Skip to main content

Spring dan Autumn

Sahabat, memasuki bulan September, banyak orang menaruh harapan baik. Harapan akan adanya kehangatan alam. Di belahan bumi selatan, September menjadi penanda mulainya musim semi atau Spring. Sedangkan di belahan bumi utara, September menjadi penanda mulainya Autum atau musim gugur.  Meski berbeda namun ada yang sama, yaitu kehangatan.

Di belahan bumi bagian selatan, masuk musim semi berarti meninggalkan dinginnya musim dingin dan masuk musim yang penuh kehangatan. Bahkan saya sempat dibuat terkagum-kagum. Waktu itu hari Sabtu di awal bulan September tahun 2012. Hari itu adalah awal musim semi. Dan alam seolah memahami hal itu. Pohon-pohon mulai memekarkan bunga-bunga. Udara hangat dan kamipun dengan gembira merayakannya. Saya menamai musim ini sebagai kegembiraan kehidupan.

Di belahan bumi bagian utara, masuk musim gugur berarti meninggalkan menyengatnya musim panas menuju musim hangat. Musim yang ditandai dengan keindahan alam yang tercipta dari perubahan warna-warna daun. Saya sudah menikmati musim gugur sebanyak 3 kali di belahan bumi selatan. Tahun ini, adalah tahun pertama saya merayakan keindahan musim gugur di belahan bumi utara.

Masyarakat di mana saya tinggal memiliki satu pesta menyambut musim gugur. Mid Autum Festival. Pesta yang ditandai dengan menikmati kue bulan, karena pada hari itu bulan sedang berada dalam puncak bulatnya. Tahun ini adalah tahun pertama saya menikmatinya. Karena masih akan saya rayakan, saya belum bisa berbagi. Maka saya akan berbagi pengalaman menikmati kehangatan dan keindahan musim gugur di belahan bumi yang lain.

Musim gugur merujuk pada dedaunan yang mulai rontok. Proses rontoknya daun-daun ini begitu indah. Daun yang semula berwarna hijau kemudian perlahan-lahan mulai berubah, ada yang menjadi coklat, ada yang berubah menjadi kuning, merah, coklat dan kemudian gugur. Saya menyebutnya sebagai kematian yang indah.

Musim dan kehidupan

Musim semi, adalah penanda kelahiran baru. Musim gugur, adalah penanda datangnya kematian, meskipun indah. Keduanya datang dari situasi yang berbeda. Musim semi datang dari kebekuan musim dingin. Musim gugur datang dari garangnya musim panas. Siklus yang tidak akan pernah berhenti. 

Ada saat di mana kehidupan begitu garang, begitu penuh tenaga, begitu panas. Semua mendatangkan kebaikan, semua terasa tepat dan kuat. Itulah kehidupan di musim panas. Tetapi musim itu akan segera berganti. Kemakmuran dan kesuksesana itu akan berakhir. Tidak datang tiba-tiba, tetapi perlahan-lahan. Saat itulah musim gugur datang.

Musim gugur masih menyisakan kegarangan musim panas. Tenaga dan kuasa masih sedikit garang. Tetapi perlahan-lahan tenaga itu mulai habis, pelan sekali. Apa yang semula hijau garang, perlahan-lahan berubah menjadi kuning, merah, coklat dan jatuh. Memang ada keindahan, tetapi ujungnya adalah kematian.

Memasuki kematian dalam kehidupan. Measuki kelamnya dan dinginnya kehidupan. Serasa semuanya serba salah. Apa yang dulu indah sekarang terbang sudah. Yang ada hanyalah derita. Jika dulu bisa ke sana ke mari seolah memiliki sayap-sayap gagah, sekarang sayap itu telah patah. 

Segala derita itu tidak akan berlangsung selamanya. Jika bertekun, akan tiba masanya untuk tumbuh baru. Ada masanya tunas-tunas baru akan muncul seiring lelehnya salju. Tunas baru, bunga-bunga bermekaran, mentari mulai bersinar kembali. Kehidupan lahir kembali hingga nanti mencapai puncaknya dan berbuah.

Saya lahir pada awal musim semi, jika mengikuti tradisi bumi selatan. Tetapi saya adalah manusia musim gugur jika mengikuti tradsi bumi utara. Keduanya memiliki tanda yang berbeda. Musim semi ditandai keindahan bunga-bunga. Musim gugur juga memiliki keindahan, meskipun berujung pada kematian.

Meloncat

Apakah kita bisa menghindari musim dingin? Tentu bisa! Kalau banyak orang bepergian untuk 'skip winter'. Maka, belajar dari banyak pengalaman, kita bisa menghindari kejatuhan dan 'kematian'. Kita bisa meloncat sebelum segalanya hancur.

Jika pergantian musim adalah sebuah siklus yang pasti terjadi, dalam kehidupan kita bisa mengindari musim yang buruk. Caranya, tekun memaknai musim. Jika siklus itu perjalanan dari A menuju B menuju C menuju D, maka berlatihlah untuk bisa meloncat dari titik B menuju titik D.

Jika siklus itu seperti roda, A (musim panas) ada di atas, B (musim gugur) ada di sisi kanan, C (musim dingin) ada di bawah, D (musim semi) ada di sini kiri. Masing-masing memiki tanda dan ciri sendiri. Jika kita berada di atas, semua terasa enak. Tetapi harus hati-hati, karena putaran membawa kepada B, di mana gerakannya adalah menurun. Menurun itu ditandai dengan segala sesuatu yang mudah, lancar. Nah, di sinilah kita harus hati-hati.

Hati-hati agar tidak terjatuh, tersungkur sehingga harus merangkak. Kalau sampai terjatuh, untuk memulai lagi akan sangat berat. Lebih mudah meloncat ketika masih berada di titk B dibandingkan dengan merangkak dari titik C menuju titik D.

Mungkin Anda bingung dengan uraian saya. Tidak perlu bingung, abaikan saja. Karena sebenarnya pesannya sederhana, kalau segalanya terasa mudah, berarti anda berada di jalan menurun. Kalau tidak hati-hati Anda akan terpuruk di bawah. Kalau semua terasa berat, berarti Anda sedang mendaki. Jangan menyerah, karena Anda berada dalam jalan yang tepat.     

Pelajarialah segala tanda, agar Anda tidak perlu tersungkur, dan tidak perlu terlalu berat merangkak dari bawah. Yang dibutuhkan hanya satu, meloncat dari musim gugur ke musim semi. Terbang dari Hong Kong ke Melbourne, begitu kira-kira.

Hong Kong, 3 September 2014

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …