Skip to main content

Tempat pengungsian...

Di setiap tempat di mana saya bertugas, biasanya saya mencari satu tempat untuk saya jadikan tempat pengungsian. Tempat di mana saya bisa duduk diam berduaan dengan Sang Kekasih hati. Namun, selama saya di Hong Kong ini, saya belum menemukan tempat yang enak dan cocok sebagai tempat pengungsian. Hong Kong yang kecil dan bising, sungguh menyulitkan untuk menemukan tempat yang sungguh-sungguh hening. Kalaupun itu ada, tempatnya jauh sekali. Harus menyeberang laut. Tentu hal seperti ini tidak praktis. Tidak bisa sewaktu-waktu dikunjungi.
Namun siang ini saya menemukan tempat itu. Kebetulan kami memiliki janji untuk bertemu dengan Romo Edward Khong. Seorang imam senior yang mengurusi keuangan di keuskupan Hong Kong. Kami memiliki janji untuk bertemu pada jam 11 di kantornya, di kantor keuskupan (16 Caine Road, HK, daerah mid-level). Dari berangkat dari rumah jam 9.30. Berdasar informasi dari google, kami harus oper bis dua kali. Dari Stanley naik bus nomor 6 sampai di Admiralty ganti bis nomor 23B. Ternyata, bis 23B hanya beroperasi pada pagi hari. Maka dari Admiralty kami menumpang taksi menuju kantor keuskupan. Hal ini membuat kami datang kepagian. Waktu yang ada kami pakai untuk berdiam diri di Gereja.
Kebetulan Gereja sedang kosong. Suasana sepiiii sekali. Suara kendaraan juga tidak terdengar. Say segera mengambil tempat di depan Sakramen. Bersujud dan mulai mengeluarkan segala uneg-uneg. Semua titipan keluh kesah yang sempat mampir. Semua keruwetan yang saya buat, semua saya keluarkan dan saya serahkan kepada Sang Kekasih.
Saya tidak memiliki daya apa-apa atas segala perkara yang telah terjadi. Saya juga tidak mengerti dengan segala peristiwa yang sempat mematri. Banyak hal membingungkan, menggelisahkan, bahkan tak jarang menakutkan. Maka, semuanya saya tumpahkan, saya persembahkan kepada-Nya sebagai kurban bakaran. Hampir 30 menit lamanya kami bersujud di sana. Setelah itu kami menemui Romo Edward Khong di kantornya.

Tinggallah di dalam kasih-Ku

Seharian ini sebenarnya saya sudah diingatkan soal tempat pengungsian. Dimulai pada pagi hari saat saya mempersiapkan diri untuk Ekatisti. Sabda Tuhan sudah menampar saya. Yesus berkata, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu."
Tinggal di dalam kasih Allah. Yang saya alami, tinggal dalam kasih Allah itu bukan dalam teori, tetapi dalam pengalaman nyata. Bukan dalam pengalaman yang hebat-hebat, tetapi dalam keseharian yang sederhana. Ternyata dibicarakan orang itu sakit, tetapi kita tidak boleh membencinya. Kalau kita hanya mengasihi orang yang sungguh mengasihi kita, itu bukan jalan untuk tinggal di dalam kasih Allah. Di sinilah letak sulitnya. Karena saya mengalami bahwa berat sekali untuk bisa mendoakan orang-orang yang berbuat kurang baik kepada saya. 
Tinggal di dalam kasih Allah, tinggal di dalam Rumah-Nya. Pertama-tama bukan tinggal di dalam gereja, tetapi menuruti perkataan-Nya. "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya."
Terus, apa perintah Yesus yang harus kita jalani? Kasihilah seorang akan yang lain. Ini perintah yang sederhana. Namun menjalaninya tidak sesederhana mengucapkannya. Namun, semuanya akan tetap sulit kalau tidak pernah dimulai. Orang yang menyakiti akan tetap berada jauh dari rangkulan kalau kita tidak pernah memaafkannya dan mendoakannya. Tali pemisah itu akan tetap ada kalau kita tidak memutuskannya. Kasih adalah alat sederhana yang menghancurkan semua pembatas yang ditimbulkan oleh kebencian.

Tuhan, terimakasih untuk semua pengalaman hari ini. Untuk semua yang boleh aku dengar, aku baca, dan aku rasakan. Terimakasih untuk pribadi-pribadi yang telah mengisi hariku dari pagi hingga malam ini. Terimakasih karena Engkau memakai mereka untuk menjadi alat bagiMu dalam mendidik aku. Mereka Kau jadikan sarana cinta, sarana melatih dan mengembangkan cinta. Mereka Kau pakai agar aku mampu tinggal di dalam kasih-Mu, tempat pengungsianku.

Hong Kong, 22 Mei 2014


Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …