Skip to main content

Luka masa lalu...

Ekaristi adalah puncak penyembuhan "luka"
Sahabat, dalam catatan singkat mengenai lagu Snowflowers, saya sedang teringat beberapa peristiwa di masa lalu. Terutama masa-masa saat saya bekerja di Melbourne. Ingatan itu tiba-tiba muncul begitu saja. Mulai dari lagu Snowflowers, burung-burung yang biasa berteriak-teriak di halaman belakang pasoran kami, makanan fish and chips yang tersohor, dan masih banyak lagi.
Ada ingatan yang membuat tertawa, ada yang membuat menyungging senyum kecut, ada yang tidak ingin diingat. Tetapi ingatan itu muncul begitu saja tanpa bisa saya cegah, semua berkelebatan bak file film. Setiap peristiwa selalu menghadirkan tempat dan orang. Karena keduanya berkaitan. 
Ada kegembiraan, tetapi ada juga kesedihan tatkala mengingat hal-hal yang buruk. Saat itulah saya ditolong oleh Scott Hahn yang mengunggah sebuah foto di page facebooknya. Di dalam foto itu ada tulisan, "Ketika kamu memaafkan, kamu tidak mengubah masa lalu... Kamu mengubah masa depan!"

Luka dan Penyembuhan
Masa lalu yang buruk adalah sebuah luka. Ada yang ingin menguburnya dan tiak mau membukanya lagi. Ada juga yang mengatakan bahwa waktu akan menyembuhkan luka itu. Tetapi sejatinya bukan menyembuhkan, hanya membuatnya kering. Sedangkan lukanya sendiri tidak pernah sembuh. Waktu juga mengubur sebagian luka sehingga peristiwanya sedikit terlupakan. Sekali lagi, persoalannya tidak pernah terselesaikan.
Ketika luka itu tidak pernah disembuhkan, yang terjadi adalah trauma-trauma. Seperti korban kekerasan yang dialami oleh anak-anak. Hal itu membekaskan luka dan meninggalkan trauma. Dampaknya sangat buruk di masa depan. Peristiwanya sendiri sudah lama berselang bahkan mereka juga mungkin sudah melupakan. Tetapi kalau "luka" itu tidak pernah mereka sembuhkan, "luka" itu akan menuntun mereka menjadi orang yang berbeda.
Pernahkah Anda mendengar bahwa para pelaku sodomi adalah korban sodomi di masa lalu? Pernahkah Anda mendengar bahwa banyak pelaku kejahatan adalah korban dari kejahatan di masa lalu? Ketika mereka menjadi korban, mereka mengalami luka. Ketika luka itu dibiarkan, perlahan-lahan akan mengental menjadi energi dendam. Buahnya adalah tindakan yang tidak pernah kita bayangkan. Banyak pelaku-pelaku kejahatan adalah korban kejahatan itu sendiri di masa silam.
Menyembuhkan luka menjadi penting untuk memutus rantai kebencian dan penerusan dendam. Hal-hal buruk dalam masyarakat terjadi karena meneruskan dendam. Ada banyak motifnya, bisa atas nama harga diri yang disadari. Namun juga bisa berupa letupan pembalasan masa lalu yang tak tersadari.

Mengenali luka
Pertanyaannya adalah, bagaimana kita mengenali luka tersebut. Bagaimana kita tahu bahwa luka itu sudah sembuh, atau hanya tertimbun tumpukan peristiwa yang lain sehingga luka itu hanya terkesampingkan. Biasanya saya mengukurnya dengan alat test sederhana.
Ada banyak peristiwa pahit di masa lalu yang meninggalkan luka. Ada yang sangat brutal ada yang lembut menyayat namun membekas sangat dalam. Kalau saya ingin mengetahui apakah luka itu masih ada atau sudah sembuh caranya gampang.
Pertama mengingat peritiwa yang menimbulkan luka tersebut. Dengan mengingat peristiwanya, saya dibawa kepada ingatan akan orang-orang yang ada di sana, tempat kejadian, waktu kejadian. Lalu saya akan mengenali hati saya. Apakah saya masih menyimpan rasa marah kepada orang-orang yang ada di sana. Apakah saya menyimpan kebencian dengan peristiwa itu. Dan yang lainnya. Namun tanda sederhana adalah 'amarah'. Jika masih ada desir amarah, sekecil apapun, itu adalah indikasi bahwa luka itu masih ada.

Menyembuhkan luka
Banyak orang ingin melupakan peristiwa kelam yang membekaskan luka mendalam. Kebanyakan orang tidak ingin mengoreknya lagi. Biarlah itu menjadi bagian masa lalu. Sikap ini banyak dipilih meskipun bukan yang terbaik. Sikap ini adalah yang termudah. Sikap kedua adalah membalas luka dengan luka. Ada semacam kepuasan tatkala mampu membalas luka dengan luka. Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Sangat bar-bar namun banyak terjadi.
Sikap ketiga adalah menyembuhkan luka tersebut. Secara singkat, menyembuhkan luka itu dengan PENGAMPUNAN. Namun prosesnya tidak semudah itu. Ada beberapa tahap yang mesti dijalani agar penyembuhan itu tuntas.
Langkah pertama adalah penyadaran. Menyadari kembali luka tersebut. Menyadari kembali peristiwa yang menimbulkan luka. Menyadari kembali siapa saja yang terlibat dan bagaimana semuanya itu terjadi. Tahap penyadaran berakhir dengan menyadari luka-luka yang diakibatkan oleh peristiwa itu.
Tahap kedua adalah pengakuan. Mengakui bahwa saya memang terluka. Mengakui bahwa peristiwa tu sungguh melukai saya sangat dalam. Saya juga mengakui bahwa luka itu telah memberi pengaruh yang buruk dalam hidup saya. Saya menjadi seorang yang berbeda. Relasi perkawanan saya menjadi berbeda. Dan banyak lagi yang berubah dari hidup saya karena luka tersebut.
Tahap berikutnya adalah pengungkapan. Mengekspresikan luka bisa dilakukan dengan beberapa cara yang aman dan tidak merusak. Misalnya menulis, mencoret-coret kertas, berteriak kalau tempatnya memungkinkan, memukul sesuatu (phon pisang, bantalan karet, pasir...) untuk melepaskan daya amarah.
Setelah selesai, barulah masuk ke dalam proses pengampunan. Setiap pribadi yang terlibat kita ampuni. Saya ingin semuanya kembali baik. Saya mengampuni peristiwa itu sendiri, mengampuni siapapun yang terlibat di dalamnya. Bagaimana saya mengekspresikan pengampunan ini kalau saya tidak mungkin berjumpa dengan pribadi-pribadi yang terlibat di sana? Cara berikut bisa dipakai.
Gunakan lilin berwarna putih. Untuk satu pribadi yang ingin kita ampuni, nyalakanlah satu lilin. Dengan menyalakan lilin tersbut kita juga memanjatkan doa. Baik juga kalau lilin itu diberi nama. Doanya sederhana saja. Misalnya, "Tuhan berkatilah ...." Setelah semua lilin dinyalakan, dan doa yang sama telah dipanjatkan, tutuplah dengan doa Bapa Kami.
Proses penyembuhan ini mungkin tidak berhasil dalam satu kali proses penyembuhan. Kebanyakan dibutuhkan waktu cukup lama dan panjang untuk menyembuhkannya. Namun ada juga yang bisa dengan cepat.

Mengubah masa depan...
Menyembuhkan luka masa lalu tidak akan mengubah apa yang telah terjadi. Namun sungguh akan mengubah masa depan. Kalau peristiwa masa lalu yang menimbulkan luka, bahkan luka fisik, bekas itu akan masih ada. Namun relasi saya dengan orang-orang yang terlibat menjadi berbeda.
Jika saya tidakmenyembuhkan luka, masa depan saya akan diisi dengan kebencian dan mungkin juga dendam. Kalau saya tidak menyembuhkan luka-luka itu, bisa jadi suatu saat kelak saya akan menjadi pribadi yang menimbulkan luka bagi orang lain. Kalau dulu saya adalah korban, bisa jadi saya akan menjadi pelaku yang menimbulkan korban.
Namun dengan menyembuhkan luka tersebut, saya telah memutus rantai kebencian dan kemungkinan balas dendam. Tentu saja itu menghilangkan peluang munculnya korban-korban baru. Bagi saya sendiri, saya menjadi orang yang berbeda. Ketika luka itu masih ada, mungkin saya menjadi orang yang penakut, orang yang pemurung dan cenderung mengisolasi diri.
Dengan menyembuhkan luka itu saya menjadi orang yang berbeda. Saya bisa terbebas dari belenggu masa lalu. Saya bisa melepaskan sekat-sekat yang selama ini ada. Saya bisa menjadi diri saya sendiri, gembira dan bebas.

Jalan ke Emaus ...
Kisah yang sangat terkenal yang pernah ditulis adalah kisah perjalanan pulang ke Emaus. Ada dua orang yang terluka. Mereka pulang ke kampung dengan membawa luka yang mendalam. Tandanya sangat jelas. Mereka sedih dan muram. Segala harapan mereka hilang dalam sekejap.
Tiba-tiba muncul seseorang yang menyertai perjalanan mereka dan bertanya mengenai apa yang terjadi. Inilah awal dari proses penyembuhan itu. Kedua orang itu mulai menceritakan apa yang mereka alami, mengungkapkan luka mereka. Mereka juga mengekspresikan kekesalan hatinya.
Tahap berikutnya adalah mulai masuk ke dalam proses penyembuhan. Mereka melihat semua peristiwa dari awal mula. Mereka mendengarkan kisah yang dibagikan oleh pribadi tersebut secara lengkap. Mereka dibantu untuk melihat kaitan setiap peristiwa. Mereka diajak melihat hubungan nubuatan masa lalu dan pemenuhannya pada masa itu.
Puncak dari proses penyembuhan itu adalah jamuan ungkapan syukur. Ekaristi menyembuhkan mereka. Ketika roti diangkat dan syukur dipanjatkan. Saat itulah luka terbasuh seketika. Setiap peristiwa memiliki makna yang berbeda. Namun tidak setiap pribadi mampu menangkap pesan yang dibawa. Tidak jarang malah luka yang didapatkannya.
Setelah jamuan syukur itu mereka menajdi manusia baru. Pristiwa masa lalu tidak pernah berubah. Namun masa depan jelas telah berbeda. Mereka tidak lagi murung dan sedih. Mereka bahkan penuh semangat untuk mengabarkan kegembiraan.

Penutup...
Setiap dari kita memiliki luka. Luka yang kita peroleh dari masa lampau. Banyak di antaranya tidak pernah kita sadari dengan seksama. Namun nyatanya, luka itu mengangga membuat kita menderita. Menyembuhkannya adalah jalan untuk masa depan yang berbeda. Pengampunan adalah jalan sederhana untuk memutus rantai dendam dari luka.
Dalam proses penyembuhan terkadang dibutuhkan pendamping. Dia atau mereka bertugas menjaga agar proses penyembuhan berjalan dengan baik, bukan sebaliknya malah mengalami kehancuran. Namun ada juga yang bisa melakukan proses penyembuhan sendiri. Yang pasti harus tahu mekanisme dan tahap-tahapnya. Apapun itu berproses untuk sembuh harus dimulai. Minimal dengan mendoakan orang yang menyakiti kita. 'Tuhan berkatilah...". Amin.

Hong Kong, 9 Mei 2014



Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …