Skip to main content

Christine Ha

Kemarin, teman saya bejalar bahasa kanton memberi saya informasi mengenai aplikasi untuk menonton siaran televisi TVB. Malam harinya, sambil memijit-mijit kepala yang agak pusing, saya download aplikasi tersebut. Namanya mytv. Ternyata ada beberapa aplikasi dengan nama yang sama, maka saya pilih yang berlogo TVB. Aplikasi ini gratis.
Setelah berhasil mendownload, saya segera melihat apa saja yang ada di dalamnya. Pertama saya menikmati sajian untuk anak-anak. Selanjutnya saya mencari saluran kuliner, kesukaan saya. Di sanalah saya temukan dua video mengenai Master Chef Amerika. Video pertama mengenai babak semifinal dan yang kedua mengenai babak finale. Saya langsung menikmati keduanya.
Saya lupa bahwa tujuan saya mendownload aplikasi tersebut adalah untuk melihat dan mendengar siaran berbahasa kanton, tetapi malam ini saya menikmati siaran berbahasa Inggris. Sudahlah.
Awalnya saya tidak melihat sesuatu yang aneh, tetapi baru saya sadari ada sesuatu yang janggal. Salah satu peserta Master Chef itu adalah perempuan yang buta sejak lahir. 
Namanya Christine Ha, lahir di California tahun 1979. Kedua orangtuanya asli Vietnam, maka dia adalah Amerika Vietnam. Saya penasaran bagaimana seorang yang buta sejak lahir bisa memasak, bukan sekadar bisa memasak, tetapi ikut kompetisi memasak. 
Ketika memilih bahan-bahan, dia ditemani oleh panitia. Christine tinggal menyebutkan nama bahannya, dan staff panitia akan mengambilkan. Ada beberapa hal yang dia juga dibantu oleh panitia. Tetapi semua ide, semua bentuk dll, mengikuti instruksi Christine. Termasuk di dalamnya, bagaimana memberi bumbu, mengaduk, menyajikan, dilakukan oleh Christine sendiri.
Saya semakin penasaran, bagaimana dia membayangkan semua masakannya bisa tersaji dengan sangat menarik. Mengapa? Karena kuliner itu, selain soal rasa juga soal penampilan. Maka bisa kita pahami bahwa di restoran-restoran mahal, penampilan itu sangat penting. Kerap kali penampilan mengalahkan semuanya. Maka saya terus panasaran, bagaimana Christine membayangkan warna merah, hijau, kuning, caramel, dst.
Memang harus diakui bahwa dalam soal kreasi penataan, dia kalah dengan yang lain. Tetapi saya sangat kagum dalam semangat dan kemampuannya dalam mengolah semuanya. Dia tidak pernah merasa rendah diri, bahkan dia tidak mau kalah dengan mereka yang normal penglihatannya.
Akhirnya Christine keluar sebagai juara Master Chef. Gordon Ramsey yang terkenal sadis dalam menilai masakan, tak habis memuji masakan Christine. 

Setelah melihat tayangan tersebut saya merasa malu. Bukan malu karena tidak bisa masak seperti Christine. Saya malu, karena kerap menyerah pada sesuatu yang seharusnya bisa saya latih, saya pelajari, saya usahakan. Seperti hari-hari ini, saya kerap pusing karena belajar bahasa kanton yang begitu sulit. Memahami tulisannya yang semakin hari semakin rumit. memahami intonasinya yang masih sulit saya ikuti. Saya kerapkali kesulitan menggunakan intonasi yang benar. Juga kesulitan menghafal. Maka, saya kerap pusing-pusing. Cenut-cenut.
Malam tadi setelah melihat tayangan mengenai Christine Ha, saya tidur dengan bibir tersenyum. Semuanya bisa dilatih. Mungkin saya tidak akan sehebat yang lain. Kerapkali bakat memang memegang peranan. Tetapi hanya mengandalkan bakat saja tidak cukup. Dibutuhkan kemauan yang keras untuk belajar dan mengusahakan. Tidak ada kata menyerah.
Saya juga diingatkan bahwa tidak ada hidup yang tanpa masalah. Setiap bagian dari hidup, setiap pilihan hidup senantiasa memiliki masalahnya sendiri. Christine yang buta memilih menjadi seorang Chef, bahkan, karena juara dalam master chef, berhak menulis buku menu. Dia juga menulis blog. Pasti dia menghadapi banyak kesulitan. Tetapi dia tidak menyerah. Dia terus belajar, dia terus berusaha dan berbagi.

Setiap orang memiliki masalah dan keterbatasannya sendiri. Tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, memiliki waktu untuk berusaha. Hanya mereka yang melihat kekurangan sebagai tantangan dan kesempatan untuk berkembang akan melangkah maju.

#revolusi mental.

Ini beberapa link video mengenai Christine Ha

Audisi Master Chef

Video satu 

Membuat American Pie


Juara American Master Chef

Video tiga



Hong Kong, 10 Juli 2014



Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …