Cunthel dan Dedhel, Encounter the Cross, day 24-25, 30-32

40 Days Lenten Journey

Hari-hari ini otak saya cunthel, tidak mau diajak berpikir barang sedikit saja. Sebenarnya ada banyak ide yang ingin saya urai menjadi sebuah catatan yang menarik bak lukisan dewata. Namun apa daya, daya saya tidak ada. Terkadang habisnya daya itu hanya disebabkan oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Hanya mengada-ada saja. Tetapi anehnya, pengaruhnya begitu nyata. Kalau begini adanya siapa yang akan percaya, tetapi saya mengalaminya secara nyata. Ahhh bisa saja.
Yang saya katakana di atas itu bisa saja dianggap candaan belaka. Tetapi bisa jadi menjadi sebuah pertanda yang sempurna. Mengapa bisa? Karena seperti dikatakan oleh peribahasa, ehh mungkin bukan peribahasa tetapi oleh analisa data. Halah sok ilmiah dengan mencantumkan kata data segala. Tapi mari kita telaah kata orang bijaksana. Sebuah bendungan yang besar dan kokok itu bisa jebol, hancur bernatakan hanya oleh retakan selebar rambut saja.
Hal kecil, sepele, ketika dibiarkan akan menjadi besar dan bencana yang besar ukurannya. Ada yang berkata, ahh itu hanya alasan sahaja untuk menutupi segala kemalasan yang meraja. Bisa jadi itu benar adanya. Tetapi lihatlah dalam diri kalian saja, seharian kemarin, atau seminggu yang telah purna, apa saja yang sungguh berharga yang telah terbina? Bisa jadi tidak ada. Karena banyak waktu dan kesempatan hanya dipakai untuk merajaut apa-apa yang fana.

Catatan ini adalah rangkaian lima perjalanan atau peziarahan pra paskah. Semua saya bunthel menjadi satu karena otak saya sedang cunthel. Saya berharap menemukan satu tema yang apik, yang luwes, mengalir, memesona seperti semburat cahaya mentari pagi. Sayang, saya tidak menemukannya. Satu kata saja yang mungkin akan mewakili. Dedhel!

Dedhel itu istilah yang saya pakai untuk menggambarkan kondisi hati dan pikiran yang kurang fleksibel. Istilah ini bisa jadi kurang pas. Tetapi itu bukanlah persoalan, wong saya yang ngasih istilah. Kalau ada yang protes, silahkan pakai istilah sendiri. Saya nggak keberatan.
Baik, mari kembali kepada persoalan dedhel. Seperti yangs aya katakana, itu untuk menggambarkan konsisi hati dan pikiran yang kurang luwes dan fleksibel. Yang tertutup rapat terhadap masukan dari luar.  Mereka memercayai apa yang mereka pahami sebagai kebenaran mutlak. Tentu saja mereka memiliki dasar yang kuat juga. Entah berupa lembaran-lembaran hokum yang tercatat indah di buku-buku tebal, atau hal-hal lain yang dipercayai oleh masyarakat secara turun-temurun.

Hati yang terbuka
Pada peziarahan hari ke 24 yang lalu diceritakan mengenai diskusi anatara Yesus dengan ahli hokum. Tentu saja dia orang Farisi. Dan diskusi ini sebenarnya memberi gambaran bahwa tidak semua orang Farisi, tidak semua ahli hokum itu tertutup mata hatinya dan tidak mau menerima Yesus. Bahkan banyak dari mereka yang akhirnya menerima Yesus. Paulus juga seorang Farisi. Gurunya, Gamaliel adalah ahli Kitab Suci ternama. Lalu ada sosok Nikodemus yang menemui Yesus untuk berdiskusi.
Nah, ahli hukum yang ini, maksudnya yang sedang berdiskusi dengan Yesus ini bersoal jawab mengenai hukum yang paling utama. Yesus menjelaskan bahwa hukun yang paling utama itu ada dua. Yang pertama mencintai Tuhan di atas segalanya dan yang kedua mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. Mendengar jawaban ini, ahli hukum ini mengamininya. Dia setuju.
Bahkan lebih lanjut dikatakan bahwa dua hukum yang dipaparkan oleh Yesus ini melampaui segala korban bakaran dan segala mati raga. Hukum cinta itu mendasari segala tindakan peribadatan. Bahkan puasa dan pantang yang begitu hebat, jika tidak disertai cinta yang tulus suci, tidaklah memiliki makna. Dan Yesus menegaskan bahwa ahli hukum ini tidak jauh dari kerajaan Surga. Mengapa? Karena hatinya terbuka kepada kebenaran.

Kebebasan sejati
Peziarahan hari ke-25 dirayakan secara meriah. Karena pada hari itu seluruh Gereja merayakan Maria menerima kabar suka cita dari malaikat Gabriel. Sebenarnya sulit menggambarkan suka-cita di sana. Jujur saja, Maria yang menerima kabar itu diliputi ketakutan dan kebingungan. Tiba-tiba saja, mak bedhunduk, datang malaikat. Seperti apa rupa malaikat itu tidak digambarkan, tetapi yang jelas mengejutkan.
Berikutnya mengenai kabar yang dibawa juga tak kalah memusingkan. Dia akan hamil meskipun dia berlum tinggal serumah dengan calon suaminya itu. Apa ini nggak aneh. Ketika dia mengungkapkan kebingungannya, jawaban Gabriel, nama malaikat itu, juga tak kurang membuatnya pusing. Dia akan mengandung dari kuasa Roh Kudus. Anak yang akan dikandung dan dilahirkan itu akan melkukan banyak hal. Pokoknya puyeng mendengarkan penjelasan malaikat itu. Otaknya cunthel tak mampu memahami. Tetapi hati Maria tidak dedhel, maka dia bisa menerima.
Maria menerima dengan penuh kebebasan. Bukan karena memahami, tetapi karena mengimani. Tentu ada yang protes, bagaimana mungkin bisa mengimani kalau tidak memahami? Inilah bedanya Maria dengan kebanyakan dari kita. Kalau kebanyakan dari kita mengungkapkan iman, karena memahami apa yang kita Imani, dannnnn sedapat mungkin mengalami banyak kesenangan karenanya (karena rencana-rencananya sendiri seolah terjadi); tetapi Maria mengimani karena membiarkan kehendak dan rencana Allah mengalir dalam hidupnya. Dia menyadari siapa dirinya yang sebenarnya. Dia hanyalah “ciptaan”, buatan tangan Allah. Maka membiarkan rencana Allah terjadi adalah sebuah kebebasan dalam menentukan sikap.
Suka cita yang dialami bukan karena mengerti dengan akal budi. Tetapi bisa menerima dengan hati yang lapang terbuka akan kehendak Ilahi. Memberi diri agar kehendak Allah sungguh terjadi, seperti yang kemudian akan diajarkan oleh Yesus anaknya dalam doa. “jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.” Membiarkan kehendak Allah terjadi. Hal yang sungguh indah, sederhana dan mudah. Namun dalam kenyataannya tidak seperti membalik gorengan di wajan.
Membiarkan rencana Allah terjadi adalah seperti selempeng besi di tangan pandai besi: membiarkan diri dipukul, dipanaskan, dibentuk, ditekuk, menjadi ukiran baja yang indah. Membiarkan diri seperti segenggam tepung yang dicampur ragi dan sebutir telur. Dia diaduk, diuleni, digebukki, dibanting-banting oelh tukang roti dan bahkan dipanggang. Hasilnya adalah roti yang enak sekali. Membiarkan rencana Allah terjadi, tak semanis kata-kata mutiara di pagi hari. Tetapi akan indah seperti semburat senja di penghujung hari.

Hati yang terbuka
Peziarahan hari ke-30 hingga ke-32, kita mendnegarkan cerita Yohanes yang panjang mengenai Yesus, mengenai kesaksian-kesaksian, mengenai menjadi saksi, mengenai kebenaran, dan mengenai pesta-pesta. Pesta ini bukan pesta makan amakan biasa, tetapi pesta paskah. Cerita ini diangkat karena Paskah sudah dekat.
Seluruh uraian panjang yang dibuat Yesus itu hanya untuk meyakinkan pendengarnya bahwa DIa tidak bekerja sendirian. Dia bekerja seturut SOP yang jelas, prosedur yang jelas. SOP dan prosedur itu adalah Bapaknya. Dia bekerja atas perintah Bapak-Nya, menjalankan semua yang digariskan oleh Bapak-Nya. Nahhh, inilah yang sulit dipahami oleh para pendengarnya.
Tidak semua pendengar Yesus tertutup hatinya. Sebagian memiliki hati yang jernih untuk menerima kebenaran. Salah satunya adalah Nikodemus. Dia adalah salah satu ahli Kitab Suci dan tokoh di kalangan orang-orang Farisi. Meski demikian dia tidak serta merta menuduh Yesus salah, semua yang dilakukannya salah. Tidak! Nikodemus berusaha mendengarkan, bahkan mengajak Yesus berdiskusi.  
Maka bagi saya, pesan yang dibawa dalam peziarahan ini adalah “lembutkanlah hatimu dan bukalah lebar-lebar”. Kalau otak tidak mampu menangkap rahasia ilahi, jangan juga hatimu ikut mengeras.
Tetapi semuanya dikembalikan kepada niat dan minat. Kalau minat dan niatnya mencari yang benar dan sejati, maka segala indera akan diarahkan untuk menangkap keberadaannya. Tetapi kalau diri sendiri dirasa sudah paling hebat dan paling jago, maka semua yang lain dianggap salah dan tak berarti. Bahkan kuota surgapun ditentukan oleh mereka. Ya celaka dua belaslah kalau demikian adanya.

Ahhh sudah panjang rupanya. Sebaiknya saya hentikan di sini, karena saya yakin seyakin-yakinnya, yang membaca juga sudah bosan dan mungkin juga bagian ini sudah tak terbaca lagi. Akhir kata, kalau indera tidak mampu menangkap, jangan butakan dan tulikan hati. Kalau semua tak berdaya, jangan lumpuhkan iman. Karena iman akan membantu mengerti semuanya.

Salam
Hong Kong, 1 April 2017

Comments