Nilailah dengan Hati

Kalau tidak ada janji, tidak akan ada yang bisa dibuktikan.
Kalau hanya bisa membuat janji, itu politisi sejati.
Kalau bisa membuktikan apa yang pernah dijanjikan, itu pelayan sejati.
Romo Waris.

Obrolan di Atas Ojek Menuju Bantar Gebang
KOMPAS/ RIZA FATHONI
Sampah Bantar Gebang
/
MINGGU, 24 MEI 2009 | 13:01 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Heru Margianto

KOMPAS.com — Pagi ini, Minggu (24/5), saya urung membawa motor menuju Tempat Pembuangan Akhir Terpadu Bantar Gebang, Bekasi. Saya membayangkan, situasi acara deklarasi pasangan Megawati-Prabowo pasti sangat ramai oleh ribuan orang. Membawa motor sendiri rasanya akan menyulitkan saja.


Jadilah siang ini naik ojek. Perjalanan sekitar 15 km dari pusat Kota Bekasi ditempuh dalam waktu lebih kurang 30 menit. "Ke Bantar Gebang ya, Bang, tempat Mega-Pro," kata saya kepada tukang ojek yang mangkal di depan Metropolitan Mall, di sisi Kalimalang.
"Ooo... tampat acara deklarasi itu ya. Ayo boleh," jawab tukang ojek itu.
"Lho, kok tau, Bang, ada acara kayak gitu di sana."
"Ya tahulah. Saya kan juga nonton tipi. Lagian itu umbul-umbul Mega-Pro juga udah dipasang di mana-mana."

Betul juga. Umbul-umbul deklarasi Mega-Pro bertebaran di pinggir jalan di pusat Kota Bekasi. Tanpa menawar lagi, saya langsung menyetujui harga yang disodorkan tukang ojek itu. Sepanjang perjalanan, tukang ojek saya ini tak berhenti bicara.

"Saya heran deh, Pak, tempat sampah aja dijadiin ajang politik. Dulu mana pernah ada politisi mau merhatiin tempat sampah. Sekarang demi pemilu, tempat sampah mujarab juga ya," tutur tukang ojek ini saat kami melintas di Jalan Narogong, Bekasi.

"Taruhan deh," ia nyerocos lagi, "Abis pemilu pasti enggak ada yang merhatiin Bantar Gebang lagi."

"Wuih, bapak ngomong politiknya lancar juga ya," sahut saya.
"Yaaa, biar kata tukang ojek, saya nonton tipi sama baca koran juga, Pak," jawabnya sambil tertawa.

Rahmat (56), demikian nama tukang ojek ini, sudah hampir 15 tahun menjadi tukang ojek. Ia sudah bercucu dua, dari dua putrinya yang telah menikah. Satu putrinya yang paling bungsu duduk di kelas III SMA. "Pak Rahmat pilih mana, presiden yang bikin acara di tempat sampah, apa presiden yang bikin acara di tempat mewah?" tanya saya.

"Saya mah pilih presiden yang bisa bikin sembako murah. Terserah deh mau bikin acara di mana, yang penting sembako murah. Itu aja," jawabnya.

Wah, jawaban yang diplomatis dari seorang tukang ojek.

"Emangnya presiden mana yang bisa bikin harga sembako murah," cecar saya.

"Jujur aja nih, Mas, buat saya mah zamannya Soeharto paling top deh. Situasi tenang, enggak ada macem-macem, terus sembako murah. Beras dulu cuma 600 perak. Sekarang berapa? Minyak berapa? Rakyat enggak butuh janji-janji, iyak enggak Mas. Rakyat butuh bukti... ha-ha-ha-ha... kayak iklan aja saya ya... ha-ha-ha...," terang Pak Rahmat sambil melempar humor menirukan sebuah iklan komersial.

Masih panjang obrolan kami siang itu. Ia bertutur tentang para pejabat yang ditangkap karena korupsi. Ia juga lugas bicara tentang pemilu yang menurutnya membuat lelah. "Capek, Mas, dengerin si ini janji itu, si anu janji itu. Itu kan cuman omongan kampanye doang. Abis itu juga pada lupa mereka itu," gerutunya kesal.

Tidak terasa, Bantar Gebang sudah dekat. Bau sampah mulai menyengat. Empat truk pengangkut sampah berjalan pelan di depan kami menebar bau tak enak. Saya sempat mengajak Pak Rahmat ikut menyaksikan acara deklarasi. Ia menolak. "Pusing saya, Mas, dengerin omongan politisi," begitu alasannya.

Pak Rahmat memutar motornya, kembali menuju tempatnya mangkal di pusat Kota Bekasi. Sosoknya seperti meninggalkan pesan, masyarakat bawah bukanlah kaum bodoh yang mudah dibohongi. Mereka juga melek informasi.



Comments

Popular Posts