04 June 2016

ELIA, YESUS dan kisah para JANDA

Menghubungkan Nabi Elia dan Yesus dengan para janda sepertinya sedikit dipaksakan. Tetapi tidak, mereka memiliki hubungan yang erat dengan kisah para janda. Baiklah saya ceritakan beberapa kisahnya agar Anpa percaya bahwa mereka memiliki hubungan yang erat dengan para janda. Oh iya, sebelum saya melanjutkan cerita, soal hubungan erat dengan para janda ini jangan terlalu dipikirkan secara negatif. 

Kisah pertama:
Saat itu Yesus sedang berada di kampung-Nya. Sudah cukup lama Yesus meninggalkan kampung berkelana bersama para murid-Nya. Mungkin Yesus sudah kangen dengan makanan masakan mama-Nya, atau juga kangen dengan teman-teman masa kecil. 
Seperti biasa, setiap hari Sabat mereka berkumpul di Sinagoga untuk berdoa. Dan mereka pasti mereka sudah mendengar desas desus mengenai sepak terjang Yesus di luar sana. Maka setelah membaca dari Kitab Suci, Yesus diberi kesempatan untuk berkhotbah. Juga seperti biasanya, Yesus tampil memukau.
Alih-alih percaya kepada Yesus, banyak orang yang mendnegarkan Yesus malah bersungut-sunggut. Menggerutu dan ngedumel. "Dari mana Yesus belajar semua ini, bukannya dia ini anaknya Yosep yang biasa membuat meja kursi ini, bukannya dia bersama kita bermain-main dan kita tahu siapa dia sebenarnya."
Tentu saja Yesus mengerti segala gerundelan itu. Wong pikiran orang saja bisa dibaca. Maka, seperti biasanya juga, Yesus langsung saja menyemprot mereka dengan cerita. Saya bayangkan cara Yesus menyemprot mereka itu begini:
"Heh teman-teman, kalian tahu nggak ada berapa janda di Israel pada jamannya Elia? Tahu nggak? Banyak banget. Meskipun ada banyak janda waktu itu, tetapi tidak kepada satupun janda di Israel Elia disuruh pergi. bahkan elia disuruh pergi kepada seorang janda yang jauh di luar negeri sana. Atau, kalian ingat nggak, berapa orang yang sakit gatal-gatal, sakit kusta pada jamannya Elisha, muridnya Elia itu? Kalian tahu nggak berapa jumlahnya? Buanyak banget! Tetapi tidak satupun dari mereka disembuhkan. Malahan seorang yang datang jauh bernama Na'aman yang disembuhkan. teman-teman, kalian tahu tidak, dari dulu sampai kini, tidak ada nabi yang dihormati dikampungnya."

Kisah kedua:
Elia baru saja menabuh genderang perang dengan Ahab raja Israel dan terutama dengan Izebel. Oh iya, Izebel berasal dari luar negeri. Anaknya Etbaal raja orang Sidon. Ketika dipersunting oleh Ahab, dia memberi syarat, yaitu boleh membawa dewa-dewanya ke Israel, yaitu baal. Rupanya pengaruh istri ini begitu kuat. Ahab membangun banyak kuil untuk baal, membangun banyak patung untuk dewa-dewa baal. Bahkan pada akhirnya seluruh Israel menyembah baal dan meninggalkan Tuhan Allah. 
Tinggal seorang yang setia. Namanya Elia yang berasal dari kampung Tisbe di Gilead. Elia ini bujangan yang tak takut mati. Dia sudah tahu bahwa tinggal dia seorang yang setia kepada Tuhan Allah, tetapi dia nekat menantang Ahab dan istrinya. Dia pergi dari Tisbe menuju istana raja. Di sana dia menantang perang. Dengan lagak bujang lapuk tak takut mati, Elia berteriak di depan istana.
"Hai Ahab, kamu telah membawa seluruh rakyat meninggalkan Tuhan Allah. Kamu lebih memilih bersembunyi di bawah ketiak istrimu dan memunggungi Allah. Dengarkan! tidak akan ada lagi hujan di Israel. Jangankan hujan, embunpun tak akan turun. Sampai aku meminta supaya turun."
Setelah berkata demikian Elia pergi ke sungai Kerit. Di sana dia bisa minum dengan baik. Ketika sungai itu mulai mengering, Elia diminta pergi ke kampung Sarfat. Di sana ini bertemu dengan seorang janda. Nama janda itu tidak pernah disebut, hanya dikenal sebagai janda dari SArfat. Apakah dia satu-satunya janda di kampung Sarfat, saya tidak tahu. Mungkin setelah Elia numpang di sana orang mengenal sebagai janda yang  memberi tumpangan pada orang asing.
Perjumpaan elia dengan sang janda juga agak norak. Elia bukan bertamu baik-baik, tapi langsung tembak tatkala berjumpa di ladang. Waktu itu si janda sedang mengumpulkan kayu bakar untuk masak. Dengan enteng, Elia meminta kepada si janda agar membuatkan dirinya sepotong roti bundar. Untung janda itu sopan, coba macam saya, pasti sudah saya semprot. Orang kok ga sopan. Kenal saja tidak, ehhh seenaknya minta roti bundar.
Sekali lagi, untunglah janda itu sopan. Maka dengan halus dia menjawab, 'maaf tuan, saya tinggal memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak. Setelah makan roti ini, saya dan anak saya akan mati karena kami tidak memiliki persediaan makanan lagi." Dasar Elia tidak sopan, dia masih ngotot. "Buatkanlah dulu aku sebundar kecil, baru kamu buat buat anakmu." 
Untunglah, sekali lagi untunglah janda itu sopan, maka dia membuatkan Elia sepotong roti bundar kecil. Barulah kemudian dia membuat sepotong roti kecil juga untuk dirinya dan anak perempuannya. Mungkin saat membuat roti itu, si janda berurai air mata. Inilah dengan sadarnya dia tahu akan mati. Karena dia tidak memiliki apa-apa lagi untuk di makan. Mungkin sewaktu membuat roti kecil itu, selain derai air mata juga mengalir derai doa kepada Allahnya, bahwa inilah kesempatan terakhir berbuat baik.
Selanjutnya diceritakan bahwa tepung itu tidak pernah habis dan minyaknya juga tidak pernah kering. Sehingga keesokan harinya, janda itu masih bisa membuat roti lagi dan lagi, untuk dia, anaknya dan Elia yang menumpang di rumahnya. 

Kisah ketiga: 
Kisah berikut adalah pertemuan Yesus dengan seorang janda yang kehilangan anak lelakinya yang tunggal. Saat itu Yesus sedang berjalan menuju ke kota Nain. Di gerbang kota, Yesus berjumpa dengan iring-iringan pembawa jenazah. Kesedihan rombongan itu begitu terasa. Bisa dipahami, karena yang meninggal adalah anak muda dari seorang janda. Sungguh menyedihkan, karena janda itu sudah kehilangan suaminya, sekarang kehilangan anaknya. Artinya dia kehilangan seluruh harapan hidupnya.

Cerita tentang janda yang kehilangan satu-satunya harapan dalam hidupnya adalah malapetaka tak tertahankan. Kesedihannya tak terperikan, seluruh orang yang mengenalnya ikut sedih, bahkan orang yang baru berjumpa akan ikut sedih. Tergerak oleh belas kasih itulah kemudian Yesus membangkitkan anak muda tersebut. "Jangan menangis, Bu. Janganlah sedih. Biarkan AKU memanggul bebanmu." Mungkin khayalan saya akan apa yang disampaikan oleh Yesus bisa jadi benar. Yesus tidak mau janda tersebut bersedih sendiri. 

Para janda:
Menarik bahwa kisah para janda ini kerap muncul dalam kisah-kisah penting dalam Kitab Suci. Terutama kisah-kisah yang menggambarkan belas kasih Allah. Karena para janda adalah gamabran dari mereka yang lemah dan terlupakan. Oh iya, par ajanda ini biasanya yang miskin dan tua. Kalau janda muda dan kaya, akan mudah menjadi tidak janda lagi, atau dengan gampang mendapatkan jaminan hidup. Tetapi para janda yang miskin dan tua, mereka sungguh tidak memeiliki apa-apa dan siapa-siapa untuk bertahan. Mereka hanya memiliki Tuhan.
Gambaran Tuhan Allah yang menjadi pembela bagi mereka yang lemah, juga menjadi sangat kuat dalam kisah mengenai para janda di dalam Kitab Suci. Janda Naomi dan anaknya Ruth mendapatkan belas kasih melalui Boas, kakek buyut Daud. Janda Sarfat yang mendapat belas kasih allah melalui Elia, dan janda dari Nain yang mendapatkan kemurahan hati Yesus.
Para janda ini juga mewakili kelompok orang yang dalam hidupnya mendapatkan banyak cap kurang baik. Kalau dia berjalan dengan seorang pria akan segera digosipkan. Kalau dia belanja sesuatu akah segera dicurigai, hanya karena statusnya yang janda. Maka, para janda ini sungguh wakil lengkap dari kelompok lemah dan tersisih, mereka yang rentan mendapat perlakukan kurang adil di masyarakat. Namun di sisi lain, mereka adalah wakil dari kelompok orang yang mendapatkan belas kasih dari Allah, karena merek ahanya mengandalkan diri kepaa Allah.

Maka hari ini saya sungguh terus berpikir mengenai para janda ini. Eh salah, berpikir mengenai belas kasih Allah kepada para janda ini. Saya terus merenung, bagaimana saya bisa meniru sikap belas kasih Yesus, sikap belas kasih Allah terhadap mereka yang kesulitan, mereka yang menderita. Yang menderita, bukan hanya para janda, karena sebenarnya yang menderita itu bukan hanya para janda, tetapi semua orang juga memiliki pengalaman menderita. Maka, saya sungguh didamprat oleh Yesus untuk ikut serta dengan Dia menjadi teman bagi yang menderita. 

salam
St. Teresa Church, Kowloon, Hong Kong






03 June 2016

Jangan MENANGIS

Saya ingat ajaran orangtua dulu untuk bisa berbela rasa dengan sesama. Secara sederhana, bela rasa bisa dimengerti sebagai "ikut merasakan". Jika menggunakan bahasa yang agak tinggi, sepadan dengan "emphati". Artinya kurang lebih sama, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Terlebih perasaan sedih karena bencana, kehilangan orang yang dicintai, dst.
Namun ada kepedihan yang lebih pedih dari semua bencana, yaitu menjalani semuanya itu sendirian, tanpa teman untuk berbagi. Sungguh sebuah kepedihan yang tak tertahankan. Maka sikap berbela rasa akan sungguh membantu. Mungkin tidak melepaskan kepedihan itu seutuhnya, namun akan meringankan. Setidaknya ada rasa bahwa 'aku tidak sendiri menanggung dukaku'.

Bagaimana bisa berbela rasa dengan baik? Ada sebuah kisah yang bisa dipakai sebagai salah satu cermin untuk bersikap serupa. Kisah ketika Yesus berjumpa dengan iring-iringan jenasah dari seorang pemuda anak dari seorang janda di desa Nain. Kepedihan yang sungguh terasa, seorang janda ditinggal mati anaknya yang tunggal. Kepedihan yang sulit dipahami. Dia sudah kehilangan suami. Entah bagaimana ceritanya, apakah suaminya pergi atau meninggal, yang pasti sekarang dia sudah tidak bersuami. Tinggallah anaknya yang tunggal. Sekarang dia meninggal. Kepedihan seperti robeknya satu-satunya baju yang tak mungkin ditambal. Pedih di dalam dada seolah yang menggumpal, mengganjal.
Lukas bercerita bahwa Yesus tersentuh hati-Nya. Dia ikut merasakan kepedihan yang dialami oleh si janda. Diceritakan bahwa Dia menghampiri rombongan pembawa jenazah, pertama menemui si janda dan berkata, "jangan menangis." Kemudian memegang keranda dan meminta anak muda itu untuk bangun. Lukas menutup ceritanya mengenai Yesus yang berbela rasa hingga pada pembangkitan dari kematian dengan menceritakan reaksi orang-orang yang ada di sana. Mereka memuji Tuhan.

JANGAN MENANGIS
Kata-kata ini sederhana, namun maknanya luar biasa. Ketika Yesus berkata kepada janda Nain itu, "jangan menangis", seolah hendak berkata, "jangan menangis, Ibu, aku akan membantumu mengangkat bebanmu, kamu tidak perlu menderita sendirian." Sungguh tiada yang lebih indah dibandingkan ada pribadi yang memahami kita, memahami beban yang mesti kita panggul dan segala sakit yang kita bawa. 
Kata-kata peneguhan yang diucapkan oleh Yesus itu juga memberi bukti bahwa Allah kita bukanlah Allah yang tinggal di tinggi di atas awan yang tak terjangkau oleh manusia. Dia adalah Allah yang dekat, yang mengerti segala derita manusia yang ikut merasakan setiap jerit lara hati umatnya. Dia yang dekat, yang ada di antara kita.
Sejatinya, sapaan "jangan menangis" itu juga ditujukan pada kita. Iya, kita yang merasa sendiri menanggung beban, sendirian membawa lara hati, sendirian memikul segala perkara. Sejatinya kita tidak pernah sendiri, karena Dia ada di sebelah kita dan berkata, "jangan menangis...".
Selain diberikan kepada kita, sapaan "jangan menangis" juga sebuah undangan. Undangan untuk ikut bersama dia, berbela rasa dengan sesama saudara yang mengalami derita. Mungkin kita tidak bisa membuat mukjizat seperti yang dilakukan oleh Yesus, tetapi kita bisa melakukan sapaan yang sama, bisa hadir dan menjadi teman bagi mereka.
Pertama, langkah sederhana yang pasti bisa dibuat adalah mendoakan mereka. Mendoakan dengan tulus mereka yang menderita, juga berdoa bersama mereka.
Kedua, melakukan sapaan. Mengirim SMS atau WA, email, pesan FB, twitter, atau sarana apapun yang bisa dibuat untuk menyapa mereka, untuk mengingatkan mereka yang menderita, bahwa mereka masih memiliki kawan untuk berjalan bersama melalui lorong-lorong sempit derita.
Ketiga, hadir di tengah mereka. Mengunjungi mereka, membezuk mereka yang sakit, yang di penjara,  atau di manapun mereka berada. Mungkin kita tidak bisa melakukannya sendirian. Kita bisa bergabung bersama secara kelompok, dalam kelompok SSV atau Vincensian, kelompok Legio Maria, atau kelompok yang lain yang dekat dengan kita. Kunjungan secara kelompok akan lebih menegasakan bahwa mereka sungguh tidak sendiri.

salam 


27 May 2016

Lebih DEKAT lebih HANGAT

Lai la wai... lai la wai....
Lai la wai... lai la wai....

Teriakan itu biasa terdengar di pasar-pasar di Hong Kong. Biasanya yang paling kencang suaranya adalah para penjual ikan. Terkadang juga penjual buah dan sayur kalau hari sudah menjelang sore dan pasar sudah harus ditutup. Karena ikan, sayur, dan buah tidak bagus kalau tidak segar. Maka para penjual itu berteriak-teriak menjajakan jualannya agar pembeli mendekat dan memborong.

Terikan itu kalau diterjemahkan sederhana artinya, "datanglah... datanglah...., mendekatlah... medekatlah..."

Lebih dekat lebih hangat...
Seorang penjual menghapakan pembeli datang, mendekat dan merapat ke lapak dagangannya. Kalau pembeli sudah mendekat dan rapat, mereka bisa mengenal lebih dekat aneka dagangan yang ada di sana. Sebaliknya juga kalau pembeli sudah dekat,penjual bisa lebih mudah melancarkan jurus rayuannya.
Soal mendekat dan menjadi lebih hangat ini bisa juga terjadi dalam banyak aspek kehidupan. Ambillah contoh dokter dan pasien. Seorang pasien harus mendekat kepada dokter agar sang dokter bisa melihat sakitnya lebih jelas. Sebaliknya juga sang dokter perlu mendekat kepada bagian yang sakit untuk memastikan penyebab, jenis penyakit, dan obat apa yang pas. Bahkan untuk bisa melihat lebih jelas, biasanya para dokter menggunakan alat bantu. Entah berupa senter atau stetoskop.

Hubungan dekat dan hangat ini juga terjadi dalam ranah ilahi. Antara Allah dan manusia. Dalam sejarah panjang kehidupan manusia, kita bisa menandai banyak kejadian yang menunjukkan hubungan dekat antara manusia dengan Allah. Tentu sumber yang sangat mudah dibaca adalah Kitab Suci. Di sana bisa kita temukan banyaknya kejadian yang menandakan pasang surut relasi manusia dengan Allah.

Pada awalnya kita membaca bahwa Allah adalah Allah yang tidak mau kesepian. Ia menciptakan teman untuk bisa berdialog dan jadilah manusia pertama yang dikenal sebagai Adam dan pasangannya Hawa. Mereka tinggal di sebuah taman yang dikenal sebagai EDEN. Relasi antar mereka juga ditandai dengan pasang surut. Puncaknya adalah ketika Adam dan juga Hawa melanggar apa yang sudah diperintahkan oleh Allah. Mereka makan buah yang dilarang. Maka mereka diusir dari taman. Sebelum diusir, Allah masih memberi janji kepada perempuan itu akan adanya rencana keselamatan.

Kemudian relasi antara Allah dan manusia juga ditandai dengan relasi antara Allah dan keluarga Abraham. Hubungan mereka sangat dekat yang ditandai sikap saling percaya. Allah memercayai Abraham demikian juga sebaliknya Abraham memercayai Allah sepenuhnya. Relasi antara Allah dan Abraham ini kemudian berkembang begitu besar hingga menjadi relasi antara Allah dan sebuah bangsa, bangsa pilihan.

Relasi antara Allah dan bangsa pilihannya ini juga ditandai pasang surut. Allah selalu setia dalam mejaga relasi, sebaliknya manusia kerap tidak setia. Dalam kurun waktu yang begitu lama, Allah diwakili para nabi berusaha mengingatkan bangsa Israel akan perjanjian antara mereka dengan Allah. Hingga kemudian datanglah Yesus, Mesias Putera Allah.

Yesus menjadi puncak dari kehendak Allah yang ingin dekat dengan manusia. Allah yang tidak mau tinggal jauh dengan manusia, yang tidak mau hanya ada di atas awan belaka. Melalui Yesus yang turun dari surga, Allah ingin memeluk dan merangkul manusia. Allah yang mengalami segala derita manusia. Allah yang bisa kita sentuh, bisa kita sebut sebagai "saudara".

Sebagai manusia, Yesus tidak bisa selamanya tinggal bersama manusia. Pada saatnya Dia mesti kembali ke tempat dari mana Dia berasal. Maka Allah mesti mencari cara agar tetap bisa dekat dengan manusia. Cara pertama yang dipilih adalah mengutus Roh Kudus untuk mendampingi hidup manusia. Cara kedua yang dipilih adalah menciptakan EKARISTI. Cara inilah yang kehangatannya sungguh terasa karena kedekatannya sungguh melekat.

Kedekatan cinta...
EKARISTI membuat Allah tetap bisa dekat dengan manusia. Bahkan bersatu erat. Relasi antara dua pribadi akan terasa sungguh kehangatannya kalau masing-masing pihak memiliki frekuensi cinta dan kadar getar yang seimbang. Maksudnya, Allah sudah menggetarkan frekuensi cintanya sampai 8 skala riter ala gempa bumi, bahkan juga mengobarkan api cinta yang menyala-nyala seprti api tukang pembuat gelas. Kalau di pihak lain, di pihak manusia tidak mengubah frekuensi cintanya sehingga memiliki getaran yang sama, maka api yang dikobarkanpun tidak akan sebanding, dan akhirnya api cinta itu hanya mobat-mabit sepeti nyala api lampu minyak diterjang dingin.
Kedekatan cinta itu akan terasa hangat dan memanas kalau kedua belah pihak sama-sama mencinta, sama-sama memiliki gebu yang sama, sehingga terasa menggebu-gebunya. Kalau hanya satu pihak yang memiliki gebu maka kurang nendang rasanya.
Maka jelaslah sudah, pihak manusialah yang mesti mencocokkan chanel frekuensinya dan mengatur bara api cintanya sehingga nyantol dengan frekuensi cinta Allah dan seirama dengan getaran kasih-Nya.

Bagaimana caranya?

Sebenarnya caranya tidak perlu dibahas di sini. Mengapa? Karena setiap kita pernah memiliki pengalaman cinta, pengalaman dicinta dan mencinta sehingga jadilah pengalaman bercinta. Manusia lahir karena buah bercinta, buah cinta orangtua, buah cinta Allah yang mengijinkan pasangan yang bersatu erat memiliki buahnya. Ketika lahir, si jabang merah bayi mendapatkan cinta dari orang-orang di sekelilingnya. Hingga pada saatnya nanti muncul cinta-cinta yang lain, yang berada di luar batas relasi keluarga dan pada akhirnya membentuk keluarga sendiri.
Demikianlah hendaknya cinta yang akan dipadu dengan Allah. Cinta yang diawali dengan seringnya perjumpaan, terjaganya komunikasi, dan pemberian diri yang seutuhnya. Misalnya seorang pemuda, kalau dia tidak pernah datang ke rumah pemudi yang diincarnya, dia tidak akan pernah bersatu padu. Dia harus datang ke rumahnya, berkenalan dengan keluarganya hingga akhirnya menajdi bagian dari keluarganya.
Begitulah dengan relasi kasih antara manusia dengan Allah. Kita yang mesti datang mengunjungi rumahNYA, ngapel. Hingga nanti kita menjadi bagian dari keluargaNYA. Komunikasi juga dijaga dengan metode doa. Komunikasi bebas pajak, bebas roaming, bebas batasan pulsa. Murah meriah. Dan persatuan dengan erat itu terasa dalam EKARISTI. Saat kita menyambut TUBUH dan DARAHNYA. Di sana kita bersatu erat, bersatu hangat. Dia yang kita cintai telah menyatu di dalam kita. Betapa hangatnya.

Maka, merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, menjadi satu kesempatan untuk memperbaharui cinta, kesempatan mengobarkan cinta lagi agar menyala terang, agar menggebukan gelora di dalam dada. Mari kita datang mendekat padanya, karena lebih dekat memang akan lebih hangat.

Salam

HR Tubuh dan Darah Kristus
St. Teresa Lisieux Parish
Kowloon - Hong Kong



19 May 2016

Tak Kenal, maka Tak Sayang...

Ini pepatah kuno yang kerap diucapkan dalam sebuah pertemuan. Apalagi kalau pertemuan itu melibatkan orang dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda. Pemandu acara akan mengajak para peserta untuk bekenalan, setelah berkenalan diharapkan ada jalinan pertemanan yang baik. Siapa tahu ada yang saling sayang dan melangkah ke jenjang yang lebih dalam lagi, siapa tahu!

Dan urusan kenal serta sayang ini menyasar berbagai lini kehidupan, bahkan bukan soal dua atau tiga insan manusia. Misalnya soal bercocok tanam. Seseorang tidak akan menyukai bercocok tanam kalau dia tidak pernah berkenalan dengan tanaman, dengan bebungaan, dengan tanah dan dengan keindahan. Kecintaan akan cocok tanam juga bisa timbul karena alasan yang sangat manusiawi. Misalnya kawan saya, dia suka bercocok tanam karena gadis incarannya suka berkebun. Alasannya simpel saja. Dia mulai bercocok tanam, mulai mengenal jenis tanaman, bebungaan, dll. Tujuannya sederhana, agar nanti kalau pas ngobrol berdua bisa nyambung. Kalau sudah nyambung akan mudah mengarahkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Saya katakan bahwa urusan mengenal dan menyayang itu juga menyasar setiap lini kehidupan manusia. Bahkan juga soal urusan dengan yang tidak kelihatan, dengan Sang Khalik. Seseorang tidak akan bernyala api cintanya kalau dia tidak pernah berusaha berkenalan dengan Sang Khalik. Memang lebih mudah berkenalan dengan anaknya Pak Kholik yang biasa berpeci terbalik itu dibanding berkenalan dengan Sang Khalik. Anaknya Pak Kholik jelas kelihatan wujudnya, rambutnya yang tergerai panjang, sorot matanya yang kerap berkedip nakal, atau langkah kakinya yang cepat seperti kelinci meloncat. Mudah dilihat dan diidentifikasi.
Lha berkenalan dengan Sang Khalik? garuk-garuk kepala yang tidak gatal bener dah. wujudnya tidak bisa dilihat, tubuhnya tidak bisa disentuh, semerbak aromanya tidak bisa dikenali, dst. Intinya, bagaimana mungkin kita berkenalan dengan sesuatu yang tidak pernah kelihatan?

Syukurlah bahwa manusia itu bukan makluk yang hanya mengandalkan daya empiris belaka. misalnya, baru percaya kalau sudah pernah melihat, pernah mencecap, pernah mendengar, pernah merasa, dll. Manusia itu bisa berabstraksi, bisa merasa. Saya percaya bahwa saya mempunyai otak meskipun saya belum pernah melihat otak saya, belum pernah mendengar degup otak saya, belum pernah meraba otak saya, tapi saya percaya bahwa saya memiliki otak. Apakah otak saya besar atau kecil, kemampuan berpikirnya bagus atau tidak, masih bekerja maksimal atau tidak; saya tidak tahu. Yang saya yakini, saya memiliki otak.

Lalu kembali kepada persoalan dengan Sang Khalik tadi, yang lebih mudah berkenalan dengan anaknya Pak Khalik tadi. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, mereka sampai kepada pengenalan bahwa ada "sesuatu" yang mengatasi keberadaan manusia. Ada DIA yang melebihi daya kemampuan manusia untuk mencerna dan mengerti. Ada DIA yang kepadaNYA kita berseru tatkala kita mengharapkan bantuan yang melebihi batas kemampuan manusia. Maka muncullah berbagai acara ritual yang kata orang modern dianggap aneh. Mereka yang bersujud dan menaruh ebungaan di sebuah batu besar, di bawah pohon besar, di perempatan jalan, di dekat sumber mata air, dll. Mereka mengekspresikan sebuah nalar yang tak terkata dengan nalar, yang tak terdefinisikan dengan kata akan kehadiran "Sang Khalik".

Lalu peradaban manusia membawa kepada pengalaman yang lebih modern. Muncullah AGAMA. Hadirlah TUHAN dalam kehidupan manusia. Dia mewujud, mengirim para nabi-Nya, DIA mengatur. Ada tatanan yang DIA berikan yang harus diikuti. Ada Kitab yang bisa dibaca sebagai sebuah manual dalam hidup beragama.
Baiklah kalau kita sebut munculnya AGAMA-AGAMA itu sebagai reaksi atas pengalaman manusia akan Yang Ilahi tersebut. Karena pengalaman manusia itu berbeda-beda maka muncullah banyak Agama. Ada pula agama yang mirip-mirip. Misalnya ada tiga agama besar yang memiliki sejarah yang sama, yang memiliki pengalaman akan kehadiran Allah yang mirip. Yaitu, Yahudi, Katolik/Kristen, dan Islam. 
Pengalaman akan Allah itu bisa bersifat sangat personal dan kemudian berkembang menjadi pengalaman bersama. Misalnya pengalaman iman ABRAHAM. Dia dan keluarganya memiliki hubungan personal dengan ALLAH. Hubungan itu kemudian berkembang dalam keluarganya, dan keluarganya berkembang menjadi sebuah bangsa. Dan ketika pengalaman akan Allah itu dibagikan, dan orang lain yang mendengar pewartaan itu mengamininya, pengalaman itu kemudian menjadi pengalaman bersama. Pengalaman akan Allah yang diwariskan oleh Abraham adalah pengalaman Allah yang TUNGGAL. Dalam bahasa modern, MONOTEISME. Bahkan dalam perjalanan sejarah keimanan kelompok ini muncul NABI ELIA yang berjuang untuk mempertahankan Allah yang tunggal ini dan melawan adanya penyembahan allah yang lain.

TRI TUNGGAL
Agama Katolik meneruskan sejarah pengalaman akan Allah yang dialami oleh Abraham. Dahulu kala, Allah mengikat perjanjian dengan Abraham. Inti dari semua perjanjiannya adalah janji keselamatan. Allah hendak menyelamatkan manusia. Rencana atau janji keselamatan itu terus diperbaharui. Allah, diwakili juru bicara-NYA, yaitu para nabi, terus mengingatkan manusia akan janji keselamatan itu. Di sisi lain, juga mengingatkan agar manusia setia dengan janji yang telah diucapkan. Yaitu janji setia kepada Allah yang Tunggal tersebut.
Kemudian datanglah Yesus. Membaharui perjanjian yang selama ini juga selalu diperbaharui melalui para nabi. Dalam seluruh pengalaman perjanjian itu, pihak manusialah yang selalu ingkar janji, sedangkan pihak TUHAN selalu mengampuni. YESUS datang membaharui seluruh perjanjian itu melalui dua belah pihak. Pihak TUHAN dan pihak MANUSIA. Karena sekarang dua pihak diwakili oleh satu orang, maka tidak ada yang bisa mengingkari.
Melalui Yesus pula kemudian kita mengenal ALLAH TRI TUNGGAL. Allah itu tetap satu, hanya mewujud dalam tiga pribadi, BAPA, PUTERA, dan ROH KUDUS. Ada beberapa peristiwa yang dicatat dalam Kitab Suci yang menggambarkan ketigaNYA. Misalnya dalam peristiwa setelah Yesus dibaptis. Di sana Roh Kudus muncul dan ada suara Bapa menyatakan kasihNya kepada Yesus.
Konsep Allah yang TUNGGAL tetapi terdiri dalam tiga pribadi ini amat sulit dipahami. Bahkan banyak pihak, terutama non Katolik yang mengkritik konsep ini. Mereka menganggap bahwa konsep ini kontradiksi. Bagaimana mungkin Allah yang Tunggal tetapi juga Tiga. Bagaimana mungkin TIGA tetapi juga SATU. Amat sulit dipahami. Tetapi inilah iman yang dihidupi oleh orang Katolik.
Bagi saya pribadi, misteri Allah Tri Tunggal ini menandakan bahwa Allah itu sungguh Allah. Karena kalau Allah atau Tuhan itu bisa dipahami 100% maka dia pasti bukan Tuhan. sesimpel itu. Untuk lebih lengkapnya, nanti kita bisa mengeceknya tatkala kita sudah berhadapan muka dengan muka dengan Allah dalam keabadian. Tetapi, sebelum semuanya itu terjadi, sebenarnya kita bisa memahami Allah Tritunggal dalam hidup sehari-hari. Dalam pengalaman pendalaman iman.

KENAL DAN SAYANG
Maka, ungkapan tak kenal maka tak sayang juga pas dikenakan kepada pengenalan kita akan Tuhan. Kalau kita tidak pernah berusaha mengenalnya, kita tidak akan pernah menyayanginya. Pengenalan adalah sebuah proses. Memang kita tidak bisa langsung bertemu dengan BELIAU face to face. Tapi kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, dari hasil pembelajaran orang lain. 
Proses pengenalan ini bukan hanya sekadar pemuasan akal budi dengan membaca banyak buku. Tetapi juga harus menyentuh perasaan dan jiwa. Di sanalah fungsi mempraktikkan apa yang kita pelajari dan kita imani.
Akal budi kita harus dilengkapi dengan banyak informasi yang benar dan terarah. Misalnya dengan membaca ajaran resmi Gereja, seperti yang dituangkan dalam buku katekismus (bisa dibaca mulai artikel 253 sampai dengan artikel 256). Mungkin kita tidak paham dengan ujaran yang dipaparkan di sana, tetapi kalau tidak pernah membacanya sama sekali dan menarik kesimpul secara sepihak tentu amat sangat berbahaya. Disinilah olah akal budi diperlukan. Juga masih ada banyak buku-buku hasil karya para teolog yang mencoba merenungkan misteri Allah Tritunggal ini.
Sedangkan batin yang diwakili perasaan dan jiwa juga harus dipuaskan. Aktivitas kesalehan seperti, menghadiri Ekaristi, melakukan pengakuan dosa, bergabung dalam kelompok doa atau kelompok syering Kitab Suci, atau juga kelompok sosial di Gereja, itu penting dan baik untuk dilakukan. Segala aktivitas ini bisa membantu untuk bisa mengenal Allah lebih imbang dan lebih dekat lagi, memupuk rasa sayang, dan pada akhirnya akan memiliki pemahaman yang penuh akan DIA.

Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus 2016
salam.
St. Teresa's Parish, 
Kowloon - Hong Kong.


12 May 2016

Friday the 13th

Hari ini Jumat, katanya sih Jumat keramat, karena tanggalnya adalah tanggal 13. Ingat dulu sewaktu kecil ada film horror di TV, selalu berkisah mengenai hari Jumat di tanggal 13. Apa iya begitu keramat dan horror? keramatnya mengenai apa? horrornya mengenai apa juga? sampai kini kerapkali saya nggak mengerti. atau karena hidup saya sudah penuh dengan horror, maka tidak membutuhkan horror yang lain yang datang dari luar.

Kemarin tanggalnya 12. (ya jelas dongggg.... hari ini 13 kemarin 12 dan besok adalah 14. anak kecilpun tahu!!! Dasar kurang kerjaan).
Oke, bukan soal itu yang hendak saya sampaikan.
Kemarin tanggal 12 di bulan Mei, tepatnya 11 tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di bagian timur pulau Jawa di Nusantara Indonesia (jiah panjang amat pengantarnya) 
tersebutlah empat pemuda gagah perkasa (hmmm... mulai puji diri sendiri gagah perkasa!) 
melangkah tenanag dengan hati berdegapdegup, sepatu fantofel hitam (yang baru kena semir beberapa jam yang lalu), 
rambut sedikit gondrong (karena lupa potong rambut), 
pandangan mata sedikit gugup (melihat tamu yang datang berduyun-duyun)... 
sore hari sekitar jam 5 sore, di tengah suasana kota Malang yang hangat (tapi hati panas dingin)....... waktu itu.
 
ya, hari ini tanggal 13 harinya Jumat, kemarin tanggal 12 harinya Kamis, sama halnya seperti 11 tahun yang lalu, hari Kamis sore di kota Malang, di Katedral Maria Bunda Karmel Malang, melangkah dengan sedikit gugup, empat pemuda dengan diapit kedua orangtua mereka, melangkah ke arah altar untuk memberikan dirinya seutuhnya sebagai pelayan dalam kawanan gembala, membantu Gembala Agung. 

hari itu, hari Kamis seperti halnya kemarin harinya Kamis. Mereka sebenarnya manis, namun sedikit terkikis oleh aroma amis keringat tamu yang datang berbis-bis. Namun semua tidak menjadi alasan tragis untuk tidak tertawa njegigis. Terkadang rahmat Allah itu begitu mistis, dan jangan berusaha untuk menepis, karena akan ada banya iblis berusaha merebut berkat yang tersimpan berlapis-lapis.

Kemairn tanggalnya 12 bulannya Mei 11 tahun yang lalu. Kok yaa sudah 11 tahun saja semuanya berlalu. Kalau boleh menoleh ke belakang, banyak juga yang sudah terpaku. ada debu di saku-saku baju, terkadang debu itu telah membatu, memberatkan langkah yang seharusnya mulus selalu. 11 tahun itu sesuatu.

Oh iya, catatan yang sulit dicerna ini hanya ingin mengucapkan Teriamaksih.
Pertama kepada Tuhan yang Maha Pengasih.
Hanya karena RahmatNya saya bisa tetap berdiri dengan rapih,
Kedua kepada orangtua yang selalu mendukung dengan doa dan cinta putih,
Ketiga semua teman yang tak hentinya memberi perhatian dan terkadang cacian kasih,
keempat... ndak tahu siapa, pokoknya terimakasih.

Semoga di tahun depan, kami bisa menjejakkan angka 12 di atas roti tart pada tanggal 12, di bulan mei.

hari ini, tanggal 13, harinya Jumat, katanya keramat, tetapi yakinlah itu hanya soal berkat. Kalau kalian tidak sepakat itu bukan menjadi penghambat, yang penting jangan lupa berbagi berkat.

demikian
selamat