22 August 2014

RUJAK : Ini Baru Hidup...

Minggu lalu saya bersama beberapa teman jalan-jalan di pantai Causewaybay. Hmmm, bukan pantai sih, pinggir laut gitu sajalah. Menikmati mentari senja dan menghirup bau laut yang terkadang kurang sedap. Setelah puas memandang senja yang digantikan malam, kami beranjak pulang. Di tengah jalan kami berjumpa dengan teman kami yang berjualan rujak manis. Rupanya dia sudah mau pulang, dan sisa dagangannya hendak dibuang. Aduh sayang sekali kalau makanan itu dibuang. Maka ketika beliau menawari kami beberapa bungkus, kamipun mengiyakan. Saya membawa pulang empat bungkus.

Rujak manis, begitu kami biasa menyebutnya. Tiap kota di Indonesia rasanya memiliki model makanan seperti ini. Rujak manis yang kemarin saya dapat isinya beraneka ragam. Ada mangga yang sudah tua, biasanya khan mangga muda. Rasanya manis masam. Masam tapi ada manisnya. Ada apel,  mentimun, bengkoang, dan cambu biji. Oh iya ada nanas dan pepayanya juga. Komplit! Kemudian sebungkus bumbunya yang kalau tidak alah kecap terdiri atas gula merah, kacang tanah, sedikit asem, cabe dan garam. 
Sesampai di rumah kost, empat bungkus rujak itu saya taruh di dalam kulkas. Besoknya baru saya nikmati satu bungkus. Keesokan harinya baru bungkus berikutnya. Tidak ada yang menyentuh makanan itu kecuali saya. Ada bermacam alasan, pertama, kebanyakan dari mereka tidak pernah menyentuh makanan yang berasal dari luar. Mereka suka menikmati buah yang segar, kelihatan mata dan mengupas sendiri. Yang tahu bahwa itu rujak juga tidak mau makan karena menurutnya, terlalu pedas!!
Setalh hari kedua, sebelum menyantapnya saya cuci dulu buahnya. Bengkoangnya sudah berubah warna. Pepayanya sudah mulai akan hancur. Mentimunnya sudah mengkeret terhisap kulkas. Setelah saya cuci, beberapa bagian saya buang, terutama pepaya. Barulah bumbunya saya tuangkan dan saya nikmati pelan-pelan. Teman-teman di meja makan tidak saya tawari. Saya nikmati sendiri dengan tidak peduli. Egois ya? Salah sendiri.
Oh iya, menikmati rujak ini rasanya seperti menjalani kehidupan. Anda boleh mengatakan saya membual. Tetapi ini benar. Rujak ini disebut rujak manis meskipun rasanya pedas. Bahkan ketika seseorang megap-megap kepedasan pun, kalau ditanya makan apa dia akan menjawab 'makan rujak manis!' Aneh tapi nyata. 
Manis itu terkandung dari bumbunya, dari gula merah yang digunakan. Juga dari beberapa buah yang memiliki kandungan rasa manis. Mangganya memiliki kandungan rasa manis meskipun ada unsur asam. Kemudian bengkoangnya manis dan segar. Nanasnya asam, dll. Tetapi ketika semua diracik menjadi satu, diaduk dengan bumbunya yang manis pedas, rasanya luar biasa. 
Kecut itu ada di sana. Manis itu ada di sana. Asam itu ada di sana. Pedas itu ada di sana. Tetapi perpaduan dari semuanya meninggalkan jejak rasa yang aduhai. Apalagi disantap dalam udara yang panas. Segar sekali meskipun keringat berleleran. Bayangkan kresnya bengkoang. Ada segar ada manis berpadu dengan pedas dari bumbu. Semuanya bergelut menjadi satu. Yang ada hanya kata, lagi dongggg.....
Itulah hidup. Siapapun pernah mengalami kepahitan dan rasa asam dalam hidup. Siapapun pernah mengalami pedasnya sebuah pertemanan. Siapapun memiliki kenangan manis persahabatan yang tidak akan hilang meskipun jarak dan waktu memisahkan. Setiap pengalaman memadu menjadi satu. teraduk dalam setiap keping peristiwa. Ada manis menghambur, ada pedas menyembul dan ada asam yang tak pernah lepas merangkul.
Namun paduan rasa itu meninggalkan jejak nikmat yang tiada tara. Setiap keping peristiwa yang memiliki aneka warna dalam hidup itu mendewasakan setiap pribadi yang tergumulinya. Balutan asam-kecut-pedas-manis peristiwa itu mendewasakan. Rasa pahit dan pedas meninggalkan jejak kesadaran untuk menikmati yang manis itu sungguh berharga. Hamburan rasa manis juga meninggalkan satu pesan untuk tidak lupa diri, karena di belakangnya ada iringan asam dan getir juga.
Itulah rujak, itulah hidup. Menikmati sepiring rujak, berarti menikmati sepiring kehidupan. Tidak ada orang yang rela menggigit cabe begitu saja. Orang masih mau menikmati mangga, meskipuns elalu berkata, jangan banyak-banyak ndat diabet. Atau, mana ada orang rela maan garam begitu saja. Tetapi ketika semua dipadu dalam bumbu, dalam sajian rujak, hmmm banyak orang mau menyantapnya. Oh iya, kalau nanti beli rujak lagi jangan lupa dengan kerupuk dan tahunya ya. Pasti mantap.

Hong Kong, 23 Agustus 2014

Jalan-Jalan : Tai Tam Country Park

Sahabat, menikmati Hong Kong tidak akan pernah komplit tanpa jalan-jalan di perbukitan alias hiking.
Saya mencoba bercerita dengan cara yang baru. Berbekal kamera henpon, saya merekam perjalanan. Karena baru pertama kali melakukan, saya kurang mempersiapkan baterei cadangan untuk henpon saya. Maka, ketika perjalanan baru mencapai pertengahan, henpon saya mati.
Maka, nikmati saja deh video di youtube. agar gambarnya cukup bagus, pilih kualitas gambar minimal 480p. Oh iya, maaf ya, gambarnya agak goyang-goyang.

Hong Kong, 23 Agustus 2014


20 August 2014

SARAPAN : Diet, Budaya, dan Kuliah

Sarapan ,  bagi sebagian orang tidak begitu penting. Sebagian orang yang lain menganggap sangat penting. Sarapan yang baik akan menghiasi seluruh hari dengan nuansa yang baik juga. Sarapan yang buruk akan membawa bencana pada hari itu. Tentu yang baik dan buruk bukan hanya soal rasa yang di makan, tetapi juga soal suasana hati dan setiap hati yang hadir di meja makan.

Bagi saya, sarapan adalah hal yang sesuatu banget. Waktu sarapan bukan hanya menjadi waktu bersosialisasi tetapi juga waktu untuk belajar. Belajar banyak hal, terlebih mengenai manusia, mereka yang bersama-sama hadir mengelilingi meja makan. Entah mengapa, sarapan jauh lebih menarik dari makan malam. Karena berisi harapan untuk sepanjang hari ini.

Seperti sarapan pagi ini. Kami bertujuh mengelilingi meja makan yang bundar, maka tepat untuk mengatakan mengelilingi. Masing-masing dari kami memiliki cara unik untuk memanjakan diri di pagi hari. Misalnya Tom dari Amerika yang akan pergi ke China sebagai volunter. Dia akan mengajar di salah satu sekolah yang dikelola oleh romo-romo Maryknoll. Biasanya dia menyantap semua yang ada. Namun ada yang unik dari cara Tom menyantap. Misalnya bagaimana dia menikmati cereal. 

Dia tidak menyantap cereal dengan susu sebagaimana pada umumnya. Dia menyantap cereal dengan sesuatu yang lebih kental yang lebih manis. Misalnya dengan jus buah ara, atau dengan yogurth. Bahkan roti bakarpun dia santap dengan sesuatu yang lebih manis dari yang lain. 

Lain Tom, lain Julie. Dia juga akan ke Chna sebagai volunter juga. Seperti umumnya perempuan, dia sangat menjaga volume makan. Dia menyantap serba sedikit apa yang terhidang di sana. Karena dia satu-satunya perempuan di meja makan, maka dia berusaha menyantap dengan sangat pelan, agar tidak terlalu cepat selesai.

