16 April 2014

Kisah Tiga Hari yang Suci

Sahabat, mulai hari kamis ini, kita diajak memasuki masa yang suci. kita biasa menyebutnya Tiga Hari yang Suci (Tri hari suci). Banyak orang menyebut tiga hari yang suci itu sebagai: Kamis putih, Jumat Agung dan Minggu Paskah. 

Mari kita refleksikan tiga hari yang suci itu sebagai sungguh-sungguh tiga hari, yang sungguh-sungguh suci. Hari pertama, hari kedua, dan hari ketiga. Oh iya, cara menghitung hari harus jeli dan jelas. hari dimulai pada jam 6 sore, dan berakhir pada jam 6 sore keesokan harinya. Ini yang harus dipegang. Maka, hari Kamis malam sejatinya sudah dihitung hari Jumat, hari Sabtu sore (di atas jam 6) sudah dihitung sebagai hari Minggu. Mari kita lihat dengan lebih saksama

Hari Pertama : Kasih sejati

Hari pertama dimulai pada hari Kamis malam. Berakhir pada saat Yesus dimakamkan. Hari pertama ini sangat padat, sangat banyak kejadian yang menggincang iman. Kerap kita terlena, dan tidak menyadari betapa pergantian tiap peristiwa membawa kita kepada pengenalan iman yang lebih dalam.

Malam perjamuan terakhir, ketika malam baru turun

Yesus mengadakan perjamuan paskah bersama para murid-Nya. Ada sekelumit drama yang terjadi. Mulai dari pengkhianatan, pemberitahuan mengenai penderitaan, hingga pemberian teladankasih dalam pembasuhan kaki.
Malam di mana Yesus mengadakan perjamuan, adalah malam di mana Yesus mengungkapkan makna kasih yang sejati, seperti apa kasih itu, bagaimana kasih itu harus dilakukan. "Kalau aku Guru dan Tuhanmu melakukan ini, maka kamu harus melakukannya satu dengan yang lain." Itu pesan terakhir yang diberikan Yesus. Kasihilah satu akan yang lain. 
Kasih yang bukan didasarkan pada rasa senang dan tidak senang. Kasih yang bukan didasarkan pada kepentingan. Kasih yang hanya didasarkan pada niat membuat Allah makin dimuliakan. Kasih yang mengambil contoh dan perannya dari kaish Allah kepada manusia.

Di Taman Gethsemani, menjelang tengah malam

Seusai perjamuan, Yesus membawa para murid ke taman Gethsemani. Mereka sudah biasa ke sana, tetapi malam ini bukan yang biasa. Malam ini Yesus penuh ketakutan. Hatiku sangat sedih rasanya. Kesedihan itu begitu kuat, karena Yesus melihat derita yang akan Dia jalani. 
Dia tinggalkan rombongan para murid yang besar dan hanya mengajak tiga murid untuk menemaninya masuk lebih dalam. Namun pada satu titik, Yesus juga meninggalkan mereka, dengan berpesan agar mereka berjaga dan berdoa. Yesus masuk lebih dalam untuk berdoa. Dalam doanya itu terlihat ketakutan dan deritanya.
Kemudian datanglah semua gambaran yang harus Dia jalani. Datanglah para malaikat. Mereka menopang, mereka mencoba menguatkan. Aeandainya Yesus tidak menjalankan, seandainya Yesus tidak meminum cawan itu. Dahulu kala, manusia diciptakan dari debu tanah. Kemudian dari rusuk laki-laki itu diciptakanlah perempuan.
Rusuk itu dibuka. Rusuk Yesuspun nanti juga akan dibuka, ditusuk dengan tombak. Ketika dari rusuk manusia pertama diciptakan manusia lain, dari rusuk Yesus mengalir sumber kehidupan baru untuk manusia. Darah dan air, lambang kehidupan baru. Semua manusia membutuhkan pembaharuan, membutuhkan penyelamatan, membutuhkan darah dan air yang baru. Dan itu hanya mungkin kalau Yesus menjalani semua perutusan-Nya. Akhirnya cawan itupun diminum, dan semua dijalani.

Yesus ditangkap dan diadili, pagi-pagi buta hingga pagi

Setelah pergulatan di taman, Yesus ditangkap. Sahabat dekatnya, yang telah berubah menajdi pengkhianat memimpin rombongan penangkap. Mereka datang lengkap dengan senjata dan pentung, seolah mereka akan menangkap kawanan penjahat. Padahal Yesus selalu berada di tengah jemaat, Yesus tidak pernah sembunyi-sembunyi. Ketika ditangkap para murid lari kocar-kacir. 
Setelah ditangkap Yesus dibawa ke rumah Anas, salah seorang imam kepala. Dia adalah mertua Kayafas, Imam Agung waktu itu. Yesus dibawa ke sana untuk diadili, lebih tepatnya dicarikan alasan kesalahannya agar bisa dihukum. 
Peradilan bukan untuk mencari keadilan. Peradilan hanya untuk mencari kesalahan Yesus, meskipunitu hanya dicari-cari. Maka segala alasan palsu dan saksi palsu diajukan. Tujuannya hanya satu, Yesus harus dilenyapkan. Mereka telah menyimpan kebencian setinggi leher, dan sudah tiba saatnya untu dimuntahkan.
Kemudian mereka membawa Yesus kepada Pilatus. Mereka tidak memiliki kewenangan untuk menghukum seseorang dengan hukuman mati. kewenangan itu hanya milik peremintah Romawi, dan Pilatus adalah gubernur untuk pemerintah Romawi. Hari masih pagi ketika mereka memabwa Yesus ke sana.
Pilatus tidak menemukan kesalahan apapun. Tetapi rakyat tetap menuntut Yesus agar dihukum mati. Bahkan mereka menuntut hukuman yang paling keji, yaitu disalibkan. Mereka ingin menghina Yesus sehabis-habisnya. Mereka tidak puas kalau hanya membunuh Yesus, mereka juga ingin menghina Dia sejadi-jadinya.

Yesus disalibkan dan wafat, menjelang tengah hari dingga menjelang sore hari

Akhirnya hukuman dijatuhkan. Yesus dijatuhi hukuman mati dengan disalibkan. Dia harus memanggul sendiri palang salibnya. Mungkin waktu Yesus dijatuhi hukuman mati sekitar jam 9 pagi. Kemudian perjalanan menuju ke bukit di mana Dia akan disalibkan memakan waktu 3 jam. 
Sesampai di sana hari sudah tengah hari. Yesus kemudian disalibkan. Menurut catatan Kitab Suci, Yesus tergantung di sana kurang lebih selama 3 jam. Jadi kemungkinan besar Yesus meninggal pada jam 3 sore.
Masih ada tiga jam lagi sebelum hari Sabbat datang. Hari Sabbat itu hari Sabtu, orang dilarang melakukan banyak pekerjaan. Juga tidak diperbolehkan ada mayat yang tergantung di salib. Maka Yesus segera diturunkan dari salib dan dimakamkan. Setelah semuanya selesai, mereka pulang.
Ada kabar yang mengatakan bahwa Maria memiliki rumah di Yerusalem, maka mereka kembali ke rumah Maria di sana. Karena hari Sabbat sudah akan segera datang, maka mereka harus segera masuk ke rumah. 
Hari pertama berakhir dengan pemakaman Yesus. Dan mulailah hari suci yang kedua.

Hari Kedua : Harapan Sejati

Hari kedua dimulai pada hari Jumat sore, jam 6, dan akan berakhir pada Sabtu sore, jam 6 juga. Suasana hari kedua adalah suasana sepi dan berkabung. Yesus berada di makam. Selain itu peraturan Sabbat memang tidak memperbolehkan orang melakukan banyak kegiatan. Maka yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dan meratap sedih akan kematian Yesus. Suasana berkabung. Kitapun juga berkabung.
Apa yang bisa diisi dalam situasi ini? Ada baiknya kalau kita juga ikut berjaga bersama Yesus yang sedang bergulat melawan maut di alam kematian. Kita berjaga dan berdoa. Suasan sepi sangat baik untuk dipakai bermenung. Sebaiknya juga kita ikut mematikan segala dosa dan keakuan.
Saya memberi nama hari kedua ini sebagai Harapan Sejati. Yesus yanga dalah pokok harapan kita telah mati. Masihkah kita memiliki harapan? Dan saya menemukan bahwa, harapan sejati itu adalah kalau harapan untuk berharap saja sudah tidak ada tetapi saya masih tetap berharap, itulah harapan sejati. Berharap bukan pada apa yang kelihatan, tetapi pada Yesus yang ada di makam.
Sedikit catatan. di banyak tempat hari Sabtu ini menjadi begitu sibuk, sehingga tidak sempat untuk berjaga dan bermenng bersama Yesus yanga da di makam. Banyaknya persiapan untuk malam Paskah membuat banyak orang terpusat dan tercurah hanya untuk bekerja dan bekerja.

Hari Ketiga : Iman Sejati

Harapan itu tidak sia-sia. Iman itu akhirnya mendapatkan jawabannya. Ketika hari Sabbat berakhir pada hari Sabtu sore, jam 6, hari ketiga dimulai. Tetapi hari sudah malam, tidak ada yang beraktivitas. Juga para murid dan keluarga Yesus. Maka ketika hari masih pagi, pada Minggu pagi, sahabat dekat Yesus segera bergegas ke makam. Mereka ingin menjenguk dan memberi minyak-minyak serta bunga-bunga. Mungkin ketika dimakamkan, semuanya berjalan dengan cepat-cepat saja. Maka dua sahabat dekat Yesus ingin menyempurnakan apa yang mereka lihat belum lengkap.
Namun karena terdorong oleh rasa cinta, mereka tergesa-gesa dan lupa akan siapa yang akan membuka pintu kubur. Kubur itu ditutup dengan batu. Siapa yang akan membukanya bagi mereka, karena mereka hanyalah perempuan yang lemah. Tetapi logika sepertinya sudah kacau balau. Dorongan hati untuk segera sampai di makam lebih kuat daripada logika membuka pintu makam. Sesampai di sana mereka menjumpai makam sudah terbuka, dan mereka hanya menemukan makam yang kosong. Lalu ada malaikat memberitahukan bahwa Yesus telah bangkit.
Iman sejati itu bukan bersadar kepada panca indera atau pemahaman logika. Iman sungguh hanya bersandar kepada Cinta dan Pengharapan pada Allah. Iman dua perempuan itu memberi penjelasan bahwa Yesus memang sudah bangkit, bukan karena mereka melihat Yesus bangkit, mereka hanya melihat makam yang kosong. Mereka juga hanya mendengar dari malaikat yang mengabarkan bahwa Yesus sudah bangkit.
Demikian juga dengan kita, kita tidak pernah melihat Yesus bangkit. tetapi kita percaya bahwa yesus bangkit. Itulah iman. Bukan karena indera dan bukan karena pemahaman pengetahuan. Tetapi sungguh karena dasar kepercayaan akan Tuhan dan Cinta yang besar akan Tuhan.

Penutup

Inilah sedikit bahan untuk bereflesi selama masa Tiga Hari yang suci ini. Semoga Cinta, Harapan dan Iman Anda semakin besar.


Drama Kisah Sengsara Tuhan (5)


Kisah sebelumnya

Setelah melewati perjalanan panjang memanggul salib, akhirnya Yesus sampai di bukit Kalvari,a tau juga dikenal dengan bukit Golgota. Artinya bukit tengkorak. Di sana Yesus disalibkan. Bukan hanya disalibkan, Dia juga dihinakan. para prajurit, para pemuka agama, mereka menghina Yesus dengan hujatan dan cemoohan. Inilah saat terakhir itu.

#babak XVI : Yesus wafat di salib (Mat 27:45-56)

Tibalah saat yang mengerikan. Langit tiba-tiba saja bersedih. Alam seakan merasakan kegundahan yang besar yang sedang terjadi. Kegelapan menyelimuti seluruh daerah. Tiga jam lamanya alam menajdi gelap.
Saat-saat yang mencekam, saat-saat terakhir Yesus menjalani perutusan-Nya, menyelamatkan manusia dengan mati di salib. Malam sebelumnya Dia sudah berjuang, sudah melihat semuanya ini akan terjadi. Ia sudah gentar, tetapi karena kecntaan dan ketaatan kepada kehendak Bapa-Nya, Dia minum cawan itu, Dia jalani perutusan-Nya sampai akhir.
Meski demikian, merasa sendirian di atas salib sungguh menyakitkan. Di antara segala sesak itu Dia berseru, ‘Eli, eli, lama sabaktami.” Dia berseru dalam bahasa ibunya, bahasa masa kecil-Nya, untuk menunjukkan betapa kasihnya yang besar kepada Bapa-Nya. Kata-kata itu berarti, Bapa mengapa Engkau meninggalkan aku. Saat yang paling mengerikan itu Yesus merasa sendirian. Dia masih berharap bahwa Bapa-Nya menemani Dia. Tetapi seperti yang sudah Dia tahu, semua harus dijalani sendirian.
Sayang bahwa para prajurit di sekeliling Yesus, dan beberapa orang di sana tidak memahami bahasa cinta Yesus. Mereka tidak mengerti relasi kasih yang begitu mendalam. Mereka hanya melihat kebencian dan berusaha mengejak. Mereka menerjemahkan panggilan “Eli” sebagai “Elia”, nabi besar bangsa Yahudi. Mereka masih mengejek Yesus dengan mengatakan, “mari kita tunggu apakah elia akan datang menolong dia.”
Orang-orang itu tidak tahu, bahkan Elia sudah meneguhkan Yesus untuk menyelesaikan perutusan-Nya. Bersama Musa di puncak bukit beberapa waktu yang lalu, ketika Yesus masih dalam perjalanan ke Yerusalem. Saat itu kegentaran sudah mulai ada, dan Elia serta Musa datang menemui Yesus, memberi kekuatan. Orang-orang itu tidak tahu bahwa Yesus berseru kepada Bapa-Nya. Bapa yang tidak pernah mereka kenal.
Orang-orang itu tidak sadar, bahkan juga dengan gelaja alam yang timbul. Setelah Yesus berteriak, bumi bergoncang hebat, tirai Bait Suci yang menjadi sekat antara ruang kudus dan ruang mahakudus koyak dari atas ke bawah. Banyak kuburan terbuka, batu-batu penutup semuanya tergeser. Banyak orang mati, para kudus dari jaman dulu keluar. Mereka masuk ke kota-kota dan membuat kegaduhan. Orang-orang yang penuh kebencian itu tidak menyadari semuanya. Bukan hanya matanya, tetapi terlebih hatinya telah buta.
Ternyata yang ada di bawah salib tidak semuanya buta. Ada beberapa orang yang terus mengikuti Yesus dengan cinta yang besar. Maria, ibunya. Maria Magdalena, dan murid yang Dia kasihi. Mereka setia mengikuti Yesus. Mereka setia sampai akhir. Mereka tidak takut dengan para prajurit dan para pemimpin agama. Bersama mereka juga ada Maria ibu Yakobus dan Yosef, Istri Zebedeus, ibu Yohanes dan Yakobus, juga ada beberapa perempuan yang datang dari Galilea. Mereka setia mengikuti Yesus, meski dengan kesedihan yang sangat mendalam.
Di luar orang-orang yanag sudaha mengenal Yesus sejak lama, ada satu orang yang baru mengenal Yesus. Dia adalah prajurit yang turut menyalibkan Yesus. Dia menjalankan semuanya sebagai perintah atasan. Dia tidak tahu siapa Yesus, tetapi dia tahu ada perbedaan pendapat. Bahwa pimpinannya, Pilatus, sebenarnya tidak setuju orang ini dihukum mati, karena memang dia tidak bersalah. Prajurit ini, yang kebetulan kepala pasukan, mengamati semuanya. Dan ketika melihat Yesus wafat dengan cara demikian, dia hanya berseru, “sungguh, orang ini adalah orang beanr, sungguh anak Allah!”

Ya Tuhan, karena kesedihan dan beban hidup, kami kerap tidak mampu melihat kebenaran. Kami kerap tidak mampu bertahan, dan akhirnya jatuh dalam dosa yang lebih dalam. Semoga kami mampu setia seperti perempuan-perempuan yang mengikuti Engkau dari Galilea. Seperti Ibu-Mu. Juga, semoga kami mampu melihat kebenaran seperti yang dialami oleh kepala pasukan, yang mampu mengenal Engkau dalam saat-sat terakhir. Mampu mengungkapkan iman kami dengan jujur, bahwa Engkaulah Tuhan.

#babak XVII : Yesus dimakamkan (Mat 27:57-61)

Jenasah Yesus harus segera diturunkan. Karena hari Sabbat (Sabtu) sudah hampir tiba dalam hitungan jam, maka salah satu murid Yesus, Yusuf yang berasal dari Arimatea meminta ijin kepada Pilatus untuk menurunkan jenasah Yesus. Setelah diturunkan, Jenasah Yesus segera dikafani dan dimakamkan. Yesus dimakamkan di makam kosong milik Yusuf, yang belum pernah dipakai. Di depan pintu makam Nampak Maria Magdalena dan Maria yang lain duduk dengan sedih.

Ya Tuhan, Engkau telah dimakamkan, Engkau berperang melawan maut demi kami. Biarlah kami berjaga bersama Maria Magdalena dan Maria yang lain di depan pintu makam. Biarlah kami berjaga menyambut kemenangan-Mu. Terlebih, biarlah kami berjaga agar kami tidak jatuh lagi dalam dosa yang membuatmu makin menderita.

#babak XVIII : Para penjaga (Mat 27:62-66)

Yesus sudah dimakamkan. Meski demikian ketakutan belum hilang. Para pembenci Yesus masih berusaha mencari cara membungkam kemungkinan kebangkitan. Mereka meminta kepada Pilatus agar menempatkan para prajurit untuk menjaga makam. Alasanpun dirancang, yaitu untuk menjaga ketenangan masyarakat.

Ya Tuhan, kuasa gelap tidak akan mampu membelenggu-Mu. Juga di dunia, kuasa gelap tidak akan mampu mengalahkan terang kebangkitan. Biarpun sepasukan tentara menjaga untuk membelenggu terang, Sang Terang akan tetap bersinar. Biarlah semangat itu juga terus menggema hebat dalam hati kami.
Engkau telah memberikan teladan dalam diri Putera-Mu, memberikan diri seutuhnya bagi semua orang. Seperti hujan yang tercurah untuk orang baik dan orang jahat. Seperti matahari yang menyinari seluruh alam, yang elok maupaun yang kurang elok. Semua mendapat sinar yang sama. Semoga kami mampu meneladannya dan membiarkan terang kami bercahaya untuk semua. Bukan karena kami, tetapi karena Engkaulah yang mulia dan meraja kini dan sepanjang masa.

selesai

15 April 2014

Drama Kisah Sengsara Tuhan (4)


Kisah sebelumnya

Yesus diadili. Pertama-tama diadili oleh pengadilan agama Yahudi. Kemudian dibawa kepada Pilatus. Meski dalam pengadilan Pilatus tidak menemukan kesalahan apapun, rakyat tetap menuntut Yesus dihukum mati. Rakyat hanya terpengaruh desakan sekelompok orang, yaitu para elit pemimpin agama saja.

#babak XIII : Yesus dimahkotai duri (Mat 27:27-31)

Drama kisah sengsara Tuhan sudah mencapai bagian klimaksnya. Yesus sudah dijatuhi hukuman mati meskipun tidak bersalah. Pemuka agama Yahudi telah dibutakan oleh kebencian sehingga menuntut darah dari orang yang tak bersalah. Pilatus karena rasa takut akhirnya memilih dari dengan kecut. Kebenaran tidak ditegakkan, keadilan tidak dijalankan. Tetapi itu menajdi bagian dari rencana Allah yang harus diikuti.
Sebuah anyaman duri berbentu seperti mahkota dikenakan kepada kepala Yesus. Pedih, sakit, dan berdarah. Mereka bukan saja mengenakan anyaman duri di kepala Yesus, mereka menancapkannya. Mereka seolah tidak puas kalau tidak melihat darah mengucur dari kepala Yesus.
Mereka mengenakan pakaian ungu dan memegangkan tongkat buluh pada tangan Yesus. Mereka memperlakukan sperti raja dengan jubbah kebesaran dan mahkota. Tetapi raja yang mereka buat adalah sebagai olok-olok belaka. Mereka menghina, mereka buta dan tidak tahu kepada siapa mereka berlaku.
Bahkan mereka bertindak lebih durjana, lebih daripada para durjana. Mereka menutup mata Yesus dan memukulnya, kemudian mereka bertanya siapa yang memukul. Mereka tertawa, seolah ada pencuri ayam yang abru dihakimi masa, babak belur karena kebencian, bukan karena kejahatan. 
Dengan kebencian yang besar pula, mereka letakkan kayu salib yang berat untuk dipanggul Yesus. Badan sudah lemah akibat penyiksaan, darah sudah mengalir deras dari kepala dan mengurangi pandangan. Mereka masih belum puas, mereka terus menyiksa dan menghujat.

Ya Tuhan, kami juga kerap memperlakukan Engkau secara demikian. Kami kerap tidak tahu bersikap, tidak tahu berbuat. Kerap kami memeprmalukan Engkau di hadapan sesama kami. Kami lupa bahwa setiap dosa yang kami buat adalah sebuah duri yang mencap di kepala-Mu. Tuhan ampunilah kami. Ampunilah setiap kesalahan yang membuat-Mu makin berat memanggul salib, karena dosa kami adalah salib yang harus Engkau panggul.

#babak XIV : Yesus disalibkan (Mat 27:32-38)

Putusan telah dijatuhkan. Yesus harus mati dengan cara disalibkan. Cara penghukuman yang paling hina. Orang-orang Romawi bahkan tidak menghukum warganya dengan disalibkan. Orang-orang Yahudi percaya bahwa mereka yang dihukum salib adalah orang-orang yang dikutuk Allah.
Sesuai dengan kebiasaan waktu itu, mereka yang dijatuhi hukuman mati harus memanggul sendiri palang salibnya. Mereka disiksa sedemikian rupa sehingga tidak jarang ada yang sudah meninggal dalam perjalanan memanggul salib. Mungkin ada harapan bahwa mereka yang dihukum salib tidak terlalu lama menderita.
Orang-orang Yahudi tersebut bukan hanya ingin membunuh Yesus, mereka juga ingin mempermalukan Yesus. Maka mereka berharap agar Yesus tidak cepat mati. Maka ketika melihat kondisi Yesus semakin lemah dan beberapa kali terjatuh, mereka memaksa seorang pria yang abru pulang dari lading untuk membantu Yesus. Nama orang itu Simon. Menurut cerita dia berasal dari Kirene. Dengan dibantu oleh Simon ini Yesus melanjutkan perjalanan menuju tempat yang disebut tempat tengkorak. Karena memang sudah sering dijadikan tempat penghukuman, sehingga banyak tengkorak berserakan. Dalam bahasa Ibrani disebut Golgota.
Setelah Yesus disalibkan, para prajurit membagi-bagi pakaian Yesus. Berhubung pakaian Yesus hanya terdiri dari selembar kain, maka mereka mengundinya. Mereka melakuakns emua sambil terus mengejek Yesus. Mereka juga memberi Yesus minuman duka bercampur anggur. Jelas rasanya asam, tujuannya untuk mengurangi rasa sakit. Namun Yesus menolaknya.
Di samping kiri dan kanan Yesus juga disalibkan penjahat. Yang membedakan adalah, di atas kepala Yesus ada tertera alasan mengapa Yesus disalibkan. Yaitu karena Yesus orang Nazareth raja orang Yahudi. Orang-orang Yahudi menolak kata-kata itu, tetapi Pilatus bersikeras bahwa apa yang sudah ia tulis biarlah tetap tertulis.

Ya Tuhan, Engkau merelakan Putera-Mu disalibkan demi kami. Kami yang terus degil dengan segala kedosaan kami. Kami yang terus berkanjang dalam dosa. Ya Tuhan, curahkanlah Roh-Mu agar kami mampu mengikuti Sabda Puter-Mu untuk setia di jalan yang telah diajarkan-Nya. Biarlah kami berhenti mengejek dan memperberat penderitaan Yesus dengan dosa-dosa kami.

#babak XV : Yesus dihina (Mat 27:39-44)

Pendritaan Yesus belum berakhir. Ejekan datang silih berganti. Ada yang berkata, “kamu yang hendak menghancurkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah dirimu sendiri kalau kamu memang anak Allah.” Itu adalah ejekan yang menyakitkan, karena mereka tidak tahu apa yang mereka katakan.
Jelas bait Allah yang hendak dihancurkan oleh Yesus adalah bait Allah yang penuh dengan dosa, yaitu hidup manusia. Dan Yesus memang akan membangunnya kembali dalam tiga hari. Paulus berkata, barang siapa mati bersama Kristus, dia akan bangkit bersama Kristus, dia akan menjadi manusia baru.
Ejekan yang lain juga datang. “Orang lain dia selamatkan, tetapi dirinya sendiri tidak mampu dia selamatkan.” Ejekan ini persis seperti ejekan yang ditujukan kepada dokter-dokter spesialis. Banyak orang berhasil dia tolong, tetapi kerap kali mereka juga meninggal karena penyakit yang sama. Atau ejekan kepada dukun-dukun di pinggir pasar. Mereka meramal nomor-nomor togel, kemudian ada ejekan, kenapa mereka tidak pasang sendiri nomor itu agar mereka jadi jutawan dan tidak perlu menjual ramalan lagi.
Tetapi ejekan itu berbeda, dan alasannya berbeda. Yesus mempu menyembuhkan dan menolong banyak orang. Tetapi memang Dia tidak mau menolong dirinya sendiri. Cinta sejati adalah pemberian diri sepenuhnya. Jika Yesus menggunakan kuasanya untuk dirinya sendiri, semuanya menajdi tidak berarti lagi.
Ejekan-ejekan itu seperti godaan di gurun pasir dahulu kala. Tatkala Yesus dipaksa menggunakan kekuasaanya untuk mengubah batu menjadi roti, atau meloncat dari bubungan Bait Allah. Semuanya adalah ejekan dan godaan si jahat. Kuasa yang dimiliki bukan untuk pamar diri, tetapi untuk keselamatan manusia. Demikianpun dengan kondisi di salib. Semua harus dijalani, semua harus terjadi seperti yang direncanakan oleh Allah Bapa.

Tuhan ajarilah kami berani menjalani hidup kami seperti yang Engkau kehendaki. Jauhkanlah dari hati kami segala niat untuk pamer diri dan kuasa. Semoga kami juga mampu menerima ejekan-ejekan yang diberikan kepada kami. Biarlah semuanya menjadi kemuliaan bagi-Mu, terlebih jika kami diejek karena mengikuti Engkau, karena mencintai Engkau.

bersambung

14 April 2014

Drama Kisah Sengsara Tuhan (3)

Kisah sebelumnya...

Diceritakan bagaimana Yesus mengadakan Ekaristi. Pemberian diri sepenuhnya, memberikan tubuh dan darahnya sebagai makanan dan minuman. Pemberian diri itu akan dipenuhi dalam kematian di salib.
Kisah pemberian diri itu dilanjutkan dengan drama kemanusiaan Yesus di taman Getshemani. Kita dipertontonkan sisi manusiawi Yesus, Yesus yang benar-beanr takut bukan rekayasa. Bagaimana malaikat mencoba menopang Dia. Mungkin teks yang tersaji kurang menampilkan itu dengan teliti, tetapi apa yang ada di balik itu semua sungguh menguras emosi. Kisah dilanjutkan dengan penangkapan Yesus. Sekarang kita simak kisah Yesus yang diadili.

#babak VIII : Di hadapan Sanhedrin (Mat 26:57-68)

Setelah ditangkap, Yesus dibawa ke pengadilan Agama Yahudi (Sanhedrin). Semuanya serba terburu-buru. Hari masih amat pagi, bahkan matahari belum menampakkan diri. Tetapi persoalan itu harus segera diatasi, itu piker sebagian dari mereka.
Agak aneh bahwa pada hari sepagi itu, di pengadilan agama sudah berkumpul banyak orang, Imam kepala Kayafas dan lain-lainnya. Mengapa mereka tidak mau menunggu beberapa saat sehingga hari segera terang dan seluruh anggota lengkap berkumpul. Itulah konspirasi. Itulah drama. Harus ada yang menegangkan, harus ada intrik di dalamnya. 
Mulailah dicari kesaksian palsu untuk menghukum Yesus. Dasarnya bukan karena Yesus berbuat salah. Dasarnya adalah mereka sangat membenci Yesus. Kebencian itu sudah berakar di hati mereka dan itulah dasar dari semuanya. Tidak perlu pembuktian benar hitam di atas putih. Kebencian bisa menciptakan semuanya. Menciptakan alasan, menciptakan bukti dan saksi.


Tuhan, kiranya engkau menjauhkan kebencian dalam diri kami, sehingga kami tidak dikaburkan oleh amarah dan dendam. Biarlah pengalaman hidup kami menjadi serat-serat yang menyaring dan memurnikan, bukan debu-debu pemupuk kebencian dan dendam.


#babak IX : Petrus menyangkal (Mat 26:69-75)

Di pengadilan agama, putusan telah dijatuhkan. Di luar kegaduhan juga terjadi. Ada beberapa murid yang mencoba mengikuti Yesus dari jauh. Salah satunya adalah Petrus yang tadi begitu gagah berkata akan rela mati demi Sang Guru. Sekarang dia duduk takut-takut di antara orang yang menghangatkan badan di luar gedung pengadilan.
Adalah perempuan-perempuan yang bekerja di gedung tersebut mengenali Petrus. Dengan tegas perempuan itu berkata kepada Petrus, “Engkau juga selalu bersama dnegan orang Galilea itu.” Petrus menyangkal lalu pindah ke dekat pintu gerbang.
Di sana ada perempuan lain yang mengenali Petrus. Kontan saja dia berkata, “orang ini bersama-sama dengan Yesus orang Nazareth itu.” Petrus kembali menyangkal “Aku tidak kenal orang itu!”
Jawaban Petrus mengundang orang-orang di sekitar untuk datang. Mereka juga mengenali Petrus dan berkata, “Pasti engkau salah satu dari mereka. Itu jelas sekali dari bahasamu!”
Petrus kembali menyangkal. Bukan hanya menyangkal, dia juga mengutuk dan bersumpah. “Aku tidak kenal orang itu!” Setelah itu terdengarlah kokok ayam sebanyak tiga kali. Maka teringatlah dia akan kata Gurunya, “Sebelum ayam berkokok tiga kali engkau telah menyangkal aku tiga kali.”
Petrus sedih. Ia pergi keluar sambil menangis dan sedih. Dia tidak pernah berniat mengkhianati Gurunya, tidak pernah. Tetapi dia takut. Ketakutan itu begitu menyengat sehingga seluruh kesadaranpun hilang lenyap.

Ya Tuhan, ampunilah aku. Tak jarang aku bersikap seperti Petrus menyangkal Engkau dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak ketakutan yang membuat aku seolah tidak mengenal Engkau. Ada ketakutan akan kehilangan rasa hormat, ada ketakutan akan kehilangan pamor, kehilangan pekerjaan, kehilangan kenikmatan. Tuhan ampunilah aku.

#babak X : Dihadapkan kepada Pilatus (Mat 27:1-2)

Rakyat yang berkumpul adalah masa yang hanya ikut apa keputusanpara elite. Pemimpin berkata A, mereka bersorah A, pemimpin berkata merah, mereka bersorak merah. Mereka sesungguhnya tidak memiliki persoalan pribadi dengan Yesus. Mereka hanya mengikuti apa kemauan pemimpin.
Juga tidak semua pemimpin setuju dengan pendapat untuk membunuh Yesus. Mereka juga tidak memiliki kewenangan untuk menjatuhkan hukuman mati. Maka mereka membawa Yesus kepada Pilatus, gubernur pemerintah Roma yang memiliki kewenangan untuk menjatuhkan hukuman.


Ya Tuhan, kami juga kerap seperti rakyat yang hanya ikut ke kanan dan ke kiri. Tidak memiliki pedoman untuk berdiri dan menentukan sikap. Kerap kami hanyut dalam arus dan kemudian menyesal. Tuhan bantulah kami untuk berani bersikap, dan menjadikan SabdaMu sebagai pegangan dalam hidup.

#babak XI : Kematian Yudas (Mat 27:3-10)

Si pengkhianat itu insyaf tetapi terlambat. Sahabat yang ia jual seharga 30 keping perak ternyata memang tidak bersalah, tidak melakukan perlawanan, tidak mendatangkan bala bantuan dari surga. Si pengkhianat itu insyaf, tetapi terlambat.
Dia mencoba menahan, dia mencoba memutar waktu. Dia datangi petinggi agama, dia katakana bahwa dia telah khilaf dengan menjual orang tak bersalah. Dia kembalikan uang bayaran. Tetapi petinggi agama tidak peduli. Mereka tidak mau tahu, yang penting mereka sudah mendapat apa yang mereka cari.
Si pengkhinat makin bingung dan khilaf. Ada takut ada sesal, tetapi semua terlambat. Dia telah membunuh orang benar. Dia telah menjual orang tak bersalah. Pikirannya buntu, hatinya beku, semua tak menentu. Maka ada secercah terang datang dari neraka. Mengakhiri hidup adalah langkah sempurna. Dari pada hidup menanggung malu karena menjual orang benar maka mati lebih baik. Itu pikirnya. Dan ia pun menggantung diri. Uang yang ia dapat dari menjual Yesus dibelikan sebidang tanah untuk menguburkan si pengkhianat.

Tuhan, jauhkan aku dari segala niat jahat. Berilah aku pikiran dan hati terang untuk bertobat. Jangan biarkan hati dan pikrianku beku sehingga tidak melihat jalan keselamatan yang Engkau tunjukkan.

#babakXII : Di hadapan Pilatus (Mat 27:11-26)

Yesus sudah berada di hadapan Pilatus. Seperti anak domba yang kelu di hadapan yang akan membunuhnya. Pilatus terpaksa bertindak sebagai hakim atas permintaan para pemuka Yahudi. Pilatus yang mewakili pemerintah Romawi berusaha bertindak adil.
Dia mulai bertanya beberapa hal yang memungkinkan Yesus dituntun hukuman mati atau sebaliknya dibebaskan. Di sini Pilatus tidak menemukan satu kesalahanpun yang memungkinkan Yesus dijatuhi hukuman mati.
Apalagi setelah Pilatus menerima pesan dari istrinya yang menceritakan bahwa orang ini adalah orang suci. Rupanya istri Pilatus telah mengenal Yesus. Mungkin dengan diam-diam telah mengikuti sepak terjang Yesus. Bahkan ada yang mengatakan bahwa istri Pilatus telah beberapa kali ikut mendnegarkan pengajaran Yesus, meskipun dengan sembunyi-sembunyi.
Maka Pilatus berusaha membebaskan Yesus. Namun para pemuka umat Yahudi dan rang-orang Farisi terus mendesak Pilatus untuk menjatuhkan hukuman mati. Bahkan ketika Pilatus memberi pilihan untuk memilih antara Yesus dan Barabas, mereka memilih Barabas.
Harap dicatat, Barabas ini adalah penjahat dan pembunuh. Mengapa orang-orang ini lebih memilih Barabas daripada Yesus? Karena mereka membenci Yesus. Kebencian itu telah mendarah daging, telah masuk sampai ke tulang sumsum. Maka meskipun Pilatus memberi pilihan yang baik, mereka tetap memilih yang buruk. Meskipun Yesus kerap melakukan tindakan yang baik, mereka malah memilih pembunuh dan penajhat. Itu semua karena kebencian yang sudah merasuk dalam sampai ke tulang sumsum.
Pada bagian akhir juga kita lihat sisi manusiwai Pilatus. Sisi ketakutan akan kehilangan kuasa dan tekanan masa. Maka dia memilih cuci tangan dan tidak berani mengambil risiko yang lebih besar. Akhirnya dia memutuskan Yesus dijatuhi hukuman mati.

Ya Tuhan, kami seringkali juga bersikap seperti orang banyak itu. Didera kebencian yang sangat besar sehingga tidak mampu melihat sesuatu dengan lurus dan jujur. Akibatnya juga tidak mampu melihat kebenaran dengan jernih sehingga kerap memilih yang buruk dan salah dibandingkan memilih yang baik dan kotor.
Kami juga kerap bersikap seperti Pilatus, meski melihat hal yang benar tetapi takut mengambil risiko. Kami kerap takut menghadapi risiko, takut kehilangan muka di hadapan banyak orang, kami takut kehilangan nama baik dibandingkan memilih yang benar.
Tuhan ampunilah kami atas segala kedegilan hati kami, atas segala kekecilan hati kami dan ketakutan kami.


(bersambung)