Skip to main content

Preparing for Christmas, day six.


PREPARE HIM ROOM

Preparing for Christmas

Daily Meditation with St. Therese Lisieux


Day 6Friday 1st week of Advent


Bacaan:

Yesaya 29:17-24
Mateus 9:27-31

Kutipan Injil:

“Apakah kamu percaya bahwa aku mampu melakukan ini?” … “Ya Tuhan, aku percaya”….. dan mata merekapun terbuka. (Mat 9:28, 30)

Refleksi:

Percaya dan Melihat


Sahabat, kemarin saya menyinggung bahwa terkadang persoalan dan kesulitan dalam hidup itu juga diperlukan untuk menguji seberapa kokok pondasi iman kita. Dan mungkin kita sering menjumpai orang yang gampang mengeluh.
Mengeluh karena persoalan keluarga. Mengeluh karena keadaan diri sendiri, entah fisik atau psikis. Mengeluh karena pekerjaan. Pokoknya ada saja yang dikeluhkan. Rasanya belumlah lengkap hidup ini kalau sehari saja tanpa mengisinya dengan keluhan. Lebay!
Misalnya, seorang adik berkeluh kesah, mengapa dia tidak seperti kakaknya yang cerdas, badannya bagus, pergaulannya luas, dll. Masih banyak lagi hal serupa yang kalau kita comot sedikit saja akan langsung memenuhi seluruh halaman, daftar litany keluhan.
Lalu datanglah kisah mengenai dua orang buta. mereka buta sejak lahir. Mengapa mereka berdua bisa bersama, tidak diceritakan, tetapi mereka berjumpa dengan Yesus. Mereka berseru kepada Yesus, “Yesus anak Daud, kasihanilah aku!”
Mengapa mereka meminta belas kasih dari Yesus? Pasti mereka sudah mendengar banyak kisah mengenai Yesus, mengenai karya penyembuhan yang dibuat oleh Yesus, mungkin juga pernah terjadi teman-teman mereka yang sudah disembuhkan oleh Yesus menceritakan pengalamannya kepada mereka. Mungkin saja. Maka ketika ada kesempatan berjumpa dengan Yesus, mereka tak menyia-nyiakannya.
“Apakah kamu percaya bahwa aku bisa menyembuhkan engkau?” tanya Yesus kepada dua orang buta itu. Sebuah pertanyaan sederhana untuk mengenali sejauh mana iman mereka. Sejauh mana keyakinan mereka akan Yesus.
“Kami percaya!” demikian mereka menjawab.
“Jadilah sembuh seperti yang kau yakini.” Dan sembuhlah mereka.
Pertanyaannya sederhana, “percayakah….?”. Pertanyaan yang sama yang bisa kita kenakan kepada diri kita sendiri. Percayakan aku akan belas kasih Allah? Percayakah aku walau aku tak mampu melihat belas kasih Allah, walau aku tak mampu merasakakan belas kasih Allah, tak mampu mendengar belas kasih Allah. Percayakah aku?
Dua orang buta ini memberi kita pelajaran berharga. Percaya dulu, baru melihat. Bukan karena melihat aku percaya. Tetapi aku melihat karena aku percaya.
Kemampuan untuk percaya ini membutuhkankerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, kita hanya akan terus menerus menuntut tanda. Kita selalu ingin melihat dan merasa baru percaya. Kerendahan hati menuntun kita kepada iman yang sejati. Iman yang sejati menghantar kepada penglihtan yang murni.

Kutipan dari Santa Theresia Lisieux:

Aku menyadari dengan pasti bahwa pancaran sinar bunga mawar, keharuman dan kemurnian bunga lili tidak akan hilang begitu saja dengan mekarnya bunga daisy yang sederhana namun menawan di taman.

Doa:

Ya Tuhan, mataku kerap tertutup awan kelam dan tidak mampu melihat kenyataan terdalam dalam setiap peristiwa. Hanya kasih dan penyertaan-Mu yang mampu menyingkapkan semuanya, sehingga aku mampu melihat keindahan yang Engkau pancarkan dalam banyak peristiwa yang aku alami sehari-hari.

Aksi

Hari ini akan sangat baik kalau kita menahan diri untuk tidak mengkritik atau berkata buruk kepada orang lain. Sebaliknyalah akan lebih baik kalau dalam sehari ini, kita mencoba memberi pujian dan kata-kata peneguhan kepada orang lain.

MoRis HK
Hong Kong, 2 Desember 2016

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …