06 October 2014

Mendengarkan...

Sudah cukup lama saya tidak menulis catatan di blog. Kharakter Cina rupanya menyita seluruh perhatian saya. Tetapi hari-hari ini, perhatian saya terarah pada satu kharakter, yaitu karakter  聰 atau CŪNG (dibaca dengan nada agak tinggi, seperti nada MI).
Karakter ini memiliki arti dasar MENDENGARKAN. Mengapa saya katakan memiliki arti dasar, karena karakter ini juga memiliki arti lain, yaitu cerdas. Bagi saya sangat menarik bahwa kata mendengarkan itu sejajar dengan kata cerdas. Memang kata cerdas memiliki dua karakter, 聰明, CŪNG MÌHNG (kata mihng dibaca dengan cengkok turun, seperti dari nada DO ke nada SOL rendah).
Mari kita kembali ke karakter 聰. Karakter ini memiliki unsur telinga, yaitu 耳 (yíh, dibaca dengan cengkok LA rendah ke SI rendah) dan hati, yaitu 心 (sām, dibaca dengan nada MI).

Mendengarkan itu nggak cukup hanya dengan TELINGA, tetapi juga dibutuhkan HATI.
Nah, ketika seseorang sudah mendengarkan bukan hanya dengan telinga tetapi juga dengan hati, orang tersebut CERDAS. Orang tersebut mampu memilih bagian yang terbaik.

Nahhhhh.... Pada bagian ini saya teringat kata-kata Yesus pada Marta tentang Maria. Waktu itu Marta komplain pada Yesus, karena Maria tidak membantunya di dapur tetapi malah enak-enakan duduk di dekat kaki Yesus. Lalu Yesus menegur Marta,  "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Bagian yang terbaik, yang secara CERDAS dipilih oleh Maria adalah duduk manis mendengarkan Yesus. Tentu bukan hanya mendengarkan dengan telinga, tetapi juga dengan hati. Maria memang 聰明人 (cūng mìhng yàhn).

Ahhh, saya jadi malu dengan Maria. Kalau begitu saya tutup dulu catatannya. Mari kita ikuti Maria, memilih bagian yang terbaik.

Hong Kong, 6 Oktober 2014

18 September 2014

Menjadi Karmelit di Belantara Megapolitan

17 September 2014 adalah peringatan 800 tahun wafatnya St. Albertus pemberi regula (law giver) bagi karmelit. Saya mencoba merenungkan sedikit mengenai pasal 5 dalam regula tersebut.

“Selanjutnya, kamu boleh bertempat tinggal di tempat-tempat yang sunyi atau di tempat manapun yang diberikan kepadamu, yang menurut pandangan prior dan para saudara dianggap cocok dan layak untuk menghayati hidup kebiaraanmu.” (Regula 5)

Tempat sunyi di tengah megapolitan
Saya masuk Karmel pada tahun 1996. Kemudian sampai tahun 2003 saya tinggal di rumah pendidikan. Sejak tahun 2004 saya mulai tinggal di rumah karya. Mulai keluar dari kehangatan dan keheningan rumah pendidikan. Mulai menghayati hidup sebagai Karmelit di tengah medan karya yang tidak selalu gampang. Bahkan idealisme dan cita-cita awal tidak selalu bisa dijalankan.
 
Sejak tahun 2004 tersebut hingga sekarang (2014), saya sudah bekerja di tiga kota yang berbeda. Pertama di kota Malang, dari tahun 2004-2009. Kedua di kota Melbourne, dari tahun 2009-2012. Kini di kota Hong Kong, dari 2013 sampai sekarang.
 
Malang, Melbourne, dan Hong Kong adalah tiga kota yang berbeda. Dari tiga kota ini, yang bisa dikategorikan megapolitan adalah Melbourne dan Hong Kong. Di Melbourne saya tinggal selama 3 tahun; sedangkan di Hong Kong saya baru baru tinggal selama satu tahun.
 
Di Malang, sembari mengajar di SMAK St. Albertus, saya tinggal di rumah indok tarekat. Tinggal di sana sangatlah nyaman. Selain dekat dengan pusat kota, lokasi rumah kami juga cukup hening. Hanya pada siang hari cukup bising dengan suara para siswa. Tetapi hal itu masih sangat wajar.
 
Di Melbourne saya tinggal di paroki Port Melbourne. Terletak di pinggir kota Melbourne. Sekitar 15 menit naik tram dari pusat kota. Pastoran kami terletak di jalan buntu. Maka tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Suasanya cukup sepi, bahkan saya kerap merasa tinggal di desa karena suasana yang sepi tersebut. Di Hong Kong saya indekos di sebuah biara yang terletak jauh dari pusat kota. Membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit naik bis untuk sampai di pusat kota.
 
Pada awalnya saya membayangkan bahwa Melbourne dan Hong Kong tidak memiliki lagi daerah-daerah yang sepi. Ternyata saya salah. Ternyata masih ada tempat yang sepi di kota Melbourne dan Hong Kong. Ternyata selalu ada tempat yang sunyi di tengah bisingnya kota megapolitan.
 
Kebisingan dan Keheningan
Rasanya sulit mendampingkan kebisingan dan keheningan. Sulit membayangkan ada keheningan di tengah kebisingan. Maka sulit membayangkan bisa menghayati hidup sebagai biarawan di tengah kebisingan kota. Regula kami menegaskan bahwa kami hendaknya “tinggal di tempat-tempat yang sunyi.”
 
Sekarang saya tinggal di Hong Kong. Untuk sementara waktu indekos di daerah yang sunyi. Tetapi pada saatnya nanti kami akan tinggal di biara kami sendiri atau tinggal di paroki. Yang pasti, akan jauh dari keheningan.  
 
Di sinilah tantangan hidup sebagai karmelit baru dimulai. Bagaimana kami menemukan keheningan di tengah bisingnya kota. Apakah itu mungkin? Tentu saja mungkin. Karena keheningan yang utama bukanlah soal tempat tinggal, tetapi tentang keheningan batin.
 
Menghayati hidup membiara di Hong Kong
Salah satu ciri masyarakat Hong Kong adalah selalu tergesa-gesa. Mereka berjalan, makan dan bicara dengan cepat. Mereka selalu sibuk, seolah tidak ingin kehilangan waktu barang sejenak. Bahkan, berdoapun sangat cepat. Bahkan saya tidak mampu mengikuti ritme mereka mengucapkan doa. Terlalu cepat!
 
Mereka juga kelihatan individualis. Waktu mereka berada di tempat umum, telinga mereka biasanya ditutup dengan speaker kecil yang terhubung dengan alat pemutar musik, yang juga kecil. Atau, kalau tidak sibuk mendengar musik, mereka sibuk bermain game. Mata mereka hampir selalu terarah pada layar kecil yang ada di genggaman. Mereka hampir tidak memiliki perhatian terhadap orang di sekitar mereka.
 
Di tengah masyarakat yang seperti inilah Karmel mulai hadir. Kami hidup di tengah masyarakat yang seperti itu. Bahkan, pada saatnya nanti kami juga akan tinggal di antara mereka. Apakah kami mampu menghayati hidup karmel? Akankah semangat karmel mampu hidup di tengah kebisingan kota Hong Kong? Kiranya harapan itu selalu ada. Orang Hong Kong mengatakan, “saiseuhng moùh nàahnsih, jí pa yáuhsām yàhn.” Artinya, tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang memiliki harapan/kemauan.
 
Menghidupi semangat karmel di tengah bisingnya Hong Kong sangatlah mungkin. Karena sumber keheningan yang utama ada di dalam batin. Maka kami harus mulai melatih diri dengan baik. Melatih diri menciptakan ruang hening di dalam rumah kami, di dalam hati kami.
 
Mengapa ruang hening ini penting? Karena dengan memilikinya kami akan mampu menangkap kehendak Tuhan yang hadir diantara bisingnya suasana. Ketika kehendak Tuhan itu mampu kami tangkap, kemudian akan tiba saatnya untuk membagikannya kepada sesama.
 
Penutup
Tinggal di kota megapolitan seperti Hong Kong memiliki banyak tantangan, apalagi hidup membiara. Pertama-tama adalah tantangan untuk tidak hanyut dalam arus pola hidup masyarakatnya. Kedua, bagaimana bisa menghayati hidup membiara dan membagi madu rohani kepada mereka.
Bagi kami, dua tantangan ini sekaligus menjadi sebuah peluang. Karena keduanya sangat berkaitan erat. Keduanya memberi dorongan yang sangat kuat agar saya semakin erat menjalin relasi dengan Sang Cinta. Relasi yang mesra dengan Sang Cinta itu akan menghasilkan madu-madu rohani yang manis rasanya. Madu rohani itulah yang mesti kami bagikan kepada mereka. Dan dengan itu kami akan terhindar dari arus kehidupan yang begitu deras.
 

10 September 2014

Melting Moment

Saya ingin membuat catatan mengenai makanan. Tetapi nggak ada fotonya. Anda bisa bilang ini hoax. Karena berita tanpa foto, jaman sekarang ini, suka dibilang hoax. Tetapi gpp, saya terima kok.
Ceritanya saya kemarin membuat makanan penutup, saya beri label 'melting moment'. Mengapa saya beri nama demikian, karena begitu sampai di mulut, makanan itu langsung meleleh.
Bahan-bahannya sederhana saja. 
Pertama es batu secukupnya, hmmm katakan saja dua gelas. 
Kemudian coklat bubuk 5 sendok makan saja, lebih juga nggak apa-apa.
Lalu oreo dua bungkus. Jangan yang gede, yang sebungkus isi 2 itu saja. Artinya cukup 4 tangkep.
Anggur putih dua sloki saja. Kalau nggak ada anggur ya diganti bir jahe juga boleh, atau minuman soda yg crekes-crekes.

Kemudian seluruh bahan diblender sampai lembuttttt.....
Kemudian dihidangkan dan disantap.

Sebagai variasi, oreo bisa diganti atau ditambah pisang, atau strawberry. Bisa juga diberi selembar daun mint.
Trus, bisa juga dibuat es krim. Caranya, setelah diblender, masukkan ke wadah agak besar, trus diberi es kering dan diaduk. Jadi deh es krim.

Menu ini bukan ciptaan saya, tetapi rekayasa saya karena empet makan di warung. Saya pesan segelas coklat apa gitu, harganya ampun-ampun. Trus saya penasaran, maka saya coba di kost-kostan. Cuman butuh pinjam blender. Karena semua bahan sudah ada.

Sahabat, kepepet itu kerapkali mendatangkan ide yang hebat. Kepepet karena terbatasny uang jajan membuat ide kreatif bermunculan untuk menciptakan hal baru. Hal ini sudah terbukti pada banyak tokoh hebat dan orang-orang ternama.
Saya pernah nonton di tivi, ada seoarang konsultan pernikahan. Maksudnya pesta pernikahn, bagaimana mendekor, menata ini itu, bukan koknsultan hidup berumah tangga. Asalnya dia master bidang teknik elektro lulusan Kanada. Tetapi banting setir jadi tukang merangkai bunga, menata tempat pesta, menata tempat makan, dll. 
Awalnya juga karena kepepet. Hatus menafkahi keluarga, membayar gaji karyawan, dll. Ketika jalan-jalan di mall, kemudian melihat benda semacam vas bunga harganya mahal, padahal bentuk dan rupanya jelek. Dia berpikir, kalau seperti ininsaya bisa buat yang lebih bagus dan lebih murah. Mulailah dia membuat dan banyak yg menyukai. Sekarang dia sudah sangat terkenal.
Kisah serupa masih banyak. Bahkan banyak banget. Kita bisa mencarinya di internet. Kisah-kisah yang ditampilkan oleh Om Andy Noya dalam acara Kick Andi kerapkali menu jukkan hal itu.
Bahkan, kita bisa menemukan itu dalam diri kita. Ya, dalam diri kita. Semua yang dibutuhkan itu ada adalam diri kita. Terkadang menunggu saat 'kepepet' dan kepencet sampai sesuatu yang hebat keluar dari diri kita. 
Saya yakin akan hal ini, bukan karena memang kita hebat. Tetapi karena kita sudah diberi dan diperlengkapi secara lengkap komplit. Saya ingat Santo Paulus, dia mengingatkan saya benar akan hal ini. Bahwa sebenarnya kita ini nggak ada apa-apanya. Tetapi kalau mau membiarkan diri dipakai oleh Tuhan, maka diri kita bisa menjadi "sesuatu". Hanya, kerapkali kita kurang rela membiarkan diri dipakai.
Mungkin menunggu saat kepepet, saat terdesak, saat tidak ada apa-apanya. Sampai kita akan mengerti seruan ini, "berbahagialah kamu yang miskin, karena milikmulah Kerajaan Allah!"
Bagaimana bisa memahami itu? Tunggu sampai kita benar-benar miskin, tidak memiliki apa-apa ke uali Tuhan. Dan hanya Dia satu-satunya gantungan. Maka kita akan memahaminya. Saat itu, kita benar-benar kepepet. Dan setelah itu akan muncullah hal-hal besar. Saat itu terjadi rasanya seperti "melting moment".

06 September 2014

Memperbaiki

Sahabat, pernahkah Anda memperbaiki sesuatu. Misalnya sepatu kulit Anda tiba-tiba solnya rusak. Berhubung, masih sayang dengan sepatu tersebut, dan dana untuk membeli yang baru masih cekak, maka langkah sederhananya adalah membawanya kepada tukang sol sepatu. Pernahkah Anda memerhatikan apa yang dikerjakan oleh tukang sol sepatu? Kurang lebih demikian.


Pertama dia akan melepaskan sol sepatu tersebut. Seakan-akan malah merusakkannya. Kemudian membersihkan, melumerinya dengan lem, merekatkannya kembali, dan langkah terakhir menjahitnya. Lalu kita akan mendapati kembali sepatu tersebut.

Memperbaiki sesuatu berarti membuat sesuatu yang sedang rusak atau kurang bagus menjadi lebih baik, menjadi lebih bagus. Dalam proses memperbaiki itu ada unsur yang menyakitkan. Dilepaskan, dibersihkan, dilumeri dan dijahit; itu semua menyakitkan.

Atau pernahkah Anda membersihkan tembikar dari logam yang rusak? Entah dengan mem'braso' atau dengan alat yang lain. Hal umum yang dilakukan adalah menggosoknya, melepaskan kotoran yang melekat, bahkan kalau ada kerak dan karat, terkadang dibutuhkan kertas gosok. Proses menggosok, menghilangkan kerak dan karat itu menyakitkan.

Atau, pernahkah Anda 'memperbaiki' bagian-bagian tertentu dari badan Anda? Misalnya yang dilakukan oleh banyak perempuan, merapikan alis mata, atau menghilangkan rambut-rambut halus di betis. Bagaimana mereka melakukannya? Mencabutinya. Itu menyakitkan. Namun banyak yang rela melakukannya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. 

Bagaimana dengan memperbaiki hubungan? Menjalin kembali relasi yang telah rusak? Memperbaiki prilaku? Sama saja, semua proses ini juga menyakitkan. Hubungan yang retak karena suatu hal, bisa disatukan lagi jika sesuatu yang merusakkan itu telah dihilangkan. Demikian juga dengan memperbaiki prilaku, melepaskan kebiasaan yang tidak baik itu tidak semudah memindahkan puluhan galon air.

Sama halnya dengan memperbaiki komunitas. Jika dalam komunitas ada yang menyimpang, pemimpin komunitas wajib menegur. Tidak menegur di muka umum, tetapi secara empat mata. Jika tidak dihiraukan, dia bisa membawa saksi, demikians eterusnya hingga langkah terakhir adalah "dihakimi di muka umum". Jika langkah demikian tidak mengubah apa-apa, maka lepaskanlah dia dari komunitas. Mungkin dia tidak tepat berada di sana.

Sahabat, siapapun Anda, di manapun Anda berada, apapun yang Anda kerjakan; pasti akan berhadapan dengan proses perbaikan ini. Jika Anda berada di sebuah perusahaan; kerap kali perusahaan juga melakukan penyegaran, perampingan, penataan ulang, dan seterusnya. Dalam proses itu ada yang dibuang dan ada yang dibawa. 

Memperbaiki akan sangat menyakitkan kalau dilakukan sangat terlambat. Memperbaiki tidak harus menyakitkan dan memerlukan energi yang hebat kalau kita rajin merawat "sesuatu" itu. Kalau kita rajin merawat kendaraan misalnya; kita akan terhindar dari pengeluar besar untuk memperbaikinya kalau tiba-tiba rusak parah karena tidak pernah dirawat. 

Hal sama juga berlaku untuk diri kita, keluarga kita, komunitas kita. Baiklah kita fokus pada diri kita sendiri. Dalam berelasi dengan orang lain, dalam berelasi dengan Tuhan dan dalam berelasi dengan diri sendiri.

Pernahkah kita menyediakan waktu abrang sejenak untuk melihat "kondisi" diri kita saat ini jika dibandingkan dengan setahun yang lalu, dua tahun yang lalu atau bahkan 10 tahun lalu. Adakah yang berubah. Apakah hidup kita lebih berkualitas atau sebaliknya semakin buruk kondisinya. 

Baiklah kita lihat kembali keluarga kita, selama setahun ini, dua tahun ini, atau 10 tahun ini; adakah yang berkembang, atau stagnan saja, atau bahkan ada penurunan kualitas dalam relasi? Bagaimana hubunganku dengan pasangan, dengan anak-anak, dengan mertua, dll. Apakah keluargaku makin hangat, atau hambar saja, atau bahkan makin dingin? Apa yang kurang di sana?

Ketika kita mendapati ada yang tidak beres di sana; ada baiknya kita melakukan perbaikan. menunda perbaikan hanya akan membuat situasi itu semakin buruk. Misalnya; kalau Anda menyadari badan Anda gatal-gatal karena belum mandi selama sehari; maka segeralah mandi. Menundanya hanya akan membuat orang-orang di sekitar Anda terganggu, Andapun juga tidak akan nyaman. 

Demikian juga dalam berelasi dengan Tuhan dan sesama. Kalau Anda menyadari sudah lama tidak menjalin komunikasi dengan Tuhan, segeralah mulai berkomunikasi kembali, mulailah datang kembali, perbaikilah relasi yang kurang baik itu. Menundanya hanya akan membuat relasi Anda makin jauh dan makin buruk. Demikian halnya relasi dengan sesama.

Selamat berhari Minggu, selamat memperbaiki kualitas hidup secara pribadi ataupun bersama. Kiranya Tuhan senantiasa memberkati Anda sekalian.

Hong Kong 7 September 2014


03 September 2014

Spring dan Autumn

Sahabat, memasuki bulan September, banyak orang menaruh harapan baik. Harapan akan adanya kehangatan alam. Di belahan bumi selatan, September menjadi penanda mulainya musim semi atau Spring. Sedangkan di belahan bumi utara, September menjadi penanda mulainya Autum atau musim gugur.  Meski berbeda namun ada yang sama, yaitu kehangatan.

Di belahan bumi bagian selatan, masuk musim semi berarti meninggalkan dinginnya musim dingin dan masuk musim yang penuh kehangatan. Bahkan saya sempat dibuat terkagum-kagum. Waktu itu hari Sabtu di awal bulan September tahun 2012. Hari itu adalah awal musim semi. Dan alam seolah memahami hal itu. Pohon-pohon mulai memekarkan bunga-bunga. Udara hangat dan kamipun dengan gembira merayakannya. Saya menamai musim ini sebagai kegembiraan kehidupan.

Di belahan bumi bagian utara, masuk musim gugur berarti meninggalkan menyengatnya musim panas menuju musim hangat. Musim yang ditandai dengan keindahan alam yang tercipta dari perubahan warna-warna daun. Saya sudah menikmati musim gugur sebanyak 3 kali di belahan bumi selatan. Tahun ini, adalah tahun pertama saya merayakan keindahan musim gugur di belahan bumi utara.

Masyarakat di mana saya tinggal memiliki satu pesta menyambut musim gugur. Mid Autum Festival. Pesta yang ditandai dengan menikmati kue bulan, karena pada hari itu bulan sedang berada dalam puncak bulatnya. Tahun ini adalah tahun pertama saya menikmatinya. Karena masih akan saya rayakan, saya belum bisa berbagi. Maka saya akan berbagi pengalaman menikmati kehangatan dan keindahan musim gugur di belahan bumi yang lain.

Musim gugur merujuk pada dedaunan yang mulai rontok. Proses rontoknya daun-daun ini begitu indah. Daun yang semula berwarna hijau kemudian perlahan-lahan mulai berubah, ada yang menjadi coklat, ada yang berubah menjadi kuning, merah, coklat dan kemudian gugur. Saya menyebutnya sebagai kematian yang indah.

Musim dan kehidupan

Musim semi, adalah penanda kelahiran baru. Musim gugur, adalah penanda datangnya kematian, meskipun indah. Keduanya datang dari situasi yang berbeda. Musim semi datang dari kebekuan musim dingin. Musim gugur datang dari garangnya musim panas. Siklus yang tidak akan pernah berhenti. 

Ada saat di mana kehidupan begitu garang, begitu penuh tenaga, begitu panas. Semua mendatangkan kebaikan, semua terasa tepat dan kuat. Itulah kehidupan di musim panas. Tetapi musim itu akan segera berganti. Kemakmuran dan kesuksesana itu akan berakhir. Tidak datang tiba-tiba, tetapi perlahan-lahan. Saat itulah musim gugur datang.

Musim gugur masih menyisakan kegarangan musim panas. Tenaga dan kuasa masih sedikit garang. Tetapi perlahan-lahan tenaga itu mulai habis, pelan sekali. Apa yang semula hijau garang, perlahan-lahan berubah menjadi kuning, merah, coklat dan jatuh. Memang ada keindahan, tetapi ujungnya adalah kematian.

Memasuki kematian dalam kehidupan. Measuki kelamnya dan dinginnya kehidupan. Serasa semuanya serba salah. Apa yang dulu indah sekarang terbang sudah. Yang ada hanyalah derita. Jika dulu bisa ke sana ke mari seolah memiliki sayap-sayap gagah, sekarang sayap itu telah patah. 

Segala derita itu tidak akan berlangsung selamanya. Jika bertekun, akan tiba masanya untuk tumbuh baru. Ada masanya tunas-tunas baru akan muncul seiring lelehnya salju. Tunas baru, bunga-bunga bermekaran, mentari mulai bersinar kembali. Kehidupan lahir kembali hingga nanti mencapai puncaknya dan berbuah.

Saya lahir pada awal musim semi, jika mengikuti tradisi bumi selatan. Tetapi saya adalah manusia musim gugur jika mengikuti tradsi bumi utara. Keduanya memiliki tanda yang berbeda. Musim semi ditandai keindahan bunga-bunga. Musim gugur juga memiliki keindahan, meskipun berujung pada kematian.

Meloncat

Apakah kita bisa menghindari musim dingin? Tentu bisa! Kalau banyak orang bepergian untuk 'skip winter'. Maka, belajar dari banyak pengalaman, kita bisa menghindari kejatuhan dan 'kematian'. Kita bisa meloncat sebelum segalanya hancur.

Jika pergantian musim adalah sebuah siklus yang pasti terjadi, dalam kehidupan kita bisa mengindari musim yang buruk. Caranya, tekun memaknai musim. Jika siklus itu perjalanan dari A menuju B menuju C menuju D, maka berlatihlah untuk bisa meloncat dari titik B menuju titik D.

Jika siklus itu seperti roda, A (musim panas) ada di atas, B (musim gugur) ada di sisi kanan, C (musim dingin) ada di bawah, D (musim semi) ada di sini kiri. Masing-masing memiki tanda dan ciri sendiri. Jika kita berada di atas, semua terasa enak. Tetapi harus hati-hati, karena putaran membawa kepada B, di mana gerakannya adalah menurun. Menurun itu ditandai dengan segala sesuatu yang mudah, lancar. Nah, di sinilah kita harus hati-hati.

Hati-hati agar tidak terjatuh, tersungkur sehingga harus merangkak. Kalau sampai terjatuh, untuk memulai lagi akan sangat berat. Lebih mudah meloncat ketika masih berada di titk B dibandingkan dengan merangkak dari titik C menuju titik D.

Mungkin Anda bingung dengan uraian saya. Tidak perlu bingung, abaikan saja. Karena sebenarnya pesannya sederhana, kalau segalanya terasa mudah, berarti anda berada di jalan menurun. Kalau tidak hati-hati Anda akan terpuruk di bawah. Kalau semua terasa berat, berarti Anda sedang mendaki. Jangan menyerah, karena Anda berada dalam jalan yang tepat.     

Pelajarialah segala tanda, agar Anda tidak perlu tersungkur, dan tidak perlu terlalu berat merangkak dari bawah. Yang dibutuhkan hanya satu, meloncat dari musim gugur ke musim semi. Terbang dari Hong Kong ke Melbourne, begitu kira-kira.

Hong Kong, 3 September 2014