23 January 2015

Mengapa percaya?

Tahun 2015 belum genap 30 hari, tetapi sudah ada begitu banyak pengalaman pahit yang harud dikecap oleh banyak pihak. Ada kekerasan karena sentimen agama, ada pembunuhan juga karena sentimen agama, ada kecelakaan, ada bencana, ada drama politik. Singkatnya, ada begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang harus dialami. Padahal tahun yang baru, baru saja bergulir.

Rentetan peristiwa-peristiwa buruk ini membuat sebagian orang bertanya, masihkan kita percaya kepada Tuhan yang akan membuat segalanya baik? Masihkah kita percaya akan adanya Tuhan yang membuat segalanya indah? Bahkan berbagai macam kekerasan bahkan pembunuhan atas dasar sentimen agama telah membuat para pembenci Tuhan bersorak riang. 
'Lihatlah mereka yang setiap hari bersujud syukur kepada Tuhan, kini mereka saling bunuh! Tuhan macam apakah yang mereka abdi? Tuhan macam apakah yang mereka sembah setiap hari?" Demikianlah para pembenci Tuhan bersorak.
Dari penjuru yang lain datang sebuah paparan keluhan. Sebuah daftar rasa kecewa dan frustasi atas sikap orang-orang yang dianggap mewakili keberadaan Tuhan. Paparannya kurang lebih begini: Lihatkan saudara kami ini. Dia baik, sopan, rajin berdoa, rajin membaca Kitab Suci. Tetapi hidupnya selalu dirundung malang. Dari muda hingga kini seakan berkawan karib dengan nestapa dan derita. Ada saja hal-hal buruk yang selalu menimpa. Padahal dia sangat berbakti kepada Tuhan. Mengapa Tuhan tidak meluputkan dia dari segala malapetaka? Dimanakah Tuhan kini berada?
Rentetan peristiwa tadi semakin meneguhkan orang-orang untuk bertanya masihkah kita memercayai Tuhan? Masihkah kita letakkan segala kepercayaan kita kepada-Nya? Nyatanya Dia tidak berbuat apa-apa.

Ketika pertanyaan ini diajukan kepada saya, sayapun tidak bisa menjawabnya. Kepercayaan adalah persoalan pribadi. Bahkan dalam kelompokpun, kepercayaan adalah urusan pribadi. Mengapa saya tetap memercayai Tuhan? Itu adalah urusan pribadi saya. Terkadang saya mengerti mengapa saya tetap memercayai, tetapi kerap kali teramat susah untuk mengungkapkannya.
Kemudian saya hanya melihat contoh. Ada empat pemuda. Mereka adalah Petrus dan saudaranya Andreas. Lalu ada Yohanes dan Yakobus. Keempat pemuda ini sehari-hari bekerja sebagai nalayan. Petrus dan Andreas mugkin sebagai nelayan lepas. Sedangkan Yohanes dan Yakobus bekerja di perusahaan ayahnya. Perusahaan yang bergerak di bidang penangkapan, pengolahan dan pendistribusian hasil laut.
Suatu hari, lewatlah pemuda lain, yang pernah mereka kenal. Namanya Yesus. Pemuda ini mengajak mereka untuk meninggalkan pekerjaan mereka sebagai penangkap ikan. Bahkan pemuda ini mengajak mereka meninggalkan keluarganya dan seluruh bisnis yang telah mereka geluti. Anehnya, pemuda-pemuda itu menurut dengan ajakan Yesus.

Saya bertanya-tanya, mengapa mereka begitu mudah menaruh kepercayaan kepada pemuda Yesus itu? Rupanya ada beberapa alasan. 
Pertama, perjumpaan ini rupanya bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya mereka telah berjumpa dengan Yesus. Andreas misalnya telah berkunjung ke tempat kediaman Yesus. Kemudian dia memberitahu saudaranya, Petrus. Mungkin juga Yohanes dan Yakobus juga sama, mereka tekah berjumpa dengan Yesus sebelumnya. Misalnya dalam acara pernikahan yang di Kana, yang sempat kekurangan anggur. Mungkin peristiwa itu telah membuat Yesus berkenalan dnegan banyak pemuda.
Perjumapaan itu rupanya meninggalkan jejak kesan yang mendalam. Sehingga ketika Yesus memanggil mereka untuk mennggalkan seluruuh aktivitas lama mereka, mereka seketika itu juga berdiri dan mengikuti Yesus.
Kedua, kepercayaan yang tertanam itu bukan muncul begitu saja. Kepercayaan itu buah dari proses pengenalan dan kemauan untuk menjalin relasi secara pribadi yang mendalam. Mereka menaruh keprcayaan kepada Yesus bersamaan dengan kehendak untuk menjalin hubungan secara pribadi dengan Yesus. Semakin dalam mereka menjalin relasi dengan Yesus, semakin dalam pula mereka menumpukan keparcayaan itu kepada Yesus.
Ketiga, mereka tidak mempersoalkan mengapa mereka begitu memercayai, karena mereka sibuk untuk terus menjalin relasi. Seperti yangs aya katakan, semakin dalam mereka menjalin relasi, semakin dalam pula kepercayaan mereka tertancap.

Pelajaran yang bisa saya dapatkan adalah:
Ada begitu banyak misteri kehidupan yang pasti tidak akan mampu saya pecahkan. Bahkan ketika ada yang datang dan bertanya, "mengapa da orang baik yang menderita?" Misteri-misteri kehidupan ini hanya akan bisa dipahami dengan menjalaninya dari hari ke hari. Tentu seraya membuka hati akan kehendak Sang Pencipta. Siapa tahu akan diberi karunia untuk bisa mencerna, meski hanya secerca.
Berikutnya, dari pada sibuk bertanya lebih baik sibuk menjalin relasi yang mesra. Cara-cara yang biasa dipakai untuk menjalin relasi dengan sesama, bisa juga digunakan untuk menjalin kemesraan dengan Sang Pencipta. Menjalin dan menjaga komunikasi. Melakukan apa yang Dia sukai dan tidak melakukan apa yang Dia tidak kehendaki.
Konkretnya, misalnya : tiap pagi dibuka dengan doa ucapan syukur dan ditutup dengan refleksi singkat atas perjalanan sepanjang hari. Berusaha untuk bisa menjalankan apa yang sungguh-sungguh dia senangi. Maka "mantra" singkat, "TUHAN, AJARI AKU BERJALAN DI JALANMU" bisa diulang-ulang setiap hari. Niscaya, lambat laun kepercayaan itu akan tertancap dalam, seirama dengan relasi yang kian mesra.

salam

30 December 2014

Dicari Tuhan, refleksi akhir tahun

Hari ini, 31 Desember 2014, di penghujung tahun. Kita semua disedihkan dengan hilangnya/kecelakaan yang dialami oleh peswat Aisrasia yang membawa 155 oenumpang dan 7 awak pesawat. Hari ini kita mendnegar bahwa keberadaan pesawat/puing sudah bisa diketahui dan evakuasi korban mulai dilakukan. Beberapa jenazah mulai diwvakuasi, sedangkan yang lain sedang dan terus dicari. Kiranya Tuhan memberkati seluruh tim pencari hingga mampu menemukan semua korban. Kepada keluarga penumpang dan awak pesawat #airasia dikuatkan imannya.

Di tengah suasana duka ini, saya ingin merefleksikan perjalanan berkat Tuhan sepanjang tahun ini. Banyak hal yang telah terjadi, ada kegembiraan, ada kesedihan; ada saat-saat kesepian, ada juga di mana hati ini terasa begitu hangat oleh kasih dan persaudaraan. Apalagi hidup di perantauan, di mana budaya dan lingkungan begitu berbeda. Tetapi hal itu membawa kepada pengalaman yang berbeda, menambah pengalaman akan kasih Allah.

Refleksi saya ini, saya dasarakan pada Injil Yohanes bab 1 ayat 1-18. baiklah saya kutipkan di sini teks tersebut:

1:1 Pada mulanya adalah Firman 1 ; a  Firman itu bersama-sama dengan Allah b  dan Firman itu adalah Allah. c  1:2 Ia pada mulanya d  bersama-sama dengan Allah 2 
1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. e  
1:4 Dalam Dia ada hidup f  dan hidup itu adalah terang g  manusia 3 
1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan 4  h  dan kegelapan itu tidak menguasainya. i  1:6Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; j  
1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian k  tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. l 
1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. 
1:9 Terang m yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang 5 , n  sedang datang ke dalam dunia. 
1:10Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, o  tetapi dunia tidak mengenal-Nya 6 
1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. p  
1:12 7 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah 8 , q  yaitu mereka yang percaya 9  r  dalam nama-Nya; s 
1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki 10 , melainkan dari Allah. t  
1:14 Firman itu telah menjadi manusia 11 , u  dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, v yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia w  dan kebenaran. x  
1:15 Yohanes memberi kesaksian y  tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. z 
1:16 Karena dari kepenuhan-Nya a  kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; b  
1:17sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, c  tetapi kasih karunia dan kebenaran 12  datang oleh Yesus Kristus. d  
1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; e  tetapi Anak Tunggal f  Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Dia datang kepada milik kepunyaan-Nya.

Demikian ayat 11 menjelaskan secara ringkas apa yang terjadi dengan peristiwa Natal. Allah datang menemui atau mencari manusia, ciptaan-Nya. Mengapa Allah harus repot-repot mencari manusia ciptaan-Nya ini? Karena Allah begitu mencintai manusia. Bukan karena manusia itu baik, bukan karena manusia itu begitu mencintai Allah dengan luar biasa, tetapi karena Allah begitu mencintai manusia. Allahlah yang pertama mencintai manusia. Demikian Santo Yohanes menjelaskan dalam suratnya yang pertama (1 Yoh 4:10).

Allah begitu mencintai.
Kenyataan ini begitu melegakan. Bahwa saya yang begitu buruk (jiwa raga) namun begitu dicintai Allah. Saya sering jatuh dalam dosa, saya sering melanggar larangannya. Namun Dia tetap mencintai saya. Dan mau repot-repot untuk menjadi manusia, demi saya (juga Anda) yang Dia cintai.
Namun hal ini bukan alasan untuk terus berbuat dosa. Kenyataan bahwa Allah sungguh mencintai saya dan Anda adalah alasan untuk kembali, untuk berpaling kembali kepada-Nya.

Mungkin kita merasa canggung, merasa malu-malu. Karena sudah sekian lama meninggalkan Dia, sudah sekian lama tidak menjalin kontak dan keintiman dengan Dia. Rupanya Allah juga menyadari hal ini, menyadari bahwa mungkin kita merasa canggung, mungkin merasa malu. Maka, Allah mengambil inisiatif untuk mencari manusia. Allah mengambil inisiatif untuk mendekatkan diri kepada manusia.

Akhir dan awal

Di akhir tahun ini saya diberi kesadarn yang lebih, betapa Allah mencintai manusia. Hal ini menjadi bekal yang baik untuk memulai hari di tahun berikutnya untuk bisa berbuat lebih baik. Berbuat lebih baik itu berarti menjalin relasi yang lebih intim lagi dengan Allah.
Kenyataan bahwa Allah begitu mencintai manusia (saya dan juga Anda) menjadi modal yang sangat baik untuk membangun relasi yang intim dengan Allah. Relasi yang intim itu tidak bisa dibangun dalam sekejab, namun membutuhkan waktu dan berlangsung lama (dari hari ke hari). Hal ini seperti halnya saat menjalin relasi dengan sesama manusia, dibuthkan waktu dan ketekunan. Seseorang tidak bisa begitu saja menjalin relasi yang akrab dan intim dengan sesama manusia yang lain. Ada proses yang bisa dilalui.
Maka, awal tahun nanti bisa menjadi awal dari usaha hari ke hari untuk menjalin relasi yang akrab intim dengan Allah. Menjaga komunikasi yang baik adalah jalan awal dan bisa jadi kunci yang tepat demi terjaminnya relasi yang akrab, bahkan intim. Tentu saja harus menyediakan waktu, atau bahkan memberikan seluruh waktu.

Akhirnya

Tuhan, terimakasih bahwa Engkau begitu mencintai aku. Engkau rela datang mencari aku yang maish terkungkung dalam dosa. Engkau tidak mau menunggu, Engkau mengambil inisiatif, Engkau mengambil langkah pertama yang begitu cepat. Terimakasih untuk cintaMu yang begitu besar. 
Harapanku di tahun yang akan datang, aku mampu membalas cinta-Mu dengan selayaknya. Aku mampu membangun relasi kasih yang mesra dengan-Mu. Semoga aku mamu menyingkirkan penghalang-penghalang yang membuat relasi kita menjaid kurang harmonis, kurang mesra. 
Amin

Hong Kong, 31 Desember 2014

23 December 2014

Apakah Yesus lahir tanggal 25 Desember

Ada pertanyaan yang selalu hadir di saat kita merayakan Pesta Natal. Apakah Yesus sungguh lahir pada tanggal 25 Desember? Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, ijinkan saya bercerita sedikit.


Ada seorang Hajah, namanya Hajah Irene. Kalau Anda ingin tahu siapa beliau, cari saja di Youtube dan klik nama Hajah Irene. Kalau Anda malas melakukannya, baiklah saya ceritakan sedikit. Beliau mengaku, dulunya seorang pengikut agama Katolik. Bahkan mengaku, dulunya adalah seorang biarawati. Kemudian, karena sesuatu hal beliau berkesempatan membaca Al-Quran. Nah, pada waktu itulah beliau (mengatakan) mendapatkan hidayah. Kemudian berpindah menjadi seorang muslimah. Bukan sekadar muslimah biasa, tetapi suka memberi ceramah di mana-mana. 
Kebanyakan ceramahnya itu menjelekkan agama Katolik. Salah satunya menolak bahwa Yesus itu Tuhan. Beliau memiliki perbandingan mengenai hal ini. Juga soal kelahiran Yesus yang tanggal 25 Desember. Menurut beliau, tanggal 25 Desember itu kelahiran dewa matahari-nya orang romawi. Beliau juga berbicara soal pohon natal, dan mempertanyakan apakah di Palestina sana ada pohon natal atau cemara, apakah ada salju. Dan masih banyak lagi. Tentu saja ceramah yang juga di-VCD-kan itu menyebar di mana-mana. Kebanyakan juga ditelan mentah-mentah. Seperti halnya aneka kesaksian lain yang kerapkali 'bombastis' walau isinya nggak jelas.

Mari kita berpikir lebih tenang untuk mengerti.

(1) Yang harus kita terima adalah, YESUS PERNAH LAHIR. 
Jika seseorang dilahirkan, maka dia pernah dikandung. Manusia normal dikandung sekitar 40 minggu, atau 9 bulan. Demikian juga dengan Yesus, Dia dikandung Bunda Maria selama kurang lebih 40 minggu juga.
Pertanyaannya adalah, kapan Bunda Maria mulai mengandung Yesus? Mari kita simak data yang ditulis oleh Kitab Suci.

(2) Berkaitan dengan kelahiran YOHANES PEMBAPTIS
Ketika Malaikat Gabriel memberitahu Bunda Maria bahwa ia akan mengandung, Malaikat Gabriel juga mengatakan bahwa saudarinya, Elisabeth, sedang hamil pada bulan ke-6. 
Pertanyaanya juga adalah, kapan Yohanes Pembaptis mulai dikandung? Kita bisa menghitung, KEMNGKINAN BESAR, Yohanes Pembaptis mulai dikandung pada saat atau sesudah Malaikat Gabriel mendatangi Zakaria, ayah Yohanes Pembaptis. Bagaimana kita mengetahui tanggal malaikat mengunjungi Zakaria?
Pada waktu itu Zakaria sedang berada di Bait Suci sedang bertugas. Menurut Injil Lukas bab 1 ayat 5,  Zakaria adalah seorang imam dari rombongan Abia. (Menurut Kitab Nehemia, di dalam Bait suci ada 24 rombongan imam. Masing-masing rombongan melayani di Bait Allah sebanyak dua kali. Sekali melayani selama 1 minggu.)
Nah, rombongan Abia melayani di Bait Allah pada minggu ke-8 dan ke-32 dalam siklus tahunan. Nah, pertanyaannya sekali lagi, bagaimana menghitungnya? kapan kita tahu kapan mulai siklusnya?
Menurut seorang ahli, Josef Heinrich Friedlieb, mengatakan bahwa waktu pelayanan rombongan Abia melayani pada minggu kedua pada kalender Yahudi bulan Tishri. Pada waktu itu bertepatan dengan the Day of Atonement. Hari itu bisa jatuh kapan saja antara tanggal 22 September sampai 8 Oktober.
Katakanlah, Malaikat mendatangi Zakaria pada akhir bulan September, dan sesudah itu Elisabeth mengandung, maka kemungkinan besar Yohanes Pembaptis dilahirkan pada akhir bulan Juni.

(3) Tanggal YESUS DIKANDUNG
Seperti sudah saya singgung di atas, bahwa Yesus dikandung pada saat elisabet sudah 6 bulan mengandung Yohanes. Maka, waktu itu kira-kira jatuh pada akhir bulan Maret. Mengitungnya sederhana: kalau Yohanes dikandung pada akhir bulan September, maka enam bulan kemudian adalah akhir bulan Maret.
Kalau Yesus dikandung pada akhir bulan Maret, maka kemungkinan besar dilahirkan pada akhir bulan DESEMBER. Artinya, kalau kita sekarang merayaan pesta kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember, itu tidak salah, dan tidak mengada-ada.

BERBAGAI PERSOALAN
(1) Tanggal 25 Desember sebenarnya adalah pesta malam terpanjang dalam tahun, atau dikenal dengan istilahnya winter solarstice. Tetapi, seperti halnya di tradisi Cina, hari itu jatuh pada tanggal 22 Desember dan bukan tanggal 25 Desember. Pesta ini bisa dimulai pada tanggal 17 Desember sampai 23 Desember. Tetapi tidak memiliki hubungan apa-apa dengan pesta kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Maka anggapan ini tidak berdasar.

(2) Tanggal 25 Desember adalah perayaan dewa matahari pada masyarakat Romawi.
Dikatakan bahwa tanggal 25 Desember adalah kelahiran dewa matahari yang tak terkalahkan. Artinya, ini adalah perayaan orang-orang kafir, mengapa bisa menjadi hari kelahiran Yesus?
Mari kita simak dengan seksama.
Tradisi merayakan kelahiran dewa matahari baru dimulai oleh Kaisar Aurelius. Dia ingin membuat sebuah peringatan yang menandai kekaisarannya. Namanya adalah Aurelius dari asal kata aurora. Yang berarti matahi terbit. Perayaan itu baru dimulai pada tahun 274, atau akhir abad ke-3.

nahhh, mari kita perhatikan beberapa surat yang ditulis oleh paus atau uskup pada tahun sebelum 274.

a). Paus Telesphorus, menjadi paus dari tahun 126-137. Beliau memulai tradisi misa tengah malam menjelang Natal.
b). Teofilus, seorang Uskup Kaisarea, berkata: "Kita harus merayakan kelahiran Tuhan kita pada hari di mana tanggal 25 Desember harus terjadi".
c). St. Hipolitus (170-240) menulis demikian : "Kedatangan pertama Tuhan kitadi dalam daging terjadi ketika Ia dilahirkan di betlehem, di tanggal 25 Desember...."

Tiga catatan singkat ini mematahkan anggapan orang bahwa perayaan Natal tgl 25 Desember adalah mengadopsi perayaan kafir, perayaan dewa matahari milik orang Romawi. Karena perayaan Natal tanggal 25 Desember sudah ada lebih dulu dibandingkan perayaan dewa matahari tersebut.

Catatan lain:
KESAKSIAN VENERABILIS ANNE CATHERINE EMMERICH (The Life of the Blessed Virgin Mary, from the vision of Ven. Anne Catherine, Emmerich; TAN Books, 2013, p. 168)
"The actual date of Christ's Birth, as I always see it, is four weeks earlier than its celebration by the Church; it must have happened on St. Catherine's feast day. I always see the Annunciation as happening at the end of February."

Bagaimana sikap kita?

KITA HARUS MENGIKUTI APA YANG DITETAPKAN OLEH GEREJA.
Ketaatan kepada Allah tercermin juga dari ketaatan kita kepada Gereja. 

Selamat merayakan Pesta Kelahiran Tuhan kita. Kiranya kita sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

salam

Hubungan kekerabatan Yesus Kristus dan Yohanes Pembaptis

Sahabat, dalam Kitab Suci Injil Matius dan injil Lukas, kita bisa membaca silsilah Yesus Kristus. Biasanya disebut dari atas, siapa memperanakkan siapa dan seterusnya. Lalu ada kisah yang menyebutkan bahwa Yesus masih bersaudara dengan Yohanes Pembaptis. Hubungannya di mana? letak bersaudaranya di mana? Saya akan menceritakannya.
Oh iya, cerita mengenai mengenai hubungan kekerabatan keduanya saya peroleh dari cerita Venerabilis Anne Catherine Emmerich, ceritanay dibukukan dengan judul "Kehidupan Santa Perawan Maria". Dan di awal kisah ini saya ingin menekankan bahwa saya tidak memaksa Anda untuk percaya dengan cerita saya. Bagi saya pribadi, cerita ini menambah cinta saya kepada Tuhan.

Dalam silsilah yang ditulis dalam Injil, semuanya berujung kepada Yusuf, yang bukan ayah biologis Yesus. Jadi sebenarnya agak susah memahaminya. Tetapi harus dimengerti bahwa dalam adat Yahudi, ayah secara hukum sudah dianggap sebagai ayah sah. Hukum ini juga berlaku di Indonesia, misalnya mengenai hak waris, ataupun pelepasan hak waris oleh seorang anak adopsi, seandainya diketahui orangtua biologisnya; yang harus menandatangani adalah orangtua adopsi. Atau anak hasil adopsi juga tidak boleh menikah dengan saudara atau saudari angkatnya. Meskipun secara darah tidak ada hubungan sama sekali, tetapi mereka sudah terikat secara hukum.

Baiklah saya mulai saja cerita asal usul mengapa Yesus bisa berkerabatan dengan Yohanes Pembaptis. Kita semua tahu bahwa Yesus dilahirkan oleh Bunda Maria. Sedangkan Bunda Maria dilahirkan oleh Santa Anna. Suami Santa Anna berna Santo Joachim (Yoakhim). Nahhh Yoakhim ini masih keturunan Raja Daud dari garisnya Nathan (baca Injil Lukas). Kalau Santo Yusuf itu keturunan Raja Daud dari garis Salomo (Baca Injil Matius).

Berikutnya, Santa Anna ini anak dari pasangan Levite dan Ismeria. Mereka ini adalah Mbah Buyutnya Yesus. atau kakek neneknya Bunda Maria. Sampai di sini semoga bisa memahami. Ismeria, nenek dari Bunda Maria ini memiliki saudari yang bernama Emerentia. Emerentia menikah dengan Aphras dan memiliki dua orang anak. yaitu elisabeth dan Rhode.

Nahhh Elisabeth ini menikah dengan Zakharia dan dari mereka lahirlah Yohanes Pembaptis. Jadi dong ya ceritanya, hubungan kekerabatan antara Yesus dengan Yohanes Pembaptis. Jadi Yohanes Pembaptis itu masih tergolong pamannya Yesus, meskipun dari segi usia hanya terpaut 6 bulan. Karena Elisabeth, ibu dari Yohanes Pembaptis berada satu garis dengan Anna, nenek dari Yesus.

Oke, nggak usah pusing.
Yang pasti kelahiran Yohanes pembaptis adalah karena kehendak Allah, untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus.
Apakah kita juga sudah mempersiapkan jalan bagi Yesus?

salam 



20 December 2014

人在做,天在看

Kita mengenal ungkapan, "manusia berusaha, Tuhan yang menentukan". Orang Hong Kong berkata, 'jan4 zoi6 zou6, Tin1 zoi6 hon3'. 

Hari ini kisah yang luar biasa diperdengarkan, Maria menerima kunjungan malaikat Gabriel. Maria menrima kabar bahwa ia akan mengandung dan akan melahirkan anak laki-laki dan ia harus menamai Dia, Yesus.
Tentu saja kabar ini sangat mengejutkan, sekaligus membingungkan. Maria adalah orang yang sangat dekat dengan Tuhan. Sejak kecil sudah terbiasa dengan hidup doa. Bahkan sejak kecil, oleh orangtuanya, sudah dipersembahkan di Bait Allah. Dan dalam kehidupan sehari-hari, Maria tidak pernah lepas dari doa. Tetapi mendengar kabar bahwa ia akan mengandung, sedangkan dia belum pernah berhubungan dengan laki-laki, tentu sangatlah membingungkan. Maka dia bertanya, "bagaimanakah hal itu mungkin terjadi?"
Malaikat Gabriel mengetahui kebingungan Maria dan menjelskan dengan seksama. Bahwa bayi yang akan dia kandung berasal dari Roh Kudus sendiri. Kemudian pada bagian akhir malaikat menambahkan, "bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil."

Banyak kisah atau kejadian dalam kehidupan sehari2 kita yang menunjukkan betapa berkuasanya Tuhan. Sesuatu yang bagi manusia kelihatan mustahil, tidak demikian bagi Allah, semuanya mungkin bagi Allah.
Kisah mengenai Daud dan Goliath tentu bisa memberi gambaran akan hal ini. 

Daud, waktu itu masih remaja. Kulitnya kemerah-merahan. Pekerjaannya menggembalakan domba. Tidak memiliki ketrampilan berperang. Tidak pernah menggunakan pedang untuk berkelahi, apalagi pergi ke medan perang, sama sekali tidak pernah.

Goliath, seorang prajurit yang sangat hebat. Badannya tinggi tegap, gagah perkasa. Saya membayangkan seperti prajurit2 dalam film2, yang berotot kekar dan kuat. Senjatanya pedang yang sangat besar. Bahkan tidak semu orang bisa mengangkat pedang tersebut,mkarena begitu kuat dan beratnya.

Dua orang ini berhadapan di medan laga, ditonton oleh ribuan prajurit yang lain. Daud di satu sisi dan Goliath di sisi yang lain. Goliat membawa pedang dan tameng, Daud membaw ketapel dan lima biji batu sungai. Sangat tidak berimbang.
Bahkan Goliat sedikit marah, dia merasa diejek oleh bangsa Israel, karena dia hanya dihadapi oleh anak remaja. Dia sangat yakin bahwa dia akan menang, karen Daud bukanlah lawan yang sebanding.
Tetapi Goliath todak pernah tahu bahwa Daud memiliki senjata rahasia, yaitu IMAN. Daud sangat percaya bahwa manusia bisa berusaha, tetapi Tuhanlah yang menentukan, dan bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.
Pada akhir cerita kita bisa tahu bahwa Daudlah yang akhirny keluar sebagai pemenang. Goliath tewas oleh pedangnya sendiri setelah terjatuh karena ketepel si anak remaja yang kulitnya kemerah-merahan.

Sahabat, masih ada banyak lagi kisah-kisah serupa yang menunjukkan  betapa berkuasanya Tuhan. Namun demikian, masih juga ada orang yang meragukan akan kemahakuasaan Tuhan ini. Mereka dalam hidupnya tidak pernah merasakan seperti apakah cinta kasih Tuhan tersebut.

Maka menjadi tugas kita, yang sudah mengalami betapa luar biasanya Tuhan untuk berbagi kasih dengan mereka. Mungkin kita juga bertanya, bagaimana mungkin aku berbagi dengan mereka? Di sinilah kesempatan kita untuk mulai mengandalkan Tuhan. Bahwa dalam hidup sehari-hari ada banyak hal yang nampaknya mustahil bagi manusia, tetapi semuanya mungkin bagi Tuhan.

Kita bisa memulai dari hidup doa. Kita membuka hati untuk kuasa Tuhan. Kita juga mendoakan orang lain, agar mereka dibuka hatinya, dan mereka mampu mengalami kasih Tuhan, kuasa Tuhan.

Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, maka mari kita terus berusaha, karena pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan. 人在做,天在看。