Skip to main content

Pemimpin yang membawa damai

Hari ini, WNI di Hong Kong melaksanakan hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara. Mereka memilih calon preseden mereka. Setelah melewati masa kampanye yang menegangkan. Hari ini, dengan cuaca yang sedikit mendung seperti memberi kesegaran kepada seluruh warga untuk berduyun-duyun ke Victoria Park. Saat membuat catatan ini saya masih di kamar. Tetapi beberapa kawan sudah mengirimkan foto suasana di sana. Saya sendiri akan memilih pada sore hari setelah perayaan Ekaristi.
Karena saat ini sudah bukan saat kampanye, maka saya tidak akan berkampanye. Toh teman-teman saya sudah tahu pilihan saya. Melalui catatan ini saya hanya ingin berkata, "pilihlah pemimpin yang menciptakan suasana damai, yang memberi ketenangan."
Pemimpin yang mampu mengambil beban hidup kita. Pemimpin yang mau berjalan bersama kita, menapaki jalan terjal kehidupan. Saya tidak sedang membuat tulisan yang melankolis dramatis, tetapi sesuatu yang kita hadapi setiap hari.

Saya sedang berbicara mengenai pemimpin yang berkata, "pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, sebab aku ini lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan."

Belajarlah dari pada-Ku.
Pemimpin yang baik adalah yang bisa diteladani hidupnya. Karena dia sendiri mengalami apa yang kita rasakan. Karena dia berasal dari tengah-tengah kita. Itulah alasan mengapa ada inkarnasi. Allah menjadi manusia, agar Allah mengerti apa yang dirasakan manusia. Jika Allah tidak menjadi manusia, Dia tidak mengerti arti penderitaan umat-Nya. 
Karena Dia sendiri menderita, maka kita bisa menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan-Nya. Kita bisa belajar dari Dia bagaimana menghadapi penderitaan. 
Dia tidak menyerah, maka kita juga tidak menyerah. Dia tetap setia, maka kita juga tetap setia.

Pemimpinmu tidak mengendarai kuda, tetapi keledai.
Lihatlah pemimpinmu, datang mengendarai keledai beban, keledai betina yang masih muda. Pemimpinmu tidak mengendarai kuda, dia nampak lemah lembut, nampak tidak gagah. Tetapi dialah pemimpin sejatimu.
Kuda adalah tunggangan para prajurit. Digunakan untuk berperang. Perang tidak pernah ada damai. Kuda adalah tunggangan pemimpin pencipta perang dan bukan damai, 
Keledai adalah tunggangan masyarakat kebanyakan. Dia lemah lembut namun setia dan kuat. Dia memberi kedamaian karena mengajarkan kesabaran. pemimpinmu mengendarai keledai, karena Dia membawa damai dan bukan perang.

Terimakasih, karena rahasia itu Engkau buka kepada orang kecil.
Terimakasih karena yang mengerti dan menerima kehadiran pemimpin sejati adalah mereka yang digolongkan masyarakat kecil. Mereka yang digolongkan sebagai masyarakat lemah, tertindas, mereka yang dikelompokkan kepada yang tersisih.
Rahasia agung itu disembunyikan kepada orang pandai, tetapi dibuka kepada orang kecil. Karena yang kecillah yang terbuka hatinya, yang mampu merasakan apa yang semestinya benar dan baik.
Terimakasih karena semuanya Engkau buka dan Engkau nyatakan kepada yang kecil.

Kecil berarti mereka yang rendah hati. Kecil berarti mereka yang mau merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mereka yang bukan pengadil, mereka yang tidak menghakimi sesamanya. Yang kecil berarti yang hanya bisa berpasrah kepada Tuhan.
Di dalam masyarakat kita kerap melihat orang tertentu atau sekelompok tertentu yang merasa dirinya paling benar. Merasa merekalah pemilik kebenaran dan berhak mengadili sesamanya dengan sebutan "KAFIR". Siapakah mereka sehingga mengkhafirkan sesamanya? Bahkan sesamanya yang juga sujud menyembah Tuhan?
Berbahagialah yang kecil, yang terbuka kepada kehendak Tuhan. Merekalah yang melihat pemimpin yang sejati, yang datang, yang ,emgendarai keledai; bukan kuda.

Pemimpin sejati kita membawa damai dalam hati kita. Damai yang datang dari pengampunan-Nya. Mungkin perahu hidup kita masih akan dihantam badai dengan mengikuti pemimpin ini. Tetapi yakinlah, perahu iman itu tidak akan pernah karam. Apalagi kalau seluruh kasih kita tautkan erat pada  tiang-tiang harapan yang menjadi penyangga kapal.
Ambillah bebanmu dan berjalanlah bersama-Ku. Berjalan dan belajarlah daripada-Ku. 

Engkau harus berjalan.
Engkau harus memanggul seluruh bebanmu juga.
Tetapi berjalanlah bersama-Ku.
Tetapi belajarlah bagaimana memanggul seluruh beban itu bersama-Ku.
Mungkin kamu berharap mengalihkan seluruh bebanmu itu padaku. Tidak menjadi soal kalau kamu memang tidak kuat lagi menyangga bebanmu itu. Tetapi teruslah berjalan bersama-Ku. Jangan berhenti berjalan. Jangan menyerah. Jangan mencari tumpangan lain. Tidak ada kuda atau keledai. Tidak taksi atau bis kota. Berjalanlah bersama-Ku.

Ini nasihat dari Santa Teresa Avila.
Jangan biarkan sesuatupun mengganggumu, jangan biarkan sesuatupun menakutkanmu. Semuanya bisa berlalu, bisa berubah; tetapi Tuhan tidak pernah berubah. Dia tinggal tetap. Kalau kamu sudah memiliki Tuhan, kamu tidak memerlukan yang lain lagi. Sebaliknya, kalaupun kamu memiliki seluruh dunia, tetapi bukan Tuhan; semuanya tidak berarti bagimu. Tuhan saja cukup. 

Lantas bagaimana belajar kerendahan hati?
1. Berdoa. Berdoa. Berdoa, karena semuanya hanya tergantung kepada Tuhan. 
2. Selalu bicaralah yang baik mengenai orang lain. Temukan hal positif pada diri orang lain. Jika kamu kesulitan menemukan apa yang baik, hal yang paling tepat dilakukan adalah mengunci mulut.
3. Taat kepada kehendak Tuhan. Mungkin kita tidak memahami dengan jelas apa kehendak Tuhan dalam hidup kita, tetapi kita bisa belajar dari ajaran Gereja. Kita hidup di dalam Gereja, dan kita percaya, kehendak Tuhan bisa kita baca di sana. 

Hong Kong, 6 Juli 2014

Comments

Tidak ada kuda keledai pun jadi..
tidak ada mobil merah jalan kaki pun jadi. itu pemimpin

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …