Skip to main content

Menjadi Karmelit di Belantara Megapolitan


17 September 2014 adalah peringatan 800 tahun wafatnya St. Albertus pemberi regula (law giver) bagi karmelit. Saya mencoba merenungkan sedikit mengenai pasal 5 dalam regula tersebut.

“Selanjutnya, kamu boleh bertempat tinggal di tempat-tempat yang sunyi atau di tempat manapun yang diberikan kepadamu, yang menurut pandangan prior dan para saudara dianggap cocok dan layak untuk menghayati hidup kebiaraanmu.” (Regula 5)

Tempat sunyi di tengah megapolitan
Saya masuk Karmel pada tahun 1996. Kemudian sampai tahun 2003 saya tinggal di rumah pendidikan. Sejak tahun 2004 saya mulai tinggal di rumah karya. Mulai keluar dari kehangatan dan keheningan rumah pendidikan. Mulai menghayati hidup sebagai Karmelit di tengah medan karya yang tidak selalu gampang. Bahkan idealisme dan cita-cita awal tidak selalu bisa dijalankan.
Sejak tahun 2004 tersebut hingga sekarang (2014), saya sudah bekerja di tiga kota yang berbeda. Pertama di kota Malang, dari tahun 2004-2009. Kedua di kota Melbourne, dari tahun 2009-2012. Kini di kota Hong Kong, dari 2013 sampai sekarang.
Malang, Melbourne, dan Hong Kong adalah tiga kota yang berbeda. Dari tiga kota ini, yang bisa dikategorikan megapolitan adalah Melbourne dan Hong Kong. Di Melbourne saya tinggal selama 3 tahun; sedangkan di Hong Kong saya baru baru tinggal selama satu tahun.
Di Malang, sembari mengajar di SMAK St. Albertus, saya tinggal di rumah indok tarekat. Tinggal di sana sangatlah nyaman. Selain dekat dengan pusat kota, lokasi rumah kami juga cukup hening. Hanya pada siang hari cukup bising dengan suara para siswa. Tetapi hal itu masih sangat wajar.
Di Melbourne saya tinggal di paroki Port Melbourne. Terletak di pinggir kota Melbourne. Sekitar 15 menit naik tram dari pusat kota. Pastoran kami terletak di jalan buntu. Maka tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Suasanya cukup sepi, bahkan saya kerap merasa tinggal di desa karena suasana yang sepi tersebut. Di Hong Kong saya indekos di sebuah biara yang terletak jauh dari pusat kota. Membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit naik bis untuk sampai di pusat kota.
Pada awalnya saya membayangkan bahwa Melbourne dan Hong Kong tidak memiliki lagi daerah-daerah yang sepi. Ternyata saya salah. Ternyata masih ada tempat yang sepi di kota Melbourne dan Hong Kong. Ternyata selalu ada tempat yang sunyi di tengah bisingnya kota megapolitan.
Kebisingan dan Keheningan
Rasanya sulit mendampingkan kebisingan dan keheningan. Sulit membayangkan ada keheningan di tengah kebisingan. Maka sulit membayangkan bisa menghayati hidup sebagai biarawan di tengah kebisingan kota. Regula kami menegaskan bahwa kami hendaknya “tinggal di tempat-tempat yang sunyi.”
Sekarang saya tinggal di Hong Kong. Untuk sementara waktu indekos di daerah yang sunyi. Tetapi pada saatnya nanti kami akan tinggal di biara kami sendiri atau tinggal di paroki. Yang pasti, akan jauh dari keheningan.  
Di sinilah tantangan hidup sebagai karmelit baru dimulai. Bagaimana kami menemukan keheningan di tengah bisingnya kota. Apakah itu mungkin? Tentu saja mungkin. Karena keheningan yang utama bukanlah soal tempat tinggal, tetapi tentang keheningan batin.
Menghayati hidup membiara di Hong Kong
Salah satu ciri masyarakat Hong Kong adalah selalu tergesa-gesa. Mereka berjalan, makan dan bicara dengan cepat. Mereka selalu sibuk, seolah tidak ingin kehilangan waktu barang sejenak. Bahkan, berdoapun sangat cepat. Bahkan saya tidak mampu mengikuti ritme mereka mengucapkan doa. Terlalu cepat!
Mereka juga kelihatan individualis. Waktu mereka berada di tempat umum, telinga mereka biasanya ditutup dengan speaker kecil yang terhubung dengan alat pemutar musik, yang juga kecil. Atau, kalau tidak sibuk mendengar musik, mereka sibuk bermain game. Mata mereka hampir selalu terarah pada layar kecil yang ada di genggaman. Mereka hampir tidak memiliki perhatian terhadap orang di sekitar mereka.
Di tengah masyarakat yang seperti inilah Karmel mulai hadir. Kami hidup di tengah masyarakat yang seperti itu. Bahkan, pada saatnya nanti kami juga akan tinggal di antara mereka. Apakah kami mampu menghayati hidup karmel? Akankah semangat karmel mampu hidup di tengah kebisingan kota Hong Kong? Kiranya harapan itu selalu ada. Orang Hong Kong mengatakan, “saiseuhng moùh nàahnsih, jí pa yáuhsām yàhn.” Artinya, tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang memiliki harapan/kemauan.
Menghidupi semangat karmel di tengah bisingnya Hong Kong sangatlah mungkin. Karena sumber keheningan yang utama ada di dalam batin. Maka kami harus mulai melatih diri dengan baik. Melatih diri menciptakan ruang hening di dalam rumah kami, di dalam hati kami.
Mengapa ruang hening ini penting? Karena dengan memilikinya kami akan mampu menangkap kehendak Tuhan yang hadir diantara bisingnya suasana. Ketika kehendak Tuhan itu mampu kami tangkap, kemudian akan tiba saatnya untuk membagikannya kepada sesama.
Penutup
Tinggal di kota megapolitan seperti Hong Kong memiliki banyak tantangan, apalagi hidup membiara. Pertama-tama adalah tantangan untuk tidak hanyut dalam arus pola hidup masyarakatnya. Kedua, bagaimana bisa menghayati hidup membiara dan membagi madu rohani kepada mereka.
Bagi kami, dua tantangan ini sekaligus menjadi sebuah peluang. Karena keduanya sangat berkaitan erat. Keduanya memberi dorongan yang sangat kuat agar saya semakin erat menjalin relasi dengan Sang Cinta. Relasi yang mesra dengan Sang Cinta itu akan menghasilkan madu-madu rohani yang manis rasanya. Madu rohani itulah yang mesti kami bagikan kepada mereka. Dan dengan itu kami akan terhindar dari arus kehidupan yang begitu deras.

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …