Skip to main content

ILALANG di kebun Pak J

Namanya J, aslinya tukang kayu, bapaknya juga tukang kayu. Maka tidak mengherankan kalau dia dikenal oleh tetangga-tetangganya sebagai tukang kayu. Tetapi dia punya usaha lain, bertani. Suatu hari dia menyemai benih padi. Tentu saja setelah menyiapkan lahan dengan baik. Membuang batu-batu dan membersihkan perdu.
Pak J dibantu beberapa orang untuk menggarap ladang. Ada kejadian mengerankan. Orang-orang yang membantu Pak J menyemai benih padi melihat ada begitu banyak ilalang di antara padi yang mulai tumbuh.
"Bukankah kita menaburkan benih yang baik, dari manakah ilalang itu?" Tanya teman-teman Pak J.
"Seorang musuh yang melakukannya," jawab Pak J.
"Kalau begitu, biar kami bersihkan ladang itu, biar kami cabut ilalang-ilalang itu," seru yang lain.
"Jangan," kata Pak J, "Nanti ada banyak benih padi yang ikut tercabut. Biarkan keduanya tumbuh. Nanti pada saat panen, baru dipisahkan, mana padi mana ilalang. Nah ilalangnya nanti baru dibakar."

Sebagai seorang petani, Bapak J ini sangat sabar. Dia tidak mudah marah dan terprovokasi. Dia melihat bahwa semua ada jalan dan saatnya. Bapak J sangat tenang dan sabar meski serangan dari musuhnya sangat mengerikan. Kalau memakai bahasa kampanye, serangan ini adalah kampanye hitam yang sangat brutal. Tetapi Bapak J tetap tenang.
Semua serangan hitam tidak akan mampu membangun masyarakat, apalagi Kerajaan Allah. Hanya ketenangan dan kesabaran yang mampu. Mengapa demikian, karena kekuatan Allah sendirilah yang akan membangunnya. Demikian keyakinan dari Bapak J. Pada saatnya nanti semuanya akan dipisahkan, mana padi mana ilalang. Pada saatnya nanti padi akan dimasukkan ke dalam lumbung Kerajaan Allah, dan ilalang akan dibakar di api yang tak kunjung padam. Bapak J sangat percaya akan kekuatan dan kuasa Allah. Maka dia tidak takut akan serangan musuhnya, sehebat apapun. Bahkan dia tetap tenang dan tidak membalas.

Keyakinan bahwa Allah itu sungguh berkuasa juga pernah dipraktikkan oleh Santo Fransiskus Asisi. 
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dia pernah ikut dalam perang salib. Perang antara Kristen dan Islam. Saat itu, Fransiskus berangkat ke Mesir untuk bertemu dengan sultan. Dia tidak membawa pedang dan perlengkapan perang. Dia berangkat dengan mengenakan jubah biarawan, mengenakan senjata iman. 
Dia masuk ke daerah lawan, bahkan daerah yang paling dalam, yaitu istana raja. Dia bertemu dengan Sultan untuk membicarakan perdamaian. Dia juga berbicara mengenai kebenaran iman dan kebesaran Tuhan. Mereka bercakap dengan santai dan penuh keakraban, hingga Sultan menawarkan tempat menginap. Tetapi Fransiskus menolak.
"Aku akan menginap di sini kalau kamu mau menjadi Kristen." Jawab Fransiskus atas tawaran sultan. Tentu saja Sultan juga menolak. Maka Fransiskus mengajukan sebuah tawaran. Persis seperti apa yang dibuat oleh Elia kepada para nabi baal.
"Mari kita uji, iman siapakah yang lebih teguh. Tuhan siapakah yang sungguh melindungi. Panaskan sebuah kuali raksasa, dan aku serta imammu akan masuk ke dalam kuali tersebut. Siapakah yang akan terbakar dalam kuali mendidih itu, berarti dia kalah."
Sultan tidak menyetujui usulan Fransiskus, karena dia tidak yakin imamnya akan mau masuk ke dalam kuali yang mendidih tersebut. Maka Fransiskus memberi usulan yang lain.
"Kalau begitu biarlah aku sendiri yang masuk ke dalam kuali tersebut. Kalau aku mati di sana, itu semua karena dosaku, dan kamu bisa berkata bahwa aku memang sesat. Tetapi kalau kuasa ilahi menolong aku, dan aku tetap hidup, kamu dan semua pengikutmu harus mengikuti aku."
Sultan juga menolak usul ini. Maka Fransiskus kembali ke Roma.

Mengapa Fransiskus bisa begitu yakin bahwa dia akan selamat? Apakah dia memiliki ilmu yang hebat? Apakah dia memiliki sesuatu? Ya, Fransiskus memang memiliki sesuatu. Yaitu iman, bahwa Allah sungguh berkuasa. Dan kuasa Allah sungguh dahsyat. Dan hanya bergantung pada kekuatan Allah sajalah dia akan hidup.

Bagaimana dengan kita? Kita mungkin tidak memiliki iman sebesar Fransiskus atau Bapak J. Kita hanya manusia lemah yang semakin lemah karena hidup dalam dunia yang juga lemah. Kita seperti orang yang terluka, luka karena kelemahan manusia, luka karena jahatnya dunia. Luka yang mengangga hanya karena kurang percaya akan kuasa Tuhan yang esa.

Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma berkata, "Roh akan membantu kita dalam kelemahan kita." Roh akan mampu membantu kita, sejauh kita mau berserah dan dibantu oleh-Nya. Roh yang sama akan membantu membersihkan kita, menyembuhkan kita dari luka-luka yang mengangga. 

Segala kelemahan dan dosa-dosa kita itu seperti halnya ilalang, yang ditaburkan oleh musuh si petani. Pada saatnya, ilalang itu akan dibersihkan dan dibuang ke dalam api yang tak kunjung padam. Kita tidak akan ikut dibuang ke sana, dan hanya dosa-dosa dan kelemahan kita yang akan dibuang. Syaratnya, kita membiarkan diri dibimbing oleh Roh itu. Membiarkan diri dibawa ke dalam kuasa Allah yang dahsyat itu.

Mungkin kita berpikir, "ahhh, saya ini sudah sangat kotor. Ilalang yang tumbuh dalam hidup saya sudah mengakar begitu hebat, apa iya Roh Allah akan mau dan mampu membersihkan saya?"

Jangan salah kira. Kalau kita mau berserah, kuasa Allah tiada tandingannya. Dan yang hebat lagi adalah kuasa belas kasih Allah. Kuasa belas kasih Allah itu tak terbatas. Yang membatasi hanyalah kemauan dan kerelaan kita saja. Apakah saya mau dibersihkan, apakah saya mau membiarkan diri agar ilalang dalam kehidupan saya dibakar oleh api kasih Allah, sehingga saya bersih kembali?

Keputusannya ada pada diri saya sendiri.
Selamat berhari minggu, selamat menikmati cinta kasih Allah yang membersihkan.

Hong Kong, 20 Juli 2014
Pesta Nabi Elia, bapak rohani para karmelit





Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …