20 April 2016

Kapal Pesiar

Sahabat, apakah kalian pernah naik kapal pesiar? Saya belum pernah. Juga belum berminat menaikinya, atau menumpanginya. Apakah kalian berminat? Berminat toh boleh, tidak ada yang melarang. Tapi saya tidak berminat. 

Eh ngomong-ngomong, apakah kalian pernah melihat kapal pesiar? Dari dekat! Bukan melihat melalui brosur atau lewat tayangan televisi? Kalau saya sudah. Kerap kali! Melihat secara langsung, melalui kedua bola mata saya yang disambung kacamata, tanpa perlu perantara lembaran brosur atau iklan di kaca televisi, dll. 
Dari jendela inilah saya bisa melihat kapal-kapal pesiar itu
keluar masuk perairan Hong Kong. (foto koleksi pribadi) 
Saya melihatnya langsung dari jarak yang sangat dekat sekali ketika kapal pesiar itu sedang bersandar rapi di tempat parkir. (Eh, benar nggak sih kapal itu diparkir? Atau ditambatkan? Dianggap saja benar.) Atau melihatnya dari jauh tatkala kapal-kapal itu meninggalkan perairan Hong Kong di malam hari juga ketika mereka baru datang di pagi hari. Kebetulan posisi kamar saya menghadap laut yang menjadi jalur pelayaran kapal pesir tersebut.
Setiap pagi, antara jam 7 pagi singga jam 8 pagi, kapal-kapal tersebut berdatangan memasuki perairan Hong Kong dari arah timur. Kemudian pada malam hari sekitar jam 8 kapal-kapal itu mulai meninggalkan peraiaran Hong Kong. Entah menuju ke mana. Saya tidak pernah bertanya.
Ada seorang sahabat yang pernah ikut pakaet kapal pesiar. Katanya, di dalam sana itu tak ubahnya sebuah hotel yang bisa berjalan ke mana-mana. Sepertinya kurang tepat dikatakan berjalan, karena dia tidak pernah berjalan. Tapi sudahlah, maksudnya begitu. Masih katanya, kita bisa menikmati aneka macam hiburan di dalam sana, seolah tidak pernah tertidur. Sahabat saya bercerita bahwa tiap kapal pesiar memiliki paket-paket tertentu. Akan bersandar di berapa kota, berlayar berapa lama, dll.

Sahabat, setiap hari saya bisa melihat kapal-kapal itu keluar masuk perairan Hong Kong. Jika malam hari, penampakan kapal pesiar itu begitu indah dengan lampu-lampu yang menghiasi. Saya suka sekali memandangnya. Hanya sekejap, toh besok ada lagi. Jika beruntung, saat langit cerah, bentuk kapal itu bisa terungkap dengan cukup jelas. Jika kabut begitu pekat, maka pendaran lampu-lampu yang membungkus kapal saja yang akan nampak.
Kapal-kapal itu setiap hari selalu datang dan pergi dalam jadwal yang kurang lebih sama. Mungkin penumnpangnya selalu berganti. Karena mereka yang selalu di sana berarti pekerja. Penumpang hanya di sana berdasarkan paket yang mereka beli. Selebihnya mereka kembali ke rumah masing-masing melanjutkan kehidupan seperti biasanya. 
Menumpang kapal pesiar, seperti halnya namanya, hanyalah berpesiar belaka. Hanya satu bagian kecil dari seluruh perjalanan hidup yang sebagian besar begitu normal dan monoton. Setelah segala keriuhan atraksi di dalam kapal, atau segala pesona kota yang disinggahi berlalu, mereka kembali kepada kehidupan yang sebenarnya. Bangun pagi, bekerja, tidur, bangun pagi lagi, bekerja dan tidur lagi. Kalau dalam setahun sudah ada tabungan, maka direncanakan untuk menumpang kapal pesiar yang lain, menyinggahi kota yang lain, menjajal keriuahan yang lain. Begitu seterusnya.
Oh iya, kenapa saya menulis ini? Sebenarnya saya hendak bertanya, sekarang ini sedang berada di mana? Di kapal pesiarkah? atau sudah kembali ke rumah, menjalani apa yang rutin, yang seharusnya dijalani. Kalau ingin selalu berada di dalam kapal pesiar, maka harus memutuskan untuk melamar menjadi karyawan kapal pesiar. Dengan demikian akan selalu berada di sana.

nggak nyambung.
begitulah.
salam


15 April 2016

Kung Fu Panda

sumber foto: www.denofgeek.com
Sahabat, saya ingin bercerita tentang film Kung Fu Panda 3, bukan memberi resensi atas film tersebut. Tetapi berbagi cerita mengenai apa yang saya dapatkan setelah menonton film tersebut. 
Saya nonton film Kung Fu Panda 3 sebanyak dua kali, dan kesemuanya bukan di bioskop. Mohon maaf kepada produser film, saya nonton dari link yang dishare seorang teman. Pertama kali nonton, filmnya tidak bisa diputar sampai habis. Baru kedua kalinya film tersebut bisa  saya nikmati sampai habis. Sebenarnya saya ingin menontonnya di bioskop, sebab sensasinya lebih 'dapet'. Tapi selalu tidak memiliki kesempatan. Namun saya tidak berkecil ahti karena sejak menonton yang pertama kali, saya sudah disergap oleh rasa senang melalui pesan yang diberikan, bukan pada segala balutan animasi atau sound yang dramatik.

Cerita dibuka dengan pertarungan antara Master Ogway dengan Kay. Mereka pada awalnya bersahabat, namun karena keserakahan Kay, akhirnya mereka berpisah jalan. Pada bagian ini belum ada yang menarik hati.
Pada scene kedua mulai menarik meski belum menyentak hati. Po, panda si pendekar naga ditampilkan. Dengan segala aksi lucunya dan terlebih kenaasannya sewaktu melatih kawan-kawannya berlatih kung fu.
Pada scene berkutnyalah saya mendapatkan pesan yang akan menjadi alur cerita film secara keseluruhan. Setelah gagal mengajar, Po berencana pulang dan pensiun mengajar. Pensiun pada hari pertama mengajar. Saat itu dia bertemu dengan gurunya, Master Shi Fu. Oh iya, cara Po memanggil gurunya sedikit lucu, yaitu "Master Shifu!" Lucu, karena "master" maupun "shi fu" bermakna guru. Sudahlah, itu tidak penting. Percakapan mereka berdua jauh lebih menarik.
Po bertanya kepada gurunya mengapa memilih dia untuk mengajar kalau sudah tahu bahwa dia tidak bisa mengajar? Master Shifu menjawab bahwa cara itu ditempuh agar Po bisa melangkah lebih jauh. Jawaban ini ditolak oleh Po.
"Aku tidak ingin melangkah lebih jauh, saya lebih suka dengan diriku sendiri apa adanya yang sekarang." kata si panda.
Master Shifu menerangkan bahwa sekarangpun Po belum mengenal siapa dirinya yang sebenarnya. Jawaban ini dibantah oleh Po. Karena Po merasa tahu siapa dirinya, yaitu Panda si Pendekar Naga! Master Shifu kemudian bertanya, "Apakah artinya menjadi Pendekar Naga?"

Who Am I?

Proses pencarian jati diri,  kalau bisa disebut demikian, menjadi alur keseluruhan film. Pencarian jati diri ini tidak mudah dibutukan dua hal yang memungkinkan hal tersebut terwujud. Saya sadari, pertanyaan ini sederhana namun mencari jawabnya begitu sulit. kebanyakan enggan mencari sesuatu yang lebih dalam. Saya pernah ditanya, "ceritakan dirimu dalam 1 menit". Tidak mudah. 
Berdasarkan pengalaman, proses pencarian jati diri yang hakiki bisa bisa disebabkan oleh  dua hal (faktor). Pertama, ada kemauan besar untuk mengenal "siapakah saya sebenarnya"? Banyak orang yang tidak puas dengan apa yang kelihatan, mereka hendak menggali lebih dalam. Banyak ahli mengatakan bahwa kehdiupan manusia itu seprti gunung es. Yang nampak di permukaan hanyalah sebagian kecil. Ada bagian lain yang perlu dilihat, perlu menyelam untuk melihat di bagian dasar, bagian yang tertutup. Untuk ke sana tidak mudah, maka banyak juga yang enggan melakukan.
Faktor kedua, adalah adanya ancaman dari pihak luar. Ancaman itu bisa bermakna negatif maupun positif. Desakan pihak lain atau tuntutan tertentu yang memaksa seseorang menyelam lebih dalam mengenali dirinya sendiri. 

Kembali kepada cerita film.
Singkat cerita, muncullah tokoh lain, yaitu ayah dari Po. Selama ini, dalam kisahnya, yang menjadi ayahnya Po adalah seekor angsa. Dan kini muncul sesosok panda, datang ke kampung mencari anaknya yang hilang. Sekilas pandang kita akan langsung sepakay kalau tokoh yang baru datang tersebut memiliki hubungan dengan Po. Pertama dan yang utama adalah dari bentuknya yang tidak berbeda dengan Po. 
Tokoh yang baru datang ini bersedia mengajari Po mengenal siapa dirinya yang sebenarnya, mengajari Po menjawab pertanyaan "who am I?". Tentu saja pelajaran itu lebih efektif jika dilakukan di perkampungan panda. Di sanalah Po bisa belajar hidup sebagai panda, tidur seperti panda, makan seperti panda, berjalan seperti panda, dll.

Bagaimana dengan saya?
Seperti saya katakan di atas, film ini menarik perhatian saya bukan karena efek animasi atau sound atau yang lain, tetapi melalui pesan yang disuguhkan. Sayapun bertanya, "apakah aku sudah mengenal diriku dengan baik? siapakan aku ini sebenarnya?". Menggunakan cara Po mengenal dirinya sendiri, saya pun bertanya, "apakah cara makanku sudah seperti seharusnya manusia makan?" Jangan-jangan aku lebih suka memakan sesamaku? Jangan-jangan aku tidak memedulikan sesamaku? Apakah aku sudah tidur seperti halnya manusia mesti tidur? Apakah aku sudah berusaha menjadi manusia sebagaimana manusia seharusnya? Dan harus saya katakan, saya belum mengenal secara utuh. Saya belum menjadi manusia yang seutuhnya yang seharusnya manusia menjadi.

Kemudian saya mengambil beberapa gambar untuk menganalisa apakah saya sudah menjadi manusia atau belum. Gambar pertama adalah peristiwa sekarang, sedang gambar kedua adalah gambar yang muncul dari masa lalu, gambar yang lain adalah gambara ideal yang seharusnya menusia menjadi. Saya bandingkan gambar-gambar tersebut. Lalu saya mulai mencocokkan dan mulai memoleskan dengan warna yang lebih tegas.
Kemudian saya temukan dua hal yang harus saya mengerti. Pertama adalah, saya harus menerima siapa saya ini sebenarnya. Yang kedua, apakah saya yang sebenarnya sekarang ini sudah menjadi, atau paling kurang mendekati manusia yang ideal yang seharusnya manusia menjadi. (apakah Anda bingung dengan kalimat saya? kalau iya, jangan pedulikan. karena memang semua kalimat saya membingungkan. ini juga harus saya terima sebagai proses menegnal diri saya sendiri) 

Sebelum lebih jauh tersesat ke dalam uraian yang tidak jelas, saya kembali bertanya, apakah sekarang ini saya sudah mengenal siapa diri saya secara lebih utuh? BELUM!!!
Ya, belum. Masih ada banyak yang belum saya kenali. Ada banyak aspek yang mesti saya selami lebih dalam, ada banyak lekuk yang harus saya amati lebih teliti lagi. Pertanyaan "who am I" masih harus terus saya gemakan  agar saya tidak lupa untuk terus mengenal diri, lebih dalam dan lebih dalam lagi.

kira-kira begitu.
salam. 

13 April 2016

Gus Mus

Gus Mus dalam acara Mata Najwa
sumber gambar www.hashgurus.com
Semalam di Metro TV ada acara Mata Najwa dengan menghadirkan Gus Mus (Mustofa Bisri) sebagai bintang tamu. Judul acaranya "Panggung Gus Mus'. Saya nontonnya melalui saluran yutup.
Acara Mata Najwa semalam sungguh berbeda, jika dibandingkan dengan seri-seri yang sebelumnya. Biasanya kental dengan bahasan politik. Namun acara semalam sungguh sangat humanis. 
Gus Mus sendiri, seperti banyak diceritakan oleh orang-orang dekatnya, memang sosok yang humanis, sangat menghargai manusia dan berusaha memanusiakan manusia. Sebagai seorang kyai, beliau juga sangat menarik. Beliau sendiri mengaku sebagai kyai pertama yang memakai sarana media sosial untuk berdakwah. Najwa Sihab sendiri menjuluki Gus Mus sebagai kyai yang romantis.
Hampir semua segmen menarik hati, namun ada satu bagian yang sangat mengena di hati saya sehingga berani membuat catatan setelah sekian lama tidak melakukannya.
Ketika Mbak Nana bertanya alasan Gus Mus tidak mau dipilih sebagai orang tertinggi di NU. Dengan amat sederhana beliau memberi alasan berkaitan dengan dosa pemimpin. Ada dua, yang pertama adalah pemimpin yang melihat bahwa tidak ada orang yang lebih baik dari dia, tetapi tidak mau dipilih. Yang kedua adalah orang yang mau dipilih padahal dia tahu ada banyak orang yang lebih cakap dari dia. Dua macam orang ini sama-sama berdosa dan akan mendapat hukuman. Beliau menggambarkan dirinya sebagai orang yang tidak mau jatuh dalam dosa tersebut, karena beliau melihat ada banyak orang lain yang jauh lebih cakap, lebih berkompeten, lebih pantas untuk memimpin. Merekalah yang pantas dipilih.
Ungakapan kedua yang menarik hati saya adalah jawaban Gus Mus ketika ditanya, apakah yang tidak banyak diketahui orang dari diri beliau. Dengan spontan beliau menjawab bahwa dirinya sebenarnya bodoh. Saya tertegun. Karena jawaban itu bukan sebuah candaan. Jawaban itu meski spontan sungguh jujur dan memiliki arti yang mendalam. Kemudian beliau menjelaskan bahwa manusia itu hendaknya selalu belajar, dan tidak ada kata sudah selesai.

Kemudian saya melihat diri saya sendiri. Bertanya kepada diri sendiri, berkaca dari apa yang disampaikan oleh Gus Mus. Benar juga, kata saya. Saya ini orang yang bodoh, namun kerap kali atau bahkan hampir selalu merasa diri pintar sehingga malas belajar. Juga berkaitan dnegan tulis menulis, sebenarnya saya tidak bisa menulis. Hanya karena saya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan apa yang saya pikrikan, maka saya menulis. Seandainya saya bisa bernyanyi, mungkin saya akan menuangkan dalam bentuk lagu. Seandainya saya bisa melukis, niscaya saya akan menggoreskan apa yang mengendap dalam pikiran dalam baluran warna warni yang (mungkin) indah. Sayang saya tidak bisa.
Mengapa saya menulis?
Lebih tepatnya, mengapa saya menulis lagi, padahal sudah lama tidak menulis. Ya untuk memberi tahu banyak orang, yang membaca tulisan ini bahwa saya bodoh. Dari mana tahu kalau saya bodoh? ya dari isi tulisan saya, dari alur tulisan yang kerap kali nggak runut, nggak sinkron, nggak masuk di nalar, dll.
Padahal, selama ini saya berhenti menulis karena menyadari kalau saya ini bodoh. Tulisan-tulisan yang saya buat yahhhh, banyak yang asala nulis. Idenya tiak kuat, penjelasannya kurang bagus, alurnya tidak menarik, dll. Oh iya, ini bukan merendahkan diri untuk menaikkan rating. Ini jujur dari kesadaran yang mendalam.
Kedua, saya tidak menulis karena menyadari, bukan hanya karena saya bodoh, tetapi merasa dan menyadari diri tidak layak menulis. Kebanyakan tulisan-tulisan saya memberi pesan moral dan spiritual, tetapi di sisi lain kehidupan moral dan spiritual saya tidak bagus. Maka, saya putuskan berhenti menulis. Tiba-tiba setiap kali menulis selalu ada suara yang berseru "hai tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri terlebih dulu!" Makjleb!

Lalu hari ini, setelah melihat tayangan Mata Najwa mengenai Gus Mus, saya mulai menulis lagi. Kesadaran bahwa manusia itu mesti terus belajar. Mesti mengenali diri sendiri lebih dalam lagi, maka saya beranikan diri menulis (lagi). Saya sadar (sesadar-sadarnya) kalau saya ini sebenar-benarnya bodoh. Dan saya tidak ingin berhenti sampai di sini saja. Berhenti pada kesadaran belaka. Harus menindaklanjutinya dengan belajar. Agar tidak semakin bodoh. Saya berharap, semoga dengan mulai menulis lagi, sedikit demi sedikit kebodohan saya bisa saya pamerkan semua. Maksud saya, saya ingin mentransformasi kebodohan. Nah kalau semua kebodohan sudah tertransformasi, (byuhhh bahasanya ketinggian), semoga ada ruang untuk mengisi dengan sesuatu yang baik. Maksudnya bagaimana? Ndak tahu. Saya juga bingung. Ini tanda bahwa saya memang tidak pintar menulis.

Begitu saja.
salam
 

29 October 2015

Mereka bilang saya suka makan.

Nasi Putih disantap dengan ikan goreng, tempe goreng,
empal goreng dan lalapan. (foto koleksi pribadi)
Hari itu kami sedang melihat televisi, program film kartun. Kami semua orang-orang dengan umur yang sudah cukup banyak, tetapi kami menonton film kartun. Tidak menjadi masalah. Film itu bercerita tentang beberapa binatang yang berkumpul menajdi satu, ada kura-kura, landak, bajing, anjing hutan, dll. Seperti pada umumnya film kartun, mereka bisa berbicara.
Dalam satu moment, para binatang ini sedang bergossip ria. Mereka berbicara perihal makanan, perihal kebiasaan mereka makan, dan kebiasaan manusia makan. Ini yang diungkapkan satu binatang itu:

"Kita makan untuk mempertahankan hidup, hal ini berbeda dengan manusia. Biasanya mereka mempertahankan hidup untuk bisa menikmati makanan. Singkatnya, kita makan untuk hidup tetapi manusia hidup untuk makan!"

Mendengar ungkapan itu, teman-teman saya serentak menoleh pada saya. "What!!" Protes saya. 

Mereka mengatakan bahwa saya banyak makan. Mereka mengatakan saya suka makan. Mereka mengatakan bahwa saya mengabdi perut. Mereka setuju dengan kesimpulan para binatang itu yang mengatakan bahwa saya hidup untuk makan.


Agak sulit bagi saya untuk menjawabnya. Kalau saya menjelaskan, mereka akan menuduh saya mencari alasan untuk membela diri. Kalau saya diam saja, mereka akan terus berkoar. Ini tentu saja tidak bagus. 

Harus saya katakan, bahwa saya tidak hidup untuk makan. Saya hanya berusaha bisa menikmati tiap makanan. Mungkin banyak orang salah paham ketika saya berkata bisa makan apa saja jenis makanan. Yang ada dalam benak mereka pasti, rakus!

Makan itu sebuah perayaan

Saya sudah sejak lama menyadari bahwa makanan itu bukan sekadar makanan, dan makan bukan sekadar makan. Makan itu bukan sekadar memindahkan makanan ke dalam mulut mengunyah dan kemudian memindahkannya ke perut. Makan itu sebuah perayaan. Apapun namanya, makan ada sebuah upacara, ada sesuatu yang hendak dirayakan.

Makan adalah sebuah prayaan kehidupan. Itulah yang harus disadari. Hidup itu harus dirayakan, dan perayaan tanpa makanan bukanlah sebuah perayaan. Sebuah kehidupan yang terus berjalan tiap detik, tiap menit, tiap jam, hari bulan dan tahun membawa aneka ragam peristiwa. Masing-masing menyelipkan cerita yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Masing-masing mesti dirayakan.

Orang Jawa menyebut perayaan kehidupan itu dengan ungkapan "selamatan". Sebuah perayaan akan anugerah hidup dan kehidupan. Selamat artinya hidup. Hidup menyertai seluruh perjalanannya hingga hidup itu berakhir, dan semuanya dirayakan ditandai dengan perayaan makan.

Ketika manusi amasih berupa janin di dalam rahim, kehidupannya sudah dirayakan. tiga bulanan- tujuh bulan dan nanti pada hari kelahirannya. Tiap perayaan ada makanan yang hanya bisa dimakan pada waktu itu. Misalnya iwel-iwel. Semacam jenang. Agak manis dari beras ketan yang ditumbuk halus menjadi tepung, terkadang agak kasar dicampur parutan kelapa. dibungkus daun pisang dan berisi gula merah. kue ini dikukus sekitar 20-30 menit. Iwel-iwel hanya bisa dijumpai dalam perayaan kelahiran, dan perayan lain yang berkaitan dengan kehidupan baru.

Makan itu sebuah ungkapan syukur. Syukur atas alam atas kehidupan. Hal ini sangat terasa dalam budaya Cina. Mereka (dulu) adalah masyarakat agrikultur alias masayarakat petani. Maka setiap perayaan apti berkaitan dengan pergantian musim dan pertanian. 

Tiap perayaan ditandai dengan jenis makanan yang berbeda. Perayaan bulan baru, musim baru, mid-autumn fest, ditandai dengan kue bulan. Kemudian ada bakcang, ada kue tahun baru, dll. Masinsg-masing jenis makanan itu hanya bisa diujumpai pada perayaan tersebut. Perayaan menjadi spesial karena ditandai makanan tertentu. Dan makanan mendapatkan nilai tambahnya karena menandai perayaan tertentu. Makan bukan lagi sekadar memindahkan makanan ke perut, tetapi sebuah perayaan kehidupan.

sayapun mencoba menandai tiap langkah hidup saya sendiri dengan makanan. Saya berusaha merayakan tiap tahap hidup saya dengan jenis makanan yang berbeda. Masing-masing saya maknai sendiri, saya rayakan sendiri. Misalnya, menandai hari kelahiran saya akan menikmatinya dengan semangkok soto ayam. Sedapat mungkin akan saya masak sendiri. Menandai hidup membiara atau imamat, saya akan menikmati dengan oseng pare. Agak aneh, tapi bagi saya ada banyak nilai yang terkandung di dalamnya. 

Bangga dengan budaya

Saya selalu bangga dengan aneka makanan Nusantara Indoneisa. Misalnya soto. Hampir tiap kota d Indonesia memiliki soto dengan kekhasannya masing-masing. Lalu ada sate, dll. Menikmati makanan khas Indonesia tentu lebih menyennagkan jika dinikmati di tempatnya berasal.

Suatu saat saya bertamu di sebuah keluarga di Banjarmasin. Pagi hari mereka mengajak saya menikmati sarapan di sebuah warung. Menu yang kami pilih adalah ikan gabus. Bagi saya yang menarik bukan ikan gabusnya, tetapi nasinya. Bagi saya yang orang Jawa ini, nasi di sana dimasak dengan sangat 'akas', agak keras dan kurang lunak. Maka berkali-kali saya harus meneguk air agar tidak 'kesereten'.

Melihat itu, bapak yang mengajak saya berkomentar,"itulah, waktu saya ke Jawa, saya juga kesulitan menikmati nasi kalian yang pulen, bagi saya sulit sekali dimakan." Masyarakat Indonesia pada umumnya adakah "pemakan" nasi. Tetapi tiap daerah memiliki cara sendiri dalam mengolah dan menyajikan nasi. Orang Jawa lebih menyukai nasi yang pulen. Sedangkan daerah lain lebih menyukai nasi yang sedikit akas. 

Menikmati makanan khas udaya tertentu itu sangat menyenangkan. Dari makanannya akan kita kenal orang-orangnya. Makanan itu diolah dari tanaman dan binatang yang hidup di daerah itu. Makanan itu akan membentuk kharakter orang-orang di daerah tersebut. Ketika kita mampu menikmati makanan yang disajikan oleh suatu masyarakat tertentu, kita dibantu untuk menerima masayrakatnya yang mungkin kharakternya sangat berbeda. 

.....

Itu yang saya pelajari. Itulah mengapa saya menyukai makanan. Itulah mengapa saya belajar makan apa saja. itulah mengapa saya suka makan dan menikmati aneka makanan yang baru. Tetapi hasilnya kalian menjuluki saya suka makan, bahkan lebih menyakitkan karena menuduh saya hidup untuk makan. Padahal, kalau kalian telat makan sedikit saja pasti akan teriak-teriak. Hmm sudah saatnya makan. Sampai jumpa.

25 October 2015

Mengapa saya mengagumi Bartimeus?

Sahabat, terakhir kali saya menulis di sini adalah 12 Mei yang lalu, ketika saya merayakan ulang tahun tahbisan ke-10. Kala itu saya merenungkan "Oseng Pare". Jika ingin membaca kisah mengapa saya begitu mencintai oseng pare, bahkan bagi saya oseng pare menjadi "menu utama" dalam merayakan ulang tahun tahbisan, silahkan mencari sendiri artikelnya. 
Kali ini saya ingin membuat catatan mengapa saya begitu mengagumi Bartimeus, seorang pengemis buta di kota Yerikho. Tentu saja kali ini bukanlah yang pertama saya membuat catatan mengenai orang hebat ini, yang bagi saya seumpama guru doa. Saya ingat enam tahun yang lalu, di tempat yang sama (pasturan gereja Maria Kusuma Karmel, Jakarta) saya membuat catatan mengenai Bartimeus anak Timeus.  Waktu itu saya menulinya dalam bentuk note di FB. Kemudian beberapa kali juga membuat catatan singkat mengenai Bartimeus entah dalam renungan-renungan singkat.
Sejak awal saya kesengsem dengan Bartimeus sebagai seorang guru doa. Sebagai seorang pribadi yang mengerti bagaimana harus berdoa. Doa yang bukan menekankan kepada metode tertentu tetapi kepada kerinduan hati akan Sang Pencipta. Seperti halnya yang diajarkan oleh Santo Yohanes Salib bahwa inti sebuah doa adalah kerinduan yang mendalam dalam hati untuk bisa menjalin relasi secara pribadi dengan Tuhan. Dalam mengungkapkan kerinduan ini orang bisa menggunakan banyak metode. Setiap metode disesuaikan dengan karakter pribadi yang bersangkutan, sesuai dengan ketertarikan hatinya.

Mari kita lihat apa yang terjadi di pinggir jalan di Yerikho tersebut. Saat itu ada seorang yang buta duduk di pinggir jalan. Disebutkan bahwa nama orang buta itu adalah Bartimeus anaknya Pak Timeus. Dia setiap hari duduk di sana mengemis. Hari itu suasana agak berbeda, bahkan mungkin sangat berbeda, ada keramaian yang melebihi biasanya. Kemudian dia bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. "Yesus dari Nazareth sedang lewat." Itu jawaban yang dia peroleh.
Yesus sedang lewat, bukan sedang duduk mengajar. Artinya, Yesus berada di sana hanya sekadar lewat dan waktunya sangat singkat. Hanya beberapa langkah atau beberapa saat mungkin Dia akan menjauh.
Di sini lain, Bartimeus kemungkinan telah banyak mendegar cerita tentang siapa Yesus. Dan inilah saatnya, inilah saat kerinduan hatinya akan bisa terobati. Waktunya tidak banyak, kesempatan itu akan segera lewat kalau dia tidak memanfaatkannya. Maka dengan engkapan yang singkat namun jelas dia berteriak:

"YESUS ANAK DAUD, KASIHANILAH AKU!!!"

Teriaknya belum mampu menarik perhatian Yesus, sebaliknya mengganggu orang-orang yang ada di sekitar Yesus. Merekalah yang pertama-tama bereaksi. "Hai orang buta, jangan berisik!!!"

Tetapi Bartimeus pantang menyerah. Dia tahu kesempatan itu bisa saja lewat begitu saja dan dia tidak akan memiliki kesempatan kedua di lain waktu. Dia tida bisa meunggu. Dia tidak mau selamanya duduk di pinggir jalan itu dan mengemis. Maka dengan lebih keras dia berteriak:

"YESUS ANAK DAUD, KASIHANILAH AKU!!!!"

kali ini teriakannya sampai ke telinga Yesus. Kali ini usahanya membuahkan hasil. Yesus mendengar suara seseorang berteriak. Kemudian Yesus meminta agar orang tersebut dibawa mendekat. Maka orang-orang yang berada di dekat Bartimeus berkata : "Kuatkanlah hatimu, Yesus memanggil engkau!"

Bartimeus tahu diri. Dia mengerti bahwa kondisinya sangat kotor. Dia tidak mampu melihat kotor itu seperti apa dan bersih seperti apa. Namun dia mengerti, bahwa kondisinya tidak pantas di hadapan Yesus. Maka dia lepaskan pakaian luarnya, dia tanggalkan kehidupan lamanya dan siap menemui Yesus, siap menyongsong hidup baru bersama Yesus.

Saya bayangkan bahwa semua orang yang ada di sana terdiam dan memandang ke arah Bartimeus yang dituntun berjalan menuju tempat Yesus berada. Saya bayangkan bahwa hati Bartimeus bergemuruh hebat. Dia dipanggil Yesus. Kesempatan itu akhirnya datang juga. segala kerinduan hatinya akan terpenuhi. Dia akan bisa melihat.

Maka begitu Yesus bertanya apa yang dia inginkan, Bartimeus dengan sedikit tergetar menjawab:

"RABUNI...., SAYA INGIN MELIHAT...!

Yesus mengabulkan permohonan Bartimeus.

Sahabat, mengapa saya begitu mengagumi Bartimeus sebagai guru doa? Karena dia memiliki kerinduan yang besar akan Tuhan sebagai satu-satunya yang mampu mengubah hidupnya. Dengan jelas dan tegas dia bisa mengungkapkan apa kerinduannya. Bukan hanya itu, setelah disembuhkan dia juga mengikuti Yesus. Hal ini yang sungguh luar biasa. Setelah keinginannya terpenuhi, dia tidak lupa akan siapa yang menyembuhkan. Dengan sukacita Bartimeus mengikut Yesus. Dia ingin mengisi hidup barunya sebagai murid Yesus.

Rasanya merenungkan semangat Bartimeus yang dengan penuh kegembiraan mengikut Yesus, mampumenambahkan semangat dalam jiwa yang lelah dalam mengikut Yesus. Rasanya kesederhanaan Bartimeus membantu jiwa yang galau akan banyak hal yang tidak jelas apa yang diminta. Rasanya, tidak ada alasan lain untuk tidak percaya bahwa DIA memang satu-satunya yang mampu mengubah hidupku.

Jakarta, 25 Oktober 2015
Maria Kusuma Karmel