Skip to main content

Preparing for Christmas, day 19.

PREPARE HIM ROOM

Preparing for Christmas

Daily Meditation with St. Therese of Lisieux


Day 19

Thursday 3rd week of Advent

15 December 2016



Kutipan Injil :

Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya.
Lukas 7:28

Refleksi:

Yohanes Pembaptis dan “yang kecil itu”


Hari ini Yesus berbicara dan memuji-muji Yohanes Pembaptis. Namun Yesus juga menyinggung sosok yang terkecil dalam Kerajaan Surga. Dan saya ingin berbicara soal siapa yang terkecil itu. Hal-hal kecil seperti ini sangat menarik untuk diperhatikan.
Baiklah, sebelum berbicara mengenai “yang kecil itu” mari kita lihat sosok yang menjadi pusat perhatian Yesus. Dia adalah Yohanes pembaptis. Dan mengapa Yesus sampai mengeluaran pujian sedemikian hebat.
Ketika peristiwa ini terjadi, Yohanes Pembaptis sedang berada di penjara. Dia dipenajra karena berani mengkritik Raja Herodes yang memperistri istri saudaranya, Herodias. Jelas sebuah tindakan yang tidak terpuji. Namun tak seorangpun berani berkomentar, karena Herodes seorang raja. Tidak demikian dengan Yohanes. Dia mencela perbatan Herodes.
Yang marah dengan celaan Yohanes sebenarnya bukan Herodes. Tetapi Herodiaslah yang lebih marah dan bahkan menyimpan dendam kesumat. Dia juga yang kemudian memengaruhi anaknya agar meminta kepala Yohanes.
Di dalam penjara itulah, Yohanes mendengar soal Yesus dan akan segala sesuatu yang dikerjakan-Nya. Maka, dia ingin mendapatkan kepastian, apakah Dia itu Mesias atau bukan. Diutusnyalah beberapa muridnya untuk bertanya.
Setelah berjumpa dengan Yesus, para murid Yohanes ini tidak mendapat jawaban iya atau tidak. Mereka hanay diminta bercerita kepada Yohanes tentang apa yang mereka lihat. Orang sakit disembuhkan, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Lalu sebagai penutup Yesus berpesan, “berbahagialah orang yang tidak kecewa dan menolak Aku.”
Kemudian setelah para murid Yohanes itu pergi, Yesus mulai bercerita tentang Yohanes, memujinya dengan pujian yang sangat tinggi. Bahwa tak ada seorangpun yang dilahirkan oleh perempuan yang lebih besar dari Yohanes. Sebaliknya yang paling kecil di dalam Kerajaan Surga, lebih besar daripadanya. Hmmm, kata-kata penuh kode.

Siapakah “yang terkecil di dalam Kerajaan Surga” itu? Tentang siapakah Yesus bercerita? Sebenarnya, tentang kitalah Yesus bercerita. Kitalah yang dimaksudkan sebagai “yang kecil itu”.
Ah masak? Yang benar dong?
Mungkin Anda berkata demikian. Tetapi memang demikian. Kalau tidak percaya, mari kita lihat ke belakang. Jauhhhhh ke belakang. Dahulu kala, ketika Allah baru memulai segalanya dari mula, Dia menciptakan manusia seturut gamabr-Nya. Seturut gambar-Nya diciptakanlah manusia, laki-laki dan peempuan. Tidak percaya? Bacalah Kitab Kejadian bab 1 ayat 27.
Jadiiiii…. Saya yang jelek ini adalah gambar Allah. Meka jangan suka menghina kejelekan saya, karena sama halnay dengan mencela Allah. Ehh, Anda juga kok. Anda juga menunjukkan gambar Allah. Trus?
Kemudian, gamabr Allah yang (seharusnya) mulai itu rusak akibat dosa. Manusia yang mesti menjadi gambaran Allah yang mulia dan indah itu rusak, peot-peot dan perot-perot tidak karuan. Tetapi Allah tetap menyayanginya. Allah tetap mencintainya. Nggak percaya?
Bahkan saking cintanya, Allah memberikan Anak-Nya yang hanya satu itu untuk kita. untuk bisa membebaskan manusia jadi belenggu dosa yang telah merusak kemuliaan gamabr Allah tersebut. Karena Yesus-lah kemudian kita bisa (kembali) memanggil Allah dengan sebutan “ayah”. Karena kita adalah saudara dan saudarinya Yesus, Anak Allah.
Nahhh, sudah jelaskan bahwa kita ini, yang jelek, yang imut, yang lucu, yang peot, yang apa sajalah, adalah dia yang terkecil di dalam Kerajaan Surga. Dan karena cinta Allah kita mendapat kemuliaan itu. Maka, saatnya untuk berterimakasih atas semua cinta yang telah diberikan oleh Allah. Caranya?
Caranya dengan saling mencintai. Mencintai sesama manusia, sesama gambaran wajah Allah. Terlebih mencintai dia yang ‘mbencekno’, nyebelin, ngangenin, dan lain-lain yang jelek-jelek. Mereka harus mendapatkan cinta kita, gratis. Karena kita juag dicintai oleh Allah gratis.

salam

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …