Skip to main content

Christmas Day : THE WORD BECOME FLESH



Merry Christmas!



Sahabat, selamat Hari Natal. Selamat menikmati berkat Tuhan, libur bersama keluarga. Bagi sebagian orang, ini libur panjang, karena besok masih libur. Selamat menikmati waktu santai, selamat menimati kebersamaan bersama keluarga, komunitas atau kawan-kawan dekat.
Ketika merenungkan kata-kata Santo Yohanes, “Pada mulanya adalah SABDA. Dan Sabda itu menjadi manusia.” Saya teringat akan konsep “santet”. Saya tidak bisa menjelaskan dengan sempurna apa itu, tetapi bisa dimengerti secara sederhana demikian: santet itu adalah tindakan mingirim sebuah materi (benda) misalnya paku atau gunting, atau pisau ke dalam tubuh orang lain.
Bagaimana cara mengirimnya? Benda-benda itu diubah dulu menjadi sebuah energy. Nah energy inilah yang dikirimkan kepada orang yang dituju. Setelah sampai, energy itu diubah lagi menjadi materi menjadi benda.
Itu santet. Tetapi Yesus menjadi manusia bukanlah sebuah proses santet. Yesus adalah Allah, Dia sudah ada sejak awal dalam hakekat Allah yang berbeda dengan manusia. Bagaimana itu? Saya juga kurang paham. Pahami saja seperti Energi Ilahi. Tidak kelihatan, tetapi nyata adanya.
Santo Yohanes menyebutnya, pada mulanya adalah SABDA, adalah kata-kata. Kata-kata itu tidak kelihatan, tetapi terasa adanya. Dia bahkan tidak seperti angina, yang kita dengar deru deramnya tetapi tidak kita lihat wujudnya. Mungkin dia seperti cahaya, yang kita lihat hasilnya ketika menumbuk benda-benda. Dia ada, kuat sekali keberadaannya, namun tidak bisa dikenali dia di sana atau di sini.
Kalau Allah tetap sebagai Sabda, amat sulit bagi manusia untuk memahami-Nya, untuk mendekat dan menjalin kasih dengan-Nya. Seperti halnya kata cinta yang diungkapkan sepasang remaja. Dia tidak akan pernah bermakna kalau tidak pernah diwujudkan dalam tindakan. Memberi sebatang coklat, memberi setangkai mawar merah; adalah tindakan nyata mewujudkan kata-kata cinta yang tak berwujud.
Hari ini kita menyaksikan bahwa SAbda itu telah berwujud Bayi mungil yang lemah. Dia digambarkan diselimuti kain-kain bekas, dan dibaringkan di tempat yang tidak selayaknya. Sabda yang Perkasa itu tergolek lemah dan tergantung sepenuhnya kepada belaian kasih Maria. Dia harus digendong, disusui, disuapi, agar tumbuh kuat.
Apakah saya mau ikut menggendong Yesus, mengasuh-Nya, menyusui-Nya, menatang-Nya, dalam hidup keseharian saya. Apakah say amau sedikit direpotkan oleh karena kehadiran Yesus di tengah-tengah kesibukan saya?
Karena ketika saya mau mengasuh-Nya; DIA akan lebih lagi mengasuh saya. Ketika saya memberikan diri merawat-Nya; DIA akan lebih lagi merawat dan menjaga saya. Hanya dibutuhkan kesediaan diri dan pemberian diri.

salam

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …