Skip to main content

Preparing for Christmas, day 17!

PREPARE HIM ROOM

Preparing for Christmas

Daily Meditation with St. Therese of Lisieux


Day 17!

Tuesday 3rd week of Advent

Memorial of St. Lucy, 13 December 2016


Kutipan Injil:

Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kanu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya.
Matius 21:32

Refleksi:

OMONG DOANG


Yesus itu memang seorang pencerita yang hebat sekali. Dia bisa memporak-porandakan logika dan pemikiran banyak orang. Bahkan Cak Lontong-pun akan terpana dibuatnya. Kali ini Yesus berkisah mengenai bekerja di kebun Allah lewat perumpamaan bapak dan dua anaknya.
Bapak itu meminta anaknya yang pertama untuk bekerja ke kebun anggur. Dia menjawab “YA”, tetapi kemudian karena sesuatu hal dia mengurungkan niat. Dia pergi ke lading.
Lalu dia menemui anaknya yang kedua. Kepadanya dia meminta hal yang sama. Si anak menjawab “TIDAK”, dia tidak mau bekerja di kebun. Lalu kemudian dia menyesal dan akhirnya pergi ke kebun untuk bekerja.
Di akhir cerita Yesus bertanya, siapakah di antara kedua anak itu yang baik? Yang pertama atau yang kedua. Yang berkata “YA” tetapi tidak bekerja, atau yang berkata “TIDAK” tetapi bekerja?
Orang-orang menjawab yang kedua. Karena pada akhirnya dialah yang melaksanakan perintah ayahnya, bukan sekdar menjawabnya. Yesus mengiyakan jawaban mereka dengan memberi contoh nyata. Bahwa orang-orang yang dianggap berdosa adalah orang-orang yang akan masuk kerajaan sorga terlebih dahulu, karena mereka yang paling cepat bertobat dan melakukan perintah Bapa.
Setelah membaca kisah ini saya seperti ditabok. Benar-benar ditabok. Karena saya merasa bahwa dalam keseharian saya tak ubahnya seperti anak pertama tersebut. Selalu berkata “YA” tetapi tidak melakukan apa yang saya katakana. Orang bilang saya “OmDo”, omong doang tidak ada kerjanya.
Semoga masa Advent yang sudah berjalan setengah jalan ini menolong saya untuk bisa lebih jujur dalam perkataan dan perbuatan. Bisa lebih memiliki integritas, di mana antara perkataan dan tindakan seimbang. “YA” di perkataan, “YA” pula di tindakan.

Kutiban dari St. Theresia Lisieux:

Saya menyadari bahwa ada tingkatan-tinggakatan dalam hidup rohani untuk mencapai kesempurnaan. Saya juga menyadari bahwa setiap peribadi memiliki kebebasan untuk mejawab panggilan Allah dengan melakukan hal-hal yang kecil atau besar sesuai dengan kita janjikan. Dengan kata lain, melakukan apa yang diperintahkan-Nya sebagai bagian dari pengorbanan diri kita.
(Manuskrip A, 10)

Salam,

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …