit alasan, mengapa saya merayakan ulang tahun imamat saya dengan menu oseng pare. oseng pare yang harus saya masak sendiri. Karena saya mengolah pare yang pahit agar menajdi sayuran yang enak membutuhkan seni tersendiri. Demikianlah saya mesti belajar sendiri, mengenal diri sendiri, mengenal setiap kepahitan yang singgah dalam kehidupan saya untuk saya oleh agar membekaskan rasa yang istimewa, tetap renyah ketika digigit namun tidak ada lagi jejak kepahitan di sana.
Mengolah kepahitan menjadi sesuatu yang bermakna memang tidak mudah. Itu laksana menata batu-batu kasar di seoanjang jalan yang saya lewati. Batu-batu yang telah membuat kaki saya berdarah juga kesleo, tetapi saya mesti menatanya dnegan rapi agar batu-batu itu tidak mencelakakan orang lain. Di sinilah saya, sebagai seorang gembala (pastor dalam bahasa latin berarti gembala) mesti berjalan menyiapkan jalan yang baik bagi para domba. Menata batu-batu yang berserakan dalam sepanjang jalan hidup saya. batu-batu itu bisa berupa luka-luka yang tertinggal dari masa lalu, yang terjadi karena ketidaktahuan atau kesembronoan. Itu mesti saya tata agar tidak menjadi celaka bagi orang lain.
Terkadang kepahitan hidup tidak datang sendirian, dia juga hadir bersama pedasnya pengalaman. Namun asinnya pengalaman akan membantu menyatukan hingga keduanya tidak melukai. Hal yang sulit bisa datang bersamaan, terkadang bahkan berombongan. Meski demikian semua mesti ditata dengan baik, semua ditakar dengan sempurna agar paduan pedas dan pahit setara dengan denyut asin dan manis yang menyela. Sehingga terpadu dalam adonan yang rata dan istimewa. Bukan karena saya hebat dan luar biasa, tetapi karena DIA yang menguatkan saya untuk mampu menanggung banyak perkara.

Seperti kisah Paulus dan Silas dalam buku Kisah Para Rasul yang dibcakan dalam perayaan Ekaristi hari ini. Mereka mengalami kepahitan berkali-kali. Ditangkap di masukkan penjara, bahkan penjara yang paling tengah, yang sangat ketat penjagaannya. Namun mereka menerima semua kepahitan itu dengan tenang dan hati yang lapang. Mereka percaya dengan SIAPA mereka bekerja. Maka, meski kepahitan itu mendera, mereka tetap melantunkan pujian kepada DIA yang mengutus mereka. Dan siapa bisa menduga kalau pujian itu akan menggetarkan pintu-pintu penjara dan membuatnya terbuka. 

Maka, pada hari di mana saya genap 10 tahun menjadi imam, oseng pare sungguh gambaran yang pantas untuk saya nikmati. Inilah perutusan saya. Mencecap kepahitan demi kepahitan, namun saya harus mengolahnya agar menjadi membekaskan rasa yang sedap. Dan setelah menyadari ini semua, saya kemudian mengambil gitar, memetiknya perlahan dan bersenandung, seperti yang disenandungkan Daud dalam Mazmur 138:1-2:

aku hendak bersyukur pada Tuhan
karena kebaikan-Nya
dan memuji-muji nama Tuhan
yang maha tingi

ya Tuhan...Tuhan kami
betapa mulianya
namamu Tuhan kami
dimuliakan atas sluruh bumi.

.........
Aku hendak bersyukur pada Tuhan
Atas segala kasih dan setia-Nya
Atas segala rahmat karunia-Nya
Atas segala perlindungan dan cinta-Nya
Aku hendak berterimakasih
Kepada semua kawan dan sahat
Mereka yg baik dan murah hati
Mereka yg gampang marah dan sakit hati
Mereka yg menyadarkan kalau tersesat
Mereka yg menghihur dengan canda dan tawa
Mereka yg rela hati bersama-sama berjalan dalam iman.
Aku hendak bersyukur atas orangtua
Atas saudara dan saudari, atas kemenakan yang lucu-lucu
Atas kerabat semua, mereka yang mendukung dan setia mendoakan, 
selama 10 tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang.

Hong Kong, 12 Mei 2015


17 April 2015

Peace be with you!

Setelah bangkit dari kubur, Yesus memiliki satu kata favourite. Yaitu "damai" / "peace" / "平安". Biasanya kata damai itu dirangkai dalam sapaan, "damai bersamamu" / "peace be with you" / 願你們平安。
Kata sangat sering kita dengar, apalagi kalau kita rajin ikut perayaan Ekaristi. Imam selalu mengulang-ulang perkataan Yesus, "damai-Ku kuberikan kepadamu, damai-Ku kutinggalkan bagimu."
Damai itu bukan hanya diucapkan, tetapi juga diberikan dan ditinggalkan.

Ada satu pertanyaan, mengapa Yesus baru memberikan damai itu setelah Dia bangkit? Mengapa tidak sebelum Dia bangkit?

Jawabannya sederhana. Ketika Yesus masih ada, para murid tidak memerlukan damai yang lain, karena Yesus-lah damai itu. 

Damai yg diberikan oleh Yesus ini, bagi kita sekarang bisa menjadi satu obat atau antivirus bagi penyakit dunia modern.

Apa saja penyakit dunia modern itu? Ada banyak. Tetapi kita bisa menyebut beberapa, misalnya: stress, takut, depresi, benci, dll.

Damai yg diberikan oleh Yesus ini bisa menjadi antivirus bagi berbagai penyakit di atas.

Harus kita pahami bahwa DAMAI yg diberikan oleh Yesus itu berkaitan dengan: damai bagi akal budi kita/ pemikiran, damai bagi hati kita dan damai bagi jiwa kita.

Damai bagi akal budi kita itu seperti Ini:
Kalau kita memandang luka-luka pada tubuh Yesus, pada lambung, tangan, kaki, dan lainnya, kita akan memahami bahwa pengampunan dari Allah itu kekal adanya. Luka yang masih nampak meski Yesus sudah mulai adalah sebuah tanda bahwa kita semua sudah diampuni.

Damai bagi hati kita itu seperti ini :
Kalau kita memandang lubang paku pada tangan dan kaki Yesus, kita akan merasakan bahwa CINTA Yesus pada kita adalah sebuah cinta tak bersyarat.

Damai bagi jiwa kita itu seperti ini :
Yesus Kristus tetap hidup. Dan DIA meraja selamanya. Sedangkan kita diundang untuk ikut dalam kerajaan-Nya yang kekal itu. 

PERTANYAAN:
Kalau damai yang diberikan oleh Yesus adalah seumpama obat / antidote bagi penyakit modern seperti kekhawatiran, depresi, stress, iri, benci, dll; mengapa kita masih mengalaminya?

Karena ada penghalang di antara kita dan Yesus. Penghalang yang membuat damai itu tidak benar2 bisa masuk ke dalam diri kita.
Penghalang itu tercipta karena kebiasaan buruk kita. Mari kita lihat kebiasaan kita.
Kebanyakan dari kita memiliki account media sosial, FB, Twitter, Path, Blog, Instagram, dll.
Di sana kita biasa menulis atau memposting apa saja. Kalau kita telaah dengan seksama, 90%postingan adalah keluhan, curhat dari hati yang galau atau komplain akan sesuatu. Kerap juga berupa pengadilan, penghakiman, dan kritik tajam terhadap seseorang atau kelompok.
Kebiasaan ini lama2 membuat kita berat untuk bisa menerima orang lain apa adanya. Karena kita merasa selalu benar. Maka perintah Yesus, cintailah sesamamu, sungguh amat berat untuk dilaksanakan. Yang mudah adalah, hakimilah sesamamu, makilah sesamamu, hujatlah sesamamu, dll.

TETAPI, panggilan kita adalah mencintai sesama. Bagimana ini bisa dilakukan?
1). Berlatih memaafkan. 
Dalam berelasi, akan selalu ada salah paham, ketidakcocokan, dll. Meminta maaf itu gampang, yang berat adalah memaafkan. Karena berat, maka perlu latihan. Latihan tidak menyimpan dendam, latihan menerima apa adanya. Latihan menerima kekurangan,mdan bersama-sama melangkah ke depan.
2). Berlatih membantu sesama.
Ada banyak orang yang membutuhkan bantuan. Ada banyak ragam bantuan; ada yang butuh barang, ada yang butuh maaf, ada yang butuh peneguhan, ada yang butuh didengarkan, dll. Kita bisa berlatih dari hal yang paling kecil.

Latihan ini akan membawa kita mampu mencintai sesama. 
Latihan ini akan membuat penghalang antara Damai yang ditawarkan dengan Allah dan diri kita makin tipis.

Jika damai itu telah tinggal dalam diri kita, kita akan mampu juga menjadi damai bagi sesama.

Tuhan memberkati.

Hong Kong
19/04/2015

02 April 2015

Mencintai SALIB

Sahabat, sudah beberapa minggu ini pikiran saya selalu diisi dengan kata SALIB. Bemula dari ruang kelas di saat saya menghadapi ujian, kemudian mengikuti dan memberi refleksi ibadat jalan salib, mengajak saya untuk melihat lebih jelas SALIB yang sesungguhnya dalam hidup harian saya.
Sebelum melangkah lebih jauh baik kalau kita sadari bahwa setiap orang memiliki SALIBnya sendiri, memiliki persoalan hidup sendiri-sendiri. Ada yang berat ada yang sedikit ringan, ada yang besar ada yang relatif kecil. Tetapi kita tidak bisa membandingkan begitu saja SALIB setiap orang. 
Misalnya: ada orang yang memiliki persoalan dalam keluarganya. Relasi antara orangtua dan anak-anak tidak bagus. Ada yang memiliki persoalan di dalam tempat kerjanya. Entah persoalan antar teman, dengan atasan atau bawahan, atau persoalan mencari pekerjaan. Yang lain memiliki persoalan dalam menemukan makna yang mendalam dalam hidup mereka, karena mereka seolah hidup tanpa arah, tanpa makna, melangkah tanpa tujuan bak daun kering tertiup angin.
Ada banyak sekali persoalan, ada banyak sekali SALIB. Jika kita membuat daftar dalam buku harian kita, akan menghasilkan berhalaman-halaman daftar yang semakin hari semakin panjang.

Bagaimana dengan saya sendiri? Saya akan menceritakan sedikit saja salib yang saya panggul ini. Saat ini SALIB terbesar dan terberat adalah belajar bahasa Kanton. Hampir seluruh waktu saya tercurah ke sana, tetapi hasilnya belumlah seberapa. Hal ini yang membuat beban salib ini terasa lebih berat. Dulu saya masih sering membuat tulisan, membuat ini dan itu, tetapi sekarang hampir semuanya terhenti dan terpusat pada belajar bahasa kanton, tetapi hasilnya belum seberapa.
Sudah setahun lebih saya belajar, tetapi sekali lagi hasilnya belum seberapa. Bahkan dalam percakapan sehari-hari saja banyak  istilah yang tidak saya mengerti, belum mampu saya hafalkan meski sudah diajarkan. Sekali ini, ini membuat beban menjadi semakin berat.
Selama setahun yang lalu, ketika saya mulai belajar bahasa Kanton, saya tinggal di biara Maryknoll. Di sana tinggal romo-romo dari Amerika yang membuat kami berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Di sana saya seperti menemukan tempat persembunyian. Saya tidak harus bercakap-cakap dalam bahasa Kanton. INILAH PERSOALANNYA. Saya belajar bahasa tetapi menghindar untuk menggunakannya.

TAKUT. Mungkin ini istilah yang pas untuk menggambarkan kondisi yang saya alami. Takut mendapati kenyataan bahwa saya tidak mengerti, takut mendapati kenyataan bahwa orang lain akan tahu bahwa saya tidak tahu, takut bahwa saya akan dianggap "bodoh". Dan sebenarnya, ini ketakutan yang tidak berdasar. Ketakutan yang entah datang dari mana, tetapi begitu kuat menguasai.

SAYA HARUS KELUAR.
Ya, saya harus keluar dari ketakutan itu. Bagaimana caranya? Hadapi saja. TIDAK ADA PILIHAN. hadapi saja. BERBICARA ITU GAMPANG TETAPI MELAKUKAN ITU SUSAH!!! Itu yang saya alami. Kepala saya mengatakan, "Kamu harus segera keluar dari biara itu, pindah ke paroki yang membuat kamu bisa bertemu dengan banyak orang, yang membuat kamu memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan banyak orang, dengan itu bahasa kantnmu perlahan-lahan akan membaik."
Namun hati saya berbisik, "apa kamu sanggup? apa kamu yakin bisa bercakap-cakap dengan mereka? apa kamu nggak akan malu?..."
Hati dan kepala saya berkelahi saling mencari perhatian. Pada awalnya hati saya menang. Saya menunda tinggal di paroki. Pada akhirnya TIDAK ADA PILIHAN, saya tidak bisa menunda lagi dan saya pindah ke paroki. Setelah pindah ke paroki, saya mendapati bahwa semuanya baik-baik saja, saya mendapati banyak kesulitan tetapi juga banyak keuntungan di sisi lain.

Sahabat, pengalaman bergulat mengahdapi bahasa Kanton telah mengajari saya dalam menghadapi masalah, persoalan, beban, atau SALIB. Setidaknya ada tiga langkah yang bisa dibuat untuk menghadapi SALIB.

1. Menerima SALIB tersebut
2. Merangkul SALIB tersebut
3. Mencintai SALIB tersebut.

Ketika saya belum mampu menerima SALIB saya, keadaannya samngat kacau, semua terasa berat. tetapi ketika saya mulai menerimanya, perlahan-lahan beban itu terasa berkurang beratnya. beban itu masih ada, kesulitan itu masih besar, tetapi ketakutan itu mulai hilang.
Menerima SALIB berarti menerima kenyataan, menerima situasi, dan menerima siapa diri kita. Ada orang yang mampu membawa salib seberat 100kg, ada yang hanya mampu membawa 50kg, atau hanya 10kg saja. Saya menyadari bahwa kemampuan saya (mungkin) hanya membawa 10kg saja. Maka kalau di depan saya ada 1000kg SALIB, butuh 100 kali untuk membawanya. bagi yang lain, yang mampu membawa 100kg, bagi mereka cukup 10 kali saja memanggul salib. 
Kalau saya memaksa membawa 50kg atau 100kg, mungkin saya mampu pada langkah awal, tetapi saya akan jatuh dan (mungkin) lumpuh tertimpa beban itu. 
Menerima SALIB berarti menyadari kenyataan akan besarnya salib dan besarnya kemampuan dalam memanggul, Selanjutnya setia untuk terus memanggul. 

Ini yang saya maknai sebagai MERANGKUL SALIB. 
Saya belajar dari Yesus saat terjatuh di jalan saat memanggul salib. Yesus jatuh sampai tiga kali. tetapi yang dilakukan oleh Yesus adalah memeluk salib tersebut, memanggulnya kembali dan meneruskan perjalanan. Saya juga mengalami berkali-kali jatuh tertimpa salib, jatuh karena merasa mampu membawa beban yang berat nyatanya saya gagal, saya terjatuh. Belajar dari Yesus, saya mencoba merangkul salib tersebut dan kembali meneruskan perjalanan.
Sampai kapan saya harus merangkul SALIB? Saya tidak tahu. Tetapi ketika kita setia merangkul SALIB, akan ada "Veronika" atau "Simon dari Kirene" yang akan datang meringankan. Tetapi tetap, beban utama SALIB itu menjadi tanggungjawab kita. Orang lain hanya akan mengelap peluh dan membantu mengangkat, tetapi tanggungjawab itu ada pada diri kita.

tahap berikutnya adalah mencintai SALIB. Tahap ini akan datang dengan sendirinya ketika kita mampu setia merangkul dan memanggul SALIB kita. Percayalah, saat kita mampu mencintai SALIB itu, sebenarnya salib itu tidak akan menjadi beban lagi, karena salib itu telah menjadi bagian diri kita.

PENTINGNYA SALIB

Apakah memang SALIB itu begitu penting?
Saya belajar dari YESUS bahwa Salib itu memiliki makna penting. Salib dan penderitaan Yesus, yang kemudian membawanya kepada kematian menjadi berarti karena ada kebangkitan. Tanpa sengsara dan kematian, tidak ada kebangkitan. Sebaliknya, jika tidak ada kebangkitan, maka sia-sialah sengsara dan kematian itu.
Maka, SALIB dalam hidup kita itu menjadi berarti kalau kita nanti pada akhirnya juga mengalami kebangkitan. Kalau Salib itu membawa kita menjadi manusia baru yang diubah oleh salib itu. Ketika hidup kita tidak ada yang baru, kita tidak belajar apa-apa dannnnnn CINTA KITA KEPADA TUHAN tidak semakin besar, maka SIA-SIALAH salib yang kita rangkul itu.
Salib menjadi berarti ketika kita satukan dalam Salib Tuhan, dan terlebih lagi ketika kita membiarkan diri mati bersama Kristus dan akhirnya bangkit kembali, memperoleh kehidupan baru.

Sahabat, saat menulis catatan singkat ini saya mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Grezia. Dia adalah gadis kecil yang (mungkin) buta sejak lahir, namun dikaruniai suara yang sangat merdu. Dia menyanyikan lagu berjudul "Walau aku tidak dapat melihat".  Sejenak saya diajak untuk menyadari bahwa kerap kali saya tidak mampu melihat rencana Allah, aku juga tidak mampu berharap karena Yesus yang menjadi harapanku telah "mati" di salib, namun aku tetap diajak untuk memandang Allah, karena Dia selalu ada.

Kusadar tak semua dapat aku miliki
di dalam hidupku
hatiku percaya rancanganMu bagiku
adalah yang terbaik
Walau ku tak dapat melihat semua rancanganmu tuhan
Namun ahtiku tetap memancang padaMu 
Kau tuntun langkahku
....

Hong Kong, 03/04/2015
Jumat Agung


23 January 2015

Mengapa percaya?

Tahun 2015 belum genap 30 hari, tetapi sudah ada begitu banyak pengalaman pahit yang harud dikecap oleh banyak pihak. Ada kekerasan karena sentimen agama, ada pembunuhan juga karena sentimen agama, ada kecelakaan, ada bencana, ada drama politik. Singkatnya, ada begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang harus dialami. Padahal tahun yang baru, baru saja bergulir.

Rentetan peristiwa-peristiwa buruk ini membuat sebagian orang bertanya, masihkan kita percaya kepada Tuhan yang akan membuat segalanya baik? Masihkah kita percaya akan adanya Tuhan yang membuat segalanya indah? Bahkan berbagai macam kekerasan bahkan pembunuhan atas dasar sentimen agama telah membuat para pembenci Tuhan bersorak riang. 
'Lihatlah mereka yang setiap hari bersujud syukur kepada Tuhan, kini mereka saling bunuh! Tuhan macam apakah yang mereka abdi? Tuhan macam apakah yang mereka sembah setiap hari?" Demikianlah para pembenci Tuhan bersorak.
Dari penjuru yang lain datang sebuah paparan keluhan. Sebuah daftar rasa kecewa dan frustasi atas sikap orang-orang yang dianggap mewakili keberadaan Tuhan. Paparannya kurang lebih begini: Lihatkan saudara kami ini. Dia baik, sopan, rajin berdoa, rajin membaca Kitab Suci. Tetapi hidupnya selalu dirundung malang. Dari muda hingga kini seakan berkawan karib dengan nestapa dan derita. Ada saja hal-hal buruk yang selalu menimpa. Padahal dia sangat berbakti kepada Tuhan. Mengapa Tuhan tidak meluputkan dia dari segala malapetaka? Dimanakah Tuhan kini berada?
Rentetan peristiwa tadi semakin meneguhkan orang-orang untuk bertanya masihkah kita memercayai Tuhan? Masihkah kita letakkan segala kepercayaan kita kepada-Nya? Nyatanya Dia tidak berbuat apa-apa.

Ketika pertanyaan ini diajukan kepada saya, sayapun tidak bisa menjawabnya. Kepercayaan adalah persoalan pribadi. Bahkan dalam kelompokpun, kepercayaan adalah urusan pribadi. Mengapa saya tetap memercayai Tuhan? Itu adalah urusan pribadi saya. Terkadang saya mengerti mengapa saya tetap memercayai, tetapi kerap kali teramat susah untuk mengungkapkannya.
Kemudian saya hanya melihat contoh. Ada empat pemuda. Mereka adalah Petrus dan saudaranya Andreas. Lalu ada Yohanes dan Yakobus. Keempat pemuda ini sehari-hari bekerja sebagai nalayan. Petrus dan Andreas mugkin sebagai nelayan lepas. Sedangkan Yohanes dan Yakobus bekerja di perusahaan ayahnya. Perusahaan yang bergerak di bidang penangkapan, pengolahan dan pendistribusian hasil laut.
Suatu hari, lewatlah pemuda lain, yang pernah mereka kenal. Namanya Yesus. Pemuda ini mengajak mereka untuk meninggalkan pekerjaan mereka sebagai penangkap ikan. Bahkan pemuda ini mengajak mereka meninggalkan keluarganya dan seluruh bisnis yang telah mereka geluti. Anehnya, pemuda-pemuda itu menurut dengan ajakan Yesus.

Saya bertanya-tanya, mengapa mereka begitu mudah menaruh kepercayaan kepada pemuda Yesus itu? Rupanya ada beberapa alasan. 
Pertama, perjumpaan ini rupanya bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya mereka telah berjumpa dengan Yesus. Andreas misalnya telah berkunjung ke tempat kediaman Yesus. Kemudian dia memberitahu saudaranya, Petrus. Mungkin juga Yohanes dan Yakobus juga sama, mereka tekah berjumpa dengan Yesus sebelumnya. Misalnya dalam acara pernikahan yang di Kana, yang sempat kekurangan anggur. Mungkin peristiwa itu telah membuat Yesus berkenalan dnegan banyak pemuda.
Perjumapaan itu rupanya meninggalkan jejak kesan yang mendalam. Sehingga ketika Yesus memanggil mereka untuk mennggalkan seluruuh aktivitas lama mereka, mereka seketika itu juga berdiri dan mengikuti Yesus.
Kedua, kepercayaan yang tertanam itu bukan muncul begitu saja. Kepercayaan itu buah dari proses pengenalan dan kemauan untuk menjalin relasi secara pribadi yang mendalam. Mereka menaruh keprcayaan kepada Yesus bersamaan dengan kehendak untuk menjalin hubungan secara pribadi dengan Yesus. Semakin dalam mereka menjalin relasi dengan Yesus, semakin dalam pula mereka menumpukan keparcayaan itu kepada Yesus.
Ketiga, mereka tidak mempersoalkan mengapa mereka begitu memercayai, karena mereka sibuk untuk terus menjalin relasi. Seperti yangs aya katakan, semakin dalam mereka menjalin relasi, semakin dalam pula kepercayaan mereka tertancap.

Pelajaran yang bisa saya dapatkan adalah:
Ada begitu banyak misteri kehidupan yang pasti tidak akan mampu saya pecahkan. Bahkan ketika ada yang datang dan bertanya, "mengapa da orang baik yang menderita?" Misteri-misteri kehidupan ini hanya akan bisa dipahami dengan menjalaninya dari hari ke hari. Tentu seraya membuka hati akan kehendak Sang Pencipta. Siapa tahu akan diberi karunia untuk bisa mencerna, meski hanya secerca.
Berikutnya, dari pada sibuk bertanya lebih baik sibuk menjalin relasi yang mesra. Cara-cara yang biasa dipakai untuk menjalin relasi dengan sesama, bisa juga digunakan untuk menjalin kemesraan dengan Sang Pencipta. Menjalin dan menjaga komunikasi. Melakukan apa yang Dia sukai dan tidak melakukan apa yang Dia tidak kehendaki.
Konkretnya, misalnya : tiap pagi dibuka dengan doa ucapan syukur dan ditutup dengan refleksi singkat atas perjalanan sepanjang hari. Berusaha untuk bisa menjalankan apa yang sungguh-sungguh dia senangi. Maka "mantra" singkat, "TUHAN, AJARI AKU BERJALAN DI JALANMU" bisa diulang-ulang setiap hari. Niscaya, lambat laun kepercayaan itu akan tertancap dalam, seirama dengan relasi yang kian mesra.

salam

30 December 2014

Dicari Tuhan, refleksi akhir tahun

Hari ini, 31 Desember 2014, di penghujung tahun. Kita semua disedihkan dengan hilangnya/kecelakaan yang dialami oleh peswat Aisrasia yang membawa 155 oenumpang dan 7 awak pesawat. Hari ini kita mendnegar bahwa keberadaan pesawat/puing sudah bisa diketahui dan evakuasi korban mulai dilakukan. Beberapa jenazah mulai diwvakuasi, sedangkan yang lain sedang dan terus dicari. Kiranya Tuhan memberkati seluruh tim pencari hingga mampu menemukan semua korban. Kepada keluarga penumpang dan awak pesawat #airasia dikuatkan imannya.

Di tengah suasana duka ini, saya ingin merefleksikan perjalanan berkat Tuhan sepanjang tahun ini. Banyak hal yang telah terjadi, ada kegembiraan, ada kesedihan; ada saat-saat kesepian, ada juga di mana hati ini terasa begitu hangat oleh kasih dan persaudaraan. Apalagi hidup di perantauan, di mana budaya dan lingkungan begitu berbeda. Tetapi hal itu membawa kepada pengalaman yang berbeda, menambah pengalaman akan kasih Allah.

Refleksi saya ini, saya dasarakan pada Injil Yohanes bab 1 ayat 1-18. baiklah saya kutipkan di sini teks tersebut:

1:1 Pada mulanya adalah Firman 1 ; a  Firman itu bersama-sama dengan Allah b  dan Firman itu adalah Allah. c  1:2 Ia pada mulanya d  bersama-sama dengan Allah 2 
1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. e  
1:4 Dalam Dia ada hidup f  dan hidup itu adalah terang g  manusia 3 
1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan 4  h  dan kegelapan itu tidak menguasainya. i  1:6Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; j  
1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian k  tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. l 
1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. 
1:9 Terang m yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang 5 , n  sedang datang ke dalam dunia. 
1:10Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, o  tetapi dunia tidak mengenal-Nya 6 
1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. p  
1:12 7 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah 8 , q  yaitu mereka yang percaya 9  r  dalam nama-Nya; s 
1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki 10 , melainkan dari Allah. t  
1:14 Firman itu telah menjadi manusia 11 , u  dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, v yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia w  dan kebenaran. x  
1:15 Yohanes memberi kesaksian y  tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. z 
1:16 Karena dari kepenuhan-Nya a  kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; b  
1:17sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, c  tetapi kasih karunia dan kebenaran 12  datang oleh Yesus Kristus. d  
1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; e  tetapi Anak Tunggal f  Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Dia datang kepada milik kepunyaan-Nya.

Demikian ayat 11 menjelaskan secara ringkas apa yang terjadi dengan peristiwa Natal. Allah datang menemui atau mencari manusia, ciptaan-Nya. Mengapa Allah harus repot-repot mencari manusia ciptaan-Nya ini? Karena Allah begitu mencintai manusia. Bukan karena manusia itu baik, bukan karena manusia itu begitu mencintai Allah dengan luar biasa, tetapi karena Allah begitu mencintai manusia. Allahlah yang pertama mencintai manusia. Demikian Santo Yohanes menjelaskan dalam suratnya yang pertama (1 Yoh 4:10).

Allah begitu mencintai.
Kenyataan ini begitu melegakan. Bahwa saya yang begitu buruk (jiwa raga) namun begitu dicintai Allah. Saya sering jatuh dalam dosa, saya sering melanggar larangannya. Namun Dia tetap mencintai saya. Dan mau repot-repot untuk menjadi manusia, demi saya (juga Anda) yang Dia cintai.
Namun hal ini bukan alasan untuk terus berbuat dosa. Kenyataan bahwa Allah sungguh mencintai saya dan Anda adalah alasan untuk kembali, untuk berpaling kembali kepada-Nya.

Mungkin kita merasa canggung, merasa malu-malu. Karena sudah sekian lama meninggalkan Dia, sudah sekian lama tidak menjalin kontak dan keintiman dengan Dia. Rupanya Allah juga menyadari hal ini, menyadari bahwa mungkin kita merasa canggung, mungkin merasa malu. Maka, Allah mengambil inisiatif untuk mencari manusia. Allah mengambil inisiatif untuk mendekatkan diri kepada manusia.

Akhir dan awal

Di akhir tahun ini saya diberi kesadarn yang lebih, betapa Allah mencintai manusia. Hal ini menjadi bekal yang baik untuk memulai hari di tahun berikutnya untuk bisa berbuat lebih baik. Berbuat lebih baik itu berarti menjalin relasi yang lebih intim lagi dengan Allah.
Kenyataan bahwa Allah begitu mencintai manusia (saya dan juga Anda) menjadi modal yang sangat baik untuk membangun relasi yang intim dengan Allah. Relasi yang intim itu tidak bisa dibangun dalam sekejab, namun membutuhkan waktu dan berlangsung lama (dari hari ke hari). Hal ini seperti halnya saat menjalin relasi dengan sesama manusia, dibuthkan waktu dan ketekunan. Seseorang tidak bisa begitu saja menjalin relasi yang akrab dan intim dengan sesama manusia yang lain. Ada proses yang bisa dilalui.
Maka, awal tahun nanti bisa menjadi awal dari usaha hari ke hari untuk menjalin relasi yang akrab intim dengan Allah. Menjaga komunikasi yang baik adalah jalan awal dan bisa jadi kunci yang tepat demi terjaminnya relasi yang akrab, bahkan intim. Tentu saja harus menyediakan waktu, atau bahkan memberikan seluruh waktu.

Akhirnya

Tuhan, terimakasih bahwa Engkau begitu mencintai aku. Engkau rela datang mencari aku yang maish terkungkung dalam dosa. Engkau tidak mau menunggu, Engkau mengambil inisiatif, Engkau mengambil langkah pertama yang begitu cepat. Terimakasih untuk cintaMu yang begitu besar. 
Harapanku di tahun yang akan datang, aku mampu membalas cinta-Mu dengan selayaknya. Aku mampu membangun relasi kasih yang mesra dengan-Mu. Semoga aku mamu menyingkirkan penghalang-penghalang yang membuat relasi kita menjaid kurang harmonis, kurang mesra. 
Amin

Hong Kong, 31 Desember 2014