Lain pula dengan sahabat saya Romo Heru Purwanto. Beliau selalu mengawali sarapan dengan menyantap sebutir apel. Terkadang masih ditambah dengan sebutir jeruk. Setelah selesai barulah membakar dua lembar roti yang akan disantap dengan selai. Terkadang juga diberi pisang. Setelah roti yang disantap sudah akan habis, barulah beliau membuat the sebagai minuman. Oh iya, beliau juga sangat menggemari telur rebus 1/2 matang. Terkadang telur itu dia taruh di atas roti, atau disendok, disantap begitu saja.

Father Bary memilki cara tersendiri menikmati sarapan. Beliau selalu mengawali sarapan dengan semangkok sereal. Yang istimewa, beliau selalu menyertakan buah segar dalam mangkok serealnya, dan hanya separoh. Jika apel, ya hanya separuh, kalau pisang ya hanya separuh. Saya suka menggoda, mengapa hanya separuh, toh kalau dihabiskan juga ga masalah, karena kalau hanya makan separuh, yang separuh akan terbuang. Kecuali ada yang suka rela mengambil yang separuh. Kemudian, beliau menikmati serelanya sambil menggigit roti bakar yang dibuat gosong. Dia selalu suka yang gosong. Jadi tangan kanan memegang sendok untuk menyuap sereal, sedang tangan giri memegang roti yang akan digigit setelah suapan sereal selesai ditelan. Asyik!

Oh iya, bagaimana dengan saya? Cara saya menikmati sarapan sangatlah biasa. Sebenarnya saya suka sarapan dengan nasi pecel dengan kerupuk atau rempeyek atau dengan sayur blendrang atau dengan nasi goreng. Tetapi semuanya itu hanyalah kenangan dan harapan. Pada nyatanya, di tempat kost saya yang ala Amerika ini, saya harus menyesuaikan diri. Inilah cara saya menikmati sarapan.

Pertama, saya berdoa. Hahahaha, kemudian mengambil sebutir jeruk. Saya mengupasnya dengan pisau seperti halnya mengupas apel, bukan membukanya dengan tangan. Saya suka meninggalkan bagian putih dari kulit jeruk. Kemudian saya membelahnya menjadi dua bagian, kemudian memotong-motong menjadi bentuk dadu. Lalu menyantap satu persatu. Cara ini sangat berbeda dari cara kebanyakan orang menikmati jeruk. Alasan saya sederhana, saya suka bagian putih dari kulit jeruk. Itu saja.

Kemudian saya membakar english muffin. Kemudian mengolesnya dengan butter. Separuh muffin, setelah saya oles dengan butter, akan saya beri selai blueberry. Sedangkan yang separuh hanya saya santap dengan butter saja. Pikiran saya sederhana. Saya membutuhkan manis dari selai untuk energi, dan saya tidak ingin kehilangan rasa muffin bakar dan butter oles. Hmmmm, nikmat.

Biasanya, sambil menunggu muffin terbakar sempurna, saya menyiapkan kopi. Kopi yang saya minum cukup sederhana. Pertama, mengambil cangkir. Kemudian mengambil cream, sesendok cream. Lalu saya tuangkan kopi yang sudah tersaji di alat pembuat kopi. Tanpa mengaduknya, saya nikmati kopi sesruput demi sesruput. hmmm, mantap.

Oh iya, di meja makan ada satu romo yang selalu mendominasi dengan cerita-cerita. Kebanyakan adalah cerita kehidupannya sendiri. Pengalamannya selama ini. Umurnya sudah 85 maka ceritanya banyak sekali, meskipun terkadang ceritanya diulang-ulang. Tetapi saya seperti mendapat kuliah gratis selama satu jam tentang kehidupan, tentang nilai-nilai dan tentang budaya.

Inilah aktivitas sarapan yang kami jalani setiap hari. Oh iya, di mana diet, budaya dan kuliahnya? Seperti yang saya ceritakan di atas, masing-masing dari kami memiliki cara makan yang berbeda. ternyata ada alasannya sendiri-sendiri. Misalnya Romo Heru, beliau mengatakan, mengapa selalu mengawali sarapand engan sebutir apel dan sebutir jeruk? Karena itu adalah cara baru dalam berdiet. Buah adalah makanan yang paling sederhana dan mudah dicerna oleh perut. Maka sangat baik sebagai dasar daripada sebagai penutup.

