Skip to main content

Panggilan dan Ibu

Hari ini Gereja merayakan hari Panggilan sedunia. Secara khusus panggilan menjadi imam, dan biarawan biarawati. Sedangkan di Hong Kong hari ini dirayakan hari ibu. Saya rasa antara hari panggilan dan hari ibu memiliki hubungan yang baik.
Saya teringat sekitar 23 tahun yang lalu, saat pertama mengungkapkan keinginan untuk masuk seminari, menjadi seorang imam. Saya ingat, saat itu kami sedang duduk di dapur menikmati makan malam. Kami tidak memiliki ruang makan spesial untuk makan makan bersama. Kalau tidak salah kami menikmati nasi goreng. Agak aneh sebenarnya bahwa kami menikmati nasi goreng pada malam hari. Sebab biasanya ibu membuat nasi goreng pada pagi hari. Saya tidak tahu alasannya apa bahwa hari itu beliau membuat nasi goreng pada malam hari.
Saat makan itulah saya mengungkapkan keinginan saya masuk seminari. Bapak dan ibu sama-sama terkejut. Bapak langsung menjawab, "ya itu terserah kamu." Sedangkan ibu langsung menyampaikan keberatannya, "mengapa harus masuk seminari? Bagaimana kalau sekolah di Pagak saja, nanti kami belikan sepeda motor?"
Ibu mencoba menawarkan alternatif lain dengan iming-iming sepeda motor. Tetapi saya bergeming. Saya tetap memilih masuk seminari. Akhirnya jamuan nasi goreng malam-malam, di dapur yang remang-remang itu menghasilkan satu keputusan, saya akan masuk seminari.

Ibu dan panggilan
Dalam kebanyakan keluarga, ibu memiliki peran yang sangat kuat dalam mendidik anak-anaknya. Entah dengan berbagai nasihatnya, atau dengan teladannya. Banyak ibu biasa dikenal cerewet oleh anak-anaknya. Namun kecerewetan yang didasari oleh cinta yang tulus biasanya "nganggeni" dan akan dirindukan saat berjauhan.
Apa yang dilakukan dan diajarkan oleh seorang ibu biasanya akan direkam oleh anak-anaknya. Bahkan tersimpan sangat lama. Ibu saya contohnya. Beliau bukan seorang yang berpendidikan tinggi. Sekolah SD saja tidak tamat, membaca tidak sangat lancar, menulis juga tidak pandai. Tetapi beliaulah yang mengajar saya berdoa dan bernyanyi.
Saya ingat suatu malam, beliau mengajar saya berdoa dari buku Madah Bakti. Saya juga sering melihat beliau duduk di pojok rumah untuk berdoa. Pada waktu itu kami belum memiliki ruang khusus untuk berdoa. Biasanya ibu duduk di kursi yang ada di pojokan rumah dan berdoa.
Oh iya, saya masih ingat sampai sekarang bagaimana beliau mengajar saya lagu "Mari kita merenungkan". Lagu yang biasa kita nyanyikan pada saat prapaskah. Saya tidak tahu mengapa pada saat itu saya merasakan bahwa lagu itu bagus sekali. Mungkin karena untuk pertama kali saya diajar bernyanyi. Di kemudian hari saya sering mencari lagu tersebut untuk saya nyanyikan. Terlebih saat saya kangen dengan ibu saya.
Saya percaya bahwa Ibu selalu mendoakan saya. Saya sangat percaya, bahwa meskipun dulu sempat tidak setuju saya masuk seminari, tetapi sampai sekarang beliau tidak pernah berhenti mendukung saya.
Beliau tidak memiliki banyak kata sebagai nasehat. Namun apa yang dikatakannya selalu saya ingat. Misalnya saat saya bercerita bahwa tulisan saya dimuat dalam tabloit Hopla. Saat itu saya kelas 1SMA. Beliau hanya berpesan, hati-hati kalau menulis. Jangan menulisnyang aneh-aneh. Yah, kekhawatiran khas seorang ibu.
Atau di kesempatan lain, ketika mengetahui bahwa tugas saya berada di tempat yang jauh, beliau hanya berpesan, "ati-ati yo Le". Nasihat ini selalu dikatakan, bahkan sejak saya masih imam muda. Beliau, dengan naluri keibuannya, sadar bahwa menjadi seoarang imam itu tidak mudah. Ada banyak godaan dan gangguan. Mulai dari kerikil hingga batu karang.

Ibu, terima kasih untuk semua yang sudah engkau berikan
Maafkan aku karena belum bisa membalas sepantasnya
Maafkan aku bahwa aku masih kerap melupakan nasehatmu
Maafkan aku karena masih kerap bermain-main dengan kerikil dan batu karang
Maafkan aku karena kerap mengecewakanmu, kurang sering menghubungimu.

Ibu, terima kasih untuk semua yang sudah engkau berikan
Aku tidak mungkin meminta lebih dari apa yang sudah engkau berikan
Aku selalu bangga padamu
Aku tidak pernah ragu berbagi kisah tentangmu
Karena engkau memang pantas dibanggakan.

Ibu, aku cinta padamu. (Sebelum banyak air mata mengalir, sebaiknya saya akhiri)

Hong Kong, 11 Mei 2014

Ibu dan Bapak saya di teras rumah dengan cucu pertamanya.

Comments

nana lucia said…
kasih sayang ibu tak pernah ada yg bisa menggantinya,,,,, indah sekali kisah hidup romo

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …