15 November 2014

Berbagi cahaya

Hari ini Bapak Jokowi sedang berada di Brisbane, Australia. Beliau sedang mengikuti pertemuan para pemimpin negara yang tergabung dalam kelompok G-20. Tetapi saya tidak berbicara mengenai Pak Jokowi, juga tidak mengenai pertemuan yang diikuti. Saya ingin berbicara mengenai Mother Teresa dari Calcuta.
Lho apa hubungannya?
Beberapa tahun yang lalu, sudah lama pastinya, saya tidak ingat. Mother Teresa mengunjungi suster-susternya yang melayani orang-orang asli Australia. Suatu hari dalam kunjungannya, dia bertemu seorang pria tua yang sangat miskin. Bukan hanya miskin, lelaki itu juga terkucil dari lingkungannya.
Melihat kondisi lelaki tua tersebut, Mother Teresa tergerak untuk membantu.
"Maukah, Bapak, kalau rumahmu kami bersihkan, pakainmu kami cuci, dan kami buatkan tempat tidur yang layak?" Tanya Mother Teresa.
"Tidak!" Jawab lelaki itu.
"Tidak perlu. Saya sudah nyaman dengan seperti ini." Kata lelaki itu menambahkan.
"Benar, Bapak sudah nyaman dengan hidup seperti ini, tetapi kalau Bapak mengijinkan kami membersihkan rumah ini, Bapak akan jauh lebih baik."
Akhirnya lelaki tua tersebut mengijinkan Mother Teresa dan suster-susternya membersihkan rumahnya. Saat membersihkan rumah tersebut, mereka menemukan sebuah lampu yang terbungkus debu. Setelah mereka membersihkan lampu tersebut, mereka baru menyadari bentuk aslinya. Lampu yang indah sekali.
"Mengapa lampu ini tidak dinyalakan? Dan sepertinya, lampu ini sudah tidak dipakai sekian tahun lamanya." Tanya Mother Teresa.
"Untuk apa saya harus menyalakan lampu. Tidak ada seorangpun yang mengunjungi aku." Jawab lelaki itu ketus.
"Baiklah. Tetapi maukan Anda berjanji untuk menyalakan lampu ini pada malam hari kalau suster-susterku mengunjungi engkau?" 
"Tentu saja aku akan menyalakannya."

Peristiwa sudah lama berselang. Mother Teresa sudah lupa akan periatiwa itu, akan lelKi itu. Sampai ia mendapat sebuah surat dengan pesan yg singkat.
"Sampaikan pada sahabatku. Lampu yang dia nyalakan dalam hidupku, sekarang ini terus bersinar."

Sahabat.
Sebenarnya saya hendak berbicara apa?
Saya ingin berbicara soal talenta. Kita semua diberi karunia yang berbeda, yg kita kenal sebagai talenta.
Mari kita gunakan. Bukan kita tanam. Menggunakan talenta yg paling baik adalah yang membuat hidup org lain kembali bersinar dan terus bersinar.

Salam

27 October 2014

Kapel di Avila



Video kenangan Romo Sixtus Leonard Beth Bhari, O.Carm dalam acara on going formation di Avila, Spanyol. Dalam formasi lanjut ini, mereka belajar lebih dalam lagi untuk memahami dan mengikuti ajaran Teresa Avila.
salam
Post by Anton Yanta.

25 October 2014

Belajar yang BENAR atau yang SALAH

Sudah berbulan-bulan ini hari-hari saya hanya bergulat dengan belajar bahasa Kantonis. Ada banyak hal yang membuat proses belajar ini menjadi begitu lambat. Orang-orang mengatakan bahwa bahasa Kanton itu susah, pakai banget. Kalau ada yang mengatakan belajar bahasa Kanton itu gampang, pasti fitnah. Demikian kata seorang teman.
Apa saja kesusahan dalam belajar bahasa Kanton tersebut?

Pertama soal nada atau tone. Secara umum bahasa Kanton memiliki 9 nada atau tone, meskipun tidak semua dipakai, atau bisa juga dirangkum menjadi 6 tone. Tetapi tetap saja sulit banget. Bahasa Mandarin saja hanya memiliki 4 tone. Berikut sedikit keterangan untuk memahami tone tersebut. Rentang tone atau nada yang dipakai adalah antara not sol rendah hingga not fa sedang.
Tone 1, sama dengan nada mi sedang, diucapkan secara datar (high level). Contoh yat1 artinya satu.
Tone 2, sama dengan nada re diucapkan dengan cengkok naik (high rising) sampai nada fa. Contoh zyu2, artinya master atau yang memiliki, atau lord.
Tone 3, sama dengan nada do sedang diucapkan secara datar (middle level). Contoh fai3, artinya biaya atau fee.
Tone 4, sama dengan nada do yang diucapkan dengan cengkok turun ( falling) ke nada sol rendah. Contoh jan4, artinya manusia.
Tone 5, sama dengan nada la rendah yang diucapkan dengan cengkok naik (low rising) ke nada do sedang. Contoh, ngo5, artinya saya.
Tone 6, sama dengan nada la rendah diucapkan secara datar (low level). Contoh, dei6 artinya jamak (ngo5 dei6 = saya yang jamak, atau kita).

Kedua soal bahasa tulis dan bahasa percakapan yang berbeda. Inilah salah satu keunikan bahasa Kanton, bahwa mereka memiliki istilah khusus untuk bahasa sehari-hari dalam percakapan dan bahasa formal dalam bentuk tertulis. Contoh, "saya suka makan apel." Dalam percakapan akan terdengar, "ngo5 jung1 yi3 sik6 ping4 gwo2". Tetapi dalam bahasa tulis tidak pernah dijumpai kata jung1yi3 dan sik6. Dalam bahasa tulis akan dibaca, "ngo5 hei1 fun1 hek3 ping4 gwo2".
Bagi pemula seperti saya, istilah written dan spoken ini kerap mengacaukan pikiran. Tulisan kharakternya berbeda. Dan, kerap saya tidak tahu mana spoken mana written. Kerap tercampur menjadi satu. Hasilnya, orang kerap bingung dengan apa yang saya ucapkan.

Ketiga, dan ini cukup menarik bagi saya, adanya kesalahkaprahan dalam bahasa. 
Contoh, saya selalu belajar kata nei5, untuk kata KAMU. Tetapi dalam keseharian yang saya dengarkan adalah kata lei5. Mereka mengganti HURUP N dengan HURUP L. Mereka berkilah, keduanya sama. Menurut para pengajar, orang HONG KONG itu malas, maka mereka berlaku semaunya. N diganti L.
Contoh kesalahkaprahan yang lain adalah kata CINTA. Orang kebanyakan akan menyebut kta NGOI3 padahal yang benar adalah OI3.

Ini contoh kecil dan sederhana, tetapi konsekuansinya besar. Apakah saya mau belajar yang benar dan menggunakan yang benar dalam kehidupan sehari-hari, atau belajar saja yang dipakai dalam masyarakat, meskipun itu salah. 
Pemikiran ini sederhana, kelihatannya, tetapi tidak sesederhana itu dalam kenyataannya. Ada banyak hal yang baik dan benar yang kita pelajari selama kita sekolah, tetapi semuanya menjadi sia-sia karena tidak dipakai dalam masyarakat. Seperti halnya nasib bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan, ejaan yang baik dan benar. Semuanya hanya tinggal kenangan dalam buku pelajaran, karena sehari-hari masyarakat memakai ejaan yang diamburadulkan. Memakai bahasa campuran dengan bahsa asing, bahasa alay, bahasa slang, dll.

Bagaimana dengan pembelajaran moral, nilai-nilai luhur kehidupan? Apakah itu juga akan tertinggal begitu saja dalam diktat-diktat pelajaran, tanpa pernah bisa diterapkan dalam masyarakat? Apakah nilai-nilai luhur yang dipelajari hanya akan tinggal cerita kuno yang tersimpan dalam buku berdebu?

Mestinya tidak. Mestinya apa yang benar, harus mampu memengaruhi yang buruk, yang rusak, yang salah kaprah. Tentu saja tidak mudah, karena pada awalnya akan terasa aneh, terasa janggal, tetapi kalau konsisten menjalankan, semuanya akan bermuara kepada perubahan.

#revolusimental

06 October 2014

Mendengarkan...

Sudah cukup lama saya tidak menulis catatan di blog. Kharakter Cina rupanya menyita seluruh perhatian saya. Tetapi hari-hari ini, perhatian saya terarah pada satu kharakter, yaitu karakter  聰 atau CŪNG (dibaca dengan nada agak tinggi, seperti nada MI).
Karakter ini memiliki arti dasar MENDENGARKAN. Mengapa saya katakan memiliki arti dasar, karena karakter ini juga memiliki arti lain, yaitu cerdas. Bagi saya sangat menarik bahwa kata mendengarkan itu sejajar dengan kata cerdas. Memang kata cerdas memiliki dua karakter, 聰明, CŪNG MÌHNG (kata mihng dibaca dengan cengkok turun, seperti dari nada DO ke nada SOL rendah).
Mari kita kembali ke karakter 聰. Karakter ini memiliki unsur telinga, yaitu 耳 (yíh, dibaca dengan cengkok LA rendah ke SI rendah) dan hati, yaitu 心 (sām, dibaca dengan nada MI).

Mendengarkan itu nggak cukup hanya dengan TELINGA, tetapi juga dibutuhkan HATI.
Nah, ketika seseorang sudah mendengarkan bukan hanya dengan telinga tetapi juga dengan hati, orang tersebut CERDAS. Orang tersebut mampu memilih bagian yang terbaik.

Nahhhhh.... Pada bagian ini saya teringat kata-kata Yesus pada Marta tentang Maria. Waktu itu Marta komplain pada Yesus, karena Maria tidak membantunya di dapur tetapi malah enak-enakan duduk di dekat kaki Yesus. Lalu Yesus menegur Marta,  "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Bagian yang terbaik, yang secara CERDAS dipilih oleh Maria adalah duduk manis mendengarkan Yesus. Tentu bukan hanya mendengarkan dengan telinga, tetapi juga dengan hati. Maria memang 聰明人 (cūng mìhng yàhn).

Ahhh, saya jadi malu dengan Maria. Kalau begitu saya tutup dulu catatannya. Mari kita ikuti Maria, memilih bagian yang terbaik.

Hong Kong, 6 Oktober 2014

18 September 2014

Menjadi Karmelit di Belantara Megapolitan


17 September 2014 adalah peringatan 800 tahun wafatnya St. Albertus pemberi regula (law giver) bagi karmelit. Saya mencoba merenungkan sedikit mengenai pasal 5 dalam regula tersebut.

“Selanjutnya, kamu boleh bertempat tinggal di tempat-tempat yang sunyi atau di tempat manapun yang diberikan kepadamu, yang menurut pandangan prior dan para saudara dianggap cocok dan layak untuk menghayati hidup kebiaraanmu.” (Regula 5)

Tempat sunyi di tengah megapolitan
Saya masuk Karmel pada tahun 1996. Kemudian sampai tahun 2003 saya tinggal di rumah pendidikan. Sejak tahun 2004 saya mulai tinggal di rumah karya. Mulai keluar dari kehangatan dan keheningan rumah pendidikan. Mulai menghayati hidup sebagai Karmelit di tengah medan karya yang tidak selalu gampang. Bahkan idealisme dan cita-cita awal tidak selalu bisa dijalankan.
Sejak tahun 2004 tersebut hingga sekarang (2014), saya sudah bekerja di tiga kota yang berbeda. Pertama di kota Malang, dari tahun 2004-2009. Kedua di kota Melbourne, dari tahun 2009-2012. Kini di kota Hong Kong, dari 2013 sampai sekarang.
Malang, Melbourne, dan Hong Kong adalah tiga kota yang berbeda. Dari tiga kota ini, yang bisa dikategorikan megapolitan adalah Melbourne dan Hong Kong. Di Melbourne saya tinggal selama 3 tahun; sedangkan di Hong Kong saya baru baru tinggal selama satu tahun.
Di Malang, sembari mengajar di SMAK St. Albertus, saya tinggal di rumah indok tarekat. Tinggal di sana sangatlah nyaman. Selain dekat dengan pusat kota, lokasi rumah kami juga cukup hening. Hanya pada siang hari cukup bising dengan suara para siswa. Tetapi hal itu masih sangat wajar.
Di Melbourne saya tinggal di paroki Port Melbourne. Terletak di pinggir kota Melbourne. Sekitar 15 menit naik tram dari pusat kota. Pastoran kami terletak di jalan buntu. Maka tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Suasanya cukup sepi, bahkan saya kerap merasa tinggal di desa karena suasana yang sepi tersebut. Di Hong Kong saya indekos di sebuah biara yang terletak jauh dari pusat kota. Membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit naik bis untuk sampai di pusat kota.
Pada awalnya saya membayangkan bahwa Melbourne dan Hong Kong tidak memiliki lagi daerah-daerah yang sepi. Ternyata saya salah. Ternyata masih ada tempat yang sepi di kota Melbourne dan Hong Kong. Ternyata selalu ada tempat yang sunyi di tengah bisingnya kota megapolitan.
Kebisingan dan Keheningan
Rasanya sulit mendampingkan kebisingan dan keheningan. Sulit membayangkan ada keheningan di tengah kebisingan. Maka sulit membayangkan bisa menghayati hidup sebagai biarawan di tengah kebisingan kota. Regula kami menegaskan bahwa kami hendaknya “tinggal di tempat-tempat yang sunyi.”
Sekarang saya tinggal di Hong Kong. Untuk sementara waktu indekos di daerah yang sunyi. Tetapi pada saatnya nanti kami akan tinggal di biara kami sendiri atau tinggal di paroki. Yang pasti, akan jauh dari keheningan.  
Di sinilah tantangan hidup sebagai karmelit baru dimulai. Bagaimana kami menemukan keheningan di tengah bisingnya kota. Apakah itu mungkin? Tentu saja mungkin. Karena keheningan yang utama bukanlah soal tempat tinggal, tetapi tentang keheningan batin.
Menghayati hidup membiara di Hong Kong
Salah satu ciri masyarakat Hong Kong adalah selalu tergesa-gesa. Mereka berjalan, makan dan bicara dengan cepat. Mereka selalu sibuk, seolah tidak ingin kehilangan waktu barang sejenak. Bahkan, berdoapun sangat cepat. Bahkan saya tidak mampu mengikuti ritme mereka mengucapkan doa. Terlalu cepat!
Mereka juga kelihatan individualis. Waktu mereka berada di tempat umum, telinga mereka biasanya ditutup dengan speaker kecil yang terhubung dengan alat pemutar musik, yang juga kecil. Atau, kalau tidak sibuk mendengar musik, mereka sibuk bermain game. Mata mereka hampir selalu terarah pada layar kecil yang ada di genggaman. Mereka hampir tidak memiliki perhatian terhadap orang di sekitar mereka.
Di tengah masyarakat yang seperti inilah Karmel mulai hadir. Kami hidup di tengah masyarakat yang seperti itu. Bahkan, pada saatnya nanti kami juga akan tinggal di antara mereka. Apakah kami mampu menghayati hidup karmel? Akankah semangat karmel mampu hidup di tengah kebisingan kota Hong Kong? Kiranya harapan itu selalu ada. Orang Hong Kong mengatakan, “saiseuhng moùh nàahnsih, jí pa yáuhsām yàhn.” Artinya, tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang memiliki harapan/kemauan.
Menghidupi semangat karmel di tengah bisingnya Hong Kong sangatlah mungkin. Karena sumber keheningan yang utama ada di dalam batin. Maka kami harus mulai melatih diri dengan baik. Melatih diri menciptakan ruang hening di dalam rumah kami, di dalam hati kami.
Mengapa ruang hening ini penting? Karena dengan memilikinya kami akan mampu menangkap kehendak Tuhan yang hadir diantara bisingnya suasana. Ketika kehendak Tuhan itu mampu kami tangkap, kemudian akan tiba saatnya untuk membagikannya kepada sesama.
Penutup
Tinggal di kota megapolitan seperti Hong Kong memiliki banyak tantangan, apalagi hidup membiara. Pertama-tama adalah tantangan untuk tidak hanyut dalam arus pola hidup masyarakatnya. Kedua, bagaimana bisa menghayati hidup membiara dan membagi madu rohani kepada mereka.
Bagi kami, dua tantangan ini sekaligus menjadi sebuah peluang. Karena keduanya sangat berkaitan erat. Keduanya memberi dorongan yang sangat kuat agar saya semakin erat menjalin relasi dengan Sang Cinta. Relasi yang mesra dengan Sang Cinta itu akan menghasilkan madu-madu rohani yang manis rasanya. Madu rohani itulah yang mesti kami bagikan kepada mereka. Dan dengan itu kami akan terhindar dari arus kehidupan yang begitu deras.