Perbedaan cara menyantap juga menjadi gambaran budaya yang dibawa. Tom, yang melihat Romo Heru dan saya sendiri memiliki urutan makan yang hampir sama bertanya apakah ini budaya orang Indonesia sarapan seperti itu. Tentu saja saya jawab bukan. Kami orang Indonesia pada umumnya sarapan dengan nasi. Pada umumnya, karena tidak semua orang Indonesia makan nasi. Nasi sendiri lebih suka sarapan dengan nasi pecel. Ternyata, memahami cara makan seseorang juga membantu memahami orang tersebut.

Kuliah yang saya dapat juga selalu berbeda, meskipun dosennya sama. Terkadang kuliah berakhir dengan derai tawa, terkadang dengan hening permenungan. Misalnya kemarin pagi. Romo yang selalu berberita itu mengisahkan kenangan pahit saat sahabatnya meninggal. Dia bercerita bahwa dia adalah orang yang "out of ordinary", orang yang nggak biasa. Temannya juga sama, orang yang terkadang dianggap aneh. Mereka bersahabat sangat erat. Dua tahun yang lalu saat sahabatnya meninggal, dia sendiri sedang terbaring sakit parah. Sahabatnya itulah yang sebenarnya sedang mengurus dia. Tetapi rencana Tuhan berbicara lain. Dia yang mengurus, dia pula yang pergi terlebih dahulu. Romo ini bercerita kejadian-kejadian kecil yang terjadi antara mereka berdua, dengan sesekali suaranya tersekat di leher karena kesedihan. Bahkan air mata juga meleleh. Kami yang di sekitar meja duduk terdiam, dan memberi peneguhan. 

Dia menutup kuliahnya dengan berkata, cinta, penederitaan dan kematian adalah misteri. Semisteri rasa yang dibawanya. Cinta dan persahabatan meninggalkan jejak rasa yang tak akan hilang bahkan setelah dipisah kematian. Kematian itu sendiri, meski sangat menyakitkan, tak akan mampu meluluhkan rasa cinta yang pernah ada. Semuanya misteri. Semisteri hidup itu sendiri.

Itulah sarapan kami.

Hong Kong, 21 Agustus 2014   


Dipanggil terakhir....

Landri saat mencium cincin paus
Cerita sore ini di meja makan cukup mengasyikkan. Adalah Lo Sahn Fuh, alias Father Lo, alias Romo Lo yang menjadi tema pembicaraan. Beliau adalah imam keuskupan Hong Kong yang meninggal 7 hari yang lalu dan dimakamkan hari ini. Umurnya sudah 93 tahun. Menurut buku Mazmur, beliau sudah mendapatkan bonus selama 13 tahun. Karena katanya batas umur manusia adalah 70 tahun atau 80 jika kuat. 
Yang menjadi bahan pembicaraan bukan semata usianya yang lanjut ketika meninggal, tetapi beliau menjadi imam di usia yang sudah "lanjut". Beliau ditahbiskan imam pada usia 62 tahun. Ia menyelesaikan studi sebagai imam di Roma. Sebelumnya beliau adalah pegawai pemerintah karena dia seorang insinyur.
Tentu sangat menarik melihat data singkat ini. Bahkan mungkin kita akan berujar, "WOW, umur 62 baru ditahbiskan imam?" Sekarang ini sebenarnya sudah semakin banyak orang-orang yang ingin menjadi imam pada usia yang tidak muda lagi. Tetapi baru dua kali ini saya temui orang yang menjadi imam pada usia di atas 50 tahun.
Kisah ini mengingatkan saya pada cerita dalam Kitab Suci, di mana ada banyak pekerja menunggu untuk disewa. Mereka bergerombol di pasar menunggu orang memerlukan ajsa mereka. Nah, ada yang dipanggil bekerja dari jam 6. Ada yang dipanggil dari jam 9, jam 12, jam 3 sore dan ada juga yang baru dipanggil pada jam 5 sore. Padahal batas bekerja adalah jam 6 sore. Maka mereka yang bekerja mulai jam 5 sore ini hanya bekerja selama 1 jam saja.
Kebanyakan orang akan mengira bahwa yang bekerja mulai dari jam 6 pagi akan mendapatkan upah yang paling banyak. Sedangkan yang bekerja mulai jam 5 sore pasti akan mendapat upah yang sangat sedikit. Hal itu adalah hitungan umum sesuai asas keadilan. Namun terkadang ada perhitungan lain yang sama adilnya. Yaitu perhitungan dengan dasar belas kasihan. Akhirnya semuanya mendapatkan upah yang sama. Itu yang terjadi dalam kisah dalam Kitab Suci. Semua pekerja mendapatkan upah yang sama. 
Kembali kepada kisah Father Lo. Beliau mungkin bisa dibandingkan dengan pekerja yang dipanggil pada pukul 5 sore. Dia hanya memiliki waktu yang singkat untuk bekerja. Tetapi waktu yang singkat itu bukan berarti ia akan mendapatkan ganjaran yang sedikit pula.
Menurut banyak kesaksian, Father Lo adalah salah satu imam yang menjadi panutan di keuskupan Hong Kong. Beliau juga sangat aktif di Tribunal Pernikahan. Memproses kasus-kasus pernikahan. Hidupnya juga baik. Hal itu bisa dirasakan oleh umat yang beliau layani.
Dipanggil pada jam 5 sore juga terjadi pada banyak aspek kehidupan. Contoh yang lain adalah Landri. Siapa landri ini? Saya juga baru tahu malam ini setelah melihat-lihat foto Asian Youth Day di Korea. Landri adalah utusan dari Indonesia. Dia mengenakan baju adat Dayak. Dalam foto itu dia sedang mencium cincin paus dengan penuh kehangatan.
Tentu saja saya penasaran dengan gadis tersebut. Ternyata dia adalah yang mengaransemen theme song World Youth Day di Brazil tahun lalu versi Indonesia. Dan dia juga yang diminta oleh Paus menyanyikan lagu itu. Yang menarik, dia baru saja menjadi Katolik. Dia baru 5 tahun ini menjadi Katolik. Mungkin kita bisa menyebutnya dipanggil terakhir, tetapi bukan berarti tidak mendapatkan ganjaran yang sepantasnya. Landri dengan kemampuannya bermain musik dan mengaransemen musik telah memberikan apa yang dia bisa untuk Gereja.
Bahkan saya yang dipanggil dari jam 6 pagi, sudah selayaknya malu dengan mereka. Karena meskipun saya menjadi Katolik sejak bayi, menjadi imam dalam usia muda, tetapi saya belum sungguh-sungguh menjadi orang katolik yang baik, apalagi menjadi imam yang baik. Masih harus diperjuangkan.

Hong Kong 20 Agustus 2014



19 August 2014

Tarik Menarik ....

Nasi Goreng Pete
Hari Minggu kemarin, 17 Agustus, mestinya menajdi hari yang menyenangkan. Persis seperti di masa lalu, ketika masih kecil dulu. Setiap kali menyambut 17 Agustus, hati selalu riang. Sudah terbayang berbagai perlombaan yang menyenangkan. Bukan persoalan menang dan mendapat hadiah yang utama, tetapi larut dalam kegembiraan itu yang utama.


Tetapi kemarin semuanya berbeda. Tanggal 17 Agustus jatuh pada hari Minggu. Teman-teman di Indonesia, teman-teman imam maksud saya, merayakan 17 Agustusan bersama dengan umat. Karena Gereja Indonesia menjadikan tanggal 17 Agustus sebagai hari raya, hari Kemerdekaan. Tetapi saya sedikit kurang beruntung. Harus merayakan dua kali Misa namun bukan dengan umat Indonesia, kebanyakan malah dengan umat Philipina. Sedikit mengenaskan.

Mengenaskan karena waktu yang mepet dari satu misa ke misa berikutnya. Harus berlarian mendaki bukit meski panas begitu terik. Meskipun begitu, meskipun sudah harus mandi keringat, misa kedua tetap tak terkejar sesuai waktu biasanya. Terpaksa misa harus diundur 30 menit, toh masih belum terlaksana. Maafkan. 

Tarik menarik kepentingan 1

Misa pertama yang saya persembahkan adalah misa paroki, di Paroki St. Margareth Causewaybay. Jadwalnya adalah jam 12.30 siang. Karena misa berbahasa Inggris, saya bisa menyelesaikannya dalam waktu 55 menit. Bukan karena ngebut, tetapi karena doa-doanya pendek, tidak banyak nyanyian, dan khotbahnya juga pendek. 

Selesai misa saya tidak sempat menemui umat untuk bersalam-salaman. Saya harus segera lari menuju tempat kedua. Jadwalnya adalah jam 13.30 dan diundur menajdi jam 14.00. Tempat kedua ini adalah misa komunitas. Salah satu komunitas Philipina di Hong Kong. Harap dicatat, di Hongkong ada begitu banyak komunitas orang Philipina. Mereka misa di kapel sekolah atau center yang berhasil mereka dapatkan.

Misa kedua ini tempatnya di St. Joseph College, bersebelahan dengan Paroki St. Joseph Central. Harusnya saya naik taksi dari Causewaybay, tetapi saya naik MTR. Karena saya tidak tahu alamatnya, hanya tahu tempatnya saja. Maka saya naik MTR dari Causewaybay ke Admiralty station. Jalan kaki dari Gereja ke stasiun dan dari stasiun ke kapel sudah memakan waktu cukup lama. Ditambah panas yang begitu terik, alhasil baju saya basah kuyup. Oh iya, ditambah lapar.

Akhirnya saya berhasil tiba di kapel jam 14.15, membersihkan keringat sebentar dan langsung mengenakan alba dan mulai perarakan misa. Meski waktunya sudah terlambat, saya tidak mempercepat misa, saya tetap menjalankan seperti biasa, dan khotbahnya sedikit panjang. Karena saya menggunakan catatan, dan menambah beberapa, setelah belajar dari khotbah pertama.

Tarik menarik kepentingannya adalah antara kepentingan kelompk Philipina tersebut dengan paroki lokal. Ketika mereka menghubungi saya, saya sudah memberitahu bahwa saya memiliki misa yang jadwalnya sangat mepet. Tetapi mereka tetap ngotot. Dengan beralasan tidak mendapatkan pastor, mereka rela mengundur jadwal misa.

Saya sebenarnya ingin menolak dengan menjawab, "mengapa kalian tidak misa di paroki saja. Toh paroki dengan tempat kalian misa hanya 25 meter saja?" Tetapi saya tidak mengatakan itu. Saya mengiyakan saja karena merasa sedikit kasihan. Tetapi belajar dari pengalaman kemarin, saya berjanji akan menolaknya di kemudian hari. Terlalu mepet, terlalu riskan, dan semuanya menjadi tidak sempurna.

Tarik menarik kepentingan 2

Selesai Ekaristi dengan kelompok Philipina di Central, saya kembali menuju Causewaybay. Kali ini saya ingin bergabung dengan teman-teman KKI yang merayakan 17-an. Saya berpikir ingin menggunakan MTR lagi. Ternyata saya kesulitan mencapai pintu MTR karena adanya pawai kelompok masayarakat "Anti Occupy Central".

Oh iya, dua tahun lagi Hong Kong akan ada pemilu juga. Sekarang ini sedang ada dua kelompok yang saling berhadapan. Yang pertama adalah kelompok "Occupy Central". Mereka didukung oleh kelompok yang menginginkan demokrasi yang lebih. Sebagai catatan, Hong Kong adalah negara dengan dua sistim pemerintahan. Di satu pihak mereka otonom, dalam segala hal. Namun di pihak lain pemerintah China juga memegang peran penting. Kelompok Occupy Central menginginkan kebebasan yang lebih.

Sekarang muncul kelompok yang melawan kelomok pertama. Mereka menamakan diri Aliansi untuk Demokrasi dan Perdamaian. Kelompok ini lebih condong kepada pemerintah China. Tentu dengan berbagai alasan dan kepentingannya. Cara merekrut anggota juga agak kasar. Mereka "memaksa" banyak pihak untuk bergabung. Dengan iming-iming kata demokrasi dan perdamaian, mereka menjaring pengikut. Bahkan banyak juga orang yang tidak tahu menahu, mengapa mereka di sana. Ada banyak orang dari Senchen datang untuk berbelanja, tetapi tiba-tiba sudah masuk ke dalam long march.

Saya tidak ingin masuk ke dalam tarik menarik kedua kelompok tersebut. Meskipun saya memiliki kepentingan karena saya tinggal di sini. Tentu saya lebih mendukung kelompok yang pertama, yang Occupy Central. Tetapi saya tidak akan membahasnya. Saya hanya ingin mengatakan, tarik menarik kepentingan kedua kelompok ini telah menghambat langkah saya untuk tiba di st. Paul tepat waktu.

Tarik menarik kepentingan 3

Sesampai di St. Paul, di mana teman-teman KKI sedang merayakan 17-an berada, acara sudah berlangsung lama. Saya melihat tidak begitu banyak orang. Saya kemudian mencari tempat duduk, untuk duduk. Setelah duduk, saya dihampiri oleh seorang ibu. Oh iya, jangan salah, yang berkumpul di sana saat itu 99% ibu-ibu atau calon ibu. Setelah berbisik-bisik sebentar dia pergi. Jam sudah menunjukkan angka 16 lewat hampir 30 menit. Perut saya sudah lapar. Bahkan saat misa yang keduapun saya sudah lapar sekali. 

Sejurus kemudian ibu tadi datang dengan satu termos kecil. Saya segera membongkarnya. Isinya nasi goreng pete, pesanan saya dua minggu yang lalu. Tanpa ba-bi-bu saya menyantap nasi goreng tersebut. Saya juga tidak menawari orang-orang di sekitar saya. Karena saya tidak melihat ada orang di sana. Saya hanya melihat bayangan-bayangan. 

Sesuap demi sesuap nasi goreng di termos kecil itu akhirnya berpindah ke perut saya. Setiap kali suapan nasi masuk ke mulut, segera saya menggigit pete yang senantiasa ada di setiap sendokan. yang menggoreng nasi ini sangat murah hati. Petenya banyak sekali. Sudah lama saya mengidamkan ini, akhirnya kesampaian juga.

Saat saya menikmati nasi goreng pete tersebut, saya merasa sangat bebas. Saya tidak malu dan takut bahwa nanti bau mulut saya akan bau pete. Saya juga tidak takut ada yang jijik atau sejenisnya. Saya hanya menikmati. Saya lepaskan kejaiman saya, saya lepaskan semua yang nggak penting. Saat itu hanya menikmati nasi goreng pete. Meredeka!!

Setelah nasi hampir habis tenaga saya mulai pulih. Pandangan saya mulai pulih, juga pendengaran saya mulai pulih. Saya bisa melihat, ternyata ada begitu banyak orang di sekitar saya. Rupanya ada yang sedang berpentas di depan sana. Mereka menyanyi dan menari, tetapi saya sibuk dengan nasi goreng pete di  tangan. 

Mulai ada tarik menarik antara malu karena makan tanpa permisi dan meneruskan makan karena tanggung. Tarik menarik antara mengabadikan moment di panggung dengan menghabiskan makanan yang tinggal beberapa suap.

Penutup

Tarik menarik selalu terjadi karena ada dua kepentingan yang saling bertentangan. Masing-masing  merasa kepentintingannya selalu yang paling urgent, yang paling penting. Terkadang karena tarik menarik itu, ada pihak-pihak yang dirugikan. Maka 17 Agustus kali ini saya belajar satu hal. Apa kepentingan saya sehingga harus menarik dan merugikan kepentingan orang lain? Karena kalau saya terlalu banyak kepentingan, jangan-jangan saya menjadi orang yang tidak meredeka, tidak free lagi, terlalu banyak "cantelan" yang ada. Mengapa tidak saya lepaskan saja kepentingan-kepentingan itu, agar tidak tarik menarik? Mengapa tidak saya lepaskan saja ketakutan-ketakutan, gengsi-gengsi, seperti saat saya menikmati nasi goreng pete.

Hong Kong, 19 Agustus 2014