Skip to main content

Celemek

Ada yang tersisa dari perayaan hari ibu kemarin. Yaitu "celemek". Benda yang sudah tidak asing lagi bagi para ibu yang terbiasa masak di dapur. Benda yang melindungi baju agar tidak terkena kotoran. Tetapi juga pertanda bahwa si empunya celemek sedang atau siap bekerja.
Para suster St. Paulus memberi hadiah celemek kepada semua ibu yang hadir dalam misa KKI. Sekitar 80%dari umat yang hadir adalah ibu dari sekitar 97% jumlah perempuan yang hadir. Maka memberi perhatian kepada para ibu menjadi sesuatu yang "sentimental" banget. Ada yang meneteskan air mata, ada yang terisak-isak, ada yang tertunduk dengan segala perasaan yang teraduk.

Selamanya ibu
Menjadi ibu dan sekaligus menjadi anak itu tidak pernah berakhir. Tidak pernah ada mantan ibu atau mantan anak. Bahkan kekasih bisa menjadi mantan, istri dan suami bisa menjadi mantan, pastor dan suster bisa menjadi mantan, tetapi ibu dan anak tidak pernah menjadi mantan. Bahkan mantan terindah sekalipun.
Ibu ada untuk selamanya. Baik atau buruk, berhasil atau gagal, tetaplah seorang ibu. Mengukur berhasil dan gagalnya tugas seorang ibu memang tidak mudah. Setiap keluarga memiliki persoalan tersendiri yang berbeda dengan keluarga yang lain, bahkan tidak ada rumus yang cukup akurat untuk dipelajari dan diterapkan begitu saja. Banyak ibu harus menjadi seorang ilmuwan yang melakukan berbagai percobaan dengan trial and errornya. Meskipun sebenarnya anak dan keluarga bukanlah materi percobaan. Meski demikian usaha seorang ibu untuk memberikan yang terbaik sangatlah luar biasa.

Celemek dan gembala
Kebetulan bahwa peringatan hari ibu bertepatan dengan perayaan Yesus gembala yang baik dan hari panggilan sedunia. Ketiganya memiliki kaitan yang sangat erat. Ibu, gembala dan imam. Mereka memiliki tugas mendampingi dan mengarahkan. Seorang ibu bertugas mendampingi dan mengarahkan anak-anaknya. Seorang imam bertugas mendampingi dan mengarahkan umatnya. Yesus mendampingi dan mengarahkan kita, umat manusia. Ketiganya memiliki kesamaan.
Ibu dengan celemeknya adalah pertanda tugas mulia. Banyak yang enggan memakainya. Banyak ibu ingin dikenal dengan tas LVnya atau tas Guccinya, atau apalah itu yang mahal-mahal. Mereka tidak ingin dikenal dengan celemeknya, mereka ingin dikenal dengan blous dan sepatu hak tinggi, kacamata trendy bergaya kantoran. Kesan ibu dengan celemek adalah kesan ibu masa lampau, ibu yang ketinggalan jaman. Itu pemikiran beberapa ibu. 
Menurut rasa saya, ibu dengan celemek adalah luar biasa. Dia menyiapkan makanan, sesuatu yang menunjang kehidupan keluarga. Dia menjamin bahwa yang dimakan suami dan anak-anaknya adalah makanan sehat dan pantas untuk badan. Mereka memastikan bahwa seluruh anaggota keluarga sehat dan kuat. Celemek juga lambang melayani dan mencintai. Tidak ada yang lebih indah dari pada melayani dan mencintai.
Ini sungguh selaras dengan tugas gembala, Yesus gembala. Dia berkata, "Aku datang untuk melayani". Sebagai gembala, Yesus mengenal satu persatu domba-dombanya. Persis seperti ibu yang mengenal satu persatu anak-anaknya. Sungguh luar biasa. Itu hanya mungkin dilakukan jika gembala dan ibu memiliki cinta.

Maka, melihat ibu-ibu muda dan setengah tua dengan bangga mengenakan celemek hadiah dari para suster, saya tersenyum bangga. Mereka tidak malu. Dan saya lebih kagum dibandingkan kalau mereka bergaya dengan tas LVnya. 

Ini beberapa hal yang tersisa dari perayaan hari ibu dan gembala yang baik.
Oh iya, hubungan dengan panggilan apa? Saya sudah membuat catatan mengenai hal ini, Ibu dan panggilan.

Hong Kong, 12 Mei 2014

Ibu-ibu dari Manado bergaya dengan celemek baru.

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …