28 February 2017

Encounter the Cross, H-1 (Persiapan)


40 days Lenten Journey 

Sebelum berangkat

Sebagai orang Katolik tentu tidak asing dengan “Masa Pra-Paskah”. Masa 40 hari mempersiapkan diri menjelang perayaan Paskah. Karena persiapan yang begitu panjang, banyak orang menyebutnya sebagai masa “Retret Agung”. Bayangkan saja, retret agung ala Ignasian membutuhkan waktu 30 hari. Nah yang ini membutuhkan waktu 40 hari. Sungguh bukan sekadar agung, tetapi juga megah dan suci.
Di setiap paroki biasanya ada kegiatan khusus untuk mengisi masa-masa yang istimewa ini. Ada yang menyebutnya APP alias Aksi Puasa Pembangunan, ada entah apa lagi sesuai kebijakan Keuskupan setempat atau paroki setempat. Intinya, masa itu diisi dengan kegiatan rohani dan aksi nyata agar pantas merayakan Paskah.
Paroki-paroki yang mengadapakn upacara pembaptisan pada Malam Paskah, masa Pra-Paskah adalah masa persiapan tahap akhir bagi para calon baptis. Di Hong Kong, di mana sekarang saya tinggal hal ini sangat terasa. Satu persatu para katekumen dipanggil, diwawancara, dilihat kelayakannya, bahkan diuji. Kalau dirasa belum memenuhi standart ya terpaksa harus mengulang.
Bagi saya, masa 40 hari ini sungguh merupakan sebuah peziarahan iman. Perjalanan manusia berdosa yang ingin mamtutkan diri menyambut kemenangan sejati sebagai manusia beriman. Sebuah perjalanan, yang disertai jatuh dan bangun untuk mencapai kepantasan diri bersorak HALELUYA di akhir perjalanan.
Nah peziarahan iman ini bias juga dilakukan sendiri-sendiri. Meniatkan hati dan segenap kehendak budi untuk mengisi masa yang maha indah ini dengan sesuatu yang memberi faidah. Perjalanan iman saya kali ini saya beri judul “Encounter the Cross”. Bertemu dengan SALIB untuk sampai kepada kemenangan sejati. Beh kok seperti ngeri-ngeri gosong kurang sedap. Tak tahulah. Yang penting judulnya mentereng dulu, nanti dalam perjalanan akan kelihatan seperti apa hasilnya.
Sebuah perjalanan itu kalau dilakukan sendiri saja, rasanya kurang asoy. Rasanya anyep dan kurang greget. Meskipun sering kali, dalam perjalanan-perjalanan saya, atau lebih tepatnya sewaktu kluyuran, saya kerap kali sendirian saja. Dan saya bias menikmatinya.Toh dalam perjalanan kali ini, dalam peziarahan iman ini, saya membutuhkan teman yang saya harapkan bisa saya jadikan panutuan untuk bisa sampai kepada SALIB dan tentu saja sanggup membawanya. Teman yang saya pilih adalah Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Beliau telah menemani saya dalam menyiapkan ruang bagi Tuhan, “Prepare HIM Room”, pada masa Advent yang lalu. Sekarang saya mengajaknya lagi melakukan peziarahan iman. Buku-buku yang saya gunakan sebagai pemandu adalah:

Caster, Gary, The Little Way of Lent – Meditations in the spirit of St. Therese of Lisieux.
Cincinnati – OHIO : Servant Books, 2010.
Clearly, John, Lent and Easter – Wisdom from St. Therese of Lisieux. Liguori, Missouri:
Liguori Publications, 2014.
Muto, Susan, Twelve Little Ways to Transform Your Heart – Lesson in Holiness and
Evangelization from St. Therese of Lisieux. Notre Dame, Indiana : Ave Maria Press,
2016.
Philippe, Jacques, The Way of Trust and Love, A Retreat Guided by St. Therese of Lisieux.
Translated by Helena Scott, New York : Scepter Publishers, Inc., 2012.
Therese of Lisieux, The Autobiography of St. Therese of Lisieux : Story of a Soul. Translated by
John Clarke, O.C.D,  Washington, DC:ICS Publications, 1996.
________. The Poetry of St. Therese of Lisieux. Traslated by Donald Kinney, O.CD., Washington,
DC : ICS Publications, 1995. (saya memilikinya dalam bentuk pdf)
Tonnelier, Constant, Through the Year with Saint Therese of Lisieux, Living the Little Way.
Transleted by Victoria Hebert and Dennis Sabourin, Liguori, Missouri : Liguori Publications, 1998.

Wihhh, kok kelihatan mentereng? Wekekekek. Yah, maksud hati memang kepengin bisa melakukan peziarahan bareng kakak tercinta. Eh, khan tua saya ya, kok kakak? Tapi khan beliau lahir duluan? Sudahlah, saya panggil saja KC terkasih, Theresia Lisieux. KC itu panggilan saying buat kakak perempuan ala orang Hong Kong. Jadi, saya berusaha “ngumpulin” sebanyak mungkin sumber, agar bisa berjalan seiring sejalan. Tetapi kalau ternyata masih slerong sana slerong sini, ya mohon dimaafkan. Kalau nanti dalam perjalanan saya masih membutuhkan “cemilan” lain, entah artikel atau buku, pasti akan saya sertakan, akan kalian yang mungkin tertarik kepengen memperdalam, bisa membacanya lebih jauh.

Pada Mulanya…
Kiranya masa mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh sebelum merayakan Paskah bisa ditelusuri sampai pada Konsili Nicea pada tahun 325. Ted Olsen dalam catatannya “The Beginning of Lent” yang diunggah di www.christianitytoday.com mengatakan bahwa masih diperdebatkan apakah memang dari awalnya masa Pra-Paskah itu berjumlah 40 hari atau baru kemudian hari. Bisa jadi pada awalnya masa persiapan itu hanya beberapa hari saja, kemudian menjadi beberapa minggu, hingga menjadi masa 40 hari.
Masih menurut Ted Olsen, pada awalnya Lenten Season tidak dimulai pada hari Rabu, tetapi pada hari Minggu. Tepatnya pada minggu ke 40. Atau dikenal sebagai Quadragesima. Baru kemudian Paus Gregorius Agung (540-604M) memindahkan perayaan itu menjadi hari Rabu dengan upacara pemberian tanda abu yang kita kenal sebagai “Hari Rabu Abu”. Pemindahan menjadi hari Rabu itu berarti memiliki dampak hari Minggu tidak dihitung sebagai “masa puasa”.

Sekarang…
Saat ini masa persiapan Paskah ini sangat kental nuansanya dengan masa puasa, masa penyangkalan diri. Nahhh, ada banyak tuh yang mencoba berpuasa mengikuti cara-cara muslim. Atau nggak mau kalah sama puasanya orang Muslim. Mereka khan puasa 30 hari lamanya, maka ada yang berpuasa 40 hari lamanya. Keren juga sih. Namun ahrus memahami maknanya dan motivasinya.
Tentu ingat dong, dengan kisah anak muda yang datang menemui Yesus karena kepengen masuk surge namun ujung-ujungnya sedih karena nggak rela menjual hartanya. Atau, tentu ingat dong, dengan pertanyaan Petrus, “Tuhan kami ini sudah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Engkau, lha kami akan dapat apa?” 
Pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak langsung berkaitan dengan praktik pantang dan pausa pada masa persiapan Paskah, tetapi secara umum. Bahwa mati raga demi mati raga saja, pengorbanan diri demi pengorbanan diri semata, nggak akan dilirik oleh Tuhan. 
Yang dilirik oleh Allah adalah mati raga yang kita lakukan hendaknya demi semangkin cintanya kepada Yesus dan kepada Injilnya. Upaya menahan segala hawa nafsu hendaknya menjadi sarana memberikan ruang yang lebih luasssss kepada Allah atas diri kita.
Demikian sedikit pengantar untuk perjalanan panjang yang akan kita mulai esok hari. Perjalanan ini juga hendaknya jauh dari gegap gempita, sorak sorai dan kemegahan diri. Bahkan jika perlu, cukuplah berjalan bersama Allah. Saya kutipkan sepenggal puisi yang ditulis oleh Theresia sebagai bekal hari ini. 
Oh Tuhan, ijinkan aku tersembunyi di Wajah-Mu/ di sana aku tak akan lagi mendengar kebisingan dunia/ berilah aku cinta-Mu, peliharalah aku selalu dalam Rahmat-Mu/ hari ini saja… (The Poetry, My Song For Today, 52)

salam