Jangan NYONTEK....

Ini cerita lama mengenai mengenai seorang ahli Kitab Suci yang baru saja meninggal dunia dan sedang mengantri di pintu gerbang surga. Antrian cukup panjang karena untuk masuk ke dalam surga, mereka harus bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Santo Petrus, penjaga pintu gerbang surga. 
Beberapa orang yang berada di depan sang ahli Kitab Suci nampak menelengkan telinganya untuk mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Santo Petrus. Khan lumayan kalau sudah dapat bocoran pertanyaan, bisa menyiapkan jawaban. Dan ternyata pertanyaan yang diajukan itu sama. Siapakah Yesus itu bagimu.
Mendengar bahwa pertanyaan yang diajukan oleh Santo Petrus adalah sama untuk semua, sanga ahli Kitab Suci nampak tersenyum lega. Sepanjang hidup sebagai seorang imam dan ahli Kitab Suci, dia sudah tahu harus menjawab apa.
Maka, begitu tiba gilirannya, dan Santo Petrus bertanya kepadanya, dengan sopan dia menjawab. "Santo Petrus, bagi saya Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup." Tiba-tiba Santo Petrus dengan kencang. 
"Eh, jangan nyontek ya! Itu jawabanku saat ditanya oleh Yesus dulu. Kamu pasti membacanya di Injil Matius bab 16 ayat 16 khan. Kamu ini ahli Kitab Suci nggak kreatif. Itu khan jelas jawabanku, knapa harus dicontek. Bukankah aku bertanya, 'siapakah Yesus bagimu?' Aku tidak bertanya, siapakah Yesus menurut Petrus, menurut Injil, menurut guru agama, menurut katekis, menurut suster, dll. Aku bertanya, 'siapakah Yesus bagimu!'"
Kemudian Petrus mempersilahkan sang ahli Kitab Suci tadi untuk minggir sejenak dan merenung sampai ia menemukan jawaban.

Sahabat, kisah di atas hanyalah cerita belaka. Namun cerita tadi memberi satu pelajaran yang pasti, "siapakah Yesus itu bagi kita." Dalam Kitab Suci kita bisa menemukan jawaban seperti jawaban Santo Petrus. Tetapi, apakah kita menghayatinya? Yesus bisa berarti apa saja bagi kita, tergantung dari seberapa dekat kita dengan Yesus. 
Misalnya kita akan mengatakan, "Yesus adalah sahabat sejatiku!" Itu sah-sah saja. Pertanyaan yang harus diajukan adalah, apakah aku juga sudah menjadi sahabat bagi Yesus. Seperti apakah persahabatan yang terjalin antara aku dengan Yesus? Atau sebutan sahabat itu hanya sebutan untuk keren-kerenan saja? Yang dalam kenyataannya tidak ada persahabatan antara aku dengan Yesus, dan Yesus sebenarnya bukan sahabatku? 
Atau kita bisa lebih keren lagi menjawab, "Yesus adalah kekasih jiwaku!" Wow, jawaban ini keren banget. Apalagi kalau kita menjawabnya sambil bernyanyi dengan irama dangdut, Yesus kekasih jiwaku, sungguh kupercaya padamu, .... Pertanyaan yang harus diajukan tetap sama. Apakah artinya Yesus sebagai kekasih? Apakah ini bukan sebuatn untuk gagah-gagahan saja? Kemudian bisa dilanjutkan, apakah aku sudah berlaku sebagai kekasih yang baik bagi Yesus? Dan banyak pertanyaan yang lain lagi.

Kita bisa menjadikan Yesus sebagai apa saja. Semuanya tergantung dari seberapa dekat kita menjalin hubungan dengan Yesus. Seberapa sering kita berkomunikasi dengan Yesus secara pribadi. Seperti halnya kita menjalin relasi dengan sesama, dengan pasangan hidup kita. Semuanya berproses, semuanya ada tahap-tahapnya. Tidak bisa langsung sangat dekat. 
Semuanya diawali dengan tahap pengenalan. Mengenal hal-hal yang sifatnya sangat biasa. Mulai dari nama, tanggal lahir, hingga hal-hal yang lebih pribadi. Kesukaan, ketidaksukaan, hobbynya di waktu luang, cita-citanya, dll.
Lantas, bagaimana pola pendekatan terhadap Yesus? Semuanya sama. Santa Teresa Avila mengatakan, proses menjalin relasi yang akrab mesra dengan Yesus dimulai dari pengenalan diri. Pertama-tama mengenal Yesus yang ada dalam Kitab Suci. Semuanya ada di sana, terpampang dengan gamblang. Hanya dibuthkan ketekunan dan niat untuk membaca dan merenungkan.
Pengenalan ini akan membantu kita untuk mengenal diri kita sendiri lebih baik. Pengenalan kita akan Yesus akan membawa kita ke puncak gunung. Di sana kita melihat siapa sebenarnya diri kita. Di depan hamparan alam yang begitu hebat, kita bukanlah siapa-siapa. Di hadapan keagungan Allah, kita bukanlah siapa-siapa. Kita hanya debu yang kerap merepotkan. Tetapi kita dicintai oleh Allah.
Pengenalan ini akan membuat kita makin dalam masuk ke dalam kehidupan Yesus. Kita tidak akan berhenti berkomunikasi. Melalui doa-doa yang kita panjatkan. Awalnya kita akan sibuk dengan doa lisan, doa-doa yang banyak dicetak di buku-buku. Lalu kita menyadari bahwa itu semua tidak cukup. Kita ingin lebih dalam lagi.
Sama seperti orang yang menjalin kasih. Tidak cukup kalau hanya bertelfon-telfonan atau bersms-an. Dibutuhkan kesempatan untuk bertemu, saling memegang tangan dan berpelukan. Perjumpaan secara pribadi, sentuhan-sentuhan lembut akan membuat hubungan itu makin mesra.
Sentuhan Allah dalam hidup kita membuat kita makin bersemangat dalam hidup doa, dalam berusaha menjalin relasi yang makin mesra dengan Yesus. Di sanalah ada doa hening. Kata-kata sudah tidak cukup lagi menggambarkan kerinduan jiwa akan Allah. Sentuhan-sentuhan yang pernah dialami, membuat kata-kata tidak cukup lagi. Dia ingin bersatu seutuhnya. 
Tahap terakhir, setelah jiwa mengalami persatuan adalah pelayanan. Jiwa yang sungguh mengalami Allah, berelasi mesra dengan Allah, dia tidak pernah tinggal diam. Dia seperti Maria dan Martha digabung menjadi satu. Dalam diri Maria ada kehendak untuk duduk hening di bawah kaki Yesus. Dalam diri Martha ada keinginan kuat untuk melayani kelompok, komunitas, siapa saja yang membutuhkan. 

Sahabat, bagaimana dengan hidup kita sendiri? Hari ini kita ditanya, siapakah Yesus menurutmu? Dan, siapakah Yesus bagimu? Semuanya kembali kepada pengenalan kita, relasi kita secara pribadi dengan dia. Kata-kata bukanlah jawaban, tetapi hidup kita mencerminkan semuanya. Kita bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh orang lain, tetapi kita harus melakukannya sendiri.

Hong Kong, 24 Agustus 2014
 

Comments

yusi yustina said…
terimakasih romo

TUHAN MEMBERKATI