06 August 2016

Always READY



In St. Luke's gospel Jesus Christ urges us to always ready. Always ready for what? Always ready for the moment of death.

He’s encouraging us to live each day ready to love. In that way, we’re storing up treasure for the day when we will meet God face to face.
It’s good to reflect on the question: how would I like to meet God?

Each one of us is going to die – we all have a terminal illness. We don’t know when or how, but we will die. How ready am I to meet him?

Jesus wants us to be ready for that moment. We will die as we have lived, and if we’ve lived by sacrificing ourselves for others, we’ll be ready.

The Catechism of the Catholic Church tells us that when we die, we will each be judged on our lives.  St John of the Cross put it well: “At the evening of life, we shall be judged on our love.”

Christ’s message today is to live each day as a preparation to meet him with joy.

There is a story about  St Therese of Lisieux who lived ready for the Lord. She had taken to heart John of the Cross’s maxim “At the evening of life we shall be judged on love,” and she strove to exemplify it in her own life.

Here’s just one example. She described how the other sisters used to leave their mantles strewn around the chapel after they prayed the Divine Office.

The winters in France are bitter, and the convent in Lisieux only had heat in one room, so these mantles were a vital part of the nuns’ wardrobe.

St Therese wanted to ensure that they were ready to use when the sisters returned, so, after everyone was gone, she used to fold up each mantle and leave it in its owner’s seat.

No one ever knew who did this loving action, but there were doubtless some grateful nuns in that cold chapel! As St Therese put it, “I loved to fold up the mantles forgotten by the Sisters, and to do all sorts of little services for them.”

St Therese of Lisieux lived always ready because she did ordinary things with extraordinary love.

How about us? How we prepare ourselves for that moment?
How can we live always ready? If we wait for the great occasions to love, we’ll be waiting forever. However, we all have countless opportunities to prepare our hearts for our definitive meeting with the merciful heart of Christ.

The key is to learn to do ordinary things with extraordinary love. With that in mind, what sacrifices can I make so that others don’t have to sacrifice?

We can start from our home. As a husband, as a father, as a wife, as a mother, as a son or daughter, as a brother or sister; what can we do? Doing something simple but we doing it with great love.

Pick something simple, and stick to it. We die as we live. If we live choosing to love others, death will describe who are we. Just like St. Therese of Lisieux, after her death, people know that she was a great person. Let us doing the same. Doing a simple thing with great love.   

Senantiasa BERJAGA

Berjaga-jagalah senantiasa.
Bersiap-siaplah selalu. 
Waspadalah!

Ungkapan dengan irama nada yang sama ini kerap diujarkan oleh Yesus. Dengan mengambil contoh, berjaga karena akan adanya pencuri. Berjaga seperti seorang pembantu yang menunggu tuannya pulang. Berjaganya seorang istri yang menunggu suaminya yang lama tidak pulang seperti Bang Toyib. Kalau ini saya yang menambahkan. 

Sebenarnya, perkara apakah yang mengharuskan kita mesti berjaga secara demikian? Kalau hanya Bang Toyib yang nggak pulang-pulang ya biarkan saja. Mungkin dia sudah mendapat nyonya Toyib yang lain. Atau soal pencuri? Cukuplah kalau kita merapatkan setiap pintu dan jendela, atau tempat lain yang mungkin akan dipakai para begal menerobos rumah kita. Lalu soal apa?

Ini soal kematian.

Iya, kematian. Dia datang tidak tahu kapan. Pasti akan datang tapi tidak tahu kapan. Setiap dari kita akan mengahdapinya. Tidak ada yang bisa mengelakkannya, meskipun dia pandai, kaya, tampan, cantik, berkuasa, siapapun dia tidak akan mampu mengelakkan datangnya. 

Kalau kematian adalah sebuah keniscayaan yang tak seorangpun mampu mengelakkannya, lalu mengapa kita mesti ribut? Biarkanlah dia datang kapan dia mau, biar saja dia berkunjung sehendak hatinya.

Bukan itu persoalannya.

Kematian bukanlah akhir dari sebuah pertandingan. Dia hanyalah pintu masuk kepada gelanggang yang lain. Sebuah gelanggang keabadian. Ada pilihan yang harus dipilih sebelum kita menyebrang pintu kematian. Di sana ada gelanggang kebahagiaan dan gelanggang kesedihan.

Mungkin kata gelanggang kurang tepat. anggap saja sebuah keadaan, karena tempat tidak begitu penting. Tempat kebahagiaan kekal karena di sana akan bersatu dengan Tuhan. Tempat kesedihan kekal karena akan terpisah dengan Tuhan.

Nah, untuk menentukan kepada keadaan apakah kita akan dimasukkan; semua dihitung berdasarkan apa yang kita buat selama hidup di dunia ini. Katekismus Gereja Katolik menuliskan bahwa setelah kita mati, kita akan 'diadili' sesuai dengan kehidupan kita. 

Kehidupan yang bagaimana?

Santo Yohanes Salib menulis dengan indah sekali. Pada senjakala kehidupan kita, hanya cinta kitalah yang akan diperhitungkannya.

Sederhananya, seberapa besar cinta yang pernah kita pintal selama kita merajut hidup di dunia ini? 

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menerjemahkan ungkapan dari Santo Yohanes Salib itu dengan sangat tepat. Melakukan kegiatan sehari-hari bahkan yang kecil sekalipun dengan cinta yang luar biasa. 

Contoh:

Santa Theresia tinggal di biara di kota Lisieux di Normandy, Perancis. Pada musim dingin, Santa Theresia selalu merapikan mantel yang ditinggalkan oleh para suster setelah mereka berdoa. Waktu itu belum ada alat pemanas ruangan yang elektrik. Yang ada hanya di ruang tengah yang dihangatkan dengan api. Sementara itu ruang doa selalu dingin.

Santa Theresia berpikir alangkah baiknya kalau setiap kali para suster itu kembali ke tempatnya berdoa dan mendapati mantel-mantelnya sudah terlipat rapi dan siap dipakai. Maka dia melakukannya. Melipat setiap mantel yang ditinggalkan begitu saja oleh para suster yang lain. 

Tidak ada seorang susterpun yang tahu siapa yang melakukan itu. Dan Santa Theresia melakukannya dengan hati yang riang dan sepenuh cinta. Meskipun itu hal kecil saja, namun Santa Theresia melakukannya dengan cinta yang luar biasa besar.

Itulah cara Santa Theresia menyiapkan diri menjemput kematian yang adalah pintu untuk bertemu dengan Tuhan yang amat ia cintai. Segala cara dia pakai untuk menyiapkan diri. Setiap hal kecil yang dia lakukan, dia lakukan dengan sepenuh cinta, karena hanya dengan cintalah setiap manusia akan diukur hendak masuk ke manakah setelah kematian menjemputnya. 

Bagaimana dengan kita? Sudahkah berjaga-jaga dan bersiap siaga? Kalau bingung hendak berjaga secara bagaimana? Mari kita tiru saja Santa Theresia Lisieux. Melakukan tugas harian kita, bahkan yang sekecil apapun, kita kerjakan dengan sepenuh cinta, dengan kasih yang melimpah, dengan hati yang semarak senang; niscaya akan mengalirkan cinta yang meluber-luber.

Tuhan memberkati.

04 June 2016

ELIA, YESUS dan kisah para JANDA

Menghubungkan Nabi Elia dan Yesus dengan para janda sepertinya sedikit dipaksakan. Tetapi tidak, mereka memiliki hubungan yang erat dengan kisah para janda. Baiklah saya ceritakan beberapa kisahnya agar Anpa percaya bahwa mereka memiliki hubungan yang erat dengan para janda. Oh iya, sebelum saya melanjutkan cerita, soal hubungan erat dengan para janda ini jangan terlalu dipikirkan secara negatif. 

Kisah pertama:
Saat itu Yesus sedang berada di kampung-Nya. Sudah cukup lama Yesus meninggalkan kampung berkelana bersama para murid-Nya. Mungkin Yesus sudah kangen dengan makanan masakan mama-Nya, atau juga kangen dengan teman-teman masa kecil. 
Seperti biasa, setiap hari Sabat mereka berkumpul di Sinagoga untuk berdoa. Dan mereka pasti mereka sudah mendengar desas desus mengenai sepak terjang Yesus di luar sana. Maka setelah membaca dari Kitab Suci, Yesus diberi kesempatan untuk berkhotbah. Juga seperti biasanya, Yesus tampil memukau.
Alih-alih percaya kepada Yesus, banyak orang yang mendnegarkan Yesus malah bersungut-sunggut. Menggerutu dan ngedumel. "Dari mana Yesus belajar semua ini, bukannya dia ini anaknya Yosep yang biasa membuat meja kursi ini, bukannya dia bersama kita bermain-main dan kita tahu siapa dia sebenarnya."
Tentu saja Yesus mengerti segala gerundelan itu. Wong pikiran orang saja bisa dibaca. Maka, seperti biasanya juga, Yesus langsung saja menyemprot mereka dengan cerita. Saya bayangkan cara Yesus menyemprot mereka itu begini:
"Heh teman-teman, kalian tahu nggak ada berapa janda di Israel pada jamannya Elia? Tahu nggak? Banyak banget. Meskipun ada banyak janda waktu itu, tetapi tidak kepada satupun janda di Israel Elia disuruh pergi. bahkan elia disuruh pergi kepada seorang janda yang jauh di luar negeri sana. Atau, kalian ingat nggak, berapa orang yang sakit gatal-gatal, sakit kusta pada jamannya Elisha, muridnya Elia itu? Kalian tahu nggak berapa jumlahnya? Buanyak banget! Tetapi tidak satupun dari mereka disembuhkan. Malahan seorang yang datang jauh bernama Na'aman yang disembuhkan. teman-teman, kalian tahu tidak, dari dulu sampai kini, tidak ada nabi yang dihormati dikampungnya."

Kisah kedua:
Elia baru saja menabuh genderang perang dengan Ahab raja Israel dan terutama dengan Izebel. Oh iya, Izebel berasal dari luar negeri. Anaknya Etbaal raja orang Sidon. Ketika dipersunting oleh Ahab, dia memberi syarat, yaitu boleh membawa dewa-dewanya ke Israel, yaitu baal. Rupanya pengaruh istri ini begitu kuat. Ahab membangun banyak kuil untuk baal, membangun banyak patung untuk dewa-dewa baal. Bahkan pada akhirnya seluruh Israel menyembah baal dan meninggalkan Tuhan Allah. 
Tinggal seorang yang setia. Namanya Elia yang berasal dari kampung Tisbe di Gilead. Elia ini bujangan yang tak takut mati. Dia sudah tahu bahwa tinggal dia seorang yang setia kepada Tuhan Allah, tetapi dia nekat menantang Ahab dan istrinya. Dia pergi dari Tisbe menuju istana raja. Di sana dia menantang perang. Dengan lagak bujang lapuk tak takut mati, Elia berteriak di depan istana.
"Hai Ahab, kamu telah membawa seluruh rakyat meninggalkan Tuhan Allah. Kamu lebih memilih bersembunyi di bawah ketiak istrimu dan memunggungi Allah. Dengarkan! tidak akan ada lagi hujan di Israel. Jangankan hujan, embunpun tak akan turun. Sampai aku meminta supaya turun."
Setelah berkata demikian Elia pergi ke sungai Kerit. Di sana dia bisa minum dengan baik. Ketika sungai itu mulai mengering, Elia diminta pergi ke kampung Sarfat. Di sana ini bertemu dengan seorang janda. Nama janda itu tidak pernah disebut, hanya dikenal sebagai janda dari SArfat. Apakah dia satu-satunya janda di kampung Sarfat, saya tidak tahu. Mungkin setelah Elia numpang di sana orang mengenal sebagai janda yang  memberi tumpangan pada orang asing.
Perjumpaan elia dengan sang janda juga agak norak. Elia bukan bertamu baik-baik, tapi langsung tembak tatkala berjumpa di ladang. Waktu itu si janda sedang mengumpulkan kayu bakar untuk masak. Dengan enteng, Elia meminta kepada si janda agar membuatkan dirinya sepotong roti bundar. Untung janda itu sopan, coba macam saya, pasti sudah saya semprot. Orang kok ga sopan. Kenal saja tidak, ehhh seenaknya minta roti bundar.
Sekali lagi, untunglah janda itu sopan. Maka dengan halus dia menjawab, 'maaf tuan, saya tinggal memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak. Setelah makan roti ini, saya dan anak saya akan mati karena kami tidak memiliki persediaan makanan lagi." Dasar Elia tidak sopan, dia masih ngotot. "Buatkanlah dulu aku sebundar kecil, baru kamu buat buat anakmu." 
Untunglah, sekali lagi untunglah janda itu sopan, maka dia membuatkan Elia sepotong roti bundar kecil. Barulah kemudian dia membuat sepotong roti kecil juga untuk dirinya dan anak perempuannya. Mungkin saat membuat roti itu, si janda berurai air mata. Inilah dengan sadarnya dia tahu akan mati. Karena dia tidak memiliki apa-apa lagi untuk di makan. Mungkin sewaktu membuat roti kecil itu, selain derai air mata juga mengalir derai doa kepada Allahnya, bahwa inilah kesempatan terakhir berbuat baik.
Selanjutnya diceritakan bahwa tepung itu tidak pernah habis dan minyaknya juga tidak pernah kering. Sehingga keesokan harinya, janda itu masih bisa membuat roti lagi dan lagi, untuk dia, anaknya dan Elia yang menumpang di rumahnya. 

Kisah ketiga: 
Kisah berikut adalah pertemuan Yesus dengan seorang janda yang kehilangan anak lelakinya yang tunggal. Saat itu Yesus sedang berjalan menuju ke kota Nain. Di gerbang kota, Yesus berjumpa dengan iring-iringan pembawa jenazah. Kesedihan rombongan itu begitu terasa. Bisa dipahami, karena yang meninggal adalah anak muda dari seorang janda. Sungguh menyedihkan, karena janda itu sudah kehilangan suaminya, sekarang kehilangan anaknya. Artinya dia kehilangan seluruh harapan hidupnya.

Cerita tentang janda yang kehilangan satu-satunya harapan dalam hidupnya adalah malapetaka tak tertahankan. Kesedihannya tak terperikan, seluruh orang yang mengenalnya ikut sedih, bahkan orang yang baru berjumpa akan ikut sedih. Tergerak oleh belas kasih itulah kemudian Yesus membangkitkan anak muda tersebut. "Jangan menangis, Bu. Janganlah sedih. Biarkan AKU memanggul bebanmu." Mungkin khayalan saya akan apa yang disampaikan oleh Yesus bisa jadi benar. Yesus tidak mau janda tersebut bersedih sendiri. 

Para janda:
Menarik bahwa kisah para janda ini kerap muncul dalam kisah-kisah penting dalam Kitab Suci. Terutama kisah-kisah yang menggambarkan belas kasih Allah. Karena para janda adalah gamabran dari mereka yang lemah dan terlupakan. Oh iya, par ajanda ini biasanya yang miskin dan tua. Kalau janda muda dan kaya, akan mudah menjadi tidak janda lagi, atau dengan gampang mendapatkan jaminan hidup. Tetapi para janda yang miskin dan tua, mereka sungguh tidak memeiliki apa-apa dan siapa-siapa untuk bertahan. Mereka hanya memiliki Tuhan.
Gambaran Tuhan Allah yang menjadi pembela bagi mereka yang lemah, juga menjadi sangat kuat dalam kisah mengenai para janda di dalam Kitab Suci. Janda Naomi dan anaknya Ruth mendapatkan belas kasih melalui Boas, kakek buyut Daud. Janda Sarfat yang mendapat belas kasih allah melalui Elia, dan janda dari Nain yang mendapatkan kemurahan hati Yesus.
Para janda ini juga mewakili kelompok orang yang dalam hidupnya mendapatkan banyak cap kurang baik. Kalau dia berjalan dengan seorang pria akan segera digosipkan. Kalau dia belanja sesuatu akah segera dicurigai, hanya karena statusnya yang janda. Maka, para janda ini sungguh wakil lengkap dari kelompok lemah dan tersisih, mereka yang rentan mendapat perlakukan kurang adil di masyarakat. Namun di sisi lain, mereka adalah wakil dari kelompok orang yang mendapatkan belas kasih dari Allah, karena merek ahanya mengandalkan diri kepaa Allah.

Maka hari ini saya sungguh terus berpikir mengenai para janda ini. Eh salah, berpikir mengenai belas kasih Allah kepada para janda ini. Saya terus merenung, bagaimana saya bisa meniru sikap belas kasih Yesus, sikap belas kasih Allah terhadap mereka yang kesulitan, mereka yang menderita. Yang menderita, bukan hanya para janda, karena sebenarnya yang menderita itu bukan hanya para janda, tetapi semua orang juga memiliki pengalaman menderita. Maka, saya sungguh didamprat oleh Yesus untuk ikut serta dengan Dia menjadi teman bagi yang menderita. 

salam
St. Teresa Church, Kowloon, Hong Kong






03 June 2016

Jangan MENANGIS

Saya ingat ajaran orangtua dulu untuk bisa berbela rasa dengan sesama. Secara sederhana, bela rasa bisa dimengerti sebagai "ikut merasakan". Jika menggunakan bahasa yang agak tinggi, sepadan dengan "emphati". Artinya kurang lebih sama, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Terlebih perasaan sedih karena bencana, kehilangan orang yang dicintai, dst.
Namun ada kepedihan yang lebih pedih dari semua bencana, yaitu menjalani semuanya itu sendirian, tanpa teman untuk berbagi. Sungguh sebuah kepedihan yang tak tertahankan. Maka sikap berbela rasa akan sungguh membantu. Mungkin tidak melepaskan kepedihan itu seutuhnya, namun akan meringankan. Setidaknya ada rasa bahwa 'aku tidak sendiri menanggung dukaku'.

Bagaimana bisa berbela rasa dengan baik? Ada sebuah kisah yang bisa dipakai sebagai salah satu cermin untuk bersikap serupa. Kisah ketika Yesus berjumpa dengan iring-iringan jenasah dari seorang pemuda anak dari seorang janda di desa Nain. Kepedihan yang sungguh terasa, seorang janda ditinggal mati anaknya yang tunggal. Kepedihan yang sulit dipahami. Dia sudah kehilangan suami. Entah bagaimana ceritanya, apakah suaminya pergi atau meninggal, yang pasti sekarang dia sudah tidak bersuami. Tinggallah anaknya yang tunggal. Sekarang dia meninggal. Kepedihan seperti robeknya satu-satunya baju yang tak mungkin ditambal. Pedih di dalam dada seolah yang menggumpal, mengganjal.
Lukas bercerita bahwa Yesus tersentuh hati-Nya. Dia ikut merasakan kepedihan yang dialami oleh si janda. Diceritakan bahwa Dia menghampiri rombongan pembawa jenazah, pertama menemui si janda dan berkata, "jangan menangis." Kemudian memegang keranda dan meminta anak muda itu untuk bangun. Lukas menutup ceritanya mengenai Yesus yang berbela rasa hingga pada pembangkitan dari kematian dengan menceritakan reaksi orang-orang yang ada di sana. Mereka memuji Tuhan.

JANGAN MENANGIS
Kata-kata ini sederhana, namun maknanya luar biasa. Ketika Yesus berkata kepada janda Nain itu, "jangan menangis", seolah hendak berkata, "jangan menangis, Ibu, aku akan membantumu mengangkat bebanmu, kamu tidak perlu menderita sendirian." Sungguh tiada yang lebih indah dibandingkan ada pribadi yang memahami kita, memahami beban yang mesti kita panggul dan segala sakit yang kita bawa. 
Kata-kata peneguhan yang diucapkan oleh Yesus itu juga memberi bukti bahwa Allah kita bukanlah Allah yang tinggal di tinggi di atas awan yang tak terjangkau oleh manusia. Dia adalah Allah yang dekat, yang mengerti segala derita manusia yang ikut merasakan setiap jerit lara hati umatnya. Dia yang dekat, yang ada di antara kita.
Sejatinya, sapaan "jangan menangis" itu juga ditujukan pada kita. Iya, kita yang merasa sendiri menanggung beban, sendirian membawa lara hati, sendirian memikul segala perkara. Sejatinya kita tidak pernah sendiri, karena Dia ada di sebelah kita dan berkata, "jangan menangis...".
Selain diberikan kepada kita, sapaan "jangan menangis" juga sebuah undangan. Undangan untuk ikut bersama dia, berbela rasa dengan sesama saudara yang mengalami derita. Mungkin kita tidak bisa membuat mukjizat seperti yang dilakukan oleh Yesus, tetapi kita bisa melakukan sapaan yang sama, bisa hadir dan menjadi teman bagi mereka.
Pertama, langkah sederhana yang pasti bisa dibuat adalah mendoakan mereka. Mendoakan dengan tulus mereka yang menderita, juga berdoa bersama mereka.
Kedua, melakukan sapaan. Mengirim SMS atau WA, email, pesan FB, twitter, atau sarana apapun yang bisa dibuat untuk menyapa mereka, untuk mengingatkan mereka yang menderita, bahwa mereka masih memiliki kawan untuk berjalan bersama melalui lorong-lorong sempit derita.
Ketiga, hadir di tengah mereka. Mengunjungi mereka, membezuk mereka yang sakit, yang di penjara,  atau di manapun mereka berada. Mungkin kita tidak bisa melakukannya sendirian. Kita bisa bergabung bersama secara kelompok, dalam kelompok SSV atau Vincensian, kelompok Legio Maria, atau kelompok yang lain yang dekat dengan kita. Kunjungan secara kelompok akan lebih menegasakan bahwa mereka sungguh tidak sendiri.

salam 


27 May 2016

Lebih DEKAT lebih HANGAT

Lai la wai... lai la wai....
Lai la wai... lai la wai....

Teriakan itu biasa terdengar di pasar-pasar di Hong Kong. Biasanya yang paling kencang suaranya adalah para penjual ikan. Terkadang juga penjual buah dan sayur kalau hari sudah menjelang sore dan pasar sudah harus ditutup. Karena ikan, sayur, dan buah tidak bagus kalau tidak segar. Maka para penjual itu berteriak-teriak menjajakan jualannya agar pembeli mendekat dan memborong.

Terikan itu kalau diterjemahkan sederhana artinya, "datanglah... datanglah...., mendekatlah... medekatlah..."

Lebih dekat lebih hangat...
Seorang penjual menghapakan pembeli datang, mendekat dan merapat ke lapak dagangannya. Kalau pembeli sudah mendekat dan rapat, mereka bisa mengenal lebih dekat aneka dagangan yang ada di sana. Sebaliknya juga kalau pembeli sudah dekat,penjual bisa lebih mudah melancarkan jurus rayuannya.
Soal mendekat dan menjadi lebih hangat ini bisa juga terjadi dalam banyak aspek kehidupan. Ambillah contoh dokter dan pasien. Seorang pasien harus mendekat kepada dokter agar sang dokter bisa melihat sakitnya lebih jelas. Sebaliknya juga sang dokter perlu mendekat kepada bagian yang sakit untuk memastikan penyebab, jenis penyakit, dan obat apa yang pas. Bahkan untuk bisa melihat lebih jelas, biasanya para dokter menggunakan alat bantu. Entah berupa senter atau stetoskop.

Hubungan dekat dan hangat ini juga terjadi dalam ranah ilahi. Antara Allah dan manusia. Dalam sejarah panjang kehidupan manusia, kita bisa menandai banyak kejadian yang menunjukkan hubungan dekat antara manusia dengan Allah. Tentu sumber yang sangat mudah dibaca adalah Kitab Suci. Di sana bisa kita temukan banyaknya kejadian yang menandakan pasang surut relasi manusia dengan Allah.

Pada awalnya kita membaca bahwa Allah adalah Allah yang tidak mau kesepian. Ia menciptakan teman untuk bisa berdialog dan jadilah manusia pertama yang dikenal sebagai Adam dan pasangannya Hawa. Mereka tinggal di sebuah taman yang dikenal sebagai EDEN. Relasi antar mereka juga ditandai dengan pasang surut. Puncaknya adalah ketika Adam dan juga Hawa melanggar apa yang sudah diperintahkan oleh Allah. Mereka makan buah yang dilarang. Maka mereka diusir dari taman. Sebelum diusir, Allah masih memberi janji kepada perempuan itu akan adanya rencana keselamatan.

Kemudian relasi antara Allah dan manusia juga ditandai dengan relasi antara Allah dan keluarga Abraham. Hubungan mereka sangat dekat yang ditandai sikap saling percaya. Allah memercayai Abraham demikian juga sebaliknya Abraham memercayai Allah sepenuhnya. Relasi antara Allah dan Abraham ini kemudian berkembang begitu besar hingga menjadi relasi antara Allah dan sebuah bangsa, bangsa pilihan.

Relasi antara Allah dan bangsa pilihannya ini juga ditandai pasang surut. Allah selalu setia dalam mejaga relasi, sebaliknya manusia kerap tidak setia. Dalam kurun waktu yang begitu lama, Allah diwakili para nabi berusaha mengingatkan bangsa Israel akan perjanjian antara mereka dengan Allah. Hingga kemudian datanglah Yesus, Mesias Putera Allah.

Yesus menjadi puncak dari kehendak Allah yang ingin dekat dengan manusia. Allah yang tidak mau tinggal jauh dengan manusia, yang tidak mau hanya ada di atas awan belaka. Melalui Yesus yang turun dari surga, Allah ingin memeluk dan merangkul manusia. Allah yang mengalami segala derita manusia. Allah yang bisa kita sentuh, bisa kita sebut sebagai "saudara".

Sebagai manusia, Yesus tidak bisa selamanya tinggal bersama manusia. Pada saatnya Dia mesti kembali ke tempat dari mana Dia berasal. Maka Allah mesti mencari cara agar tetap bisa dekat dengan manusia. Cara pertama yang dipilih adalah mengutus Roh Kudus untuk mendampingi hidup manusia. Cara kedua yang dipilih adalah menciptakan EKARISTI. Cara inilah yang kehangatannya sungguh terasa karena kedekatannya sungguh melekat.

Kedekatan cinta...
EKARISTI membuat Allah tetap bisa dekat dengan manusia. Bahkan bersatu erat. Relasi antara dua pribadi akan terasa sungguh kehangatannya kalau masing-masing pihak memiliki frekuensi cinta dan kadar getar yang seimbang. Maksudnya, Allah sudah menggetarkan frekuensi cintanya sampai 8 skala riter ala gempa bumi, bahkan juga mengobarkan api cinta yang menyala-nyala seprti api tukang pembuat gelas. Kalau di pihak lain, di pihak manusia tidak mengubah frekuensi cintanya sehingga memiliki getaran yang sama, maka api yang dikobarkanpun tidak akan sebanding, dan akhirnya api cinta itu hanya mobat-mabit sepeti nyala api lampu minyak diterjang dingin.
Kedekatan cinta itu akan terasa hangat dan memanas kalau kedua belah pihak sama-sama mencinta, sama-sama memiliki gebu yang sama, sehingga terasa menggebu-gebunya. Kalau hanya satu pihak yang memiliki gebu maka kurang nendang rasanya.
Maka jelaslah sudah, pihak manusialah yang mesti mencocokkan chanel frekuensinya dan mengatur bara api cintanya sehingga nyantol dengan frekuensi cinta Allah dan seirama dengan getaran kasih-Nya.

Bagaimana caranya?

Sebenarnya caranya tidak perlu dibahas di sini. Mengapa? Karena setiap kita pernah memiliki pengalaman cinta, pengalaman dicinta dan mencinta sehingga jadilah pengalaman bercinta. Manusia lahir karena buah bercinta, buah cinta orangtua, buah cinta Allah yang mengijinkan pasangan yang bersatu erat memiliki buahnya. Ketika lahir, si jabang merah bayi mendapatkan cinta dari orang-orang di sekelilingnya. Hingga pada saatnya nanti muncul cinta-cinta yang lain, yang berada di luar batas relasi keluarga dan pada akhirnya membentuk keluarga sendiri.
Demikianlah hendaknya cinta yang akan dipadu dengan Allah. Cinta yang diawali dengan seringnya perjumpaan, terjaganya komunikasi, dan pemberian diri yang seutuhnya. Misalnya seorang pemuda, kalau dia tidak pernah datang ke rumah pemudi yang diincarnya, dia tidak akan pernah bersatu padu. Dia harus datang ke rumahnya, berkenalan dengan keluarganya hingga akhirnya menajdi bagian dari keluarganya.
Begitulah dengan relasi kasih antara manusia dengan Allah. Kita yang mesti datang mengunjungi rumahNYA, ngapel. Hingga nanti kita menjadi bagian dari keluargaNYA. Komunikasi juga dijaga dengan metode doa. Komunikasi bebas pajak, bebas roaming, bebas batasan pulsa. Murah meriah. Dan persatuan dengan erat itu terasa dalam EKARISTI. Saat kita menyambut TUBUH dan DARAHNYA. Di sana kita bersatu erat, bersatu hangat. Dia yang kita cintai telah menyatu di dalam kita. Betapa hangatnya.

Maka, merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, menjadi satu kesempatan untuk memperbaharui cinta, kesempatan mengobarkan cinta lagi agar menyala terang, agar menggebukan gelora di dalam dada. Mari kita datang mendekat padanya, karena lebih dekat memang akan lebih hangat.

Salam

HR Tubuh dan Darah Kristus
St. Teresa Lisieux Parish
Kowloon - Hong Kong