12 January 2017

SHORTCUT



Dulu sekali, pas mulai belajar komputer, sering menjumpai istilah shortcut. Awalnya saya nggak begitu ngeh apa maksudnya dan apa kegunaannya. Sebab kemampuan saya mencerna bahasa asing itu juga setengah nggak bisa.
Kemudian hari, setelah lama sekali, saya baru mengerti kalau istilah itu adalah sarana untuk mempermudah, memperpendek urusan. Bahasa kampung saya adalah “trabasan”.
Jalan“trabasan” ini penting sekali. Di manapun kita berada, kalau kita menemukan shortcut, kita akan menghemat waktu cukup banyak.
Saya teringat akan kisah beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya baru tiba di Melbourne, Australia. Baru beberapa bulan saja. Saat itu saya mendapat kunjungan dari mantan pimpinan di Indonesia. 
Sebagai mantan anak buah, yang sekarang menjadi rekan sejawat, saya bertanya, “mau apa? mau mencoba apa? kepengen berkunjung ke mana?” pokoknya saya ramah sekali.

“Saya pengen menikmati ‘PHO’, mie soup khas Vietnam di daerah Richmond.” jawabnya.

Kemudian saya mengajak beliau melewati jalanan yang saya ketahui. Di tengah jalan beliau menyela, “kok kita tidak lewat jalan yang di sana, khan lebih pendek?” 
Oh iya, beliau dulu juga bekerja di sana, melayani orang-orang yang saat itu saya layani juga. Maka sudah bisa dipastikan kalau beliau sebenarnya lebih mengerti daerah di sana.

“Walah, malah saya nggak ngerti.” Jawab saya sambil cengar-cengir.

Jalan pintas itu niscaya hanya dimengerti oleh orang-orang yang secara mengenal daerah tersebut dengan baik. Bahkan untuk apapun, jalan pintas bisa ditemukan kalau seseorang memelajari dengan baik. dalam ilmu komputer, dalam ilmu kesehatan, bahkan dalam hidup rohani.

Inti perjalanan rohani adalah persatuan dengan Allah. Perjalanan rohani belum mencapai ujungnya kalau belum mengalami persatuan dengan Allah. seperti seorang pendaki gunung, belum mencapai puncaknya kalau dia belum berdiri di puncak tertinggi. Untuk sampai di sana ada banyak cara yang bisa ditempuh. Ada jalan-jalan yang umum dipakai. Namun ada juga jalan-jalan pintas yang bisa dilalui. Tergantung tingkat pengenalan seseorang dengan medan belantaranya.

Dalam perjalanan hidup rohani, tokoh yang tidak boleh dikesampingkan adalah Santo Yohanes Salib dan Santa Teresa Avila. Kedua tokoh ini mengajarkan jalan-jalan yang mesti ditempuh untuk sampai kepada persatuan dengan Allah.
Santo Yohanes Salib menulis 4 buah buku yang menuntun pembacanya, yang sedang menempuh perjalanan rohani, untuk bisa sampai kepada tujuan sejati, persatuan dengan Allah tersebut. Beliau mengistilahkan perjalanan itu sebagai “mendaki Gunung Karmel”. Allah berdiam di puncak, dan untuk sampai ke sana kita mesti mengesampingkan banyak hal, termasuk di dalamnya hiburan-hiburan.
Santa Teresa Avila, mengumpamakan perjalanan rohani itu sebagai perjalanan memasuki sebuah Puri. Ada banyak ruangan yang mesti dilewati. Meskipun dalam bukunya disebutkan ada 7 ruangan dan Sri Baginda berdiam di ruangan ketujuh, namun sejatinya ada lebih banyak ruangan yang mesti dilewati. Puluhan, ratusan, tak terhingga.
Meskipun kedengaran sulit, sebenarnya seluruh perjalanan itu juga menyelipkan jalan pintas yang bisa dilintasi. Santo Yohanes menunjukkan jalan pengosongan diri sebagai jalan pintas. Sedangkan Santa Teresa menunjukkan jalan kerendahan hati sebagai jalan tol menuju persatuan dengan Allah.
Nah, ada satu tokoh lagi yang terang-terangan mengajarkan jalan pintas menuju persatuan dengan Allah itu. Dia adalah Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Dia adalah murid dari Santo Yohanes dari Salib. Dia mengetahui dengan pasti apa yang diajarkannya. Dan dia merangkumnya dalam jalan trabasan yang dia jalani sendiri. Jalan itu adalah jalan CINTA. Maka dengan gembira beliau berkata, “panggilankua dalah CINTA”.
Jalan pintas ini bisa ditempuh dalam 3 bagian. Pertama, adalah menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan SANG KEKASIH. Tanpa komunikasi yang rutin mustahil akan mengalami persatuan yang intim. Kedua, meditasi. Merenungkan Sabda Tuhan. Mengunyah Sabda-Nya dalam hidup sehari-hari. Dan yang ketiga adalah bacaan rohani. Memperkaya dengan bacaan-bacaan yang “mendidik iman” akan membantu dalam mengerti kehendak-Nya. Ketiga bagian ini akan secara perlahan membuka mata hati kita untuk melihat jalan pintas menuju persatuan dengan Allah.

salam