POKOKNYA KASIH



Kemarin, 14 Februari, kita merayakan hari kasih sayang. Meskipun ada yang menentang dan menganggapnya haram, toh perayaan jalan terus. Pada hari yang sama juga merayakan tahun baru China atau Imlek. Lengkaplah perayaan kasih sayang itu.
Orang mencoba merangkai-rangkai alasan dan bentuk ungkapan dalam merayakan valentine. Orang juga mencoba mencari alasan yang seimbang dan benar agar tidak tersesat dalam perayaan. Toh semuanya bermuara pada titik yang sama, merayakan kasih. Sebenarnya ini sudah cukup menjadi alasan. Kasih memang mesti dirayakan. Yang menjadi persoalan adalah cara merayakannya.

Ada orang-orang yang keliru dalam merayakan kasih tersebut. Ada yang begitu royal hingga mengeluarkan banyak dana untuk perayaan kasih. Padahal di tempat lain bahkan yang tidak berada jauh dari lokasi, ada cukup banyak insane yang hidup menderita. Tentu saja perayaan kasih itu menjadi tidak benar lagi.
Kawan, sebentar lagi kita akan masuk masa Pra-Paskah, masa pertobatan, masa retret agung. Dalam masa pertobatan itu ada tiga unsure yang mesti dilakukan. Berdoa, berpuasa, dan beramal. Tiga elemen yang sebenarnya bukan sesuatu yang sama sekali baru, namun senantiasa perlu ditekankan.
Berdoa adalah sesuatu yang niscaya terus kita lakukan. Sejak kecil kita diajari berdoa, mengawali hari dan menutup hari dengan doa. Sebelum melakukan segala pekerjaan, sudah kita awali dengan doa, demikian juga tatkala mengakhirinya. Apalagi dalam beban derita hidup yang berat. Terpaan masalah yang kencang, membuat kita juga tak kalah kencang berdoa. Artinya sudah biasa kita lakukan.
Berpuasa, hmm jarang, tetapi bukan tidak pernah kita lakukan. Sebelum kita periksa kesehatan, kerapkali dokter meminta kita berpuasa. Menahan diri untuk tidak makan dalam jangka waktu tertentu. Setelah itu kita boleh makan lagi. Puasa, artinya menghentikan sejenak.
Beramal, juga sesuatu yang sudah sangat biasa kita lakukan. Memberi uang receh kepada pengamen, terkadang juga kepada pengemis, tatkala ada bencana alam kita membantu menyumbangs edikit dari yang kita punya. Intinya beramal adalah sesuatu yang biasa kita lakukan.
Jika berdoa, berpuasa, dan beramal adalah hal yang sudah biasa kita lakukan, mengapa Gereja menganjurkan? Gereja menganjurkan karena hendaka memakai apa yang sudah biasa itu untuk menjadi sesuatu yang luar biasa. Yang biasa itu dipakai dengan sepenuh hati, dengan kesadaran yang tinggi, dengan cinta yang berlimpah, dengan harapan yang besar untuk semakin dekat dengan Tuhan.
Semakin dekat dengan Tuhan, itu yang tidak gampang. Di sanalah doa dilakukan bukan karena kita butuh, bukan karena sudah biasa, tetapi kita lakukan karena kita mau dekat dengan Tuhan, doa kita lakukan karena kita mencintai Tuhan.
Semakin dekat dengan Tuhan, itu tidak gampang. Di sanalah puasa dilakukan bukan hanya karena menjaga berat badan, bukan karena pantangan dari dokter, tetapi karena kita mau dekat dengan Tuhan, karena kita mencintai Tuhan.
Demikian halnya dengan bersedekah dan beramal kasih. Kita lakukan karena kita melihat Tuhan hadir dalam diri saudara kita yang hina, yang miskin papa. Di sana kita berbagi cinta, bukan materi hasil kerja pribadi, tetapi cinta anugerah Tuhan, yang kita bagikan kepada sesame. Beramal kasih adalah satu tahap mendekatkan hati kepada Tuhan.
Saya meminjam ungkapan orang-orang yang keras kepala, yang tidak mau dibengkokkan pendiriannya, dan tidak membutuhkan banyak alasan, yaitu ‘pokoknya’. Pokoknya saya mau mencintai Tuhan. Pokoknya saya mau lebih dekat dengan Tuhan. Pokoknya …….!
Kalau kata pokoknya sudah ada, maka akan timbul semangat membara. Pertanyaannya, apakah ada kata itu di dalam dada kita. Jangan-jangan yang ada adalah, “untuk apa”. Untuk apa mencintai Tuhan, untuk apa mendekat kepada Tuhan, untuk apa…?
Masa prapaskah adalah masa yang agung untuk membuat banyak kegiatan yang membantu kita makin dekat dengan Tuhan. Apa saja bisa kita buat, pokoknya bermuara pada cinta akan Tuhan, pokoknya membawa kita makin dekat pada Tuhan. Pokoknya cinta deh.
Semoga seminggu ini kita semua dibawa makin dekat kepada Tuhan.
Tuhan memberkati.
Melbourne, 15-02-10 /00.05 am



Comments

Popular Posts