EKARISTI; makanan menyehatkan...

Sore kemarin saya terlambat datang untuk makan malam. Saya sudah memberitahu yang menyiapkan makan, bahwa saya akan datang terlambat. Maka mereka menyiapkan saya sepiring penuh makan malam. Biasanya mereka meletakkan semua jenis makanan yang mereka masak dalam satu piring. Kecuali sup mereka pisahkan dalam mangkuk kecil.

Sore kemarin saya terlambat datang untuk makan malam. Saya mengikuti rapat dengan teman-teman JBMI untuk acara debat, maka saya memberitahu yang menyiapkan makan untuk menyisihkan makanan. Meskipun mereka selalu melakukan setiap hari, karena saya selalu datang terlambat untuk makan. Biasanya karena jadwal bis yang tidak memungkinkan saya makan malam sesuai jadwal di rumah kost. 
Sore kemarin saya terlambat datang untuk makan malam. Meski saya datang terlambat datang untuk makan malam, ternyata ketika saya masuk kamar makan, masih ada tiga orang di sana. Mereka sudah selesai menyantap makan malam, tetapi belum selesai bercakap-cakap. Saya menyela di antara mereka dengan sepiring makanan.
Tidak berselang lama, satu kawan, pastor paroki St. Anne di Stanley pamit. Tinggallah kami bertiga. Kami melanjutkan obrolan dengan bahasa Indonesia. Baru beberapa kalimat tersaji, datang satu lagi sahabat ke ruang makan. Beliau adalah Fr. Peter Barry, MM.
Fr. Peter ini tetangga kamar saya. Usianya sudah 75 tahun, tetapi masih sehat dan enerjik. Buktinya, setiap Sabtu sore baliau selalu bermain basket, minimal 2 jam. Saya pernah ikut bergabung bermain basket bersama. Harus saya akui, bahwa beliau sangat terlatih. Sedangkan saya, hanya menang muda, sedangkan hal-hal lain, saya kalah jauh.
Oh iya, dalam usianya yang sudah 75 tahun itu, beliau masih pergi dan pulang dari kantor menggunakan kendaraan umum. Padahal dari halte bis ke rumah kami itu, terutama kalau pulang, harus mendaki. Beliau setia melakukan hal itu setiap hari. Hal kecil yang memberi semangat bagi kami yang muda, untuk tidak gampang mengeluh.
Fr. Peter juga mendapat sepiring makan yang sama dengan saya. Dua potong ham asap, "sambel terong" jagung manis dan sweet potato. Saya masih menuangkan saos apel ke atas ham ketika beliau mengomentari makanan kami.
"Ini banyak sekali, saya tidak sanggup menghabiskan. Apakah kamu mau sepotong ham?" kata Fr. Peter menawarkan sepotong ham.
"Aduh, saya juga mendapat dua potong, Father. Sudah sangat banyak." Jawab saya.
"Saya ini sudah tua, tetapi masih diberi cukup banyak daging. Ini tidak sehat." kata beliau.
"Masak Fater sudah tua, wong masih kuat bermain basket." Komentar Romo Heri.
"Iya, saya sudah tua. Tidak bagus menyantap makanan yang tidak sehat terlalu banyak." Sambung beliau.
Kemudian kami sedikit melanjutkan obrolan mengenai makan yang sehat dan tidak sehat, serta bagaimana menjaga agar badan tidak sakit. Hal yang sangat mendasar adalah menyantap makanan yang sehat.
Ternyata makanan yang sehat itu bukan hanya tersaji di dalam piring. Tetapi ada begitu banyak makanan tambahan yang membuat manusia bisa hidup sehat. Termasuk di dalamnya adalah pola hidup yang sehat. Hidup seimbang dan cara menghadapi persoalan juga berperan dalam menjaga kesehatan manusia. Percakapan kami di meja makan, sore tadi, membawa kepada permenungan yang dalam.

Anda mungkin tidak percaya tetapi benar adanya bahwa jika kita menginginkan memiliki kesehatan yang baik, maka langkah pertama adalah menjamin adanya gizi rohani yang baik. Baru kemudian menyusul gizi jasmani. Dari sana akan lahir pribadi yang sehat.
Ada ungkapan bahwa dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ternyata untuk mendapatkan jiwa yang kuat, bukan sekadar memberi badan asupan makanan yang sehat, tetapi terlebih musti memberi asupan rohani yang sehat.
Asupan rohani itu bisa bacaan yang sehat, renungan yang sehat, pola hidup yang sehat, kebiasaan yang sehat, dst. Nah, dari sekian banyak menu rohani yang sehat; EKARISTI adalah menu rohani yang paling sehat.
EKARISTI adalah makanan yang diberikan oleh ALLAH sendiri untuk kita santap. Inilah TUBUHKU, inilah DARAHKU, terimalah dan makanlah, terimalah dan minumlah. Makanlah yang banyak, minumlah yang banyak, agar sehat hidupmu, agar kuat jalanmu.
Dulu (banget) orang-orang Israel begitu bangga karena mendapat makanan dari surga. Mereka menyebutnya manna. Tetapi karena kerakusan dan ketidakpuasan mereka, roti dari surga itu juga tidak memuaskan hati mereka. Mereka masih menuntut yang lain.

Saya mengenal beberapa orang yang menjadikan EKARISTI sebagai santapan utamanya. Mereka tidak akan makan makanan yang lain sebelum menyantap EKARISTI.
"Dulu kami tidak begitu yakin bahwa HOSTI kecil itu akan mampu memberi kekuatan. Tetapi setelah menjalani dan mengimani, kami mengalami benar bahwa HOSTI KECIL itu memberi kekuatan jauh lebih besar dari makanan lain." Kata Bapak Gregorius dalam sebuah percakapan.
Bapak ini satu dari sekian banyak orang yang mulai merasakan betapa berdayanya EKARISTI. Beruntung bagi beliau, karena bisa mengikuti EKARISTI setiap pagi. Bahkan beliau tidak akan melakukan aktivitas yang lain sebelum ikut dalam EKARISTI. Bagi beliau, EKARISTI sungguh menjadi sumber kehidupannya, di mana beliau mendapatkan kekuatan untuk menjalani hidup. EKARISTI juga menjadi puncak kehidupannya. Apa saja yang dia alami dalam hidup, susah dan senang, semuanya dibawa ke dalam EKARISTI.

Sahabat, bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menjadikan EKARISTI sebagai sumber dan puncak kehidupan Anda? Apakah Anda sudah menjadikan Ekaristi sebagai santapan tersehat Anda? Selamat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Amin.

Hong Kong, 22 Juni 2014  

Comments