19 July 2014

ILALANG di kebun Pak J

Namanya J, aslinya tukang kayu, bapaknya juga tukang kayu. Maka tidak mengherankan kalau dia dikenal oleh tetangga-tetangganya sebagai tukang kayu. Tetapi dia punya usaha lain, bertani. Suatu hari dia menyemai benih padi. Tentu saja setelah menyiapkan lahan dengan baik. Membuang batu-batu dan membersihkan perdu.
Pak J dibantu beberapa orang untuk menggarap ladang. Ada kejadian mengerankan. Orang-orang yang membantu Pak J menyemai benih padi melihat ada begitu banyak ilalang di antara padi yang mulai tumbuh.
"Bukankah kita menaburkan benih yang baik, dari manakah ilalang itu?" Tanya teman-teman Pak J.
"Seorang musuh yang melakukannya," jawab Pak J.
"Kalau begitu, biar kami bersihkan ladang itu, biar kami cabut ilalang-ilalang itu," seru yang lain.
"Jangan," kata Pak J, "Nanti ada banyak benih padi yang ikut tercabut. Biarkan keduanya tumbuh. Nanti pada saat panen, baru dipisahkan, mana padi mana ilalang. Nah ilalangnya nanti baru dibakar."

Sebagai seorang petani, Bapak J ini sangat sabar. Dia tidak mudah marah dan terprovokasi. Dia melihat bahwa semua ada jalan dan saatnya. Bapak J sangat tenang dan sabar meski serangan dari musuhnya sangat mengerikan. Kalau memakai bahasa kampanye, serangan ini adalah kampanye hitam yang sangat brutal. Tetapi Bapak J tetap tenang.
Semua serangan hitam tidak akan mampu membangun masyarakat, apalagi Kerajaan Allah. Hanya ketenangan dan kesabaran yang mampu. Mengapa demikian, karena kekuatan Allah sendirilah yang akan membangunnya. Demikian keyakinan dari Bapak J. Pada saatnya nanti semuanya akan dipisahkan, mana padi mana ilalang. Pada saatnya nanti padi akan dimasukkan ke dalam lumbung Kerajaan Allah, dan ilalang akan dibakar di api yang tak kunjung padam. Bapak J sangat percaya akan kekuatan dan kuasa Allah. Maka dia tidak takut akan serangan musuhnya, sehebat apapun. Bahkan dia tetap tenang dan tidak membalas.

Keyakinan bahwa Allah itu sungguh berkuasa juga pernah dipraktikkan oleh Santo Fransiskus Asisi. 
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dia pernah ikut dalam perang salib. Perang antara Kristen dan Islam. Saat itu, Fransiskus berangkat ke Mesir untuk bertemu dengan sultan. Dia tidak membawa pedang dan perlengkapan perang. Dia berangkat dengan mengenakan jubah biarawan, mengenakan senjata iman. 
Dia masuk ke daerah lawan, bahkan daerah yang paling dalam, yaitu istana raja. Dia bertemu dengan Sultan untuk membicarakan perdamaian. Dia juga berbicara mengenai kebenaran iman dan kebesaran Tuhan. Mereka bercakap dengan santai dan penuh keakraban, hingga Sultan menawarkan tempat menginap. Tetapi Fransiskus menolak.
"Aku akan menginap di sini kalau kamu mau menjadi Kristen." Jawab Fransiskus atas tawaran sultan. Tentu saja Sultan juga menolak. Maka Fransiskus mengajukan sebuah tawaran. Persis seperti apa yang dibuat oleh Elia kepada para nabi baal.
"Mari kita uji, iman siapakah yang lebih teguh. Tuhan siapakah yang sungguh melindungi. Panaskan sebuah kuali raksasa, dan aku serta imammu akan masuk ke dalam kuali tersebut. Siapakah yang akan terbakar dalam kuali mendidih itu, berarti dia kalah."
Sultan tidak menyetujui usulan Fransiskus, karena dia tidak yakin imamnya akan mau masuk ke dalam kuali yang mendidih tersebut. Maka Fransiskus memberi usulan yang lain.
"Kalau begitu biarlah aku sendiri yang masuk ke dalam kuali tersebut. Kalau aku mati di sana, itu semua karena dosaku, dan kamu bisa berkata bahwa aku memang sesat. Tetapi kalau kuasa ilahi menolong aku, dan aku tetap hidup, kamu dan semua pengikutmu harus mengikuti aku."
Sultan juga menolak usul ini. Maka Fransiskus kembali ke Roma.

Mengapa Fransiskus bisa begitu yakin bahwa dia akan selamat? Apakah dia memiliki ilmu yang hebat? Apakah dia memiliki sesuatu? Ya, Fransiskus memang memiliki sesuatu. Yaitu iman, bahwa Allah sungguh berkuasa. Dan kuasa Allah sungguh dahsyat. Dan hanya bergantung pada kekuatan Allah sajalah dia akan hidup.

Bagaimana dengan kita? Kita mungkin tidak memiliki iman sebesar Fransiskus atau Bapak J. Kita hanya manusia lemah yang semakin lemah karena hidup dalam dunia yang juga lemah. Kita seperti orang yang terluka, luka karena kelemahan manusia, luka karena jahatnya dunia. Luka yang mengangga hanya karena kurang percaya akan kuasa Tuhan yang esa.

Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma berkata, "Roh akan membantu kita dalam kelemahan kita." Roh akan mampu membantu kita, sejauh kita mau berserah dan dibantu oleh-Nya. Roh yang sama akan membantu membersihkan kita, menyembuhkan kita dari luka-luka yang mengangga. 

Segala kelemahan dan dosa-dosa kita itu seperti halnya ilalang, yang ditaburkan oleh musuh si petani. Pada saatnya, ilalang itu akan dibersihkan dan dibuang ke dalam api yang tak kunjung padam. Kita tidak akan ikut dibuang ke sana, dan hanya dosa-dosa dan kelemahan kita yang akan dibuang. Syaratnya, kita membiarkan diri dibimbing oleh Roh itu. Membiarkan diri dibawa ke dalam kuasa Allah yang dahsyat itu.

Mungkin kita berpikir, "ahhh, saya ini sudah sangat kotor. Ilalang yang tumbuh dalam hidup saya sudah mengakar begitu hebat, apa iya Roh Allah akan mau dan mampu membersihkan saya?"

Jangan salah kira. Kalau kita mau berserah, kuasa Allah tiada tandingannya. Dan yang hebat lagi adalah kuasa belas kasih Allah. Kuasa belas kasih Allah itu tak terbatas. Yang membatasi hanyalah kemauan dan kerelaan kita saja. Apakah saya mau dibersihkan, apakah saya mau membiarkan diri agar ilalang dalam kehidupan saya dibakar oleh api kasih Allah, sehingga saya bersih kembali?

Keputusannya ada pada diri saya sendiri.
Selamat berhari minggu, selamat menikmati cinta kasih Allah yang membersihkan.

Hong Kong, 20 Juli 2014
Pesta Nabi Elia, bapak rohani para karmelit





12 July 2014

GOLPUT dan RAHMAT TUHAN

Mungkin Anda akan berpikir, "Pemilu sudah selesai, Romo. Mengapa berbicara soal golput? Telat!"
Iya, rupanya soal GOLPUT itu bukan hanya mutlak milik PEMILU. Tetapi dalam banyak segi hidup yang lain, golput juga bisa terjadi.
Anda semua tahu, golput berarti tidak menggunakan hak dalam pemilihan umum. Atau, memilih untuk tidak memilih. Artinya membiarkan hak itu hangus begitu saja, dan ada kemungkinan membiarkan hak itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.

Nahhh, saya ingin berbicara mengenai rahmat Tuhan. Rahmat yang diberikan kepada kita. Di sini kita juga memiliki hak yang sama. Menerima rahmat itu, menolak rahmat itu, atau membiarkan rahmat itu hangus begitu saja.

Ceritanya begini. Rahmat allah itu seperti benih yang ditaburkan oleh orang yang menabur benih. Benih itu ada yang yang jatuh di jalan, di tanah berbatu-batu, di tanah yang penuh semak duri dan di tanah subur.

Benih yang dibaurkan adalah rahmat Tuhan. Tanah yang menerima benih itu adalah hati kita. Hati kita bisa sekeras jalan, bisa segersang tanah yang berbatu-batu, bisa seperti tanah penh semak duri, atau bisa berupa tanah subur. Semua tergantung kita mengolahnya. Kita bebas mengolah semuanya atau membiarkan begitu saja.

Kesuburan tanah itu sepenuhnya tergantung kita. Cerita berikut bisa membantu kita memahaminya.
Ada kisah mengenai dua orang anak. 
Anak yang sulung berkata kepada adiknya, "Ayah kita itu sungguh bijaksana."
Adiknya tidak setuju. Dia beranggapan bahwa ayahnya hanya sedikit cerdas, tetapi sesungguhnya juga tak kalah 'bodoh'nya dengan mereka.
Suatu pagi, si bungsu menangkap burung di halaman. Kemudian dia mengajak kakanya untuk menemui ayahnya. Dia hendak menguji kecerdasan dan kebijaksanaan ayahnya. Dia hendak menunjukkan kepada kakaknya bahwa ayahnya tidak sebijaksana seperti yang dipikirkan kakaknya.
Mereka menemui ayahnya di kantornya. 
"Ayah," kata si bungsu kepada ayahnya, "coba tebak, burung yang aku pegang ini hidup atau mati." Si bungsu berpikir bahwa, kalau ayahnya mengatakan burung itu hidup, dia akan meremas kepala burung itu hingga mati. Sebaiknya kalau ayahnya mengatakan burung itu mati, dia akan melepaskan burung itu.
"Jawabannya ada di tanganmu, anakku." Jawab ayah itu. "tanganmu bisa menentukan burung itu hidup atau mati." Kemudian ayah itu melanjutkan pekerjaannya.

Rahmat Allah, yang berupa benih diberikan kepada kita secara cuma-cuma. Kitalah yang harus mengolah tanah itu, kitalah yang memiliki kebebasan sepenuhnya. Kita memiliki kebebasan untuk membiarkan tanah hati kita gersang seperti tepian jalan raya, atau gersang berbatu-batu, atau mulai menyihkan waktu membuang batu-batu, membersihkan perdu dan mulai mencangkul tanah itu, memberinya pupuk dan menjadikannya subur.

Ada tiga hal yang menjadi musuh kebebasan kita. 
Artinya, musuh yang membuat kita tidak mampu menggunakan kebebasan dengan baik.

Hal pertama adalah pengaruh iblis.
Dia seperti burung-burung yang memakan habis benih-benih rahmat Allah. Iblis mempengaruhi kita untuk tidak taat kepada Allah, untuk melawan Allah. Iblis juga mempermainkan pemikiran kita. Iblis memberi pengertian yang seolah benar tetapi salah kepada manusia.
Contohnya: Allah tidak akan marah kok kalau kamu berdosa sedikit-sedikit saja. Atau, sakramen-sakramen dalam Gereja itu tidak penting, toh kamu bisa langsung berkomunikasi dengan Allah.
Godaan-godaan kecil ini sungguh membunuh benih rahmat Allah.

Hal kedua adalah kemalasan daging.
Santo Paulus mengatakan bahwa sesungguhnya roh kita kuat tetapi daging lemah. Kerapkali kita memiliki keinginan yang baik. Ingin belajar berdoa, ingin bersedekah, ingin ini ingin itu yang baik-baik. Tetapi ujung-ujungnya jatuh kepada kemalasan yang sama. Akhirnya jatuh kepada kesalahan yang sama. Kita tidak sungguh-sungguh mengolah tanah yang ada.
Kita melihat tanah hati kita berbatu-batu, kita ingin mengolahnya agar menjadi tanah yang subur. Tetapi begitu melihat banyaknya batu, banyaknya perdu serta sinar matahari yang menyengat memudarkan niat itu. Kemalasan itu sungguh membunuh benih rahmat Allah yang ditaburkan.

Hal ketiga adalah lingkungan yang buruk.
Ada ungkapan bahwa lingkungan yang buruk bisa mepengaruhi pribadi-pribadi yang ada di sekitarnya. Kita ingat kisah walikota Surabaya yang menutup Gang Dolly. Alasannya sederhana, lingkungan di sana tidak baik untuk perkembangan anak-anak. Lingkungan di sana sangat buruk sehingga banyak anak dan remaja yang jatuh ke dalam pergaulan yang buruk.
Lingkungan yang buruk yang lain adalah pemahaman akan nilai-nilai kehidupan yang salah. Misalnya, menganggap uang sebagai nilai tertinggi dalam kehidupan. Pepatah Cina mengatakan, "Kalau seseorang hanya memiliki uang, maka dia adalah orang miskin." Namun banyak orang mengejar uang sebagai nilai tertinggi dalam hidup mereka. Juga nilai-nilai yang lain misalnya popularitas, penghargaan, dll.
Lingkungan yang buruk yang lain adalah sikap permisif. Sikap yang selalu memaafkan diri sendiri. Padahal yang harus menjadi nilai utama dan menjadi hal utama dalam hidup adalah Tuhan.

3 pertolongan bahkan 4 untuk bisa menggunakan kebebasan dengan baik.
Tuhan menyadari bahwa menggunakan kebebasan dengan baik itu tidak mudah. Maka ada beberapa pertolongan yang bisa dipakai.

Pertama adalah sakramen tobat. Dosa merusak kebebasan manusia. Semakin besar dosa manusia semakin tidak bebas dia. Semakin sulit seseorang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk jika manusia dibelenggu oleh dosa. Belenggu itu bisa dihancurkan oleh pengampunan. Dia seperti proses penyembuhan akan luka yang parah untuk bisa pulih kembali.

Kedua adalah sakramen Ekaristi. Tuhan memberikan Tubuh dan Darahnya untuk menjadi makanan bagi jiwa manusia. Makanan yang memebri kekuatan untuk mampu melawan setiap godaan setan. Kekuatan untuk bisa memilih yang benar.

Ketiga adalah ajaran Gereja. Kerap kita bingung terhadap sesuatu dan binggung menentukan mana yang benar mana yang boleh, mana yang salah dan mana yang tidak benar. Ajaran Gereja membantu kita untuk memilih yang baik dan benar.
Mungkin kita kesulitan menemukan di mana ajaran Gereja itu. Pada jaman modern seperti sekarang, ketika segala sesuatu mungkin, maka dengan mudah kita bisa mengakses ajaran Gereja dalam internet, dalam web-site, dalam genggaman. Yang dibutuhkan adalah kemauan. Ada banyak aplikasi dalam smartphone yang bisa membantu kita.

Akhirnya, doa.
Doa menjaga kita untuk bisa terus fokus pada pilihan yang tepat. Maka, ketika kita berada dalam situasi yang sulit, kita berdoa agar diberi kemampuan untuk memilih dengan tepat.

Bekerja sama dengan rahmat Allah.
Rahmat Allah diberikan sebagai benih yang harus disemai dan dirawat sehingga bertumbuh menjadi pohon yang berbuah. Jika rahmat Tuhan yang berupa benih itu tidak kita rawat dengan baik, maka dia akan mati sia-sia.
Ada dua jalan yang bisa dipakai untuk bekerjasama dengan rahmat Tuhan.
Menggunakan rahmat itu sebagai saluran rahmat. Artinya, rahmat itu harus menjadi sarana untuk bertumbuh dan berkembang. Maka hidup dalam Sakramen sangatlah penting. Merayakan sakramen dengan rutin. Mengikuti perayaan ekaristi, mendapatkan sakramen tobat secara berkala akan membantu kita untuk terus berada dalam rahmat. Juga membaca Kitab Suci dengan teratur dan berdoa dengan teratur pula, akan membantu untuk terus hidup dalam rahmat Tuhan.
Hal kedua adalah melatih diri terus menerus untuk tetap sadar dan tidak terlena dalam rutinitas. Menyadari motivasi apa yang ada dalam setiap tindakan. Misalnya; tiap Minggu ke Gereja. Kalau tidak ke Gereja akan merasa ada sesuatu yang kurang. Jika ini terus dilakukan, akan jatuh ke dalam rutinitas belaka. Menjadi ritme yang sangat rutin, kalau minggu ke Gereja. Jika ini terjadi, kita kehilangan makna.
Kita harus menyadari mengapa saya melakukan itu. Saya harus menemukan jawabannya, sebagai jawaban pribadi. Jawabannya tidak bisa, "yaaa.. karena yang lain juga begitu,  karena khan orang katolik begitu, khan ajarannya begitu... dst" Jawaban-jawaban ini muncul karena lahir dari rutinitas dan tidak pernah bertanya kepada diri sendiri, mengapa saya melakukan itu.
Jawaban terdalam haruslah kembali kepada Tuhan. Karena saya hendak menjalin relasi yang lebih baik dengan Tuhan. Karena saya hendak mejalin hubungan yang lebih dalam lagi dengan Tuhan, Kekasih Jiwaku.

Akhirnya, komitmen untuk lebih dalam berelasi dengan Tuhan mesti dijaga. Komitmen untuk menolah tanah hati kita agar siap ditaburi benah kasih Allah. Jangan golput. Jangan mengabaikan hakmu untuk mengolah tanah itu. Jangan biarkan dia gersang dan ditumbuhi perdu.
Tuhan memberkati

Hong Kong, 13 Juli 2014

10 July 2014

Christine Ha

Kemarin, teman saya bejalar bahasa kanton memberi saya informasi mengenai aplikasi untuk menonton siaran televisi TVB. Malam harinya, sambil memijit-mijit kepala yang agak pusing, saya download aplikasi tersebut. Namanya mytv. Ternyata ada beberapa aplikasi dengan nama yang sama, maka saya pilih yang berlogo TVB. Aplikasi ini gratis.
Setelah berhasil mendownload, saya segera melihat apa saja yang ada di dalamnya. Pertama saya menikmati sajian untuk anak-anak. Selanjutnya saya mencari saluran kuliner, kesukaan saya. Di sanalah saya temukan dua video mengenai Master Chef Amerika. Video pertama mengenai babak semifinal dan yang kedua mengenai babak finale. Saya langsung menikmati keduanya.
Saya lupa bahwa tujuan saya mendownload aplikasi tersebut adalah untuk melihat dan mendengar siaran berbahasa kanton, tetapi malam ini saya menikmati siaran berbahasa Inggris. Sudahlah.
Awalnya saya tidak melihat sesuatu yang aneh, tetapi baru saya sadari ada sesuatu yang janggal. Salah satu peserta Master Chef itu adalah perempuan yang buta sejak lahir. 
Namanya Christine Ha, lahir di California tahun 1979. Kedua orangtuanya asli Vietnam, maka dia adalah Amerika Vietnam. Saya penasaran bagaimana seorang yang buta sejak lahir bisa memasak, bukan sekadar bisa memasak, tetapi ikut kompetisi memasak. 
Ketika memilih bahan-bahan, dia ditemani oleh panitia. Christine tinggal menyebutkan nama bahannya, dan staff panitia akan mengambilkan. Ada beberapa hal yang dia juga dibantu oleh panitia. Tetapi semua ide, semua bentuk dll, mengikuti instruksi Christine. Termasuk di dalamnya, bagaimana memberi bumbu, mengaduk, menyajikan, dilakukan oleh Christine sendiri.
Saya semakin penasaran, bagaimana dia membayangkan semua masakannya bisa tersaji dengan sangat menarik. Mengapa? Karena kuliner itu, selain soal rasa juga soal penampilan. Maka bisa kita pahami bahwa di restoran-restoran mahal, penampilan itu sangat penting. Kerap kali penampilan mengalahkan semuanya. Maka saya terus panasaran, bagaimana Christine membayangkan warna merah, hijau, kuning, caramel, dst.
Memang harus diakui bahwa dalam soal kreasi penataan, dia kalah dengan yang lain. Tetapi saya sangat kagum dalam semangat dan kemampuannya dalam mengolah semuanya. Dia tidak pernah merasa rendah diri, bahkan dia tidak mau kalah dengan mereka yang normal penglihatannya.
Akhirnya Christine keluar sebagai juara Master Chef. Gordon Ramsey yang terkenal sadis dalam menilai masakan, tak habis memuji masakan Christine. 

Setelah melihat tayangan tersebut saya merasa malu. Bukan malu karena tidak bisa masak seperti Christine. Saya malu, karena kerap menyerah pada sesuatu yang seharusnya bisa saya latih, saya pelajari, saya usahakan. Seperti hari-hari ini, saya kerap pusing karena belajar bahasa kanton yang begitu sulit. Memahami tulisannya yang semakin hari semakin rumit. memahami intonasinya yang masih sulit saya ikuti. Saya kerapkali kesulitan menggunakan intonasi yang benar. Juga kesulitan menghafal. Maka, saya kerap pusing-pusing. Cenut-cenut.
Malam tadi setelah melihat tayangan mengenai Christine Ha, saya tidur dengan bibir tersenyum. Semuanya bisa dilatih. Mungkin saya tidak akan sehebat yang lain. Kerapkali bakat memang memegang peranan. Tetapi hanya mengandalkan bakat saja tidak cukup. Dibutuhkan kemauan yang keras untuk belajar dan mengusahakan. Tidak ada kata menyerah.
Saya juga diingatkan bahwa tidak ada hidup yang tanpa masalah. Setiap bagian dari hidup, setiap pilihan hidup senantiasa memiliki masalahnya sendiri. Christine yang buta memilih menjadi seorang Chef, bahkan, karena juara dalam master chef, berhak menulis buku menu. Dia juga menulis blog. Pasti dia menghadapi banyak kesulitan. Tetapi dia tidak menyerah. Dia terus belajar, dia terus berusaha dan berbagi.

Setiap orang memiliki masalah dan keterbatasannya sendiri. Tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, memiliki waktu untuk berusaha. Hanya mereka yang melihat kekurangan sebagai tantangan dan kesempatan untuk berkembang akan melangkah maju.

#revolusi mental.

Ini beberapa link video mengenai Christine Ha

Audisi Master Chef

Video satu 

Membuat American Pie


Juara American Master Chef

Video tiga



Hong Kong, 10 Juli 2014



06 July 2014

Kegembiraan itu NYATA, tetapi TERLUKA

Masih terngiang di kepala saya ungkapan Pak Jokowi dalam debat capres putaran pertama. Beliau mengatakan (kurang lebih), "Pemilu itu sebuah pesta demokrasi, harus menggembirakan bukan memberi ketakutan."

Hari ini, kegembiraan dan antusias itu sungguh saya rasakan. Mungkin apa yang saya alami, juga dialami oleh hampir semua warga yang hari ini menggunakan hak pilihnya. Maka saya ingin membagi kegembiraan ini, juga tentunya ikut prihatin dengan teman-teman yang tidak bisa menggunakan kegembiraan ini.

Saya termasuk pemilih yang tidak mendapatkan undangan. Juga termasuk pemilih yang tidak terdaftar, karena sewaktu saya mendaftarkan diri, pendaftaran sudah ditutup. Tetapi saya diberitahu pihak PPLN (Panitia Pemilu Luan Negeri) bahwa saya bisa langsung datang ke lapangan Viktoria Park pada tanggal 6.

Sebenarnya saya berhasrat bisa datang pagi-pagi dan menikmati kegembiraan itu cukup lama, tetapi tugas sebagai pastor harus saya jalankan dulu. Prisnsip, urusan pilpres urusan nomor dua. Maka saya selesaikan tugas-tugas saya. 

Sekitar jam 13.30 saya suah tiba di lapangan rumput viktori. Panas luar biasa. Begitu panasnya sehingga saya tidak tahu harus berbuat apa. Antrian begitu panjang. Akhirnya saya berkeliling untuk melhat situasi dan berharap bertemu dengan teman-teman yang saya kenal, sehingga bisa ngobrol dan berbagi cerita.

Singkat cerita saya ikut antrian. Singkat cerita pula saya berkenalan dengan teman-teman baru, di kanan kiri dan muka belakang. Ngobrol sambil nggremet, sembari menangkis panas mentari dengan payung warna ungu. 

Karena kami hanya berbekal katepe, maka kami harus mengisi kertas form. Kebetulan saya membawa "telenan", itu juga sebagai sarana berkenalan dengan teman-teman baru. Saya tawarkan "telenan" saya untuk mereka pakai sebagai alas mengisi form. Kemudian kami mulai akrab dan mulai bercanda. Maka meski mengantri hampir dua jam, dengan panas yang benar-benar menggigit sampai tulang, tidak begitu terasa.

Akhirnya kami sampai di tenda pendaftaran. Ada cukup banyak tenaga yang mendata kami. Setelah itu kami masing-masing menuju TPS yang ditentukan. Hal ini tidak dialami oleh teman-teman yang sudah mendapat undangan pemilu dengan nomor TPS sekaligus. Mereka bisa langsung mengantri di TPS.

Ada 13 TPS yang disediakan pihak PPLN. Melihat jumlahnya kelihatan cukup banyak, tetapi ternyata kurang banyak kalau melihat jumlah pemilih yang datang. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya pemilih yang gagal menggunakan haknya, karena waktu yang ditentukan habis. Mengenai hal ini, kawan saya Fera Nuraini sudah membuat catatan. Bisa dilihat dengan mengklik di sini. Juga di sini...

Setelah mencoblos saya segera keluar. Mencari tempat yang teduh untuk sekadar merasakan kesejukan. Saya bertemu dengan beberapa teman dan ngobrol sebentar. Karena rasa panas ini begitu kuat dannnn lapar juga menyengat, maka saya segera bergegas ke McD. Tujuan utamanya adalah ngadem, dan makan sekaligus.

Antusias dan Kegembiraan

Pemilu sebagai sebuah pesta demokrasi, yang harus memberi kegembiraan sungguh saya rasakan. Hal ini sungguh mengharukan. Beberapa teman yang saya ajak ngobrol rata-rata mengatakan sukarela datang ke TPS, ngantri begitu lama demi mengamankan suara mereka. Mereka tidak ingin hak mereka dibiarkan begitu saja. Bahkan ada yang berkata, kalau ini ngantri sembako pasti saya sudah nyerah, mending tidak dapat sembako. Karena ini ngantri untuk memilih presiden, maka saya rela. Ada juga satu teman berujar, "selamanya saya tidak pernah berminat dengan pemilu, bahkan selalu golput, tetapi kali ini saya tidak mau golput, saya harus menggunakan hak saya."

Hal ini sangat positif, karena sebelumnya mereka apatis dan tidak terlalu memiliki harapan dengan pemilu. Tetapi sekarang sikap itu sudah jauh berkurang. Kelompok Golput mungkin masih ada tetapi saya yakin tidak banyak lagi. Tetapi kenyataan bahwa mulai banyak warga yang antusias dan penuh kegembiraan menggunakan hak mereka adalah pertanda yang sangat baik.

TERLUKA

Antusias warga dan kegembiraan warga adalah sebuah pertanda yang baik. Tetapi sayang bahwa kegembiraan itu terluka karena tidak semua warga yang ingin menggunakan haknya mampu melaksanakannya. Seperti saya singgung di atas, ada cukup banyak kawan yang gagal menggunakan hak mereka.
Tentu sangat disayangkan bahwa TPS harus ditutup jam 5. Panitia beralasan bahwa mereka menyewa lapangan hanya sampai jam 5. Sangat disayangkan bahwa mereka hanya menyewa ampai jam 5 saja. Padahala kalau para BMI memilki acara, mereka bisa menyewa sampai jam 6 atau lebih. Maka kalau panitia memiliki inisiatif yang baik, pasti akan memperhitungkan semuanya dengan baik.
Namun yang pasti, panitia tidak menyangka bahwa antusias warga begitu besar. Maka, meski mereka menyediakan TPS 13 ternyata tidak mampu menampung warga.
Luka itu semakin sakit ketika ada oknum KPU yang memberi celetukan yang menyakitkan. Dia mungkin tidak sadar saat berkomentar bahwa TPS akan dibuka asal mencoblos pasangan nomor 1. Berita mengenai ini sudah ramai di media sosial juga di media utama.

Ada rumor, sekali lagi RUMOR, bahwa ada kesengajaan dari pihak tertentu untuk membuat pemilu tidak berjalan dengan baik.

Tetapi ada hal-hal yg BUKAN RUMOR yang terjadi.
pertama, tidak semua warga diundang. Hal ini disampaikan oleh Bapak Sam dari KJRI pada tanggal 22 Juni 2014, ketika memberi sosialisasi pemilu. Ada beberapa alasan yang dikemukakan, tetapi tidak terkesan dibuat-buat.
Seandainya semua warga diundang, tidak perlu ada pendataan ulang di lapangan, yang akan menghemat waktu dan memungkinkan lebih banyak orang ikut memilih.

kedua, pertanyaan lanjutan mengapa tidak semua warga diundang adalah munculnya prasangka, mengapa tidak semua diundang? Apa dasar menentukan si A diundang dan si B diundang? dts. Kemudian, uang yg ada, yg sudah dialokasikan larinya ke mana? Dan masih banyak lagi.

Maka muncullah rumor yang mengatakan bahwa ada ketakutan kalau semua warga diundang pihak tertentu akan menang telak dan itu kurang baik bagi kelompok tertentu. Tentunya tidak baik bagi kelompok yang selama ini menikmati hasil dari pekerjaan yang kurang baik. dll..dll..dll... ini rumor ya....

Tetapi, terlepas dari rumor itu benar atau tidak, kejadian sore tadi telah melukai kegembiraan dan antusias yang telah tumbuh. 

Hong Kong, 6 Juli 2014

05 July 2014

Pemimpin yang membawa damai

Hari ini, WNI di Hong Kong melaksanakan hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara. Mereka memilih calon preseden mereka. Setelah melewati masa kampanye yang menegangkan. Hari ini, dengan cuaca yang sedikit mendung seperti memberi kesegaran kepada seluruh warga untuk berduyun-duyun ke Victoria Park. Saat membuat catatan ini saya masih di kamar. Tetapi beberapa kawan sudah mengirimkan foto suasana di sana. Saya sendiri akan memilih pada sore hari setelah perayaan Ekaristi.
Karena saat ini sudah bukan saat kampanye, maka saya tidak akan berkampanye. Toh teman-teman saya sudah tahu pilihan saya. Melalui catatan ini saya hanya ingin berkata, "pilihlah pemimpin yang menciptakan suasana damai, yang memberi ketenangan."
Pemimpin yang mampu mengambil beban hidup kita. Pemimpin yang mau berjalan bersama kita, menapaki jalan terjal kehidupan. Saya tidak sedang membuat tulisan yang melankolis dramatis, tetapi sesuatu yang kita hadapi setiap hari.

Saya sedang berbicara mengenai pemimpin yang berkata, "pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, sebab aku ini lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan."

Belajarlah dari pada-Ku.
Pemimpin yang baik adalah yang bisa diteladani hidupnya. Karena dia sendiri mengalami apa yang kita rasakan. Karena dia berasal dari tengah-tengah kita. Itulah alasan mengapa ada inkarnasi. Allah menjadi manusia, agar Allah mengerti apa yang dirasakan manusia. Jika Allah tidak menjadi manusia, Dia tidak mengerti arti penderitaan umat-Nya. 
Karena Dia sendiri menderita, maka kita bisa menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan-Nya. Kita bisa belajar dari Dia bagaimana menghadapi penderitaan. 
Dia tidak menyerah, maka kita juga tidak menyerah. Dia tetap setia, maka kita juga tetap setia.

Pemimpinmu tidak mengendarai kuda, tetapi keledai.
Lihatlah pemimpinmu, datang mengendarai keledai beban, keledai betina yang masih muda. Pemimpinmu tidak mengendarai kuda, dia nampak lemah lembut, nampak tidak gagah. Tetapi dialah pemimpin sejatimu.
Kuda adalah tunggangan para prajurit. Digunakan untuk berperang. Perang tidak pernah ada damai. Kuda adalah tunggangan pemimpin pencipta perang dan bukan damai, 
Keledai adalah tunggangan masyarakat kebanyakan. Dia lemah lembut namun setia dan kuat. Dia memberi kedamaian karena mengajarkan kesabaran. pemimpinmu mengendarai keledai, karena Dia membawa damai dan bukan perang.

Terimakasih, karena rahasia itu Engkau buka kepada orang kecil.
Terimakasih karena yang mengerti dan menerima kehadiran pemimpin sejati adalah mereka yang digolongkan masyarakat kecil. Mereka yang digolongkan sebagai masyarakat lemah, tertindas, mereka yang dikelompokkan kepada yang tersisih.
Rahasia agung itu disembunyikan kepada orang pandai, tetapi dibuka kepada orang kecil. Karena yang kecillah yang terbuka hatinya, yang mampu merasakan apa yang semestinya benar dan baik.
Terimakasih karena semuanya Engkau buka dan Engkau nyatakan kepada yang kecil.

Kecil berarti mereka yang rendah hati. Kecil berarti mereka yang mau merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mereka yang bukan pengadil, mereka yang tidak menghakimi sesamanya. Yang kecil berarti yang hanya bisa berpasrah kepada Tuhan.
Di dalam masyarakat kita kerap melihat orang tertentu atau sekelompok tertentu yang merasa dirinya paling benar. Merasa merekalah pemilik kebenaran dan berhak mengadili sesamanya dengan sebutan "KAFIR". Siapakah mereka sehingga mengkhafirkan sesamanya? Bahkan sesamanya yang juga sujud menyembah Tuhan?
Berbahagialah yang kecil, yang terbuka kepada kehendak Tuhan. Merekalah yang melihat pemimpin yang sejati, yang datang, yang ,emgendarai keledai; bukan kuda.

Pemimpin sejati kita membawa damai dalam hati kita. Damai yang datang dari pengampunan-Nya. Mungkin perahu hidup kita masih akan dihantam badai dengan mengikuti pemimpin ini. Tetapi yakinlah, perahu iman itu tidak akan pernah karam. Apalagi kalau seluruh kasih kita tautkan erat pada  tiang-tiang harapan yang menjadi penyangga kapal.
Ambillah bebanmu dan berjalanlah bersama-Ku. Berjalan dan belajarlah daripada-Ku. 

Engkau harus berjalan.
Engkau harus memanggul seluruh bebanmu juga.
Tetapi berjalanlah bersama-Ku.
Tetapi belajarlah bagaimana memanggul seluruh beban itu bersama-Ku.
Mungkin kamu berharap mengalihkan seluruh bebanmu itu padaku. Tidak menjadi soal kalau kamu memang tidak kuat lagi menyangga bebanmu itu. Tetapi teruslah berjalan bersama-Ku. Jangan berhenti berjalan. Jangan menyerah. Jangan mencari tumpangan lain. Tidak ada kuda atau keledai. Tidak taksi atau bis kota. Berjalanlah bersama-Ku.

Ini nasihat dari Santa Teresa Avila.
Jangan biarkan sesuatupun mengganggumu, jangan biarkan sesuatupun menakutkanmu. Semuanya bisa berlalu, bisa berubah; tetapi Tuhan tidak pernah berubah. Dia tinggal tetap. Kalau kamu sudah memiliki Tuhan, kamu tidak memerlukan yang lain lagi. Sebaliknya, kalaupun kamu memiliki seluruh dunia, tetapi bukan Tuhan; semuanya tidak berarti bagimu. Tuhan saja cukup. 

Lantas bagaimana belajar kerendahan hati?
1. Berdoa. Berdoa. Berdoa, karena semuanya hanya tergantung kepada Tuhan. 
2. Selalu bicaralah yang baik mengenai orang lain. Temukan hal positif pada diri orang lain. Jika kamu kesulitan menemukan apa yang baik, hal yang paling tepat dilakukan adalah mengunci mulut.
3. Taat kepada kehendak Tuhan. Mungkin kita tidak memahami dengan jelas apa kehendak Tuhan dalam hidup kita, tetapi kita bisa belajar dari ajaran Gereja. Kita hidup di dalam Gereja, dan kita percaya, kehendak Tuhan bisa kita baca di sana. 

Hong Kong, 6 Juli 2014